
hi semua.. makasih ya.. buat yang udah setia menunggu.. karya aku, untuk itu aku memberi bonus lebih panjang buat kalian semua, selamat membaca. 😉😉😉😉😉
"huhhh hanya disini.. aku bisa bebas. aku heran.. dengan ayah, mengapa sekarang aku lebih sulit bergerak sebisaku..! bagaimana bisa ibu bertahan dengan suami seperti itu. keras kepala, egois, semaunya sendiri, semua sifat yang jelek dia miliki. aku benar² lelah harus berpura² manis didepan pak tua sepertinya, tetapi aku juga tidak bisa menyalahkannya.. hanya aku keluarga yang ia miliki, dan ini juga demi janjiku pada ravella dan ibu."
"ada apa nak Dewi..! mengapa wajah cantikmu menjadi manyun begitu..!"
"ah..! kakek roya, aku rasa, biarpun aku tidak cerita kakek juga pasti sudah tahu.. kenapa aku sangat kesal."
"yah, aku tahu nak.. jangan terlalu kau ambil hati, dengan sifat ayahmu, dia memang keras kepala dan terlihat kejam, akan tetapi.. hanya dialah satu²nya keluargamu, begitupun dirimu baginya. dia mempunyai hati yang sangat lembut. namun trauma dimasa kecil, dan pengalaman yang keraslah yang merubahnya hingga seperti sekarang. dia terlalu menyayangimu, seperti dia menyesal telah mengabaikanmu. dan setiap kali dia mengingatnya.. dia akan tersiksa akan penyesalannya sendiri, itu membuatnya semakin ingin melindungimu.. dan tanpa dia sadari dirinya telah menjadi semakin posesif juga protektif dalam waktu bersamaan."
"trauma dimasa kecil, apa maaksud kakek..? memang apa yang ayah alami, hingga membuatnya menjadi dingin dan ganas. Dan bagaimana kakek bisa tahu tentang trauma masa kecil ayah..! bukannya, kakek belum bertemu dengan ayah.. waktu ayah masih kecil..?"
"pertanyaan yang bagus nak. hmm.. hmm.., aku harus mulainya darimana ya..! mmm aku bisa melihat masalalu seseorang hanya dengan melihatnya."
"dan itu sangat mudah bagi kami.. nak" jawab yang lainnya serentak
"astaga,, kakek² kalian juga ada disini..! bagaimana bisa..??"
(saga) "tentu saja bisa nak, karna kami bagian dari dirimu."
(gira) "dan apapun yang kau lakukan.. dan kau fikirkan, kami juga tahu Dan bisa merasakannya nak."
"apaaaaahhh..!! oh tidak, satu lagi masalah baru, jika begini aku tidak bisa mempunyai waktu pribadi untukku sendiri, sama saja dengan bohong." ravella menepuk jidadnya sendiri
(tama) "hahaha.. tenanglah nak, kami tidak akan bisa membaca fikiranmu ketika dirimu, telah mencapai dalam bentuk dan kekuatan yang sempurna sebagai seorang Dewi yang sesungguhnya."
(zaku) "ya sayang.. kau akan menjadi Dewi sejati, ketika waktunya telah tiba. dan itu, membutuhkan waktu yang cukup lama nak, mungkin..!"
(jura) "dan kau harus bersiap dari sekarang sayang, karna perjalananmu yang sesungguhnya, baru akan dimulai nak."
"hmmm.. baiklah aku mengerti, mmmm... tetapi.., apa yang salah pada wujud kalian kek..! mengapa kalian berubah jadi tampan dan gagah sekali, mengapa tidak memakai wujud asli kalian saja..?? jika diduniaku dulu kalian bisa menjadi idol para gadis."
(roya) "karna lebih nyaman berbicara denganmu dalam wujud seperti ini dewi.., tapi jika kau tidak menginginkan.. kami bisa merubah diri kami kebentuk semula."
"tidak usah kek, kalian bebas melakukan apapun yang kalian suka. oh ya lanjut lagi.. kek ceritamu tadi tentang ayah, aku jadi semakin penasaran dengan masa kecil si pak tua yang menyebalkan."
(roya) "kita lanjutkan kapan² saja dewi.. sekarang anda sudah sampai dirumah, ayahmu lebih membutuhkanmu pergilah nak."
"ah, iya aku lupa tentang itu.. akukan masih dalam kereta. baiklah kalau begitu, aku akan pergi dulu. oh iya kek, kapan waktu monster itu akan tiba..? aaku benar² khawatir tentang masyarakat sekitar, haruskah kita ungsikan dulu para penduduk agar mereka bisa aman dari bahaya yang mengancam,.!"
(tama) kau tidak perlu khawatir dewi, biarkan itu menjadi urusan kami.. kau hanya perlu istirahat yang cukup, dan berlatihlah bersama mana dan auramu, karna mereka sangat hidup dan berwujud namun mereka masih menyembunyikan bentuknya darimu."
"apa... jadi mereka juga berwujud..!"
(gira) "benar nak, mereka hanya merajuk karna kau tidak pernah mengajak mereka berkomunikasi secara langsung. dan kau harus memberi mereka nama. agar mereka benar² menyatu denganmu."
"bagaimana bisa mana dan aura juga bisa hidup dan berwujud, bukankah mereka hanyalah sebuah jurus yang dikembangkan untuk menjadi sebuah senjata yang bisa digunakan..?"
(zaku) "kau benar nak, tapi itu pengecualian untukmu."
"maksud kakek apah..!"
(zaku) "karna kau spesial nak, kau berbeda dengan para manusia biasa, jadi apapun yang kau memiliki juga sangat berbeda dari manusia biasa."
"mmmh begitu rupanya" suara memanggil bergema dari luar
"ravellaa... ravel bangun sayang."
"itukan suara ayah, aku harus kembali. ah gawat, kalau aku tidak segera kembali sekarang.. bisa² ayah akan menganggap aku pingsan lagi.. dan itu akan fatal, kalau sampai ketahuan olehnya.. aku tidak bisa bergerak bebas dibawah alam sadarku."
"eh.. ayaah, apakah kita sudah sampai."
"ya.. sayang, dan sekarang kau sudah dikamar, ayah telah mengejutmu daritadi tapi kau tetap tidak mahu bangun. dan itu membuat ayah sangat khawatir nak."
'ah! gawat aku benar² kelelahan gegara aku kezona mana.' "jangan khawatir ayah, mungkin aku hanya kelehan setelah dari pesta pangeran."
"makanya ayah tidak ingin kau berlama² disana nak"
"tidak apa² ayah. aku sangat senang melihat kekaisaran dan diundang ke istana kaisar. itu adalah yang pertama bagiku,"
lannox melihat ravella dengan tatapan iba "ini semua kesalahanku putriku.. karna kegoisanku, kau jadi tidak bisa mengenal dunia luar."
ravella membelai tangan lannox lalu mengambil tangan lannox dengan kedua tangannya yang sangat kecil, dan menempelkan tangan ayahnya dipipi kanannya. "cukup ayah..! jangan dibahas lagi. semuanya sudah berlalu, mari kita mulai lembaran yang baru. ayah jangan mengungkit lagi..! kenangan yang sudah tertidur, karna itu hanya akan menyakiti ayah. ravel sudah memaafkan ayah. dan tetaplah menjadi ayah yang seperti sekarang. yang selalu mencurahkan kasih sayang kepadaku."
__ADS_1
ravella menatap lannox dengan wajah malaikatnya, hingga membuat lannox sangat bahagia dan terharu, melihat pertumbuhan putrinya. tanpa terasa airmata jatuh membasahi pipinya.
"sayangku.. mengapa ayah tidak menyadarinya sedari dulu, bahwa aku memiliki permata yang sangat indah dalam hidupku." lannox lantas memeluk ravella dengan penuh rasa sayang yang tak bisa diungkapkan olehnya. airmata terus mengucur tanpa suara isak darinya hanya ada penyesalan yang membuat dadanya sesak. "anakku.. kau adalah karunia terindah dalam hidupku.. karna kau adalah hadiah dari ibumu untukku, jadi jangan pernah berfikir untuk meninggalkan ayah sendiri, karna ayah akan merasa sangat kehilangan tanpa dirimu,, cukup bagiku kehilangan sekali, dan aku tidak mahu terjadi yang kedua kalinya. karna ayah akan terus menjadi bayanganmu kemanapun kau pergi."
ravella menepuk pelan punggung besar ayahnya 'baru kali ini aku melihatnya dalam kondisi yang sangat rapuh, ternyata dia begitu kesepian, tanpa ibu di sisinya, dia memang pria yang sangat setia.., hmmm ibu, ternyata aku salah menilai suamimu. kau sangat beruntung memilikinya disisimu. dia bahkan tidak ingin menikah lagi setelah kepergianmu. aku jadi ingin memiliki suami sepertimu ibu.. selalu setia dan saling mencitai sampai maut memisahkan. akankah aku bisa menemukan pria itu dalam hidupku. hadehhh apa yang aku pikirkan, oh ravella kenapa pikiranmu berkelana tidak jelas begini sadarlah ravella.'
ravella lantas menangkup wajah ayahnya dengan kedua tangannya yang mungil. lalu mengusap airmata lannox yang tak berhenti menetes. "jangan menangis lagi ayah. aku akan selalu bersama ayah menemani ayah, jadi jangan bersedih lagi karna itu hanya membuatku semakin pilu melihatnya."
"terimakasih putriku, akhirnya kau melihat kelemahan ayahmu ini, itu sangat memalukan menangis didepan putriku sendiri."
"terkadang kita memang butuh menangis biar menjadi lega. karna tekanan dalam hidup akan sangat berat jika tidak dikeluarkan dengan airmata, memendam bukanlah jalan keluar, namun tidak masalah jika untuk menjadi perlindungan diri agar kelemahan kita tidak diketahui oleh orang lain, bukankah begitu ayah..!"
"anakku mengapa pikiranmu sangat tua diusiamu yang masih sangat kecil..!"
'huuuu, tentu saja begitu. mentalkukan memang lebih tua dari tubuhku, dan usiaku juga sama denganmu.. hanya saja, aku berengkarnasi kedalam tubuh putrimu, kau pikir aku ingin seperti ini.'
"apakah ini yang dia lakukan saat aku memperlakukannya dengan sangat buruk dulu. pantas saja dia dewasa sebelum waktunya. karna dia mempunyai kenangan yang sangat buruk denganku."
"buuug" tetiba saja ravella jatuh pingsan dipangkuan ayahnya, karna kelelahan yang dialaminya setelah memasuki zona mana.
"ravel.. bangun sayang,, anakku..! kenapa dia jadi pingsan lagi.., bukankah dia sudah tidak latihan..! lantas apa yang membuatnya jadi pingsan begini..? dokter panggilkan dokter sekarang cepaaat."
"baik yang mulya" ranovpun segera berlari memanggil dokter.
"bagaimana keadaan putriku..!"
"beliau tidak kenapa² yang mulya, tuan putri hanya kelehan biasa."
"jangan berbohong dokter, apa kau yakin putriku tidak kenapa²..?" lannox meraih kerah baju sang dokter.
"a.. am..punnn.. yang mulya, mana mungkin hamba berani berbohong, tuan putri memang benar, hanya kelelahan biasa.. yang mulya. hamba berani menjaminnya dengan taruhan nyawa hamba sendiri."
"ciihh... baiklah kali ini kulepaskan kau. namun jika kenyataan tidak sesuai harapan, bersiaplah mayatmu berada ditiang gantungan.
"aa...mpuni.. hamba yang mulya." dokter armand sungguh dibuat ketakutan mendengar ucapan lannox. lututnya menjadi lemas tak berdaya dan jatuh terduduk dilantai
* * * * * * *
"tok.. tok.. tok.. tuan putri pangeran datang berkunjung dan beliau ingin menemui anda."
"katakan saja aku sedang tidak ditempat"
"tapi.. putri beliau sudah disini."
"apa.. OMG aku ketahuan bohong gawat mmhh ehem.. ehemm.. ya sudah suruh saja masuk"
"baik putri. silahkan pangeran"
klikk. tap tap tap. devinxall berhenti.
"hormat hamba pangeran."
"apa kau tidak menyukai kedatanganku vella..! padahal aku sangat rindu ingin bertemu denganmu. mengapa kau ingin menghindariku..? untung saja aku segera kekamarmu jika tidak, aku pasti sudah pulang dengan kaadaan hampa."
'uueeekkkk... kata²mu membuat aku geli,' "maaf pangeran saya tidak bermaksud begitu, hanya saja saya sedang ingin sendirian."
"benarkah begitu..! ya aku faham, kau pasti kelelahan setelah pulang dari pestaku, aku sudah mendengar kondisimu kemarin."
"ah.. bagaimana dia bisa tahu kalau aku kelehan semalam..! apa dia menaruh mata² disekitarku..? hmm itu tidak mungkin dinovel dia tidak pernah mematai ravella karna dia selalu percaya pada ravella. hanya saja dia sangat bodoh percaya mentah² kata² manis grasial eh maksduku grasia ah, bodo ah.. pusing.'
"terimakasih atas kepedulian pangeran, saya jadi merasa tidak enak hati.. karna telah membuat pangeran khawatir."
"jangan begitu vella.. bukankah kita sudah berteman sejak kecil. dan sangat wajar jika aku mengkhawatirkan mu."
"terima kasih pangeran" 'huh malas sekali mendengar bacotmu bikin mual saja.'
"baiklah kalau begitu.. karna aku sudah melihatmu, aku akan pulang sekarang. ketika aku ada waktu aku akan datang lagi berkunjung."
'aku hanya membalas dengan tersenyum mulutku terlalu malas untuk digerakan.'
"sudah seminggu berlalu.. namun aku masih belum mendapat kabar tentang monster yang akan menyerang, apakah para monster tahu kami sedang bersiap menghadapi mereka.. hingga mereka menundanya..!" lannox memegang dagunya sambil berpikir melihat keluar jendela seolah sedang melihat pemandangan. "hmm pergerakan mereka sangat aneh, seolah terencana dengan rapi sekali.. atau mungkin isu itu hanyalah umpan untuk mengalihkan perhatian kekaisaran...! hmmm aku harus tetap Siaga, aku akan memasang sihir penghalang agar para monster tidak bisa menyentuh kekaisaran."
hari sudah mulai gelap, sang fajar telah terlelap di keharibaan malam.. dan semua penghuni kastil yang berjaga telah dibuat tertidur secara paksa, bahkan lannoxpun ikut tertidur.
__ADS_1
tetiba keluar cahaya yang entah darimana datangnya. keluarlah sesosok pria tampan berambut hitam panjang menjuntai.. dengan jubah panjang setengah lengan, dengan atasan dada sedikit terbuka melebar hingga menampilkan otot dada yang sedang mengintai dibalik jubah indahnya. pria itu kemudian mendekati katil yang ditempati lannox dan ravella, ia menatap ravella dalam pelukan lannox lantas menjentikkan jarinya.. dan perlahan tubuh mungil itu melayang lalu berhenti dalam dekapan pria tampan itu.
"apa kabarmu permaisuriku...?" pria itu mengecup lembut kening ravella seakan melepas rindu yang telah lama ia pendam. "kau begitu kelelahan dalam tubuh kecilmu permaisuriku.. aku sungguh tidak tega melihatmu seperti ini. namun, kau harus tetap melewatinya.. karna ini adalah takdirmu sebagai seorang dewi. aku akan terus mengawasimu..! untuk itu, aku akan memberi sedikit perlindungan padamu dan bocah kesayanganmu itu."
tubuh ravella kembali melayang terbang perlahan menuju katil tempat ia tertidur tadi, ia lantas menaruh kembali ravella kepada pelukan sang ayah yang sedang lena.
tik, jentikan jari berbunyi kembali.. keluarlah cahaya dari kalung permata darah yang mereka kenakan, cahaya semerah darah menyelubungi dua anak manusia yang sedang terlelap dalam pelukan malam. dan cahaya itupun menghilang teserap dalam tubuh mereka. "dengan ini kau akan aman permaisuriku. begitupun bocah nakal ini." kemudian ia menjentikkan jarinya lagi, lalu.. keluar lah hewan berbulu putih dari bayangan tempat katil yang mereka tiduri. tubuh zion melayang terangkat tinggi dan berhenti dihapan pria misterius itu.
"hmmm.. untukmu zion.. bocah yang sangat lucu, karna kau telah bersungguh² malayani permaisuriku dengan taruhan nyawamu, maka kau kuhadiahi kalung permata petir, ini akan menjadi pelindung bagimu.. sekaligus menjadi senjata saat kau sedang terdesak."
"garda"
"ya.. paduka mulia"
"jagalah bocah bulu ini.. jangan sampai ia terluka sedikitpun. karna aku sangat menyukai tekad bocah bulu ini, bantulah ia saat ia sedang dalam kesulitan melawan musuh yang kuat."
"maafkan pertanyaan saya yang lancang ini paduka mulia, bukankah dia hanyalah spirit kelas rendahan, yang belum mencapai tahap elit."
"aku tidak butuh pendapatmu atas apa yang aku sukai."
"ampunkan hamba paduka mulia. titahmu adalah perintah bagi hamba." pria misterius itupun mengangguk. gardapun kembali merubah wujudnya menjadi kalung hitam yang dihiasi stone bermata ungu kelam. dan kalung itupun terikat menggantung dileher sang singa.
tik, kemudia zion kembali terangkat melayang perlahan tenggelam kembali kedalam bayangan. "sampai ketemu lagi permaisuri kecilku." ia sedikit menoleh kearah ravella lantas tersenyum, dan cahaya terang kembali muncul menelan pria misterius itu.
prajurid yang ikut tertidur kembali tersadar tanpa mengerti kenapa mereka bisa tertidur pulas. para pelayanpun heran mereka begitu cepat tertidur, bahkan lannox tidak habis pikir mengapa ia tertidur. "apa mungkin karna aku terlalu lelah, akhir² ini, ya.. aku memang kurang tidur."
lannox.. apa yang kau lakukan pada leherku..! mengapa saat terbangun tetiba kalung ini sudah berada dileherku...?" lannox melihatnya dengan serius
"hmmm bagus.. kau sangat cocok mengenakannya, jadi kelihatan lebih lucu.. darimana kau mendapatkannya...!"
"hei nak, aku sedang tidak bercanda.. kenapa kalung ini jadi ada pada leherku.. ini sangat tidak nyaman."
"maaf pak tua.. untuk apa aku membuang waktuku hanya untuk memberimu kalung jelek seperti itu, sungguh hal yang sia²"
"ciiihh dasar bocah tengik, sudahlah..! tenyata aku salah telah menemuimu." wuuussss zion hilang ditelan bayangan. "kalung apa ini sebenarnya..?? kenapa tetiba saja sudah berada dileherku.. kalau bukan bocah itu yang memberinya, lantas darimana kalung ini berasal..! benar² aneh, ah sudahlah..! biarkan saja kupikirkan nanti saja."
"halo kek zion, apa yang kau lakukan disini..!"
"ah dewi.. anda juga ada disini?"
"tidaak juga.. aku sedang ingin kedanau, kebetulan aku melihat kakek ada disini jadi aku sekalian mampir.
tapi... mengapa wajah kakek terlihat sangat kesal sekali..., memangnya apa yang telah ayahku lakukan padamu kek...?"
"aku hanya tidak mengerti.. saat bangun tidur, kalung ini sudah berada dileherku, dan aku sungguh tidak nyaman dewi."
"hmmm..." lantas ravella memperhatikan kalung yang ada dilehernya,,
"pantas saja kulihat seperti ada yang berubah, darimu kek. ternyata kalung ini penyebabnya..! tapi sejujurnya menurutku kau sangat cocok dengan kalung itu aku suka melihat kakek memakai kalung jadi jangan dilepaskan, kau lebih terlihat lucu kek." lantas ravella membelai bulu putih indah itu.. dan zion tersipu malu dengan pujian yang diberikan ravella untuknya.
"hmmmm.. kalau begitu, jika dewi benar menyukainya.. aku akan terus memakainya untukmu dewi."
"yaa... itu sangat cocok untukmu kek." ravella memeluk tubuh singa besar itu... "huhhh bulumu sangat lembut kek, aku jadi ingin tidur."
"jika dewi mengantuk tidurlah dewi.. aku akan menjaga dewi."
"hmmm.. benarkah kebetulan sekali, aku memang sangat lelah."
zion merebahkan dirinya direrumputan nun hijau, dan ravellapun berbaring sambil memeluk tubuh singa besar itu. angin berhembus lembut membelai danau.. pepohonan rimbun mengibaskan daunnya zion yang melihat pemandangan tenang sambil menjaga sang dewi yang sedang tertidur dipelukannya.
"hmmm aku sangat beruntung didekati sang dewi... hmmm apa aku tukar kontrak saja dengan beliau daripada tuan besar yang egois dan juga berisik yang sering membuat keributan."
"ciiihh jangan mimpi cucuku.. kau tidak pantas berada disisinya."
"kakek kapan kau datang..?"
"kau terlalu fokus melamun sampai tidak sadar aku datang.. huhhh bagaimana mungkin bocah lengah sepertimu akan menjaga dewi..!"
note: jangan lupa like, vote n komen serta saran kalian ya...
karna itu sangat membantuku untuk lebih bersemagat lagi dalam menulis 🙂🙂🙂🙂🙂
bagaimanakah kelanjutan zion dan kakek zaku....! nantikan di chapter selanjutnya 😉😉😉
__ADS_1