AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
SANG RAJA


__ADS_3

bayangan hitam menunggu jawaban Rafael, dengan sangat antusiasnya. Rafael hanya tersenyum miring, menanggapi bayangan hitam tersebut.


"kau tidak perlu turun tangan hanya untuk masalah sepele, karena mereka tidak ada apa-apanya bagiku."


"baiklah baginda."


bayangan hitam itupun menghilang, dengan perasaan kecewa tanpa pamit.


'cih dasar tidak sopan, dia datang dan pergi tanpa memberikan sapa hormat.'


(arlo) "kudengar dari rumor yang beredar.. dia membangun kekuatannya sendiri, dan mendirikan sebuah benua barat hanya dengan kekuatannya saja, bahkan tanpa bantuan dari siapapun. ia juga sudah bisa menjadi master sihir saat berusia tujuh tahun."


(zora) "wow itu menakjubkan, ini sangat menarik."


zora mulai tertarik dan berjalan menghampiri meja sedang yang hanya tersedia tiga kursi untuk mereka bertiga, lalu ia mendudukinya dan mulai menyimak cerita arlo, begitupun dengan Lukas yang mendengarkan sambil menyesap teh hangat.


"slurrp"


"apa semuanya sudah lengkap?"


(Roland) "sudah semuanya yang mulia."


(dr.anna) "kami juga sudah semuanya yang mulia."


(jay) "perbekalan dan Persiapan barang lainnya, juga sudah selesai yang mulia."


lannox menarik sarung tangan hitamnya.


"baik bersiaplah. tik"


cahaya biru menyala terang dan membuat lingkaran besar, dan dalam sekejap semuanya menjadi gelap dan lenyap.


'sekarang semuanya sudah beres, oya, bukankah masih ada yang tertinggal satu lagi..?'


"siapa yang kau maksud?"


'lihatlah disana'


lannox berbalik kebelakang, tampak dari jauh sosok pria berambut hitam sedang berdiri didepan kamp miliknya. lannox terdiam sekejap, sambil berpikir sejenak.


'hem aku kelupaan dengan anak satu itu, gegara menyuruh si argus cepat-cepat pergi.. anak itu jadi ketinggalan.'


"argus"


"wuusshh.. wuusshh.. wuusshh.. hormat saya yang mulia. perintah apa yang bisa saya lakukan untuk anda!"


"ikut aku"


lannox segera melangkah menuju kearah robi berada, arguspun mengikutinya dari belakang dengan santai.


"tap.. tap.. tap.."


suara langkah lannox menyadarkan robi, yang tengah fokus berjaga sendirian.


"ya.. yang mulia."


"sedang apa kau disini?"


"karena semuanya sudah pergi.. jadi saya pikir biarkan saya saja yang menggantikannya untuk menjaga yang mulia."


"tidak perlu robi, untuk saat ini.. kau ikutlah denganya. karena aku masih ada sedikit urusan yang harus diselesaikan disini."


robi melihat sosok argus yang mengenakan jubah hijau dengan kerundung menutupi kepalanya hanya tampak bibirnya yang menyeringai ngeri.


'ingstingku mengatakan, pria ini sangat berbahaya. tapi, ini perintah yang mulia, jadi aku harus mematuhinya bukan.'

__ADS_1


"baik yang mulia."


"kalian berdua kembalilah, yang lainnya sudah menunggumu disana argus."


"baik yang mulia, saya mohon undur diri dulu."


argus berdiri didekat robi, dan memegang pundak robi. hembusan angin kecil berputar-putar pelan, disekitar mereka lalu membawa keduanya pergi dan menghilang."


'baiklah, sekarang tinggal kita, lebih baik kita segera bertukar tubuh. karena akan lebih mudah untukku bergerak.'


'apa maksudmu?'


'kau tenang saja, nanti kau juga akan mengerti maksudku.'


damu memaksa lannox untuk bertukar tubuh, dalam sekejap mereka telah bertukar. lannox bahkan tidak bisa menolak paksaan damu, untuk menguasai tubuhnya.


'sialan kau, berani-beraninya kau menguasai tubuhku secara paksa.'


'bukankah aku sudah meminta izin, sudahlah.. inipun kulakukan karena aku murni ingin membantumu.'


'cih' lannox tidak bisa berbuat apa-apa lagi.'


merekapun segera berangkat ketempat persembunyian penyihir berada.


(lukas) "apakah dia sehebat itu?"


(zora) ".........."


(arlo) "tidak hanya itu.. bahkan dia juga bisa menguasai mana dan aura secara bersamaan."


(zora) "Tidak mungkin, bagaimana bisa dia bisa menguasainya dengan sangat mudahnya, sementara untuk menjadi master sihir di usia kecil begitu, sudah memerlukan kekuatan yang sangat besar, apalagi.. jika bisa menguasai mana dan aura sekaligus. bukankah berarti dia mempunyai energi yang berlebih?"


(lukas) "Benar sekali, menggunakan sihir di usia segitu membutuhkan energi yang sangat besar sekali. apalagi jika pengontrolan sihir tidak selaras, minimal bisa membuat sipengguna cedera parah, paling berat adalah cacat permanen."


(zora) "sayang sekali.. dia adalah musuh! jika tidak, aku ingin menjadi muridnya."


(arlo) "tidak semudah itu untuk menjadi muridnya."


(zora) "apa maksudmu?"


(lukas) ".........."


(arlo) "kudengar selain menjadi master sihir, dia juga terkenal sadis dan kejam. apa kalian masih ingat? saat dia mengadakan penyerangan terhadap benua utara?"


(lukas) "oh aku ingat itu, kalau tidak salah, penguasa dari benua utara sangat terkenal dengan sang singa kekaisarannya, yang sangat buas, bahkan mereka selalu memenangkan peperangan."


(zora) "benarkah! apakah dia seorang penyihir juga?"


(lukas) "bukan, dia adalah master sword, juga pengguna mana dan aura, dia selalu didampingi spiritnya yang sangat terkenal, yaitu sang singa itu sendiri. hanya saja, kekurangannya dia tidak bisa menguasai sihir."


(arlo) "ya kau benar lukas, berkebalikan dengan pemimpin benua utara, karena pemimpin benua barat tidak bisa menggunakan pedang. ternyata kau banyak tau juga tentang pahlawan dari benua utara..!"


(lukas) "tentu saja.. aku tau, karena aku adalah salah satu pengagumnya."


(zora) "jika mereka bertanding kira-kira siapa yang akan menang?"


(arlo) "entahlah, semuanya mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, dan juga sama-sama mempunyai naluri yang sangat kejam, jadi sulit untuk menebak! siapa diantara keduanya yang akan menang. tapi, lebih dari itu..! yang paling aku khawatirkan sekarang, adalah nasib negara kita yang kecil ini."


kedua temannya menjadi bungkam saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut arlo.


setelah diam sesaat, mereka kembali berbicara.


(Lukas) "ya tepatnya, raja kita sudah salah memilih lawan."


(zora) "jika kita tetap melakukan perang, tidak hanya banyak menelan korban jiwa, tapi, tanah.. dan lahan yang terkenal subur dan makmur akan hasil alamnya, juga akan terkena dampaknya. sebab negara ini sangat bergantung dengan holy stone itu sendiri, tepatnya holy stone adalah jantung dari negara ini."

__ADS_1


(arlo) "ya kau benar, biarpun kita mempunyai master sihir dipihak kita, tapi belum tentu bisa menandingi pihak lawan."


(lukas) "haah raja tidak akan mau mendengarkan saran dari kita, bukankah kalian dengar sendiri apa yang sudah dikatakannya."


(flashback) "aku tidak mau tau, bagaimanapun caranya kita harus mendapatkan kembali holy stone itu."


(lukas) "tapi baginda, melihat tingkat kekuatan musuh, selain kalah jumlah, kita juga kalah kekuatan.


(arlo) "ya baginda, sebaiknya kita membuat perjanjian damai saja, itu untuk mengurangi dampak kerugian yang akan kita alami."


"braaakk... apa kalian bercanda haaah? bukankah kalian tau sendiri, betapa berharganya holy stone untuk negara ini..?"


(zora) 'bukankah itu salahnya sendiri..! kenapa juga sekarang dia malah menyalahkan kami..?'


"pokoknya aku tidak mau tau, bagaimanapun caranya, kalian harus mendapatkan kembali holy stone. dan seminggu lagi kita akan memulainya.. siapkan seluruh pasukan, kita akan mengadakan perang ke benua barat."


(lukas) "sejujurnya baginda raja sangatlah egois dan arogan."


(arlo) "tetapi kita juga tidak mempunyai cara untuk menghentikannya."


(Zora) "perang ini juga terjadi karena baginda duluan yang memulainya, padahal dulu kita aman-aman saja.. dan tidak pernah mengganggu ataupun diganggu."


(lukas) "ya tapi kita tidak tahu, apa yang tiba-tiba membuat beliau berubah keinginan untuk menantangnya, apakah ada yang menggerakkan beliau. padahal beliau juga tau sendiri perbedaan kekuatan kita yang sangat besar?"


mereka bertiga merenungkan tindakan baginda raja, sementara itu di tempat lannox berada.


"kita sudah dekat, mereka sepertinya ada disekitar sini."


'apa kau yakin?'


'tentu saja, penciumanku tidak akan pernah berbohong.'


'hah apa kau pikir kau itu serigala!'


'jangan banyak bicara, kau cukup lihat saja, apa yang akan aku lakukan.'


di mantion keresahan menghinggapi zion, yang tengah duduk melihat keluar jendela


"apa yang dilakukan bocah naga itu..! kenapa dia masih belum juga kembali, ini sudah beberapa hari semenjak dia pergi, aku jadi merasa khawatir. dia masih sangat kecil, bisa saja ada monster liar yang memangsanya. haah.. bagaimana ini? aku tidak mungkin meninggalkan dewi sendirian tanpa penjagaan disisinya. tapi, anak itu juga belum bisa berkomunikasi, dari jarak jauh!"


zion melihat ravella yang masih tertidur pulas.


"rambutnya tetap bercahaya, wajahnyapun masih berseri-seri memancarkan aura sang dewi."


'ah tidak.. tidak.. disaat seperti ini apa yang aku pikirkan? bocah kecil itu belum juga kembali. biasanya dia tidak seperti ini. dia akan kembali tepat waktu setelah makan malam, paling juga ia telat beberapa jam. tapi ini sangat aneh sekali?'


tiba-tiba beberapa cahaya kerlipan kecil yang seperti kunang-kunang datang memasuki jendela kamar ravella, zion yang melihatnya merasa terkejut. karena ia tidak pernah melihat kerlipan cahaya datang berkeliaran bebas mendekati mantion dan memasuki ruangan kamar seperti ini.


'apa-apaan ini..! mereka telah lancang berani masuk tanpa izin, biasanya mereka hanya berada ditengah-tengah hutan?'


dan saat lima kerlipan cahaya itu mendekat kearah zion, zion melihat dengan jelas, mereka adalah sosok peri-peri kecil yang sedang menangis. peri salah satunya datang mendekati telinga zion dan berbisik lirih.


"yang mulia, tolong.. tolong.. sang raja sedang dalam bahaya..!"


"sang raja.. siapa maksudmu?"


"kami tidak mempunyai waktu untuk menjelaskannya, tolong sang raja yang mulia!"


zion mengernyitkan keningnya, dan ia menggeretakan giginya.


"siaaal.. masalah datang disaat seperti ini, jika aku pergi sekarang, maka tidak ada yang bisa menjaga dewi."


"dimana dia?"


peri itu menunjuk kedalam area hutan sebelah timur, tempat arah gapi pergi beberapa hari sebelumnya. bahaya apakah yang akan terjadi kepada gapi, akankah dia bisa diselamatkan?.

__ADS_1


__ADS_2