AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
APA KAU SUDAH PUAS RAZAK...!


__ADS_3

Hem..Hem.. Hem.. Kau tahu bukan! jika aku memelihara predator buas yang tidak bisa di jinakkan oleh siapapun, Kecuali aku sendiri.'


Mendengar perkatan Sang Baginda, Ekspresi Razak berubah, matanya langsung melebar..


'Tunggu.., jangan bilang peliharaan Baginda yang itu??'


'Kau benar Razak, mereka sudah tiga hari tidak aku beri makan. Jadi, Hari ini bawa mereka untuk menjadi santapan makan malam heh.. Dengan begini apa kau sudah puas Razak...!


'Hehehe.. Sangat puas Baginda, terima kasih banyak.'


Raffael diam terpaku dalam keheningan, dalam kediamannya.. Ia seperti sedang merenungi sesuatu, kepala yang sedikit miring kekiri bertopang pipi pada kepalan tangannya. Dengan kedua kaki yang di silang, pikirannya sedang berada jauh pada sang pujaan yang selalu ia rindukan.


'Apa yang di pikirkan beliau..?' Razak memperhatikan keseriusan sang Baginda. 'ada apa dengan Baginda..? beliau tampak begitu kesepian dan itu terpancar jelas di matanya! Meski ia menyeringai tapi itu tidak membuatnya bahagia.' Beberapa saat kemudian, ia kembali mengeluarkan suara.


'Razak, karena urusan di sini sudah selesai.. Aku akan kembali keistana. Jangan lupa apa yang aku bicarakan tadi..!!'


'Baik Baginda, akan saya laksanakan sesuai perintah anda.'


Tak lama sosok sang Baginda menghilang dari kursi kebesarannya.. Membuat banyak mata takjub dengan sosok sang Kaisar muda tersebut. Dari kejauhan.. Suara pujian terdengar dari para rakyat.


"Wuah.. Lihatlah beliau, meski beliau terlihat masih sangat muda.. Tapi negara kita sangat beruntung mempunyai pemimpin seperti beliau."


"Kau benar.. Kaisar kita sangat kuat dan peduli dengan rakyatnya. Ia tidak pernah pilih-pilih dalam menghukum bawahannya, tegas dan berwibawa. Selalu mengutamakan kebutuhan rakyatnya, aku bangga memiliki Kaisar seperti beliau."


"Ya tidak hanya kuat tapi juga bermartabat dan adil dalam memimpin."


Yang lain mengangguk membenarkan, sementara para bangsawan yang mendengarkan pujian demi pujian merasa risih, karena sang Kaisar selalu menomor duakan para bangsawan.

__ADS_1


Razak yang memperhatikan dalam diam ketidak sukaan sebagian para bangsawan, hanya menyeringai dan menikmati tontonan tersebut.


'Baginda selalu menunjukkan kepeduliannya saat bersama rakyat, itulah mengapa rakyat negeri ini begitu menyayanginya dan menyanjung beliau. Namun berbeda dengan kaum bangsawan, yang mengaku setia di mulut tapi bersifat kontradiktif.


Sebagian ada yang berpihak kepada Baginda, sebagian lagi masih bertahan dengan prinsip mereka yang tidak menerima cara baginda memimpin. Karena mereka tidak bisa menjadikan beliau, sebagai boneka yang bertindak sesuai keinginan mereka.


Haah... Apa mereka bodoh, justru Kaisar yang seperti itu tidak layak memimpin negara ini. Seorang Kaisar yang terlalu mudah di kendalikan dengan bawahan sama saja dengan boneka! Sementara Kaisar yang tidak mudah di atur itulah Kaisar yang sesungguhnya.


Apa mereka tidak sadar.. Beliau mengabaikan keberadaan mereka itu karena beliau masih menghargai jasa mereka terhadap negeri ini. Jika tidak, sudah lama Baginda menyingkirkan mereka.'


Razak memperhatikan para masyarakat yang berkumpul, melihat para tersangka di adili.


'Sedangkan kalian.. sangat beruntung menjadi orang yang tidak tahu apapun!!'


...****************...


Begitupun dengan si bocah keras kepala, ia tidak pernah menganggap putrinya ada, ia sangat membenci keberadaannya.. Sangking bencinya ia bahkan menelantarkan Putrinya. Karena dia menganggap mendiang istrinya mati karena kelahiran Putrinya sendiri.. Sebab itulah ia tidak pernah sudi menunjukkan Putrinya, kehadapan publik.


Tepatnya ia tidak pernah mengakui jika ia mempunyai seorang malaikat kecil, yang tidak pernah lelah menanti kehadirannya, terkadang ia termenung sendiri di sudut jendela kamar, berharap sang Ayah datang mengakuinya, atau melihatnya.


Tapi Master tidak pernah memberi jejaknya sedikitpun, ia bahkan di asingkan dari mansion utama, ia memindahkan Putrinya kemansion lama di mana tempat itu tidak layak di huni lagi, karena kondisi bangunannya yang sudah tua.


Ia hanya bertemankan seorang dayang dan hidup terasing, Anak itu terus menunggu pelukan hangat, menunggu ia datang meskipun hanya sekedar melihat itu sudah cukup baginya. Dewi tidak pernah berharap lebih, karena ia tahu betul betapa bencinya Master dengan keberadaannya.


Ia bahkan terlihat sangat kesepian, sampai-sampai ia merasa iri dengan sosok hewan yang mempunyai keluarga. Bayangkan saja anak sekecil itu.. Memaksa diri menjadi terbiasa tanpa figur Ayah disisinya.. Tapi ia tidak pernah mengeluh kepada siapapun dan hanya memendam sendiri lukanya, Karena ia meyakini jika Ayahnya bisa berubah suatu hari.


Dan baru beberapa tahun terakhir, entah bagaimana bocah itu secara perlahan-lahan mulai luluh, karena melihat perubahan drastis dari sikap Putrinya yang secara tiba-tiba menjadi dingin padanya. Ia menjadi rindu dengan panggilan Ayah dari si malaikat kecil yang telah ia abaikan selama ini.

__ADS_1


Setelah kejadian keracunan tersebut, Dewi mulai berubah, dia tidak pernah lagi mencari atau mengejar kasih sayang bocah tersebut, dan tidak pernah lagi menyebutnya Ayah, atau hanya sekedar menyapa Ayahnya jika bertemu.


Bahkan Dewi seperti tidak peduli lagi dengan keberadaan Master, ia sampai berhenti memanggilnya Ayah kecuali dengan sebutan Yang Mulia, dan ia selalu menghindarinya setiap kali mereka bertemu, meskipun hanya saling bertatap mata ia dengan cepat membuang mukanya kelain.. Seolah yang tersisa hanyalah sebuah kebencian.


Karena itu aku tidak percaya sama sekali saat kakek mengatakan jika Dewi, mempunyai teman. Apapun alasannya aku tidak akan percaya, karena aku sangat mengenalinya.. Melebihi Ayahnya sendiri, Aku selalu mengawasi Dewi sejak ia masih bayi tanpa Dewi tahu, aku hanya bisa melindunginya dalam diam tanpa sepengetahuan Masterku, Karena hanya itu yang bisa aku lakukan."


Zion mencurahkan semua yang ia pendam selama ini, di hadapan keempat Spirit. namun, tanpa Zion sadari seseorang di luar sana sedang menguping dalam diam. Keempat Spirit sudah tahu jika ia tidak pergi dan hanya bersandar di dinding ia mendengarkan semua yang dibicarakan Zion, para Spirit sengaja membiarkannya begitu saja tanpa memberitahu Zion.


Luka yang hampir ia lupakan, kini kembali berdarah, membuat air mata yang tak bisa di bendung mengalir jatuh dalam diam. Hatinya kembali mendung, ia menangis tanpa suara dan menutup wajahnya dengan kedua tangan yang kasar.


Setelah mendengar semua isi hati dari Spirit miliknya, ia kembali ke kamarnya dengan perasaan bersalah. ia menjatuhkan diri diatas ranjang empuk miliknya dan tenggelam lebih dalam lagi menikmati penyesalan yang seakan menarik membelenggu dirinya kedalam jurang terdalam.


'Berapa tahun terbuang secara sia-sia.. Selama enam tahun aku mengabaikan Putriku. Ayah macam apa aku ini..! Selama itu juga aku telah kehilangan banyak momen indah saat dia masih lucu-lucunya dan sedang membutuhkan figurku sebagai sosok Ayah, tempat ia bersandar, dan bermanja sambil berkeluh kesah.


Akan tetapi.. aku yang bodoh ini terlalu larut dalam kesedihan. karena kepergian Istriku yang tiba-tiba Aku jadi menyalahkan Putriku, padahal bukan dia yang meminta untuk dilahirkan kedunia ini. Justru dia adalah harta karun terindah yang aku miliki di dunia, hadiah terbaik yang di berikan istriku untuk menemani hari-hari sepiku dengan semua kelucuannya, dan kenakalannya.


Haah... Ini menyakitkan, aku bahkan tidak ingat bagaimana sosoknya waktu bayi..! apa yang telah aku lakukan dulu, sangat tidak bisa dimaafkan. untuk itu aku akan menebusnya dengan cara apapun untuk membahagiakan Putriku!!' ia menutup matanya dengan lengannya. "Haah..., Arabella Istriku, aku sangat merindukanmu Arabella.. Arabella.. Ara..bel.."


Setelah lelah menangis.. Lannox kembali tertidur dalam pelukan penyesalan.


Langit sudah gelap, mentari telah kembali keharibaannya.


***


Di istana.. Sang Kaisar duduk terpaku dalam diam. Suasana kamar yang gelap disertai keheningan yang mendukung.. Membuat ia nyaman tanpa gangguan. Ia tersenyum dan berujar dalam hati.


'Aku akan segera menemuimu, aku sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana keadaanmu?'

__ADS_1


__ADS_2