AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
ANDA SIAPA?


__ADS_3

'Aku tidak tahu sejak kapan, tapi setelah aku terbangun dari tidur panjangku. Aku merasa ada ikatan yang sangat kuat yang telah mengikat kami.. Kakek Zando, siapa sebenarnya kau?


Aku selalu merasa nyaman dan tenang, saat ada kakek Zando bersamaku. Beliau juga selalu ada di setiap kesulitan yang kuhadapi. Tapi kali ini.. firasatku benar, kami akan lama.. baru bisa bertemu lagi.


Bahkan aku tidak menyadari, pipiku basah dengan air mata. Apa yang sedang terjadi padaku? Ada perasaan sesak mengganjal didadaku. Haah.. Aku pasti akan sangat merindukannya.'


Melihat kesedihan dimata Dewi kecil, Jura mendekat dan membelai kepalanya dengan lembut.. ia mensejajarkan tubuhnya dengan Ravella, Dan mengusap air matanya, dengan tangannya yang besar.


"Nak, kau tidak perlu bersedih, Kita akan segera bertemu lagi dengan beliau. Dan bukankah kau ingin bertemu dengan Gapi juga..!" Ujarnya menghibur Ravella.


Mendengar nama gapi disebutkan, tampak ada riak kecerian singgah diwajahnya.


"Gapi..., benarkah, Dimana bayiku kek?" Ujar Ravella, yang langsung lupa dengan kesedihannya.


Mendengar kata bayiku dari Putri kecil, membuat para Spirit tertawa.


"Hahahah.. Sepertinya bocah itu sangat beruntung ya Kawan-Kawan..!" Ujar Gira tertawa.


"Kenapa kalia tertawa kek? Aku menganggapnya bayiku, karena dia masih kecil."


"Hahahaha.. Bukankah kau juga masih kecil nak Dewi..!" Timpal Zaku yang juga tidak tahan mendengarnya.


"Hmm.. Meskipun aku masih kecil, aku mempunyai Ayah dan kalian kek, Tapi berbeda dengan Gapi, dia hanya punya aku." Ujarnya bersikap dewasa.


"Hmm.. kau benar-benar baik nak dewi." Ujar Tama, sambil mengusap kepala Ravella.


"Lalu, dimana Gapi kek? Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya."


Belum sempat Jura menjawab pertanyaan Putri Ravella.. Zion muncul, menghampiri para Spirit dan Dewi kecil.


"Kau sudah kembali nak?" Tanya Zion, yang baru saja muncul. "Aku kira kau masih ada di Zona mana."


"Ya, tadinya ingin lama disana.. Tapi kakek Zando melarangku."


"Haah.. Baguslah, jadi aku tidak perlu khawatir, soalnya aku sudah janji dengan Ayahmu, jika kau tidak kembali aku akan menjemputmu." Ujar Zion, lalu ia beralih melihat kearah Zaku. "Apa Kakek baik-baik saja kek?"


"Cih, apa kau tidak lihat.. Bahkan aku mampu melemparmu sekarang."


"Mulai lagi, haah..., sia-sia aku mengkhawatirkanmu."


"Jadi cucuku mengkhawatirkanku ya, oh, kakekmu ini benar-benar tersentuh sekali..!" Ujar Zaku serius.


"Ternyata kalian sangat Akur kek." Ujar Ravella, saat melihat keduanya.


***


Sedangkan di luar pintu, para pengawal dan dayang, sudah berkumpul didepan pintu, Terdengar suara riuh dari dalam kamar. Membuat Dean penasaran, ingin mencari tahu.


"Komandan, mengapa didalam kamar Putri, terdengar ramai sekali??" Tanya Dean penasaran.


"Ssssssssttttt...! Kita diam saja, simpan rasa ingin tahumu yang berlebihan itu. Yang terpenting sekarang.. Yang Mulia kecil sudah kembali." Tegas Roland.

__ADS_1


'Padahal aku sangat penasaran, dengan siapa beliau berbicara!! Sepertinya lebih dari tiga orang, sedangkan Reni, dan Marri, masih ada disini. Bahkan mereka berdua tidak berani masuk untuk menanyakan keadaannya.


Hmm.. Apa yang mereka takutkan, Jika benar beliau berbicara dengan Spirit, tidak mungkin suaranya sampai sebanyak inikan. Rasa penasaranku semakin hari semakin besar terhadapa beliau.


Aku juga sangat penasaran, Spirit seperti apa yang beliau miliki? Rasanya sangat mustahil, anak sekecil itu sudah bisa memanggil Spirit. Kecuali level Spirit kelas bawah.'


Robi melihat Dean tampak seperti, sedang mencari cara untuk melihat kedalam.


'Aku yakin, Dean juga pasti sama penasarannya sepertiku.' Pikir Robi, memperhatikan tingkah Dean.


"Dayang Reni, apa anda tidak ingin masuk kedalam menanyakan keadaan beliau? Bukankah anda sangat mengkhawatirkan keadaan beliau!!" Tanya Dean, beralasan.


Dean masih tidak menyerah begitu saja, mencari cara agar bisa melihat kedalam.


"Tidak Perlu, jika Putri membutuhkanku, dia pasti akan memanggilku." Ujar Reni, bersikap tenang.


'Hmm.. baiklah jika kau sudah bilang begitu.'


Melihat keteguhan Reni, akhirnya Dean menyerah. Dean melihat kearah Marri, yang diam saja berdiri disamping Reni. dan para pengawal yang lain, mereka tampak berbaris dengan tenang begitupun dengan Jay. Yang berubah drastis, tidak seperti sebelumnya.


Sedangkan Robi, meskipun ia sangat penasaran.. Tapi ia masih bisa menahan diri dan bersikap tenang, tidak seperti Dean. jiwa informannya meronta-ronta ingin keluar saat menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.


***


Di kekaisaran, Pangeran yang baru selesai mandi, sedang berbaring diatas ranjang miliknya. ia melepaskan penat. setelah seharian disibukkan dengan Rutinitasnya sebagai seorang Pangeran.


'Akhir-Akhir ini Ayah sering membuatku sibuk, padahal aku sangat ingin bertemu dengan Vella.. Padatnya jadwalku sampai aku tidak punya celah untuk menemuinya. Apa kabarnya anak itu ya?? Aku sangat ingin melihatnya.


Aku harus mengatur waktuku, untuk bertemu dengan anak itu secepatnya. dan lagi, Kira-kira kemana Robi pergi!! Sampai saat ini, jejak tentangnya menghilang begitu saja tanpa kabar. Jika ia mati, pasti ada mayatnya..! Dan jika dia hidup, dimana dia bersembunyi..??


Cara satu-satunya hanya itu.. Aku harus segera mengosongkan jadwalku, Dan mencari tahu keadaan Ravella, sambil mencari tahu tentang Robi.'


Tak lama setelah ia tenggelam dalam pikirannya.. pangeranpun terlelap menjemput mimpi.


...----------------...


Keesokan harinya.. Ravella bangun pagi seperti biasa. Seteleh mandi dan sarapan pagi. Ravella bermain di taman belakang, Ditemani sepuluh pengawal dan dua dayang.


Argus yang sedang berjalan-jalan keliling mansion, tak sengaja ia melihat sosok sang Putri. sedang merangkai sesuatu ditangannya, merasa tertarik, akhirnya Argus berinisiatif mendekatinya.


'Hmm.. Sudah saatnya aku menunjukkan diriku kepada anak itu. Melihat bagaimana banyaknya pengawal dan ada dua dayang disisinya.., sudah tidak diragukan lagi, Jika dia memang Putri dari master.'


Saat Ravella sedang fokus, ia tidak sadar ada sosok lain sedang melihatnya, yang tengah asik dengan dirinya sendiri.


"Apa yang sedang anda lakukan??"


Argus mendekati sosok Ravella, tidak ada yang berani melarangnya. Karena Para kesatria dan dayang, sudah mengetahui jika Argus, adalah Spirit Yang Mulia Duke.


Ravella agak terkejut, dan langsung menghentikan pekerjaannya, lalu ia mencari arah suara tersebut. saat ia melihat sosok rambut pirang panjang, dengan warna mata hijau kebiruan, Sedang duduk di hadapannya sambil menatapnya dalam.


'Siapa orang ini? aku belum pernah melihatnya.. Mengapa tidak ada satupun diantara pengawal dan dayang yang menegurnya.'

__ADS_1


Ravella memperhatikan kedua dayang, dan para pengawal, tidak bergeming dari tempatnya.. Seolah-olah mereka tidak melihat Argus.


"Anda siapa?" Ujar Ravella, sambil melihat kearah Argus.


Argus, tersenyum dan menatap lekat pada Ravella. Sampai ia tidak sadar, saat Ravella bertanya balik kepadanya.


'Apa yang sedang ia pikirkan, sampai tidak dengar aku bertanya!!'


Robi, Roland dan, Dean menengok kearah Argus. Yang tampak tidak sadar, dan sedang menatap lekat kepada Sang Putri, seolah ia sedang terpukau pada pesona Putri kecil dihadapannya tersebut.


"Tuan.. Tuan.. Maaf tuan, apa anda sakit??" Tanya Ravella, sambil melambaikan tangan di depannya


Mendengar panggilan Ravella, ia segera tersadar dari lamunannya.


"Ah, maaf saya sedang memikirkan sesuatu tadi, sampai tidak sadar anda sedang memanggil saya." Ujarnya gugup.


'Sialan, apa yang terjadi padaku? kenapa setiap berada didekatnya.. jantungku berpacu sangat kencang sekali. dan aku langsung dibuat terpukau oleh pesonanya yang bercahaya, Padahal dia masih sangat kecil, tapi pesonanya yang bagai seorang Dewi, seketika membuyarkan pandanganku.


Dia sangat mirip sekali dengan Ibunda.. tidak, tidak, bahkan lebih dari ibunda. Aaah, sial.. Apa yang sedang terjadi padaku sekarang? apa aku sudah gila!!! Aku harus tenang.. Ya.. Aku harus tetap tenang.'


"Anda siapa? Selama ini saya belum pernah melihat anda!!"


"Ah, saya Spirit Ayah anda Putri. Anda pasti tidak mengenal saya, karena kita belum pernah bertemu sama sekali..!"


"Spirit Ayah..., setahuku Spirit Ayah, cuma satu yaitu Kakek Zion. Dan aku tidak pernah mendengar, jika ras Elf bisa menjadi Spirit."


"Oh, Bagaimana anda tahu saya seorang Elf?"


"Hanya firasat."


"Hem.. Tapi sekarang, saya adalah bukti nyata dari kemustahilan itu Putri."


"Benarkah..! Lalu, kenapa Ayah tidak pernah menceritakannya padaku!!"


"Entahlah Putri, kalau itu anda bisa menanyakan langsung pada Yang Mulia."


"Baiklah aku akan menanyakannya nanti.." 'pantas saja para pengawal tidak menegurnya sama sekali, saat melihat kehadiran orang ini.' "Lalu, siapa nama anda??"


"Ah, maafkan atas ketidak sopanan saya, yang tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya Argus.. Putri."


"Saya Ravella, senang berkenalan dengan anda Tuan."


"Begitupun saya, omong-omong apa yang sedang anda kerjakan Putri?" tanya Argus penasaran.


"Ah, aku sedang membuat kalung."


"Kalung.., jika saya boleh tahu kalung untuk siapa itu?"


"Hmm.. Untuk bayiku."


"Pruuufffffftttttt... Maaf.. Maaf.. Jika saya kurang sopan. Tapi Putri, tidak mungkin anda masih kecil sudah mempunyai seorang bayi."

__ADS_1


"Tapi Aku sedang tidak bercanda, ini benar-benar untuk bayiku." Ujar Ravella cemberut, tampak kedua pipi Cabinya mengembul keluar."


Argus tersenyum melihat kelucuannya.. "Baiklah, saya akan mencoba mempercayainya.. Lalu dimana bayi anda Putri??" Argus celingak-celinguk mencari bayi kecil, yang disebutkan Ravella.


__ADS_2