
keesokan harinya.. memasuki hari ketujuh, Zaku telah selesai dengan semedinya.
'hmm.. tubuhku jadi semakin ringan, aku tidak menyangka, tidak butuh waktu lama bagiku bersemedi. omong-omong apa sirubah sudah kembali, atau belum? ini sudah tujuh hari berlalu, masih tersisa tiga hari lagi. waktunya sudah semakin dekat!'
sambil ia berpikir, wujudnya langsung berubah menjadi manusia, berambut putih panjang sepunggung. mengenakan celana putih, dan kemeja putih berenda, ia menyelipkan tangan kesakunya.
'apa yang dikatakan Kaisar, benar-benar akan terjadi.. atau hanya sebuah prediksi..!! ya.. aku tidak meragukan beliau, hanya saja.. aku masih belum yakin, bisa saja perubahan lain yang akan terjadi. hah.. sebaiknya aku menemui mereka sekarang.'
Zakupun, langsung menghilang. dan pergi ketempat para Spirit berada, semuanya tengah santai menjaga Ravella, ada yang membaca surat kabar, bermain catur, namun tidak dengan Jura.
"halo semuanya.."
Zaku muncul dengan senyum secerah matahari diwajahnya, ia melihat kesekeliling ruangan.. tak ditemukannnya sosok Jura, ia mengerutkan kedua alisnya. dan untuk menghilangkan rasa penasarannya.. Zaku langsung melempar pertanyaan kepada spirit lainnya.
"hei.. teman-teman, dimana Jura? kenapa aku tidak melihatnya disini, dan cuma ada kalian bertiga saja!"
"oh Jura, keluar tadi. dia bilang ada yang harus diselesaikan." ujar Roya santai, sambil membaca surat kabar.
Zaku berjalan mendekat dan duduk di kursi, yang berhadapan dengan Roya.
"apa kau tidak menanyakan kemana anak itu pergi..!" tanya Zaku menatap Roya.
"hmm.. tidak semua harus aku tanyakan, aku bukan induknya yang setiap saat harus tau kemana dia pergi. jika kau penasaran, tanyakan saja sendiri."
"cih, aku cuma tanya, kenapa jawabanmu ketus begitu!"
"tumben, kau terlihat tenang hari ini? oh iya, bagaimana dengan semedimu! apa berjalan dengan lancar?"
"ya.. karena itu aku ada disini." ujar Zaku sambil melemaskan diri, bersandar di kursi.
"hmm.. baguslah." gumam Roya pelan.
Zaku melihat kedua spirit lainnya.. tampak Gira dan Saga, sedang bermain catur dengan serius.
"ada apa? jika ada yang ingin kau tanyakan! tanyakan saja.. apa yang sedang mengganjal dipikiranmu itu." celetuk Saga.. sambil bermain.
sudut bibir Zaku, melengkung kesamping, lantas ia menatap kelangit kamar menyandarkan kepalanya dikursi.
"kau sangat peka kawan." Zaku terdiam sejenak, setelahnya ia kembali melanjutkan, meluahkan isi pikirannya. "ya.. sejak tadi, perkataan Kaisar terus menggangguku!"
Gira menoleh sekilas kearah Zaku, dan melempar pertanyaan.
__ADS_1
"maksudmu? tentang musuh yang akan kita hadapi nanti???" ujarnya sambil memakan pion Saga.
"ya.. apa menurut kalian, itu hanyalah sebuah prediksi, atau ramalan dari Beliau saja??"
"jangan terlalu dipikirkan, pikiran Kaisar sangat sulit ditebak, kita tidak akan pernah tau, pola pikir beliau yang misterius seperti apa?!"
"aku tau Saga, tapi.. apa kalian sudah yakin! jika benar seperti yang dikatakan Beliau, apakah keberadaan kita sudah cukup kuat, untuk melawan musuh yang datang nanti???"
"hem.. aku tau, Kau pasti sangat khawatir dengan musuh seperti apa? yang akan kita hadapi nanti..! mengingat bagaimana kita terperangkap serangannya dalam waktu yang singkat."
ujar Jura, yang baru saja muncul, dan membuat semuanya melihat kehadirannnya yang tiba-tiba. pria berpakaian serba hitam itu, duduk bersandar dibibir jendela, sambil menatap keluar.
"bukankah itu kekhawatiran yang sangat wajar Jura.. melihat bagaimana keadaan kita terakhir. ya.. sebuah keberuntungan untuk kita, kaisar muncul tepat waktu. jika tidak.. mungkin saja kita tidak berada disini sekarang."
terdengar nada rendah Zaku, yang membuat Saga, dan Gira hanya terdiam merenung. karena mereka sudah mengalaminya secara langsung, dampak dari kekuatan dewa Arthus.
"ya, bahkan kita tidak sempat menyerang, namun sudah berakhir mengenaskan." gumam Saga lagi dengan tatapan kecewa.
"jika dia sekuat itu! lalu.. apakah ada caranya untuk kita agar bisa menang menghadapinya??" tanya Roya, menutup surat kabar yang dibacanya, dan mulai fokus dengan inti pembicaraan.
"aku juga tidak tau, bahkan seorang Garda saja mengakui kekuatannya, dan dengan tegas ia katakan, jika kita bukanlah tandingan Dewa itu." jawab Jura sambil melipat tangannya, dan menatap fokus pemandangan hijau diluar jendela.
"hmm.. semoga saja, musuh yang dikatakan Beliau, bukanlah Dia! karena akan sangat berbahaya sekali, jika Dewa itu datang lagi. sudah jelas siapa target yang akan Dia incar bukan? sementara sirubah Api, sedang tidak ditempat, akan sangat berguna jika Dia ada disini. karena kepekaannya lebih sensitif terhadap kekuatan besar, bahkan kejadian beberapa waktu lalu.. Kita saja, tidak bisa merasakan apapun, soal pertarungan besar dibenua barat. namun Dia dengan mudahnya bisa merasakan, dan melacak keberadaan arah kekuatan tersebut! jika ada sirubah Api, setidaknya Kita bisa tau, musuh seperti apa? yang akan Kita lawan, lalu.. Kita juga bisa mempersiapkan Diri untuk menghadapinya."
"jadi, Bocah itu! masih belum kembali?? pantas saja, aku merasa damai sekali heh." celetuk Zaku senang.
"kuharap anak itu, baik-baik saja. Dia pasti akan mengabari kita, jika terjadi sesuatu padanya."
semuanya mengangguk setuju, dengan perkataan Jura.
...*****...
ditempat lain, didalam hutan terlarang. tubuh Gapi, dipenuhi dengan luka.
'cih, apa paman Zion, ingin membunuhku? setelah ia pergi.. tak lama monster-monster ini, datang entah muncul darimana? dan langsung menyerangku. apakah ini juga termasuk idenya, untuk melatihku..?!'
tanpa ia sadar, seekor Serigala besar datang melompat, dan menerkam dari belakang. "ggggeeerrrrrr"
"oh tidak, suara ini.. dia datang lagi."
Gapi, dengan cepat terbang, dan berbalik, tampak lima ekor serigala dengan ukuran tidak normal, sedang menunjukan taringnya karena gagal menangkap Gapi.
__ADS_1
"wuah.. kalian curang sekali.. datang-datang langsung mengeroyokku. dan sekarang, kalian menunjukkan taring kalian padaku! cih, aku juga punya, lihat ini. ghiiiiiiiii"
"puuffftttt hahahaha.." lima serigala tertawa lepas. melihat Gapi, dengan polosnya menunjukkan taring, dan giginya. 'maafkan aku, yang mulia Raja.. tapi Bocah ini, sangat imut.'
"eugh, apa yang kalian tertawakan?" ujar Gapi, bingung.
"hei Nak, turunlah, hadapi kami dengan berani. jangan cuma menghindar, dan terbang. apa kau sepengecut itu, sampai takut menghadapi kami hah?"
"siapa yang takut, kalian saja yang curang, beraninya mengeroyok anak kecil sepertiku. bukankah itu sudah jelas, dari jumlah saja sudah tidak adil?"
"baiklah, jika kau tidak mau turun, kami masih punya cara lain!" ujar Serigala itu, yang tampak lebih menonjol, dan jauh lebih besar, diantara Serigala lainnya.
'memangnya.. apa yang akan dia lakukan?' ujar Gapi, bingung.
dalam sekejap, kelima Serigala menghilang, dari pandangan Gapi. Gapi menoleh kesekeliling.
'bahkan, bayangan merekapun tidak ada! ini gawat, aku harus lebih hati-ha..'
"gedebug.. bug.. bug.. euh.. cih, bagaimana, kalian bisa melakukannya?"
Gapi, jatuh terpental, ditarik kebawah hingga ia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya, karena tarikan kuat dari sang Serigala. Serigala itu menyeringai, dan berdiri sangar dihadapan Gapi.
"mudah saja, karena kami bukanlah Serigala biasa! sekarang, apa yang akan kau lakukan Nak? apa Kau punya pertanyaan terakhir untuk disampaikan!!!"
dengan kekuatannya yang tersisa, Gapi, berusaha bangkit berdiri. ia menyeka kasar, darah yang keluar dari mulut, dengan tangannya.
'eug.. aku tidak boleh menyerah, mereka memang kuat, bahkan bukan tandinganku! tapi, jika aku menyerah dan mati disini. Dewi, pasti akan sedih saat bangun tidak melihat keberadaanku. cih, membayangkannya saja, sudah membuatku kesal. padahal, dengan percaya dirinya aku berjanji akan menjadi berguna buat dewi. tapi sekarang, apa yang kulakukan! aku tidak boleh diam dan menyerah begitu saja. seperti kata paman!'
"flashback" "(dimedan ini.. kau adalah rajanya. apapun yang kau dengar, apapun yang kau lihat, jangan pernah takut, dan mundur. meskipun nyawamu, taruhannya! apa kau mengerti?)"
(masa kini) 'euh, seperti yang kau katakan paman, kali ini.. meskipun nyawaku, adalah taruhannya! aku tidak perduli. karena jika aku berlari seperti seorang pengecut, yang ada.. Aku malah tidak akan punya muka. untuk berhadapan dengan Paman, sebagai pelindung dewi.'
Gapi bangkit berdiri menatap galak pada musuhnya. dengan tubuh yang dipenuhi luka, dan memar. darah segar, terus mengucur dari pelipisnya. mengenai mata polosnya, namun, sebuah keberanian yang entah darimana, muncul. membuat mata tajam, yang telah ternoda darah, dipenuhi ambisi semangat untuk hidup. kini.. ia menatap nyalang, pada musuhnya, dengan tekad yang sudah bulat.
"hem.. kalian ingin mendengar jawabanku! baiklah, pasang telinga kalian baik-baik. Aku Gapi, tidak akan mundur sedikitpun. jawabanku mutlak, aku akan melawan kalian, meskipun nyawaku taruhannya, bersiaplah serigala BODOH..."
'heh.. sepertinya, keinginan yang mulia Raja, akan segera terpenuhi.' ujar Serigala besar itu, dengan seringainya. ia jadi teringat titah, yang telah diberikan Rajanya.
"flashback" (dengar.. aku akan memberi misi penting buat kalian, aku ingin kalian berlima.. melatih langsung bocah naga merah, dengan sepenuh hati. paksa ia mengeluarkan bakat terpendamnya, desak, hingga ia merasa benar-benar berada dipintu kematian. jika ia menyerah, buat dia seperti batang pohon mati, namun tetap hidup walau tanpa daun. dan, jika ia tidak menyerah pada kematian, dan dia berusaha melawan dengan penuh tekad. buatlah ia percaya, seakan kalian benar-benar mati, saat ia menyerang. apa kalian mengerti?")
"cih, baiklah, jika itu maumu bocah. jangan pernah menyesali keputusanmu. semuanya.. serang dengan kekuatan penuh!"
__ADS_1
"baik." sahut keempatnya serentak.
keluar asap dari tubuh kelima serigala tersebut, mata merekapun menyala terang, dan sudah siap untuk menyerang. tiba-tiba..!