AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
HARI INI.. AKU AKAN MEMPERKENALKAN KALIAN, DENGAN ANGGOTA BARU


__ADS_3

Setibanya mereka di dalam, para Spirit telah berkumpul, dan Zion langsung menyambut kehadiran Tama, yang telah lama tidak ia lihat.


"kakek, jadi itu kau..! Aku kira kau tidak akan kembali." ujar Zion tampak senang, lalu menghampiri Tama dan yang lainnya.


"cih, jika aku sudah berjanji untuk kembali, pasti aku akan kembali." ujar Tama, sambil mengusap kepala Zion.


"heheh.. Syukurlah kau tidak kenapa-napa kek, apa kau tahu..! Para kakek sangat mengkhawatirkan keadaanmu." jawabnya jujur.


Tama, mengangkat satu alisnya.. Ia melihat kearah teman-temannya lalu menggoda mereka.


"khe.. Khe.. Ternyata kalian sangat perhatian sekali ya! aku kira kalian tidak perduli sama sekali padaku. Kalau Tahu begitu.. Mending aku kembali besok saja khi.. khi.." gumamnya sambil tertawa.


"cih, tidak kembali juga tidak apa-apa bukan." celetuk Zaku.


"yang benar..! Jika aku tidak ada, kau pasti akan sangat merindukanku. Karena cuma aku, yang mahu meladeni sifatmu yang seperti bocah itu."


"jadi kau mengaku, kalau kau masih bocah heh..!" balas Zaku.


"mana mungkin, tentu saja aku lebih dewasa darimu."


"Heeh.. Hanya tampilan luarnya saja, namun mentalmu masih seperti anak-anak."


Melihat ada singa lain, Rabarus cukup terkejut.


'Oh.. Ternyata ada dua singa putih di sini. Tapi singa yang ini, kelihatannya masih muda. Hmm.. Sepertinya, Tempat ini dipenuhi dengan para spirit hebat. Namun, yang jadi pertanyaanku.. siapa master mereka! Biasanya sangat sulit melakukan kontrak dengan spirit kelas atas, apalagi level mereka.. Jauh lebih tinggi, karena sudah berada pada tingkat Raja.


Apalagi yang satu itu.. Selain tampak misterius, Levelnya juga jauh lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Meskipun ia menekan kekuatannya, dan menyembunyikannya dari yang lain, tapi dia tetap tidak bisa menipu mataku.


Aku penasaran sekali, siapa master dari anak-anak ini..?? Jika para manusia bisa membuat kontrak dengan mereka! Sudah pasti Master dari anak-anak ini juga bukan orang sembarangan.' pikirnya menyelidik.


Rabarus, sangat senang melihat keakraban Putranya, dan teman-temannya. Namun, dalam kebungkamannya itu.. Tersimpan seribu tanya yang membuatnya semakin ingin menggali perihal tersebut. Ia melihat keseluruh ruangan, dan nampak sekilas dibalik tirai yang sedikit tersingkap. kedua anak manusia sedang tertidur pulas. Awalnya ia.. terlihat masih biasa-biasa saja, Saat tirai tersebut terbuka sedikit karena tertiup angin, tampak samar-samar gadis kecil berambut perak keunguan sedang terbaring dalam pelukan seseorang.


Pandangannya kembali tertuju, pada Gadis kecil yang sedang tertidur. Melihat itu, timbul keinginan untuk mencari tahu, Saat ia baru mau melangkahkan kakinya.. Ia tidak sadar ada tatapan lain, yang juga sedang mengawasinya dalam diam. Melihat pergerakan tak biasa Dari Rabarus, dalam sekejap Jura muncul dihadapan Rabarus, untuk menghalanginya Dengan kedua tangan, yang masih terlipat kebelakang.


"Maafkan saya tuan, tapi, apa yang anda lakukan, sangatlah tidak sopan. anda secara tiba-tiba langsung menghampiri orang yang sedang tertidur.. Apalagi anda hanyalah tamu disini." Ujar Jura tegas, dengan sikap tenangnya.


'Oh.. ternyata dia sangat mewaspadaiku.' Ujar Rabarus, sambil sesekali melirik kearah belakang Jura.


Melihat apa yang Jura lakukan padanya, membuat spirit lain sedikit terkejut, Begitu pun Tama, karena Jura tampak sangat protektif. Menyadari keheningan yang terjadi, dan melihat banyak mata sedang melihat mereka. Rabarus, dengan cepat membuat suasana kembali hangat.


"hahaha.. Maafkan aku, yang tiba-tiba tidak sopan ini. Habisnya, kalian sangat fokus sekali berbincang, jadi aku tidak ingin mengganggu." Gumamnya sambil tersenyum, dan menggaru pipinya.


'Perbedaan Tama, dan Ayahnya. hanyalah pada sifat keduanya, yang sepertinya bertentangan. Tama lebih kegalak dan sedikit santai meski terkadang dia juga sangat jahil. Sedangkan Ayahnya, lebih hangat dan ceria. Meskipun begitu, aku tidak akan tetipu dengan senyuman palsu itu. Dia sangat ahli, dalam menyembunyikan emosi.


"Apa yang Ayahanda lakukan? Bukannya kau sudah berjanji tidak akan macam-macam jika ingin mengikutiku." Tanyanya.. pada sang Ayah.


"haha.. Kau ini seriu sekali, padahal Ayahmu ini cuma ingin melihat saja."


...----------------...


Keesokan harinya.. Jam lima pagi, Saat Duke sadar, Lannox melihat sekitar ruangan..


"selamat pagi nak, Kau sudah bangun?" tanya zion menghampiri.

__ADS_1


Lannox melihat sekitar ruangan.. Tampak sunyi, dan hanya Zion, yang sedang duduk dihadapannya.


"dimana yang lainnya?" Tanya Lannox.


"ah, para kakek.. Mereka sedang membuat Perisai di luar Mansion."


"Perisai... Perisai apa?"


"Perisai, untuk melindungi Mansion ini, dari serangan musuh."


ia terdiam sebentar, lalu Lannox turun dari ranjangnya.. Ia kemudian mengambil segelas air di atas nakas, yang sudah tersedia disamping ranjangnya untuk diminum. Setelah itu ia pergi mencuci muka.. Sehabis dari mencuci muka, Lannox kembali mengambil pedangnya.


Seperti biasa, setelah mengecup kening Putrinya.. ia langsung keluar untuk berolahraga pagi. Duke meregangkan ototnya, kemudian berlari keliling lapangan di ikuti para Pasukan. Setelah itu, ia melanjutkan latihan pedang.


Karena hari ini adalah waktu Putrinya untuk terbangun dari tidur panjangnya, Ia menjadi sangat bersemangat, sangking semangatnya.. Para prajurit dibuat kualahan dan terkapar tak berdaya.


"Yang Mulia.. Hari ini anda sangat bersemangat sekali, bisakah kita istrirahat sejenak."


"Apa begini saja stamina kalian haah!! Cepat bangun, cih, memalukan sekali. setelah ini.. lari Keliling lapangan sebanyak lima puluh kali. Awas jika ada yang ketahuan mencuri tulang, tanpa sepengetahuan dariku. Akan kutambah menjadi seratus kali lipat, apa kalian mengerti?!!"


"kami mengerti, Yang Mulia." Jawab para Prajurit kompak.


"tapi sebelum itu.. Ada yang ingin aku tunjukkan pada kalian semua!"


Para Prajurit saling menatap bingung, dan menunggu jawaban dari Duke.


Lannox memperhatikan seluruh prajurit, yang sudah bangun untuk berbaris rapi, dan di barisan paling belakang, tampak Dean dan Robi sedang berdiri dalam barisan. namun sedikit jauh, Sangat nampak perbedean, jika mereka berdua didiskriminasi.


Melihat itu.. Duke pun mengambil keputusan, membuat semua yang ada disana terkejut tak percaya.


Melihat perlakuan para prajurit yang tidak menyukai keduanya, Lalu.. Lannox mulai mengambil tindakan tegas, pada semua pasukan yang telah berbaris berjejer rapi.


"Hari ini, aku akan memeperkenalkan kalian, dengan anggota baru. Tentu saja.. Kalian juga sudah mengenalnya." Ujar Lannox, melirik kearah Robi dan Dean, lalu memanggil keduanya.


"Dean.. Robi.. Kalian berdua, Maju kehadapan sekarang..!" Perintahnya lantang.


Keduanya saling melirik mengangguk, dan dengan cepat Dean dan Robi, berlari cepat kearah Duke. sambil diperhatikan dengan semua pasukan yang telah berbaris rapi. sesempainya dihadapan Sang duke, keduanya langsung berlutut.


'bukankah itu cara seorang prajurit melakukan sumpah!!' pikir Roland, yang nampak terkejut. Begitupun dengan prajurit lainnya, semua menjadi heboh.


"Diam..!!! Semuanya, Mulai hari ini.. Aku akan melakukan pengangkatan sumpah secara resmi."


Dean dan Robi berlutut dengan satu tangan, bertopang diatas lutut mereka. Lannox berdiri memperhatikan keduanya.


"karena aku sudah mendengar sumpah kalian secara pribadi, hari ini.. aku akan menerimanya secara resmi." jawabnya berbicara pada keduanya.


"Yang Mulia.. sebelum anda menerima sumpah kami, izinkan kami mengulanginya lagi secara resmi..!!" ujar Robi semangat.


"benar Yang Mulia, kami juga tidak hanya ingin di akui oleh Anda! Tapi kami juga ingin di akui oleh seluruh prajurit yang ada disini." timpal Dean lagi.


Ini adalah kali pertama baginya ingin diakui sebagai prajurit resmi, biasanya.. Selama di Orsi, ia hanya menjadi mata-mata atau prajurit bayangan. Dan kerja kerasnya selama di Orsi tidak pernah di akui, selalu dipandang sebelah mata. Meskipun ia telah berusaha mati-matian untuk menaikkan levelnya.. Tapi tidak pernah dianggap sedikit pun. Dan kali ini.. ia tampak sangat senang dan bersemangat sekali, Dan Ia tidak ingin melewatkan kesempatan yang telah diberikan kepadanya.


'aku akan membuktikannya kepada Yang Mulia, jika aku benar-benar sudah bertobat dari kerja kotor. Dan kali ini.. Aku akan mengabdikan seluruh hidupku hanya untuk beliau dan keturunannya.' pikirnya semangat.

__ADS_1


Begitupun Robi, yang tampak sangat senang.


'kali ini.. akan aku tunjukkan pada mereka, bahwa aku sangat serius dengan pilihanku.' begitupun Robi yang tidak kalah semangatnya.


Lannox diam sejenak, saat mendengar permintaan dari keduanya... Setelah beberapa detik kemudian, ia mengangguk setuju. Tampak raut senang dari keduanya menyeruak keluar. Lalu keduanya pun, mengulangi sumpah mereka disaksikan banyak prajurit.


"Hormat kami kepada Yang Mulia Duke, Kami berjanji, akan bersumpah setia melindungi Yang Mulia, dengan seluruh jiwa kami, Terimalah sumpah kami. " gumam keduanya kompak.


Lannox mencabut pedangnya, dan mengarahkan pada keduanya.


"Aku, LANNOX RAVIN RALLEX menerima sumpah keduanya. Dengan ini.. kalian berdua telah resmi menjadi prajuritku."


Tampak senyuman keduanya, mengembang. Dan mereka bangkit berdiri, lalu kembali lagi kebarisan, namun kini tanpa ada jarak, dari prajurit lainnya.


Lannox menyarungkan kembali pedangnya, lalu melihat kearah semua pasukan yang berbaris rapi dihadapannya.


"Dengar semuanya.. Karena kedua anak ini telah membuktikan kinerja mereka kepadaku. Maka aku pun, menerima mereka sebagaimana janjiku. Dan aku tidak ingin, ada diskriminasi ataupun perlakuan yang berbeda. Perlakukan mereka berdua sama seperti prajurit lain.


Ingatlah semuanya, sekarang kalian semua telah menjadi satu, dan telah bersumpah setia Kepadaku dan Putriku."


Robi yang telah berdiri dan bergabung dengan barisan. melihat kearah Dean sambil berbisik. "Putri..! Bahkan aku saja belum pernah melihatnya, selama aku disini. Jadi, mereka juga bersumpah kepada Putri beliau??!" bisik Robi kepada Dean.


Dean yang juga tampak kebingungan, hanya bisa mengangngkat kedua bahunya, sambil menggelengkan kepala.


"aku juga belum pernah melihat Putri beliau, selama aku tiba disini." balasnya berbisik kepada Robi.


"jika Prajurit lain melakukan sumpah kepada Putri, haruskah kita juga melakukan hal yang sama??" tanya Robi lagi.


"kita lihat saja nanti." jawab Dean Ragu.


"Jadi,jika sakit satu, berarti sakit semuanya, bahagia satu, bahagia semuanya. Disini kalian semuanya adalah satu dan bersaudara, tidak ada perbedaan. aku memilih kalian tidak memandang Status mau itu bangsawan, atau Rakyat biasa. Karena aku tidak butuh GELAR, Yang paling utama dari semua itu.. adalah BAKAT dan KESETIAAN.


Jika kalian memiliki kedua itu.. Kalian berhak ada disini. Jika tidak, kalian bisa keluar, Aku tidak membutuhkan orang-orang yang tidak kompeten. Apa kalian mengerti maksudku?!!


"ya, kami mengerti Yang Mulia."


Aku tidak dengar, Jawab yang keras.." Ujarnya Lantang.


"ya kami mengerti Yang Mulia."


"bagus, sekarang lakukan apa yang aku perintahkan tadi."


Semuanya bubar dengan teratur, dan berlari keliling lapangan.


Zion, yang sejak tadi hanya memperhatikan dari jendela kamar, kini tersenyum bangga menyaksikan apa yang baru saja ia lihat.


'baguslah ia tampak sudah kembali hidup, tidak seperti semalam. Aku tidak suka melihat wajah anak itu sedih, karena aku ikut merasakan dampaknya. meskipun dia Masterku, tapi aku sudah menganggapnya seperti Putraku sendiri. Aku selalu ada didekatnya, dan menemani hari-harinya.. Meskipun terkadang kami tidak selalu bersama.


Kehadiran Putrinya telah membawa banyak perubahan baginya.. ia yang tadinya selalu diam dan dingin serta selalu bersikap acuh, sekarang tampak lebih hangat. Yah, meskipun itu hanya di tunjukkan untuk Putrinya saja. Tapi untuk hari ini.. Dia tampak lebih bersemangat dikarenakan Putrinya juga.'


Zion kemudian mengalihkan pandangannya kepada Putri kecil, yang berada diatas Ranjang.


'kapan kau sadar nak Dewi, lihatlah.. Betapa senangnya Ayahmu, karena sudah tidak sabar ingin melihatmu memanggilnya Ayah.' "haah.. Aku berharap malam ini tidak terjadi apa pun, dan hanya ada kedamaian."

__ADS_1


Sayangnya.. Harapannya itu tidak akan terkabul. Karena apa yang dikatakan Kaisar Zando, sungguh akan terjadi.


__ADS_2