AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
LINDUNGI COUNT ARNOLD DAN KELUARGANYA


__ADS_3

"kakek kalian juga ada disini..!"


"tentu saja nak,mengapa keberadaanmu tidak dapat kami ketahui..! biasanya, kami bisa merasakan aura keberadaanmu..!"


"aku juga.. tidak tahu kek tama, ini memang aneh, saat aku sadar tiba-tiba aku sudah berada dikamar. kupikir ayah dan kalianlah, yang menyelamatkan aku, tenyata bukan juga.. lalu siapa..?"


"entahla nak, tapi, kami bersyukur kau telah kembali." ujar roya lega.


"sayang, ada yang ingin kami perkenalkan padamu."


"benarkah! siapa itu kek jura? apa dia juga seperti kalian..?!"


"keluarlah."


"halo dewi.. perkenalkan, namaku garda."


"halo, salam kenal tuan garda."


"panggil aku garda saja dewi."


"baiklah."


"lapor yang mulia, ada yang ingin bertemu dengan yang mulia"


"siapa?"


"count Arnold, yang mulia."


"baiklah, aku akan segera menemuinya, putriku.. ayah tinggal dulu."


"baik ayah, keliatannya.. ada urusan penting, ayah terlihat serius sekali."


"bagaimana kabar ravella..?"


"beliau baik-baik saja, pangeran."


"hmm baguslah, kau boleh pergi."


"baik pangeran."


"berarti.. kasus monster diperbatasan, telah terselesaikan. bagus, sebentar lagi.. akan ada pesta penyambutan untuk singa kekaisaran. hmm.. vella bakal datang dipesta itu, hanya disana, aku bisa menemuinya."


"bagaimana penyelidikanmu arnold..?"


"seperti yang anda duga, ada pergerakan aneh dari organisasi gelap, mereka menamai perkumpulan mereka.. pembunuh malam."


"apa kau sudah mendapat bukti, dari pergerakan mereka..?"


"so so..al itu, saya minta maaf yang mulia."


"mata-mata yang saya kirim, telah dibunuh secara brutal. dan, paginya.. mayat mereka digantung ditempat umum yang mulia. tapi sepertinya, mereka sangat menjaga kerahasian indentitas mereka, sampai mati. karena saat saya sampai disana, lidah mereka telah terputus seperti bekas gigitan."


"hmm.. ini sebuah peringatan, berarti mereka sedang mencari keberadaanmu, kau harus berhati-hati arnold, jangan menunjukan kecurigaan apapun yang bisa membuatmu tertangkap. bisa jadi, mereka memata-matai kita dari dalam."


"baik yang mulia, lantas langkah apa! yang harus kita lakukan selanjutnya..?"


"hmm untuk sekarang, kita tunda dulu penyelidikan kasus ini.. agar menghindari kecurigaan, mereka pasti sedang membaca pergerakanmu, dan menunggu celah untuk menjebakmu."


"baik yang mulia, jika ada lagi yang anda butuhkan, silahkan hubungi saya, saya akan siap membantu kapanpun."


"baik, sekarang kau kembalilah"


"saya mohon pamit yang mulia."


"kek, bisakah kita ke zona mana..! ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."


"kek zion, kau juga."


"oh, apa aku juga boleh ikut dewi..!"


"tentu saja kek."


ravella membuka portal dengan mata ketiganya, setelah lannox pergi, mereka juga ikut bergerak tanpa sepengetahuan lannox.


"wow.. tempat apa ini..? mengapa pemandangannya seperti di luar angkasa.. apakah ini zona milikmu dewi?"


"hmmm tentu saja.. tempat ini sangat istimewa, hanya yang terpilih yang bisa memasukinya, mungkin kau orang terakhir."


"kau pantas menyombongkan diri zaku, sesuai dengan dirimu, ya.. walaupun aku sedikit kecewa, menjadi orang terakhir datang kesini."


"heh, tentu saja.. karena kau bukanlah yang terpilih."


"hufftt, mereka mulai lagi" ujar saga.


"baiklah euh, maaf tuan garda.. aku harus memanggil mu apa? karena aku, tidak terbiasa memanggil orang yang lebih tua, dengan nama."


"tidak apa-apa dewi, panggil nama saja. lagian.. kalau sampai beliau tahu anda memanggil saya, dengan sebutan hormat, saya akan celaka."


"euh, apa maksudmu..?"


"oh tidak, aku hanya bicara sendiri. anda cukup panggil saya dengan nama saja dewi."


"baiklah jika itu mahumu."


"kek roya, bisakah aku memintamu, dan kek zion, untuk menguping pembicaraan ayah."


"apakah ini misi untukku dewi..?"


"ya, kek! ini adalah misi pertamamu."


"tentu saja nak, aku akan melakukannya sekarang, bocah, ayo kita bergerak."


"o..ow tidak, ini merepotkan."


"jadi maksud mu, aku merepotkan hah?"

__ADS_1


roya langsung memegang zion, dan merekapun tenggelam bersama bayangan, untuk menguping pembicaraan lannox.


"sayang, mengapa tiba-tiba kau meminta roya untuk melakukannya secara diam-diam! bukankah kita bisa bertanya secara langsung..?"


"tidak kek saga, jika menyangkut informasi penting, ayah tidak akan pernah mahu cerita, ayah akan memendamnya seorang diri."


"oya, ku dengar dari ayah, kalian berkelahi karena aku, benarkah itu kek jura?"


"hmm ya.. benar nak, jika bukan karena garda, yang memancing lebih dulu, kami tidak akan berkelahi."


"hei.. siapa suruh kau terbawa emosi, padahal aku hanya memberi salam perkenalan saja."


"apa candaan seperti itu kau bilang salam perkenalan, cih yang benar saja."


"kenapa kau selalu tadak ramah saat bersamaku tama, aku heran.. apa aku punya masalah denganmu..! hmm setahuku sih tidak."


"ya.. masalahnya kau masih belum memberitahu kami, darimana asal usulmu? kau hanya bilang akan menceritakannya, tapi hingga sekarang.. tidak satupun aku dengar ceritamu! kau selalu menghindar jika ditanya..?!"


"ya, harus bagaimana lagi.. ini memang sulit, dan aku harus merahasiakan identitasku, tapi percayalah! aku bukan musuh. aku dikirim kemari, untuk menjaga zion, karena dia telah menjadi spirit kesayangan dewi. hanya itu yang bisa aku katakan, aku harap kalian bisa memakluminya."


semua spirit yang mendengar cerita garda, hanya bisa terdiam. namun juga penasaran, mengapa zion harus dilindungi hanya karena dia kesayangan sang dewi.


'hmmm ini aneh, apa mungkin hanya karena zion menjadi kesayangan dewi, apa zion mempunyai bakat khusus! atau dia.. apa ada yang kami tidak ketahui tentangnya. tapi kalau tidak salah, baginda kaisar juga sangat menyukainya. saat pertama kali kami datang, beliau juga berbicara seakan-akan, sangat dekat dengan zion, bukankah dia hanya cucu zaku. seharusnya zaku pasti tahu tentang cucunya, siapa kau sebenarnya zion..?'


jura benar-benar berpikir keras, dan mulai mengawasi zion, secara diam-diam, tanpa sepengetahuan siapapun.


"kami mengerti, mungkin ada yang tidak bisa diceritakan. ah, tapi aku benar-benar tidak bisa jika memanggilmu nama. aku merasa tidak sopan, bagaimana kalau aku memanggilmu paman saja."


"tidak apa-apa garda, dewi memang begitu, awalnya beliau juga tidak bisa memanggil kami dengan nama, karena perbedaan jarak usia yang terlalu jauh, jadi beliau memanggil kami dengan sebutan kakek."


"begitu ya.. anda sangat sopan sekali dewi, dijaman sekarang, sangat sulit menemukan orang seperti anda. tapi dewi, aku lebih tua daripada para spirit milikmu, kau bisa memanggilku sama seperti mereka."


"oh, begitukah! baiklah, kalau kakek sudah bilang seperti itu."


"cih! dia mulai sok tua sekarang."


"kau tidak perlu sirik begitu tama, akuilah kalau aku lebih senior daripada kalian."


"cih, aku saja yang jauh lebih tua darimu, tidak bangga tuh!"


"apa maksudmu zaku! apa kau yakin kau lebih tua dariku?"


"ya.. tentu saja, lihat rambutku baik-baik. sangat putih bukan..! sedangkan rambut kalian, tidak tuh. itu berarti, sudah jelas kalau orang tua itu rambutnya putih, berarti aku yang paling tua disini."


"ahahaha aku kira apa, dasar kau zaku. pintar juga kau ngelucu, walaupun tidak lucu sih." sedangkan yang lain hanya menahan tawa, mendengar ocehan receh dari zaku.


"hihihi.. kalian ternyata akrab sekali ya kek."


"hmm tapi, kenapa kakek roya, dan kek zion, lama sekali ya.."


"mungkin pembicaraan mereka, belum selesai nak."


tetiba yang di bicarakanpun muncul, roya dan zion keluar dari bayangan.


"maaf, kami sedikit terlambat. jadi begitu Dewi.. seperti yang mereka bicarakan."


"ada apa dewi? mengapa kau melihat kami seperti itu..!"


"oh, aku sedang berpikir, siapa yang akan aku kirim, untuk menjalankan misi ini."


"ha.. kalau begitu aku saja nak, aku memang sudah menantikan ini sejak lama."


"mmm.. apa kakek tidak merasa lelah?"


"tentu saja tidak sayang, daripada duduk diam tanpa melakukan apapun, lebih baik aku melakukan misi."


"baiklah, jika itu yang kakek inginkan."


"bisakah kake melindungi count arnold? sambil mencari tahu pergerakan si pembunuh malam. aku akan membantu ayah, tanpa sepengetahuannya."


"tentu saja nak, aku sangat siap."


"oh satu lagi, kakek tidak melakukannya sendiri, kakek akan ditemani, kakek tama."


"a..apa.. jadi aku juga ikut.. kalau begitu, aku dengan senang hati menerima titahmu dewi."


tama membungkuk hormat, dengan satu tangan didadanya.


"kakek tidak perlu begitu, jangan perlakukan aku seperti majikan. aku tidak suka itu, jika kalian menganggap aku keluarga, perlakukanlah aku seperti biasa. karena aku juga, sudah menganggap kalian sebagai keluargaku."


"oh dewiku.. aku semakin bangga padamu nak, kau jadi semakin dewasa saja, padahal kau masih sangat kecil."


"ayolah kek! jangan berlebihan begitu, baiklah, kembali ke topik awal. karena penciuman kakek yang tajam, dan penglihatan kakek roya, yang seperti teleskop."


"teleskop, apa itu dewi?" tanya roya penasaran.


"ah, itu adalah alat yang bisa melihat dari jarak jauh, ya.. mata kakek mirip seperti itu."


"oh benarkah..! suatu kebanggaan mendapat pujian darimu dewi."


"dan kalian berdua, sangat cocok untuk misi ini. tolong lindungi count arnold, dan keluarganya! serta, cari tahu pergerakan yang dilakukan organisasi gelap secara diam-diam."


"baik, kami pergi sekarang." ujar tama.


"ayo kita kembali, sebelum ayah mencurigai kita kek."


"ya.. sayang. mereka berdua pasti sangat senang, apalagi roya." ujar yang lainnya.


'hmm, ah benar saja.. dugaanku, pak tua itu pasti panik mencariku.'


"darimana saja kau nak! ayah sudah mencarimu sedari tadi, ayah pikir kau menghilang lagi.. ternyata kau ada disini."


"hehe.. tenanglah ayah, aku hanya berjalan-jalan sebentar, lagian ada para spirit yang menjagaku."


lannox memandang kearah spirit ravella, namun dia masih tidak bisa mempercayai mereka.. sejak kehilangan putrinya. lannox jadi lebih protektif lagi, terhadap putri semata wayangnya. kemudian, lannox lansung mengambil ravella, dan menggendongnya.

__ADS_1


"ayo sayang, kita pergi."


"kita mahu kemana ayah?"


"ada tempat, yang akan ayah tunjukan padamu."


merekapun pergi, namun, tentu saja dikawal oleh para spirit, termasuk garda. semenjak garda menunjukkan dirinya, ia tidak mahu lagi menjadi kalung, dia lebih suka seperti sekarang, bertindak bebas tanpa harus merahasiakan wujudnya. dan dia menjadi nyaman, berada diantara para spirit lainnya.


...----------------...


semilir angin bertiup lembut, seakan menyapa para mahluk bumi, untuk bersantai. hamparan bunga yang bergoyang.. seolah menjadi keindahan tersendiri diantara luasnya bukit, hingga tampak lautan biru terbentang luas.


"apakah kau menyukainya nak?"


"ya.. ini sangat indah ayah." 'aku tidak menyangka, ada pemandangan seindah ini.. dalam dunia novel yang kujalani.' "ayah, apakah ini yang ingin ayah tunjukan padaku..?"


"ya sayang, semenjak kepergian ibumu, ayah selalu datang kesini, karena ini tempat favorit ibumu."


"ya.. ini benar-benar indah, bahkan tubuhku juga ikut beraksi merasakan mana yang melimpah disini, mahukah ayah, memegang tanganku..?"


"tentu saja nak, kau tidak perlu meminta izin dariku, lakukan saja sesukamu."


mereka berdiri, dan ravella meraih kedua tangan ayahnya. tiba-tiba tubuh mereka berdua.. melayang tinggi, seakan didorong oleh angin, ravella seperti sedang bermain bersama udara.


"hah.. putriku, apa kau tidak kenapa-napa?"


"tenang saja ayah, aku baik-baik saja. bukankah sudah kukatakan, mana disini sangat melimpah, bahkan.. angin saja seperti hidup dan, seakan sedang menari-nari, disekitarku."


"hmm.. aku sangat beruntung, memiliki putri sepertimu ravell." lannox menatap sendu, pada ravella.


"ayah, bukankah ayah sangat merindukan ibu..!" 'kulihat raut wajah ayah, menjadi berubah. dan tanpa dia sadari, airmatanya jatuh membasahi pipi mulusnya.'


"ya.. sangat, tapi ayah tidak bisa melihatnya lagi, dia telah tenang disana."


"hmm, apakah ayah mahu bertemu dengan ibu?"


"andai itu terjadi, ayah sangat senang."


"akan kuberitahu sebuah rahasia."


"rahasia!"


"ya, dibilang rahasia tidak juga sih. sebelum ayah tidur, serulah nama ibu dengan bersungguh-sungguh. itupun, jika ayah percaya kepadaku."


"ayah selalu percaya padamu nak, memang apa yang terjadi jika ayah menyeru nama ibumu?"


"ibu akan datang, kedalam mimpi ayah."


"benarkah itu!"


"ya, itu yang ibu katakan padaku, ibu juga sangat merindukan ayah."


"baiklah, akan ayah coba nanti."


lannox hanya menganggap itu sebuah lelucon konyol putrinya, dia tidak menganggap serius, apa yang dikatakan putrinya.


"lihatlah dua anak manusia itu, mereka sungguh ayah dan anak yang sangat akrab."


"ya.. kau benar garda, tapi banyak luka yang mereka lalui.. untuk sampai ketahap ini."


"ya.. namun semua ini, hanya bersifat sementara jura. dewi kita sudah semakin membesar. dan jalan yang harus ditempuh kedepannya, masih sangat panjang. dia akan melewati ujian yang lebih berat lagi, Karena itulah takdir sebagai sang dewi."


jura terdiam dan merenungkan kembali apa yang dikatakan garda, rintangan yang dijalani sang Dewi, akan segera dimulai. tapi dia bersyukur dalam hati, ia merasa lega.


"ya tapi untungnya, dewi selalu dikelilingi keberuntungan."


"ya.. kau benar."


"sayang, ayo kita turun, hari sudah mulai gelap, kau nanti akan kedinginan."


"baik ayah."


mereka perlahan melayang turun, namun, tidak ada satupun yang menyadari keberadaan sosok pria tampan berambut biru, yang memperhatikan ravella sejak tadi. dia terus mengawasi ravella, tanpa melepaskan pandangannya.


"bahkan anginpun tunduk kepadamu dewi, hmm.. aku sungguh tidak sabar menanti kedewasaanmu. akan seperti apa kau nantinya, setelah dewasa! sampai jumpa dewiku, kita akan segera bertemu."


setelah melepas kepergian ravella, iapun menghilang bersama angin.


...****************...


"yang mulia, anda sudah sampai?"


"ssstttthh, diamlah.. putriku sedang tidur."


pelayan menganguk, dan lannox berlalu pergi. setelah mengantar ravella kekamarnya, lannoxpun pergi meninggalkan putrinya. sepanjang perjalanan, kata-kata putrinya terus terngiang-ngiang dipikirannya.


'sebenarnya, aku sedikit ragu, namun aku akan mencobanya nanti.' keesokan paginya.


"tok.. tok.. tok.."


"masukan"


"ini laporannya, yang mulia."


"hmm bawa kemari." lannox, melihat lembaran kertas, yang dibawa kepadanya.


"jadi, hari penyambutan sudah semakin dekat?"


"benar yang mulia, dan kaisar memerintahkan untuk mengajak yang mulia Putri, bersama anda."


"dan, bagaimana jika aku menolaknya?"


"maka, perjanjian penyambutan, dan seserahan wilayah kekuasaan, akan di anggap batal."


'hmm.. jadi begitu! dia mencoba mengancamku dengan memanfaatkan putriku.' "baiklah, akan aku sambut lemparannya, kau boleh pergi sekarang."

__ADS_1


"saya izin pamit, yang mulia."


"ceklik" suara pintu tertutup kembali. "dia mengancamku! apa dia pikir aku akan takut, dan menyerah begitu saja. tentu saja itu hanya dalam khayalanmu kaisar. kita lihat saja nanti, permainan seperti apa lagi yang akan dimainkan olehnya."


__ADS_2