
"Damu..."
Mendengar panggilan Sang Dewa, Damu yang tengah galau dengan pikirannya sendiri.. Langsung tersadar dari lamunannya, dan segera menyahut.
"Hamba Paduka!"
"Di hutan bagian selatan, tepatnya di bawah kaki gunung hitam. sebuah Gerbang Gaib akan terbuka lebar, dan saat malam tiba, akan muncul sebuah Kota yang tidak pernah ada sebelumnya.
Untuk menyambut berkah Dewa, di sana akan di adakan festival yang di buat oleh Para Roh. Dan di tempat tersebut! Akan terjadi kekacauan besar. Jadi, untuk menjaga keamanan di sana!
aku ingin kau menangkap biang kekacauan tersebut, agar festival yang di adakah para Roh, bisa berjalan dengan lancar." ujar Sang Dewa datar, sambil melirik ke arah Damu.
Mendengar itu.. Damu nampak girang dan bersemangat, Ia dengan cepat langsung menjawab tanpa berpikir panjang.
"Baik Paduka! Serahkan pada hamba, Kalau begitu hamba Izin pamit sekarang." Damu pun berbalik melangkah pergi.
Melihat kebahagian yang dipancarkan Damu, Sang Paduka menyeringai, namun.. sebelum ia pergi. Kaisar Zando memanggil, dan menghentikan langkah Damu serta berpesan padanya.
"Tunggu, untuk berjaga-jaga bawalah ini bersamamu." ujar Dewa Zando.
Dewa Zando merentangkan telapak tangannya.. Keluar Cahaya merah di atas telapak tangan kanan Dewa Zando, lalu terbentuk sebuah gelang merah yang telah terukir dengan mantra, yang hanya bisa di mengerti oleh Sang Paduka sendiri.
Gelang itu kemudian menyusut menjadi sekecil cincin, tak lama cincin itu melayang dan mendarat ke tangan Damu.
"Apa ini Paduka?"
"Gunakan itu di saat kau sedang terdesak, dan kenakan di pergelangan tangan kirinya.. jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."
"Jika di izinkan bertanya, siapakah Dia yang akan hamba hadapi itu Paduka?" ujar Damu penasaran.
Namun... Belum di jawab oleh Sang Paduka! Damu tiba-tiba sudah berada di tengah hutan, tepat di bawah kaki gunung yang di katakan oleh Dewa Zando.
'Haah.. Padahal aku sangat penasaran dengan siapa yang akan aku tangkap, tapi bukannya beliau menjawab, malah aku sudah berada di sini sekarang!
Haah.. tidak apa-apa, yang penting beliau sudah mengabulkan keinginanku, agar tidak bosan hanya tinggal berdiam diri di Istana.' ujarnya dalam hati.
Damu berjalan santai sambil melipat tangan di belakang kepala, Tampak banyak pohon tinggi besar dan rimbun di sepanjang jalan yang ia lalui.
'Haah.. Hutan ini tampak sangat menyeramkan! Pantas saja tidak ada satupun manusia yang pernah menjejakkan kaki mereka kemari.
Tapi, omong-omong siapa orang yang harus aku tangkap ya..? Dan kenapa beliau sampai membuat gelang ini, hanya untuk menangkapnya!! Haah.. Entahlah, hem.. Tampaknya pohon ini sangat bagus untuk bersembunyi.
Kalau begitu aku akan menunggu di sini saja, sambil menunggu Gerbang terbuka dan sebuah Kota muncul! Aku sangat penasaran dengan kota yang dikatakan oleh Paduka.'
__ADS_1
Damu pun menemukan pohon rimbun yang sangat lebat dan tinggi, mungkin jika di mata manusia, yang melihat pohon itu! akan di anggap sarang para hantu karena bentuknya yang mengerikan.
Tapi karena itu Damu, pohon itu justru terlihat sangat menarik untuknya bersembunyi dan memantau situasi dari atas sana.
Sudah dua jam ia menunggu.. Namun apa yang di katakan oleh Sang Paduka, belum juga terbukti kebenarannya. Damu menjadi jenuh, dan mulai berbaring di dahan pohon yang besar itu. Bahkan jika mau, ia juga bisa berlari di atas dahan tersebut, Sangking besarnya pohon itu.
'Haah.. Aku sudah dua jam menunggu di tempat ini, tapi kenapa yang di katakan Paduka masih belum juga Muncul? Jika ada teman mengobrol di saat suasana seperti ini, pasti rasanya tidak akan jadi membosankan bukan!!
Hem.. Aku jadi teringat bocah manusia itu! Meski dia terlihat arogan dan tidak sabaran, tapi ia bisa di ajak bicara, dan menjadi partner yang baik dalam memecahkan misi.' pikirnya sambil mengingat kerja samanya dengan Lannox.
"Hee.. Apa itu? Mungkinkan sudah di mulai??" ujarnya langsung bangun, dan menyingkap tirai daun yang lebat, untuk melihat penampakan yang menakjubkan.
...****************...
Keesokan harinya... Duke, dan Ravella telah bersiap menghadiri undangan kerajaan Raja Elf. Kereta kuda pun sudah tersedia di depan Kastil.
Empat kuda putih sudah berdiri dengan kereta putih gading, ada motif bunga emas di setiap sudut kereta, Sehingga kereta tersebut terlihat sangat mewah.
Di dalam kediaman, Ravella sedang di dandani oleh ketiga pelayan peribadinya, yang juga berasal dari Elf. Mereka pelayan terbaik yang telah di rekrut oleh Emilio, untuk menjaga Kastil.
Semua Pelayan yang ada di kastil berbeda dengan yang ada di Mansion, karena mereka merupakan pekerja ganda. Mereka bisa menjadi pelayan sekaligus menjadi seorang kesatria saat di perlukan untuk melindungi Tuan mereka.
Bahkan tidak hanya para pelayan saja.. Begitupun dengan Emilio. Meski ia terlihat berumur pertengahan empat puluhan, tapi ia sangat gesit dan lebih menakutkan daripada pelayan.
Sejak itu mereka menjadi bersahabat baik, Duke yang tidak ingin menyia-nyiakan bakat yang dimiliki oleh Emilio, akhirnya Duke muda mempekerjakan Emilio di Kastil. Ia memberi kepercayaan penuh pada Emilio, untuk menjadi kepala pelayan mengurus kastil.
Di saat Duke tidak ada di tempat, Emilio lah yang bertugas menjaga Kastil dan mengurus segala bisnis milik Duke muda itu. Semakin lama bisnis yang ditanganinya semakin berkembang pesat sehingga memiliki banyak cabang di ibu kota kerajaan.
Atas dedikasinya mengelola perusahaan, dan menjadi pengusaha paling cemerlang di kerajaan, ia sampai diberi gelar Baron eleh Raja.
Dan sekarang, ia sangat senang melihat Tuan Mudanya sudah memiliki buah hati yang sangat lucu dan menggemaskan. Ia memperhatikan punggung lebar bertubuh tinggi milik Duke, dengan penuh haru dan bangga.
'Aku tidak menyangka, beliau yang dulu hanya bergelar Tuan Muda.. Kini sudah berubah menjadi seorang Duke. Dan memiliki Putri yang sangat cantik dan menggemaskan. apalagi Yang Mulia Kecil, memiliki perpaduan wajah Duke dan Duchess.
Ia sangat cantik dan lucu, meski begitu.. Putri mempunyai Aura yang sangat berbeda, dari anak-anak seusianya. ia juga mempunyai pesona dan daya tarik tersendiri, dan bisa menarik siapapun di dekatnya. Apalagi saat setiap kali Ketujuh Pria itu berada di sisinya!
Aku merasakan Aura membunuh yang sangat mengerikan dari anak-anak muda itu! Sebenarnya, dari mana Yang Mulia menemukan mereka?
Aku selalu ingin menanyakan masalah ini, tapi sering lupa. Apa karena Faktor usiaku yang memang sudah hampir mencapai Lima ratus tahun?
Haah.. entahlah, aku akan menanyakan masalah ini nanti setelah Yang Mulia Pulang Dari Istana.' ujarnya sambil memegang dagu, memikirkan apa yang mengganjal di dalam hatinya.
Duke sedang duduk di ruang tamu dengan santai, Ravella masih belum juga turun menampakkan wajah imutnya.
__ADS_1
Dan setelah setengah jam menunggu, akhirnya orang yang di tunggu pun muncul menampakkan wajahnya yang ceria. Ravella Yang melihat sosok sang Ayah yang sudah mengenakan pakaian Formal. Langsung memanggilnya dengan lantang.
"Ayah...!!!" panggilnya yang membuat Duke menoleh.
Duke langsung terpana melihat perubahan dari sosok Putrinya sendiri, Ravella berlari dengan lincahnya menuju sosok Sang Ayah yang tidak bergeming, menatap Putrinya.
"A-Arabella.." sekilas muncul sosok istri tercinta sedang tersenyum padanya.
Duke melihat sosok Arabella pada diri Putrinya itu, tiba-tiba terdengar suara Ravella menyadarkan lamunannya.
"yah.. Ayah...! Apa Ayah sakit?"
Melihat reaksi Duke, timbul rasa cemas pada wajah mungilnya.. Ia lalu meraih tangan besar milik Duke, Dan mengayun pelan.
"Ah, ti-tidak Putriku. Ayah tidak kenapa-napa. Kau tampak cantik hari ini Nak! mirip seperti Ibumu. Tiba-tiba Ayah jadi teringat Ibumu.. Jika dia ada di sini, dia pasti sangat senang melihatmu, Putriku." ujar Duke, sambil berlutut dengan satu lutut, dan membelai kepala Putrinya agar tidak khawatir.
'Ada apa dengan Pak Tua ini? Mengapa tiba-tiba dia teringat dengan Ibu! Untuk mengalihkan kesedihannya.. Aku mengalungkan kedua tanganku pada lehernya.'
Duke kembali tenang.. Dan langsung berdiri menggendong Putri kesayangannya itu.
"Hem.. Ayo sayang kita berangkat, Ayah sudah tidak sabar ingin melihat teman lamaku. Ah, satu lagi.. Jangan terlalu manis jika berada di depannya ya sayang! Karena Ayah tidak suka keimutanmu ini di lihat olehnya."
"Ng? Memangnya kenapa??"
"Pokoknya Ayah tidak suka." ujarnya Galak.
'Ada apa dengan Pak Tua ini?? Tadi ia sedih, dan sekarang berubah jadi kekanak-kanakan. haah.. Aku tidak mengerti pola pikir Ayah, yang terkadang suka berubah-ubah.' pikirnya sambil memegang Kepalanya.
Ravella mengenakan Gaun putih cerah selutut, dengan banyak taburan bunga Ros muda kecil, buatan tangan para pelayan sebagai hiasan di setiap hujung Rok Gaunnya. Sementara Rambut perak putih keunguannya..
di sanggul dua, dengan hiasan pita Emas mengelilingi kedua sanggul rambutnya itu.. Dan tidak lupa Poni yang menutupi keningnya.. Ia tampak semakin imut menggemaskan.
"Emilio, aku pergi dulu." ujarnya saat keluar dari kediaman, sedangkan Emilio dan para pelayan sudah berdiri di depan Mansion untuk mengantar kepergian tuannya itu.
"Baik, Yang Mulia.. Semoga perjalanan anda berdua menyenangkan." ujarnya sambil melambaikan tangan pada Gadis kecil yang sedang berada dalam gendongan Duke.
"Dadah Emilio, Rose, Nana, Alia.." ujar Ravella melambaikan tangan mungilnya.
"Dadah Putri.. Kami akan menunggu anda kembali." ujar ketiganya bersamaan.
"Hem.. Hem.. Baiklah."
Duke dan Putrinya pun menaiki kereta mewah tersebut, tampak dua kusir kuda sudah bersiap-siap untuk berangkat. Dan perjalanan ke kerajaan pun di mulai.
__ADS_1