AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
MENGAPA? APA KAU BOSAN PUTRIKU!!


__ADS_3

Keesokan harinya.. setelah kejadian semalam yang membuat Duke, dan yang lain panik.. Waktu kembali seperti semula.


Duke bekerja di ruangannya mengurus berbagai dokumen, dan memeriksa hasil laporan yang masuk ke Kastil, ditemani dengan Spiritnya yang setia.


Sedangkan Ravella, dan para Spirit lain. seperti biasa.. Mereka mengikuti kemanapun Sang Master pergi, Termasuk Garda. Zaku, dan Tama, sudah kembali akur, setelah perkelahian yang seimbang.


Mereka tertawa seperti tidak terjadi apapun kemarin.. Dan kembali mendatangi Sang Master. Dan kini, semuanya berbaris mengikuti Kemana pun sang Master berjalan.. Termasuk Garda.


'Haah.. Mereka sudah seperti para kesatria saja, terus mengikutiku seperti ini.' ujar Ravella, dalam Hati. 'Taman Kastil di sini, jauh lebih luas di bandingkan Mansion. Tapi kenapa aku tidak pernah melihat satu kesatriapun, menjaga Kastil semegah ini.. seperti di Mansion!! Hem.. Aku akan menanyakannya nanti pada ayah.'


Ravella berjalan di temani ketujuh Pria sambil berkeliling Kastil, setiap yang melihat sosok Ravella, yang di dampingi banyak Pria Tampan, mereka akan tersenyum malu, dan memberi hormat pada Putri kecil itu.


'Eum.. Aku melihat ketujuh Pria jangkung berparas tampan yang khas, sedang berjalan di sisiku. Mereka terus mengikuti seperti bodyguard. Jika ini di duniaku dulu, mereka pasti sudah menjadi incaran para gadis muda, dan di mintai banyak foto dan tanda tangan.


Aku tidak menyangka! di dunia ini banyak hal yang di kehidupanku dulu cuma bisa kubayangkan saja, tapi sekarang semua yang mustahil bisa menjadi kenyataan. Eum.. Apa karena ini berada di dunia novel? Tapi meski dibilang begitu pun.


Setahuku, aku belum menemukan ada Genre fantasi, di novel yang kubaca. bagaimana bisa setelah aku masuk kesini, novelnya jadi berubah ke genre fantasi, aksi? Haah.. Untung saja tidak ada genre horor. bisa gawat kalau sampai itu terjadi.. Dijamin aku tidak akan bisa tidur nyenyak.


Omong-omong sudah lama sekali aku tidak berlatih! tapi entah kenapa fisikku yang sekarang, kembali seperti awal saat aku pertama kali bertransmigrasi ketubuh ini. Haah.. Aku jadi cepat lelah sekarang! aku tidak mau jika tiba-tiba pingsan.


Aku harus memulai semua dari awal lagi.. Tapi untuk sekarang, aku tunda dulu latihanku. karena aku ingin menikmati suasana liburan, saat berada di Kastil ini. apa lagi di sini, musim semi berbeda dengan di dunia munusia.. Karena masih musim gugur.


Jika tahu mau liburan, seharusnya aku mengajak kedua Putra angkatku kan..! Eum, sebelum itu, aku harus menemui Ayah dulu. Aku melihat kearah Para Kakek, lalu berseru kepada mereka semua.'


"Kakek sekalian, aku punya rencana.. Tapi aku tidak akan bilang sekarang." ujarnya sambil memegang dagunya dengan senyuman penuh makna. 'ujarku sambil memperhatikan kebingungan mereka..! Karena itu sangat lucu, menurutku.'


"Haah.. Sepertinya akan ada kejutan yang tidak terduga, Melihat bagaimana reaksimu Nak!" ujar Tama menyeringai.


"Heem.. ya kita lihat saja nanti, ayo kita kekantor Ayah Kek.. Ada yang ingin aku bicarakan pada Beliau!" ujarnya langsung pergi meninggalkan kebingungan, pada Spirit miliknya yang saling menatap penuh tanya.


Punggung Ravella semakin menjauh, sedangkan Para Spirit sibuk berdiskusi, Mempertanyakan apa yang akan dilakukan oleh Master mereka.


"Kira-kira apa yang beliau rencanakan??" tanya Zaku penasaran.


"Entahlah, kita ikuti saja.. Apa pun itu, pasti hal menarik bukan! Meski firasatku merasa tidak enak!! Tapi menurutku, semua akan baik-baik saja." ujar Jura tersenyum.


"Jika kau sudah bilang begitu, biasanya pasti akan terjadi..!" sambung Gira, yang di angguki oleh temannya yang lain.


"Aku harap itu bukanlah masalah besar!" sahut Roya.

__ADS_1


"Tenang saia.. Tidak akan ada yang terjadi." ujar Jura, menenangkan saudaranya.


"Benar, semoga saja begitu, ayo kita susul Master." ajak Saga, pada yang lain.


***


Di depan kantor Sang Ayah, Ravella mengetuk pintu tersebut.. dan di buka oleh Emilio.


"Tok.. Tok.. Tok.."


"Ceklik, Silahkan masuk Yang Mulia Kecil."


"Terima kasih paman." Ujarnya tersenyum


"Oh, panggil saya Emilio saja Putri."


"Heum." angguk Ravella. 'Aku masuk ke kantor ayah, kulihat kantor itu juga sangat besar.. Dan bisa menampung sebanyak dua puluh karyawan. Ah, tapi, ini bukan duniaku yang dulu! Karena ini dunia fantasi, segala yang munstahil bisa terjadi di sini.'


"Ada Apa Sayang? Apa kau sudah selesai jalan-jalan berkeliling Kastil?" ujar Duke, langsung bangun dari kursinya, dan menghampiri Putri kecilnya itu.


Ia lantas mengangkat Tubuh Kecil Ravella, kedalam pelukannya, tampak Ravella sedikit gugup dengan apa yang akan di sampaikannya.


Setelah lama dalam kediammannya.. Ia pun mengeluarkan Suara, membuat Sang Ayah yang tadinya hangat, kembali mendingin tanpa Ekspresi.


"Ayah.." panggilnya berhati-hati.


"Ya sayang.."


Emilio sangat senang melihat perubahan Tuannya itu.. Begitu hangat dan kebapaan saat bersama Putrinya. Berbeda saat ia sedang tidak bersama Putrinya.. Ia akan membuat batas, sehingga tidak ada satupun yang berani mendekatinya.. Kecuali orang yang dipercayainya.


'Beliau langsung berubah, ketika bersama Putrinya. Haah.. andai saja mendiang Duchess masih hidup, mereka pasti akan menjadi keluarga kecil yang sangat sempurna.' gumam Emilio dalam hati.


"Bolehkah, Ravel meminta izin membawa kedua anak yang telah Ravel adopsi, untuk bermain kemari..!" ujarnya dengan hati-hati.


Mendengar perkataan Putrinya itu.. Terasa bagai di sambar petir di siang bolong. Sementara Zaku, yang sejak tadi hanya berpura-pura tidur, memasang telinganya saat mendengar kedatangan Ravella, dan bergumam dalam hati.


Sedangkan Para Spirit baru Muncul, namun mereka menyembunyikan keberadaan mereka, sehingga tidak ada yang tahu jika mereka juga ada dikantor, dan sedang menyaksikan momen antara Anak dan Ayah itu.


'Haah.. Apa yang kau lakukan Nak? Ini tempat sakral yang hanya bisa di datangi oleh Master, dan kau Putri kesayangannya. Dan sekarang kau bilang begitu..! Aku yakin bocah itu pasti tidak menyetujuinya.' pikir Zaku, dalam diam.

__ADS_1


"Mengapa? Apa kau bosan Putriku!! Apa yang telah Ayah berikan selama ini, tidak cukup untukmu? sehingga kau harus mengajak orang lain bersamamu??" ujarnya dingin, tanpa intonasi.


'Wuah.. Sepertinya dia marah! Hem, aku tahu tempat ini adalah tempat sakral Ayah dan Ibu!! Tapi, aku tidak ada niat lain.. Aku hanya ingin berbagi kebahagiaanku saja,


dan membuat kedua anak-anakku ikut merasakan kesenangan yang tidak pernah mereka nikmati sebelumnya! Eum.. Bagaimana caranya agar Pak Tua ini, mau menyetujuinya??' pikirnya, sambil memperhatikan tatapan tajam Ayahnya dengan santai.


Meskipun Sang Ayah, menunjukkan ketidak sukaannya secara terang-terangan terhadap apa yang baru saja Putrinya katakan. Tak hanya itu.. Ia juga bersikap dingin, dan memberi batas pada orang yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.


"Jawab Nak, kenapa kau diam!!" gumamnya tegas.


"Haah.. Semua yang Ayah berikan padaku, sangat cukup kok! bahkan lebih dari cukup. Tapi, apa salahnya jika berbagi kesenangan pada yang belum pernah merasakannya.. Apa lagi, mereka berdua sudah menjadi bagian dari keluargaku." ujarnya. 'Meskipun Kau tidak menyetujuinya.' lanjutnya dalam hati.


Lannox meletakkan Putrinya di atas pangkuannya.. Dan menjawab dengan tegas.


"Jawaban Ayah, tetap tidak Nak. Karena ini adalah tempat rahasia keluarga kita. Dan yang boleh datang kemari hanya Aku dan Kau Putriku.. Sementara orang asing, tidak diperkenankan datang kemari. Kecuali untuk Spiritmu, adalah pengecualian." ujarnya tegas.


"Haah.. Baiklah, karena tempat ini juga mempunyai banyak kenangan antara Ayah, dan Ibu. jadi, aku tidak akan memaksanya. Tapi, di luar dari tempat ini.. Maksud Ravel, saat kita pulang nanti, jika sedang keluar.. Ravel boleh mengajak mereka kan Yah!!" tanyanya dengan mengembungkan pipinya, sambil memiringkan kepala dan bersedekap tangan.


"Hem.. Hem.. Kalau itu tentu saja boleh sayang, Selain dari tempat ini.. Ayah akan mengijinkannya." ujarnya sambil mencubit Pipi Putrinya yang menggemaskan itu.


"Ah, satu lagi Nak.. Melihat apa yang telah terjadi kemarin malam. Seorang Putri kecil berani menyelinap keluar tanpa izin, lalu kabur begitu saja meninggalkan Ayahnya.


Apa menurutmu hukuman yang pantas untuk Putri itu Nak, hem!!" ujarnya menatap Putrinya, penuh makna yang tersirat di dalam tatapannya, Sambil berseringai.


'Sial, dia perhitungan sekali.. Oh iya, aku lupa kemarin setelah pulang aku langsung tidur. Dan dia membahasnya sekarang, pasti karena ini adalah waktu yang tepat. Haah dasar Ravella bodoh! Kenapa aku tidak pikirkan akan masalah yang telah kuperbuat kemarin. Dan malah datang kesini, seolah tidak terjadi apa-apa.


Pantas saja setelah aku membuat masalah, ia tampak begitu tenang. ternyata ia menyimpannya dan membahasnya sekarang, wuah.. Kau benar-benar licik Pak Tua! Apa yang harus aku lakukan di saat seperti ini?


Haruskah aku langsung kabur!! Tapi, jika aku kabur dia pasti tidak akan melepaskanku begitu saja bukan.. Melihat bagaimana pendendamnya dia. haah.. aku akan celaka! Oh Dewa.. Apa yang harus aku lakukan di saat seperti ini??' gumamnya dalam hati.


"Eh.. I-itu.. Bukan karena kemauanku. Bisakah Ayah melupakan masalah yang terjadi kemarin? Mari kita buka lembaran baru hihi.." ujarnya sambil nyengir, karena tidak tahu harus berbuat apa.


Melihat reaksi Putrinya.. Lannox menyeringai, sambil memegang dagunya sendiri.


"Baiklah, Ayah akan melupakan masalah ini. Setelah kita pulang dari liburan, sepertinya Ayah Harus membuat peraturan baru untukmu Nak! hem.. hem.." ujarnya sambil tersenyum.


'Astaga.. Kau mengatakannya dengan senyum seperti itu? Justru itu membuat aku semakin curiga, dan merinding Pak Tua.' gumam Ravella dalam hati.


"Hehe.. Ba-baiklah Ayah." ujar Ravel, dengan terpaksa.

__ADS_1


__ADS_2