
Sedangkan di sisi lain, Jura sudah selesai membuat perisai perlindungan. Ia melihat Zion sedang di sibukkan berbicara dengan yang lainnya. Melihat itu, ia segera menghubungi keduanya.. Dan memperingatkan mereka, ia berujar pada keduanya melalui pikiran.
'Anak-anak dengar, sebaiknya kalian cepat-cepatlah bergegas dan bawa yang lain pergi dari sini. Karena kita tidak akan tahu, bahaya apa yang akan mengancam..!' ujarnya khawatir.
'Ya, dan berhentilah memanggil ku anak-anak! Karena aku bukan anak-anak sialan.' ujar Lannox kesal.
'Hem meski begitu.. Bagiku kalian tetaplah para bocah di mataku. Cepatlah, perlindunganku mungkin saja tidak akan bertahan lama.' ujar Jura, lalu menghilang dari pandangan keduanya.
'Cih!' Lannox mendecih kesal. Lalu ia melihat kearah Zion sebentar. Dan kembali menatap Roland, Jay, Dean, Robi, dan Rog. "Kalian.. mau sampai kapan kalian berdiri di sini hah..? Ayo cepat pergi." ujarnya kesal, dan memerintahkan yang lainnya mengikutinya.
'Sial, seharusnya aku ikut andil dalam pertarungan ini, tapi sepertinya mereka tidak membutuhkan bantuanku sama sekali.' gumam hatinya kesal, Ia pun dengan cepat menciptakan lingkaran sihir transportasi.
Duke bertekuk lutut di atas Rumput, dan menyentuh rumput tersebut dengan tanganya yang mengenakan sarung tangan hitam. Dalam sekejap lingkaran Biru terang muncul di bawah telapak kaki mereka.
Lingkaran tersebut bisa mengangkut satu pasukan sekaligus.. Ia menyuruh para pasukannya masuk kedalam lingkaran tersebut, diikuti Dean, Jay, Robi, dan Roland. "Roland, kau tahu harus membawa mereka kemana bukan?" ujarnya sebelum Mereka pergi.
"Baik Yang Mulia." Ujar Roland, mengerti dengan maksud Duke.
Ia mengangguk patuh, lalu menghilang bersama sinar biru, setelah kepergian mereka di susul dengan pasukan Serigala. Juga Albo dan Rog, lalu terakhir di susul Duke, yang memasuki lingkaran sihir. Sebelum pergi.. Duke berpesan pada Spiritnya. 'Hati-hati Pak Tua, Awas saja jika kau tidak kembali.' ketusnya dengan nada mengancam.
Zion menyeringai sinis, dan mejawab dengan santai. 'Hehe.. Apa kau mengkhawatirkan Pak Tua ini Putraku... Hihi...' ujarnya sambil nyengir. Membuat Duke melihat malas, dan segera pergi mengabaikan omongan Zion begitu saja.
Sinar Biru bersinar terang.. Menyembunyikan sosok Duke dan yang lainnya, Di saat sinar itu hampir meredup dan memudar laalu membawa semuanya pergi. Zion melihat sekilas, jika Lannox menyeringai tipis.
'Cih, dasar bocah tengik. Ucapan dan hatinya tidak saling singkron.' ujarnya setelah melihat cahaya dan lingkaran sihir tersebut menghilang dari pandangannya. 'Heh.. Bagus, dengan begini.. Aku bisa leluasa bertarung. Tanpa harus memikirkan yang lain. Gumam Zion. Dan tak lama, terdengar panggilan Argus.
'Hei Senior, tidak bisakah kau kesini? bantu aku, karena musuh yang kuhadapi saat ini, terlalu merepotkan.
Penyihir sialan itu telah memanggil Monster kuno, yang merepotkan. Padahal Ras mereka telah lama menghilang, dan tidak pernah muncul kepermukaan dan ikut campur lagi dengan urusan dunia.
Tapi berkat Penyihir sialan itu, kini aku kerepotan menghadapi mereka. Karena mereka terlalu banyak. GEDEBANG... SYIIUUUUUNNNGGH.. SYIIUUUUUNNNGGH...' terdengar serangan keras sedang menyerang Argus.
'Cih, bukannya kau mempunyai darah setengah Dewa?? Lalu kemana kebanggaanmu itu? Jangan jadi bocah pemalas dan manja. Aku tahu kau bisa menghadapinya sendiri.' Tegas Zion, membuat alis Argus terangkat sebelah.
'Hei... Ayolah Senior, aku tahu kau sedang terlihat santai saat ini.. Daripada kau hanya diam memerintah bawahanmu, lebih baik kau bantu aku. yah! lumayankan untuk menurunkan bobot badanmu yang besar itu hehe...' ujarnya tengil membuat Zion kesal.
'Cih, urus saja urursanmu sendiri, aku tidak punya waktu meladeni tingkah bodohmu.' ujarnya ketus, dan langsung memutus koneksi.
'Cih, sial. Ada apa dengannya..? Padahal Aku kan hanya memberitahu kebenarannya saja, kenapa jadi dia yang kesal?
__ADS_1
Hem.. Omong-omong bagaimana dia bisa tahu! jika aku mempunyai darah setengah Dewa!! Padahal aku tidak ada memberitahukan masalah ini pada siapapun. Bahkan Master pun tidak tahu akan masalah ini.' pikirnya yang masih belum tahu, jika Duke sudah mengetahui semuanya.
...🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥...
Di sisi lain.. Area Mansion sebelah Barat. Jura mengikuti arah penciuman Naganya.. Ia merasakan tekanan yang sangat mengerikan saat ia terbang menuju kearah tempat tersebut.
'Sial, sepertinya Dewa itu ada disini..!' pikirnya yang sedang menyamarkan diri, agar tidak terlihat.
Namun saat Jura sedang sibuk mencari arah bau tersebut, tiba-tiba di tengah keheningan yang mencengkam. terdengar suara tawa pecah.. Menertawakan Jura.
"Hahahahaha.... Hahahahaha... Apa kau pikir aku tidak bisa melihatmu? PIUUUUUNNNG CHUUSSS....!" ujarnya menertawakan Jura.
"EEGGGHHH!!" Bahu Jura Tiba-tiba berdarah dan tembus terkena serangan yang tidak terlihat, dan terdapat lubang sebesar lengan di bahunya.
Jura kesakitan menahannya, dan mencari arah keberadaan suara yang kini sedang tertawa. sambil memegang lukanya yang telah banyak mengeluarkan darah.
Lukanya sedang berusaha beregenerasi.. Namun karena kesakitan yang teramat sangat, penyembuhannya jadi agak melambat dari biasanya.
'Sial, jadi dari tadi dia sengaja membiarkan kami lengah! dan menikmati tontonan seperti sedang menertawakan apa yang kami lakukan.' pikir Jura, pandangannya liar mencari keberadaan sosok yang sedang tertawa tersebut.
"Kenapa hanya diam..? Sebaiknya cepat kau tunjukkan dimana Dewi Kecil itu berada! Aku merasakan kehadirannya di seluruh Mansion ini.
Mendengar suaranya, Jura malah semakin menjadi, sambil menertawakan Sang Dewa. "Cih, heh.. Bukannya kau adalah seorang Dewa! Lalu kenapa kau tidak gunakan kehebatanmu itu untuk mencarinya.
Ah! Apa Jangan-jangan kau hanya pengecut yang mengaku-ngaku sebagai Dewa.. heheh memalukan..!!" ujar Jura tajam, sambil menyeringai.
Suasana disekitar terasa senyap dan sunyi. Dewa itupun hanya terdiam, setelah mendengar perkataan Jura yang tajam. Ia tidak menjawab ataupun meresponya.
Ia hanya diam bersedekap tangan memperhatikan keangkuhan Jura, dalam kediammannya. Dan setelah berapa menit kemudian, ia kembali berujar. Namun kali ini.. membuat Bulu kuduk Jura merinding ketakutan.
Karena merasakan tekanan yang sangan dominan, sedang mendistorsi keadaan. Jura sampai di buat tidak bisa bergerak sama sekali, saat ia berbicara lagi.. Dengan intonasi dingin tanpa emosi.
"Hem.. Jadi kau masih berkeras tidak mahu memberitahukan keberadaannya ya!!" ujarnya dengan satu alis terangkat keatas, kedua tangannya yang disilang. Jari telunjuk terus mengetuk lenganya dengan pelan.
Namun ia masih belum menunjukkan keberadaannya tersebut, membuat Jura sulit menyerangnya. Meskipun ia telah menggunakan mata surgawi miliknya.. Ia masih tidak mampu menembus keberadaan Sang Dewa tersebut.
Lalu Jura kembali berujar, memancingnya agar mau keluar menampakkan wajahnya. Namun yang terjadi malah sebaliknya!
"Seperti yang kau lihat sendiri, aku lebih baik mati daripada harus memberitahukannya padamu." jelas Jura tegas, Ia sudah tidak perduli lagi jika memang harus mati di tangan Dewa.
__ADS_1
"Bwussshhh... Aaagggkkkk... Eeghh.. Eeghh.." dalam sekejap Leher Jura terasa di cekik oleh sesuatu, dan tubuhnya terangkat tinggi. Namun ia tidak bisa melihat siapa sosok yang sedang mencekiknya dengan ganas, dan hanya bisa merasakan kesakitan di ujung kematiannya.
Mendengarkan ucapan Jura, Sang Dewa tanpa banyak bicara langsung menyerang Jura. Ia mencekik leher Jura, tanpa ampun. tampak wajah Jura sudah hampir membiru menahan sakit dilehernya.
Tubuhnya tidak bisa bergerak, karena Aura Dewa yang sangat Dominan dan mendistorsi, sihingga seorang Jura pun tidak berdaya di hadapannya.
Zion yang baru saja muncul, melihat sosok Jura sudah di ambang kematian. Tanpa Pikir panjang Singa besar itu langsung bereaksi, ia terkejut dan meradang saat melihat Jura. ia melesat menyerang dengan seluruh kekuatannya.
"Ka-kakeeeek... beraninya kau GGGUUUAAAARRRRRRR!!" auman keras Zion, mengacaukan fokus Sang Dewa.
Jura panik saat mendengar suara Zion. 'Bocah itu.. Sudah aku katakan untuk pergi.. Kenapa dia masih ada di-di sini..? Ga-gawat i-ini berbahaya. A-anak itu bisa celaka. Aku harus se-sege eehhgg...' belum selesai pikiranya berbicara, tiba-tiba ia melihat Zion sedang meraung kesakitan.
Mata Jura melebar karena terkejut, namun ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk menolong dirinya sendiri, ia tidak bisa! Apa lagi menolong Zion!
Melihat Singa Putih besar yang sedang berusaha menolong Jura, Dewa itu berseringai dingin. Dan tiba-tiba tubuh Zion di cengkram dengan kekuatan yang amat sangat besar.
"AAAGGGGHHHHHRRRR" Zion berteriak karena kesakitan, Tulang belulangnya hampir hancur karena cengkraman yang tidak terlihat itu.
"Deg.. Perasaan apa ini...!" tiba-tiba Duke merasakan sakit yang amat sangat menyambar di relung dadanya. Melihat itu, Roland dengan cepat menanyakan keadaan Duke.
"Yang Mulia.. Ada apa?" tanya Roland dengan cepat, sambil meraih lengan Duke, yang hampir saja tersungkur.
"Zi-Zion..." ujarnya tiba-tiba terhenti.
"Hahahahaha... Kemana semangat yang kalian tunjukkan padaku tadi. Heh! Aku sengaja melihat apa yang kalian lakukan. Ternyata kalian hanyalah Spirit lemah, yang tidak bisa apa-apa. Cih, ternyata ekspektasiku terlalu berlebihan terhadap kalian.
Tapi berani-beraninya kalian menyombongkan diri dihadapan ku! Heum.., Sekarang, aku akan mengakhirinya dengan cepat." ujarnya dengan intonasi dingin, dan ia mulai serius dengan ucapannya tersebut.
Sementara itu.. Masih belum ada tanda-tanda kehadiran dari Gira maupun Rabarus, sedangkan Zion dan Jura. sedang meregang nyawa! Keduanya tampak sudah pasrah dengan apa yang terjadi pada mereka.
'Hah.. A-apa mungkin, ini adalah akhir dari hidupku! Jika benar ini adalah akhirnya.. Aku benar-benar meminta maaf padamu Nak Dewi.
Semoga di kehidupan selanjutnya.. Aku bisa melindungimu lebih dari ini.' Gumam Jura dalam hati.. dengan kedua mata yang perlahan hampir tertutup. Air matanya jatuh mengudara bebas.
'Bo-bocah, ma-maafkan aku! Hehe.. Sepertinya Pak Tua ini tidak bisa menepati janjinya padamu Nak. Dan, Nak Dewi.. Tampaknya, aku tidak akan pernah bisa melihat senyuman polosmu lagi.
Da-dan, aku tidak bisa menjadi sandaranmu untuk ber-ba-ring..!' gumamnya di sisa-sisa terakhir hidupnya.
Apa yang akan terjadi pada keduanya..!??
__ADS_1