
"Bagaimana kau bisa berada di alam Manusia..?" tanya Zion, heran!
I-tu.. Saya juga kurang tahu Yang Mulia! Saya hanya tahu, jika saya telah di temukan oleh seorang Pak Tua. Dan, saya telah di asuh dengan seekor Serigala Tua. yang kini entah dimana keberadaanya?
Pak Tua itu mengatakan pada saya.. Jika saya di temukan di area hutan yang tidak berpenghuni, saat masih bayi. Dan ia melihat saya berbeda dengan Ras Serigala lainnya,
Beliau juga yang telah banyak melatih saya, hingga bisa menjadi seperti sekarang. Tanpanya.. Mungkin saat ini saya hanya akan menjadi Serigala kesepian yang tidak tahu apa-apa.
Saya selalu mengikuti kemanapun beliau pergi, Kami berpetualang kesana kemari tanpa arah dan tujuan, hingga suatu hari.. Kami menemukan lembah yang aneh, dimana terdapat banyak Ras Serigala.
Melihat itu, kami pun mencoba mendekati area tersebut! namun, kedatangan kami tidak di sambut dengan ramah. yah, wajar saja.. Tiba-tiba wilayah mereka di datangi oleh kedua Serigala asing, yang tidak di kenali, dan berani masuk ke wilayah mereka tanpa izin!
Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama, dan singkat cerita. segerombolan Serigala lain datang menghalangi perjalanan kami.
Pak Tua yang saat itu sudah mulai renta, hampir tidak punya kekuatan untuk melawan. Para Serigala tersebut langsung menyerang kami, karena tidak senang dengan kehadiran kami berdua.
Dan sampai pada saat saya melihat kondisi beliau tampak semakin parah, karena telah di keroyok. Hingga tanpa sadar.. saya pun hilang kendali, dan setelah itu saya tidak ingat lagi.. apa yang telah terjadi..!
Yang saya tahu, ketika saya sadar semua Serigala yang tadinya memusuhi kami, tiba-tiba mengakui saya Sebagai Pemimpin mereka.
Dan sejak saat itu, saya menjadi Ketua mereka dan tinggal di lembah tersebut, lembah itu sangat unik. Seperti Yang Mulia saksikan sendiri." jelasnya lalu kembali terdiam.
Zion mencerna semua yang di ceritakan Serigala tersebut kepadanya secara detail, lalu ia diam dan memperhatikan sejenak, Serigala yang ada di hadapannya tersebut.
'Hem.. Tempat itu memang unik. Aku memang belum sepenuhnya menelusuri tempat itu! Selama ini aku menganggap jika lembah itu hanyalah hutan biasa, dan tidak berpenghuni sama sekali.
Tapi saat aku memasuki tempat tersebut, aku tidak menyangka jika tempat itu adalah perkampungan Serigala.' "Hem.. Jika begitu bawa aku ketempat itu."
"Baik Yang Mulia.. Seperti yang anda inginkan."
"Hem.." Zion pun membuka kembali Portal kelembah. Sebelum ia pergi.. Ia memanggil Singa muda yang berbicara padanya tadi. Yang berada tidak jauh dari mereka berdua.
"Kau, kemarilah." perintahnya memanggil Singa muda itu.
"Saya Yang Mulia Raja."
"Aku akan pergi, gantikan aku untuk menjaga tempat ini. Jika terjadi sesuatu yang tidak bisa kau atasi.. Kau tahu harus mencariku kemana!" serunya dan berlalu pergi.
"Baik Yang Mulia.. Saya akan mengingatnya." jawabnya menunduk sopan, dan melihat kepergian Zion yang sudah hilang di telan Portal.
'Haah.. Padahal beliau baru saja kembali, dan kini sudah harus pergi lagi. Beliau memang tidak bisa duduk diam. Seharusnya, beliau sudah harus memikirkan tentang mencari pasangan dan melahirkan seorang pewaris tahta. Dengan begitu kerajaan ini tidak akan kosong.' pikirnya lalu pergi menuju kawanannya.
...****************...
Keesokan harinya.. Seperti biasa, Duke menikmati waktu santainya bersama Putrinya dan Gapi. Tidak seperti biasa, kali ini.. Mereka bertiga berjalan-jalan bersama mengelilingi Mansion, dan bermain bersama Putrinya di taman.
Setelah puas bermain, mereka kembali duduk di kursi yang ada di depan meja panjang yang telah di sediakan oleh Roland dan pengawal lainnya.
Para Pelayan lainnya.. dengan sigap melakukan tugas mereka. Pelayan, menghidangkan berbagai hidangan di atas meja panjang, untuk Duke dan Putrinya. karena Duke ingin makan siang di ruang terbuka di taman.
Ravella yang terkejut ketika melihat pemandangan di atas meja, banyaknya makanan yang disuguhkan. lapun bergumam pada Ayahnya.
__ADS_1
"Ayah...! Apa kita akan kedatangan tamu?" tanyanya heran.
"Hem.. Memangnya kenapa Sayang?" Duke balik bertanya, karena melihat reaksi Putrinya yang tampak bingung.
"Bukannya kita hanya makan siang..! Tapi, kenapa hidangan ini banyak sekali, seperti akan banyak tamu yang datang." jelas Ravella heran.
"Tidak, ini makan siang untuk kita." ujarnya melihat kesalah satu pelayan, yang sedang mengantarkan nampan berisi satu ekor ayam rebus untuk Gapi. Yang ada di samping Ravella.
Melihat itu Gapi langsung memakannya dengan sangat lahap, Duke yang melihat Gapi tengah makan, hanya tersenyum tipis. 'Dia terlihat semakin gemuk saja.' pikirnya,
Lalu kembali fokus pada Putrinya. "ayo dimakan Sayang, sebelum semuanya menjadi dingin." Ravella melihat kearah sepuluh Pengawal yang tengah memunggungi mereka untuk berjaga.
Dan tampak keempat pelayan, yang sedang bersiaga. Menunggu perintah jika ada yang di butuhkan oleh kedua Tuannya.
'Haah.. Akan sangat mubazir, jika makanan ini hanya di habiskan oleh kami berdua. Mana mungkin kami berdua bisa menghabiskan semua hidangan ini...! Yang ada aku bisa sakit perut nanti.' pikirnya..
Ravella menatap kearah sepuluh pengawal, dan empat pelayan. "Sir Roland.." serunya.. Sambil menatap Roland, yang langsung membalikkan badan.
"Ya.. Yang Mulia Kecil." sahutnya.
"Hmm... ayo ajak yang lainnya makan bersama di sini." serunya, membuat Roland dan yang lainnya terkejut. Roland dengan cepat menolaknya.
Sedangkan Duke hanya diam, tidak merespon. Namun justru itu membuat Roland semakin takut. Karena mereka sedang dalam bertugas.
"Ti-tidak apa-apa Putri, tapi terima kasih akan tawarannya. silahkan lanjutkan makan siang anda kembali." ujarnya berbalik lagi fokus berjaga.
'Eum.. Mereka pasti takut karena Ayah!' Ravella melihat kearah Duke, dan kembali bergumam. "Ayah, Bolehkan, jika mereka makan bersama kita?" tanyanya pada Duke, yang tampak sedang memotong daging di piringnya
"Ba-baik Yang Mulia." ujar Roland, yang di ikuti oleh yang lainnya.
Ravella melihat kearah empat Pelayan lainnya, yang tengah berdiri. "Ayo, kalian juga duduk di sini. Mari kita makan bersama." Ujar Ravella tersenyum.
Salah satu pelayan segera menjawab, karena takut di hukum oleh Duke. "Te-terima kasih atas kebaikan anda Putri, tapi kami tidak pantas makan bersama Yang Mu.." perkataan mereka segera di potong oleh Duke.
"Lakukan apa yang di perintahkan Putriku!" ujarnya tanpa menoleh, dan memasukkan irisan daging yang telah di potong, kedalam mulutnya.
Para Pelayan melirik kearah Duke dengan takut-takut. Dan ikut duduk Berhadapan dengan Para Kesatria. setelah melihat semuanya duduk bersama, Ravella merasa sangat senang, dan baru makan dengan lahap.
Duke memperhatikan reaksi Putrinya sesaat, dan begitu senang melihat Putrinya jadi bersemangat dan tampak berselera.
***
Setelah selesai makan siang, Duke pergi memeriksa ulang area di luar mansion. Sementara Ravella, sedang duduk di ruang perpustakaan.
Tak lama, Jura muncul. Dan menghampiri Masternya itu. "Apa yang kau baca Nak?" ujarnya duduk di depan Ravella.
"Ng? Kakek.. Kapan Kakek Datang."
"Baru saja..! Kau sepertinya sangat fokus, sampai tidak menyadari kehadiranku."
"Ah, hehe iya." Ravella menutup bukunya.. Dan menanyakan keadaan Spiritnya yang lain. "Bagaimana kabar Para Kakek?"
__ADS_1
"Roya dan Gira akan segera selesai. sedangkan yang lain, masih butuh proses."
"Hmm.. Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar tanpa hambatan, lalu dimana Kakek Rabarus?"
"Pak Tua itu akan tinggal hingga semuanya selesai berevolusi, jadi Kau tidak perlu khawatir padanya." ujarnya
Tak lama.. Terdengar suara langkah kaki mendekati ruangan tersebut. Jura langsung menyembunyikan kehadirannya.
"Tap... Tap.. Tap.. Ngiiiiik." muncul kedua bersaudara , langsung masuk. Karena mereka belum menyadari keberadaan Ravella.
Ravella melihat kearah Gapi lalu tersenyum.. Dan membelai kepala hewan kesayangannya itu. Menyadari adanya pergerakan, keduanya saling menoleh dan terkejut saat melihat Putri Ravella.
"Y-Yang Mulia Kecil...." ujar Rog.
"Putri...." begitupun Ron yang tampak langsung senang. Dan bergegas menghampirinya.
Melihat reaksi adiknya yang tidak sopan, Rog segera menarik lengan adiknya dan bergumam. "dasar bocah tidak sopan, kau harus memberi hormat dulu, baru menyapa beliau." jelasnya langsung menekan kepala adiknya.
"Selamat siang Yang Mulia Kecil..." ujar keduanya.
Ravella hanya menghela nafas melihat reaksi keduanya.. "Haah.. Kebetulan sekali kalian di sini.. Setelah ini aku memang berencana untuk melihat kalian berdua.
Bagaimana latihannya..? Apakah menyulitkan??" tanyanya..
"Sangat menyenangkan Putri.. Saya bahkan di masukan kedalam pasukan cadangan." ujar Rog tersenyum.
"Hehe.. Benar saya juga berlatih sangat keras untuk mengejar kakak." sambung Ron.
"Kami akan berusaha lebih baik lagi, agar tidak mengecewakan Yang Mulia Putri." Jelas Rog lagi.
"Haah.. Syukurlah, tidak perlu terlalu memaksakan diri kalian. Yang paling penting nikmati prosesnya... Dan jalani dengan tekun. Bagaimana dengan kelas lainnya?"
"Semuanya berjalan dengan baik dan sangat menyenangkan, ini semua berkat Yang mulia Putri. Tanpa anda.. Kami tidak akan pernah bisa merasakan berbagai hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Dan kami berdua sangat berterima kasih kepada Yang Mulia Putri, karena telah sudi mengangkat kami sebagai Anak Angkat Yang Mulia." jelas Rog merasa bahagia.
"Benar Yang Mulia Putri.. Kami akan melakukan yang terbaik, agar Yang Mulia tidak menyesal telah mengangkat kami." ujar Ron mengusap kepalanya.
"Aku senang kalian menikmatinya.. Dan jika kalian membutuhkan sesuatu, atau sedang kesulitan! Kalian bisa katakan pada Ranov."
"Baik Putri.." ujar Keduanya.. Bersamaan.
"Kalau begitu kalian bisa lanjutkan memilih buku yang kalian inginkan, karena aku juga akan pergi."
"Baik Yang Mulia.." jawab keduanya, namun Ron tampak sedikit kecewa dengan kepergian Ravella. Padahal ia ingin lebih lama lagi menghabiskan waktu bersama Putri Kecil itu.
Sadar akan reaksi adiknya.. Rog dengan cepat menepuk pundak adiknya. Yang membuat Ron segera tersadar. "Ayo.. Kita lanjutkan lagi.."
"Heum." Angguknya patuh.
Keduanya pun pergi ke rak buku.. Tapi tanpa mereka sadari, ada seseorang yang telah memperhatikan mereka sejak tadi. Dan dia hanya diam mengamati.
__ADS_1
'Sepertinya bocah kecil itu mempunyai perasaan terhadap Dewi.' pikirnya berlalu pergi, dan segera menyusul Ravella.