AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
KARENA KALI INI.. AKU TIDAK AKAN MENAHAN SERANGANKU.


__ADS_3

Siangnya.. Ravella duduk di paviliun yang ada di dekat danau. Ia menyeruput teh hangat yang telah disediakan untuknya. Sambil menikmati keindahan danau yang terbentang luas di bawah kaki gunung hijau yang menjulang tinggi, nun megah.


Dari kejauhan mata memandang, tampak keriuhan dari burung-burung yang berterbangan meninggalkan gunung tersebut. Tak hanya itu.. Bahkan langit pun mulai terlihat gelap seolah akan turun hujan. Padahal tidak ada mendung, namun langit terlihat suram. ia mengernyitkan kedua alisnya, saat menyaksikan pemandangan tersebut.


'Entah kenapa? Aku merasakan firasat buruk! apa mungkin karena suasana hatiku yang sedang tidak menentu..?! Entahlah.' pikirnya dalam hati, mensugesti diri sendiri, agar tidak hanyut dengan perasaannya saat ini. Namun, tanpa ia sadari.. Ada sesuatu yang sedang mengincar dirinya.


Ravella mencoba menenangkan perasaannya yang sedang gelisah, dan kembali fokus memikirkan kedatangan kedua Putra asuhnya. ia duduk sendiri, tanpa ditemani pengasuh maupun Spirit miliknya. Karena saat ini, ia hanya ingin sendiri sambil menghabiskan waktu dengan kedua Putranya yang sudah lama tidak ia temui.


Beberapa menit kemudian! terdengar suara langkah kaki sedang mendekat ke arahnya. ''Tap.. Tap.. Tap.. Lapor Yang Mulia Putri, Tuan Rog dan Tuan Ron, kini sudah tiba.'' lapor Kesatria tersebut.


''Hm, baiklah. Kau boleh pergi.'' jawabnya singkat, tanpa melihat ke arah kesatria itu.


''Baik.'' ujar sang Kesatria, sambil melihat sekilas pada sosoknya yang tampak dingin dan acuh. Lalu ia pun berlalu pergi, meninggalkan Ravella dengan kesendiriannya.


Rog dan Ron pun, menghampiri Ravella. Dari kejauhan tampak sosok gadis kecil yang kini sedang mengenakan gaun santai bewarna hijau muda, dengan rambut merah muda kebiruan, dikuncir kesamping. ia tampak sedang duduk sambil melihat kearah gunung yang kini, diselimuti awan gelap.


Cantik, imut, ceria, dan polos. Tapi terkadang juga terlihat sangat dingin, Seolah ada batas yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun. Meski begitu.. tak menghilangkan sedikitpun keanggunannya yang tampak seperti Aura seorang Dewi itu. walaupun ia kelihatan masih kecil, itulah yang tergambar pada mata kedua Pria muda itu, saat mereka memperhatikan sosoknya.


''Kami menghadap, Yang Mulia Putri.'' Gumam keduanya bersamaan, sembari menyapa hormat padanya.


Mendengar suara keduanya, Ravella segera mengalihkan pandangannya pada kedua Putranya, sambil mempersilahkan mereka untuk duduk. ''Duduklah.'' ujarnya dengan intonasi yang ramah dan lembut, sambil tersenyum. 'Setelah keduanya duduk, Tak lama datang para pelayan, membawakan berbagai hidangan makan siang. setelah selesai menyuguhkan berbagai hidangan, pelayan itupun kembali pergi. Hening, seketika, tak ada satupun yang berbicara.


Untuk menghilangkan kecanggungan tersebut, Ravella kembali mengeluarkan suaranya. ''Silahkan dinikmati, aku sengaja memanggil kalian berdua kemari, untuk makan siang bersama. karena sudah lama aku tidak melihat wajah kedua putraku, hm.. hm..'' gumamnya sambil tersenyum. Dimata Ravella, kedua pria yang ada dihadapannya kini.. Hanya terlihat seperti anak-anak baginya. Meskipun postur tubuh mereka jauh lebih besar darinya.


Kedua kakak beradik itu saling menatap, saat mendengar perkataan dari Ibu angkat mereka. Sebenarnya perkataan itu terasa menyenangkan dan hangat, jika keluar dari mulut orang yang tepat, atau jauh lebih dewasa dari mereka bertiga. Akan tetapi.., karena perkataan tersebut keluar dari mulut anak kecil sepertinya, itu jadi terasa aneh dan terdengar sangat lucu bagi keduanya. Sampai-sampai membuat mereka ingin tertawa. Namun, mereka berdua berusaha menahannya sebisa mungkin. Agar tidak membuat Ravella merasa tersinggung, meskipun Ravella sendiri sudah menyadarinya.


Ravella memperhatikan mereka sekilas. 'Hem.. Sangatlah wajar jika mereka berdua bereaksi seperti itu, sampai menahan tawa. Jika jadi merekapun, aku pasti akan melakukan hal yang sama.' pikirnya bersikap acuh dan santai, dengan ekspresi keduanya.


***

__ADS_1


Dan setelah semuanya selesai makan siang, Rog dan Ron pun mulai memberanikan diri, membuka topik pembicaraan. "Maaf jika saya agak sedikit lacang, Yang Mulia. Hari ini.., mengapa Yang Mulia hanya terlihat sendiri saja? biasanya Yang Mulia sering di temani dengan para Paman, di sekitar Yang Mulia.'' jelas Rog penasaran.


Ravella tersenyum mendengar rasa penasaran salah satu Putranya itu. ''Heem.. Aku sengaja tidak memanggil mereka, karena hari ini.. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersama kalian berdua. Sangat jarang kita bisa berkumpul seperti ini, bukan?!'' ujarnya sambil menyeruput teh hangat.


Mendengar ucapan Ravella, Rog dan Ron, merasa terharu dan bersyukur. Orang yang paling tulus dan berhati bersih sepertinya.. Telah menyelamatkan mereka berdua, dari lembah hitam yang menyedihkan. Sehingga mereka bisa berhasil menjadi seperti sekarang ini. Tidak hanya diberi tempat tinggal yang layak, dan makanan yang cukup. Bahkan mereka mempunyai masa depan yang jauh lebih cerah dan jelas. Mereka tidak perlu lagi memikirkan hal yang menakutkan, yang akan mengancam hidup dan keberadaan mereka kedepannya.


Keduanya sangat berterima kasih akan hal tersebut. Sampai keduanya berjanji dalam hati, untuk bersumpah setia hanya kepadanya. ''Terima kasih banyak, karena telah sudi meluangkan waktu Yang Mulia, hanya untuk kami berdua.'' ujar Rog tersenyum, yang juga diangguki oleh Ron.


Rog, kini.. telah menjadi kesatria resmi, dan berada dalam pasukan utama yang di pimpin oleh Roland. Ia sangat senang akan hal tersebut, dan ingin terus memberikan yang terbaik agar, Ravella bangga padanya. Sedangkan Ron.., ia masih belum menjadi prajurit resmi, dan hanya menjadi kesatria magang.


''Hm.. tidak perlu sungkan, memang sudah menjadi tugasku sebagai orang tua kalian, untuk selalu memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan kalian. Meskipun aku jarang ada waktu, tapi aku selalu memantau perkembangan kalian berdua. teruslah kembangkan bakat kalian. Di sini, kalian bebas melakukan apapun yang kalian mau, selama itu tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan. dan pilihlah jalan yang ingin kalian capai! karena aku, akan selalu mendukung kalian berdua.'' jelasnya.


Mendengar ucapannya, Ron tiba-tiba bangun dari duduknya, dan membuat keduanya terkejut. Ron berlutut dihadapan Ravella, layaknya seperti seorang kesatria. Pemandangan yang sangat mengejutkan bagi keduanya. Tak hanya Ravella, begitupun dengan Rog. Ia tidak menyangka dengan tindakan adiknya yang impulsif. Tak ingin membuat masalah semakin runyam! Rog segera bangkit berdiri untuk meraih lengan adiknya, agar segera meminta maaf kepada Yang Mulia Kecil. Namun, Ravella menghentikan tindakannya tersebut! Karena ia ingin tahu, apa yang akan dilakukan Ron selanjutnya.


'Ada apa dengan anak ini? Apa mungkin dia ingin meminta sesuatu dariku!? Kalau begitu mari kita dengarkan keinginannya.' pikirnya mengamati.


Di sisi lain.. Argus yang sedang di sibukkan dengan berbagai dokumen. Hanya bisa memijit kedua matanya, karena merasa lelah. Ia menghentikan pekerjaannya, lalu bangun meninggalkan kursinya. Sambil melangkah pelan menuju ke arah jendela. ia memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya.


Melihat hamparan padang rumput yang luas terbentang, pemandangan tersebut sedikit menghilangkan kebosanannya. Ia menenangkan pikiran dari kejenuhan tugas, yang tiada habisnya. Dari kejauhan mata memandang, tampak sosok Pangeran, yang sedang berjalan mengarah ke danau. Melihat hal tersebut, kedua alisnya mengernyit dan tampak tidak senang. Ia sangat kenal kemana arah yang akan di tuju Pangeran.


'Cih.. aku benar-benar tidak suka melihat anak itu berkeliaran bebas di tempat ini. Seolah-olah kediaman ini adalah miliknya. keberadaannya benar-benar sangat mengganggu penglihatanku. Jika bukan karena Yang Mulia Putri, sudah lama aku menyingkirkan anak itu dari tempat ini.


Haah.. Ini semua gara-gara Master, yang tidak ada di tempat. Sehingga anak itu jadi seenaknya berkeliaran di Mansion ini. Dan lagi.. semenjak Para Spirit Putri, menyelesaikan latihan mereka..! aku juga jadi semakin sulit untuk menemui, Yang Mulia Kecil. meskipun itu hanya melihatnya saja. Mereka bahkan tidak memberi ku celah sedikitpun untuk mendekatinya. Spirit milik Putri benar-benar sangat protektif terhadapnya. Dan lagi.., mereka juga kelihatannya sangat membenciku.


Haaah... Sial, kemana sebenarnya Master, saat ini? aku bahkan tidak bisa menghubunginya sama sekali, dan melacak keberadaannya. Ia seolah sengaja menghilangkan jejaknya, agar tidak bisa dihubungi. Apa Jangan-jangan terjadi seusatu pada Master!! Tapi itu tidak mungkin, jika terjadi sesuatu pada Master! Kami berdua pasti bisa merasakannya. Haah.. Entahlah, sebaiknya aku harus segera membahas masalah ini, dengan senior.' pikirnya kalut.


...***...


Di Zona Mana.. Para Spirit dan juga Garda, saat ini tengah berada di pinggir tebing. Air terjun mencurah ganas, hingga menimbulkan kebisingan yang tidak akan pernah berhenti. Sesekali angin berhembus kencang memberikan rasa sejuk. Saat semuanya sedang duduk berkumpul, tiba-tiba dari arah lain, muncul sosok Singa lainnya.

__ADS_1


Zion, yang pada awalnya datang dengan maksud ingin memberi kabar baik pada sang Kakek, dan Spirit lainnya.. Namun, tiba-tiba niat itu kembali ia urungkan. Saat ia melihat sosok Garda, yang tengah duduk santai di samping Jura, dengna kedua kaki yang disilang, sambil melipat kedua tangannya.


Melihat itu.., Darah di dalam tubuh Zion menjadi mendidih, karena amarah di dalam dirinya, mulai membara dan ingin mengamuk keluar. Amarah yang selama ini ia pendam, akhirnya telah melepas keluar. Tanpa sadar, tubuhnya mengeluarkan asap hitam pekat, tidak seperti biasanya. Kali ini Zion tampak serius ingin menyerang. Tubuh Singanya kini langsung bertransformasi ke dalam wujud manusia.


Asap hitam pekat yang bercampur dengan halilintar putih, kini menyatu mengelilingi tubuhnya. Dan dalam waktu secepat kilat, tubuh Zion langsung melesap hilang. Para Spirit yang merasakan bahaya datang mendekat dengan cepat menghindar.


Zaku yang melihat perubahan pada sosok Cucunya itu, kini dipenuhi dengan aura membunuh yang sangat pekat dan kuat. Ia terkejut dan juga merasa heran dengan perubahan sikap cucunya yang tiba-tiba. "Sial, bukankah itu Cucuku?! Ada apa dengannya, tiba-tiba mengeluarkan keinginan membunuh yang sangat besar!!?" ujarnya dengan reaksi tak percaya.


Melihat hal tersebut, Tama dan yang lainnya.. ikut bereaksi dengan Aura membunuh yang dikeluarkan, ZionsAt ini. Dan ikut berkomentar dengan pemandangan langka, tersebut. "Hei, ada apa dengan cucumu? Mengapa dia datang dengan keinginan membunuh yang sangat besar?!! Apa yang telah kau lakukan padanya, sialan? tak biasanya anak itu menunjukkan sikap brutal, seperti itu." ujarnya yang juga merasa heran. Sedangkan yang lainnya.. hanya melihat ke arah Zaku, untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan, Tama.


Merasa terpojok dengan reaksi teman-temannya! Zaku menjadi jengkel, dan berteriak kesal pada semuanya. "Sialaan, mana aku tahu! jangan melihatku seperti itu!? Bukankah kalian lihat sendiri, sejak kemarin aku terus bersama kalian bukan..? Jadi mana aku tahu apa yang terjadi padanya." ungkapnya yang juga tidak tahu menahu, dengan perubahan sikap Cucunya.


Sedangkan Rabarus dan Jura, saling menatap. Seolah mereka sudah tahu apa yang sedang terjadi. 'Bocah, aku rasa kemarahan anak itu, ada kaitannya dengan masalah waktu itu!' ujarnya bertelepati dengan Jura. 'Kau benar Pak Tua, aku juga berpikir sama sepertimu.' jelasnya sambil bersedekap tangan memperhatikan Zion.


Di sisi lain.. Zion langsung menyerang Garda tanpa mengatakan apapun, berbeda dengan Para Spirit lainnya. Garda yang telah merasakan amarah Zion, tidak menghindar sedikitpun dengan serangannya. Ia tetap duduk santai pada tempatnya, sambil menangkis serangan Zion, yang mengarah padanya.


Tubuh Garda, tampak baik-baik saja, dan tidak terluka sedikitpun. Namun, yang hancur lebur justru pemandangan yang ada disekitarnya. Di dekat air terjun, dan beberapa pepohonan di area tersebut, habis tumbang karena efek dari serangan Zion. Bahkan batu yang ada di sekitar tebing habis pecah bertaburan dikarenakan serangan, Zion.


Zion yang melihat Garda, masih terlihat baik-baik saja tanpa terluka, dan tampak tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Melihat hal tersebut, Zion semakin berang, sambil berteriak kesal. "Dasar kau Pak Tua bedebaaaaahhh..... Berani-beraninya kau menampakkan wujudmu di tempat ini. Setelah apa yang kau lakukan pada Putriku, haah...!" teriaknya sangat kesal. Kemunculan Garda membuat ia teringat kembali, momen saat Ravella tidak ingin makan, dan hanya menangis sambil mengurung diri di kamar.


Saat kenangan tersebut melintas di ingatannya, malah membuatnya bertambah geram, dan jengkel. Karena ia tahu betul, betapa sulitnya memujuk dan menenangkan perasaan Ravella, yang terus menangis dan tidak ingin berbicara pada siapapun. Sampai-sampai mengabaikan keberadaannya dan Ayahnya.


Dan setelah sekian lama ia tidak muncul.. Namun kini, saat ia tiba di Zona Mana. Ia malah melihat sosok Garda, yang tampak baik-baik saja, dan terlihat sedang duduk santai, tanpa merasa bersalah sedikitpun. Melihat hal tersebut, membuat Amarahnya semakin membara. Amarah yang selama ini ia pendam telah menemukan Tuannya. Dan kali ini.. ia bersungguh-sungguh ingin menghajar Garda, dan akan melampiaskan kekesalannya tersebut, tanpa ampun.


Sementara Garda yang duduk sambil bersedekap tangan, dengan kedua mata yang masih terpejam. Hanya berseringai sinis, dengan reaksi Zion. Yang tidak menahan sedikitpun keinginan membunuhnya. Dan tiba-tiba.. Garda mulai terkekeh, seolah sedang menertawakan tindakan Zion!


"Heh.. heh.. heh.. Hahahaha... Setelah tiga tahun tidak bertemu, kau masih saja tidak berubah sedikitpun bocah. Kau sangat mudah emosian, sama seperti pertama kali saat aku melihatmu. Heheh... baiklah jika itu yang kau inginkan. kalau begitu.. Aku akan meladeni keinginanmu! Mari kita lihat, sejauh mana kau telah berkembang? Jadi bersiaplah, Nak. Karena kali ini.. Aku tidak akan menahan seranganku." Ujarnya mulai serius.


Saat Para Spirit, tengah disibukkan dengan kesalahpahaman! Sementara itu, di luar Zona Mana.. Ada bahaya yang sedang mengintai Master mereka.

__ADS_1


__ADS_2