AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
TITIK TERANG


__ADS_3

argus yang tengah dalam perjalanan, sedang menuju kearah selatan,


argus: 'perasaan apa ini sebenarnya..!'


dikekaisaran sang pangeran, yang tengah konflik batin dengan pikirannya sendiri.


pangeran: "bagaimana.. apakah kau sudah mendapat, kabar dari anak itu?"


"masih belum pangeran, bahkan jejaknya juga menghilang begitu saja, tidak bisa dilacak sama sekali."


"apa maksudmu?"


"seperti yang diprediksi pangeran sebelumnya, kelihatannya anak itu memang benar sudah berkhianat."


pangeran: "bag, bug."


pangeran melempar buku tebal, kearah kesatria yang ada dihadapannya itu. untungnya, kesatria tersebut dengan cepat mengelak.


pangeran: "dasar brengsek. kenapa menemukan anak itu saja, kalian sampai tidak bisa? aku tidak mau tau apapun itu alasannya. kau harus segera menemukan anak itu, sampai dapat. dan bawa dia hidup-hidup kepadaku, heh.. selanjutnya biarkan aku yang mengurus sisanya."


"baik pangeran, kalau begitu.. saya undur diri dulu pangeran. tap.. tap.. tap.. ceklik."


saat kesatria pergi.. dan pangeranpun akhirnya tinggal sendirian didalam ruangan perpustakaan, dengan perasaan marah.


pangeran: 'heh.. rasanya aku sedang ingin membunuh seseorang sekarang.'


pukul dua puluh, sebelum waktu penyerangan.


ditebing gunung yang curam, Rafael sedang berada di atas kastil megah miliknya, hembusan angin bertiup kencang kearahnya, hingga mengibarkan rambutnya. pria yang mengenakan celana panjang bewarna hitam dengan atasan kemeja putih polos, yang dilapisi jas hitam tanpa mengenakan kancing membuat kemeja putihnya sedikit terlihat, dan ia menyelipkan satu tangannya kedalam saku celananya. ia berdiri tegak menghadap kelangit malam, sambil menyeringai.


'hmm hehehe.. aku sudah tidak sabar menantikannya.'


bayangan hitam: "hihihihi.. apakah yang membuat baginda sampai sesenang itu..?"


"hem, yah aku benar-benar tidak sabar, untuk melihat keangkuhan yang tidak pada tempatnya."


bayangan hitam: "apa maksud baginda?"


"seekor kelinci yang tidak tau diri, tiba-tiba saja memberanikan diri datang kehadapan predator yang memang sedang lapar.. apa menurutmu itu tidak lucu?"


bayangan hitam: "itu sudah pasti sebuah kebodohan yang hakiki baginda, hahahaha."


"ya.. itu sama saja dengan menyerahkan diri, jadi aku tidak perlu repot-repot mengirimkan utusan secara sembunyi-sembunyi lagi, kenegara kecil seperti itu." 'aku ingin tahu.. apa yang akan mereka lakukan? menyerah kalah, atau mati dengan terhormat mempertahankan negeranya.'


bayangan hitam: "kalau saya menjadi mereka, tentu saja saya akan memilih pilihan pertama."


...****************...


"akhirnya kau, sudah kembali..? master sihir, julius."


julius: "ya.. seperti yang baginda perintahkan, setelah sampai, saya langsung bergegas untuk datang kemari, saya sudah mendengar keseluruhan ceritanya dari arlo. bagaimana bisa anda melakukan kesalahan fatal, dengan menantang seorang penyihir jenius abad ini, itu sama saja dengan menyerahkan diri baginda."


"ya.. aku tau ini kesalahanku julius, aku dengan sombongnya percaya, kalau aku bisa menundukkan kerajan ergben, tanpa pikir panjang aku malah menempatkan negaraku sendiri, kedalam masalah besar, apa lagi holy stone juga telah dicuri olehnya."


julius: "berarti mereka sudah mengetahui kelemahan negara ini. hem ini benar-benar gawat, tepatnya kita sudah kalah sebelum berperang baginda."


raja meremas rambutnya yang sudah acak-acakan, dengan kedua tangannya.


"lantas apa yang harus aku lakukan julius? apakah harus aku menyerah kalah, sementara harga diriku sebagai raja menjadi taruhannya. namun jika aku memaksakan diri untuk tetap melawan, sudah pasti akan ada banyak korban yang berjatuhan."


julius: 'hem selama kepemimpinannya, baru kali ini aku melihat baginda raja seputus asa ini. sungguh pilihan yang cukup sulit..! bahkan akupun tidak bisa menandingi kejeniusan rafael.'

__ADS_1


julius merenungkan sesuatu, iapun menguras otaknya.. untuk memecahkan masalah ini.


julius: "baginda, kapan waktu penyerangan?"


"malam ini, sekitar pukul satu pagi."


julius: "apa..! bukankah itu terlalu cepat baginda, bukankah kita membutuhkan rencana yang lebih matang lagi, untuk membuat strategi."


"haah.. itulah masalahnya, aku telah menurunkan titah kepada lukas untuk mengambil tindakan malam ini. dan kita sudah tidak punya waktu lagi untuk menundanya."


julius berdiri tenang, lalu memegangi dagunya, sambil melirik kearah baginda raja.


julius: "baginda, mungkin ada satu cara untuk memenangkan perang ini. tapi konsekuensinya sangatlah besar..!"


"apa...! benarkah.. katakan apa itu Julius..?"


raut wajah yang putus asa, kini telah menampakan sinarnya.


jalan buntu yang tiada akhir, telah menemukan titik terang. kembali kekastil diatas tebing yang curam dan terjal, rafael yang masih berdiri diatas kastil miliknya, sedang merapalkan mantra. lingkaran sihir bewarna ungu gelap kini sedang mengelilingi rafael. semakin lama lingkaran itu semakin melebar dan membesar.


"krusss... pung.."


rafael membuat sihir pertahanan disetiap wilayah miliknya, dan daskal yang menyaksikan secara langsung dari dalam kastil.


daskal: "akhirnya telah dimulai ya..!" 'jika manusia biasa, mungkin tidak akan sanggup melakukannya. karena membutuhkan energi yang sangat besar untuk mengontrol satu benua, tapi karena itu baginda yang melakukannya, semua yang terlihat mustahil akhirnya terjadi, dan semuanya menjadi sangat mudah berkat keberadaan baginda.'


tak lama.. datang seseorang menghampiri daskal.


Rhagel: "akhirnya sudah dimulai."


daskal melirik kesamping, dengan pandangan acuh.


daskal: "cih ada apa dengan dewan sihir, sampai datang kemari..?"


daskal : "aku tidak bertanya tentangmu, tapi yang aku tanyakan, sedang apa kau disini, bukankah kalian para dewan sihir sangat sibuk?"


Raghel: "siapa yang tidak ingin menyaksikan kehebatan baginda yang sangat melegenda, justru aku merasa terhormat karena bisa menyaksikannya secara langsung seperti ini."


daskal hanya menanggapi dengan senyum tipis.


daskal: 'untuk yang satu itu, aku setuju dengannya.'


diatas kastil, setelah membuat sihir pertahanan keseluruh benua barat. rafael dalam sekejap menjentikkan jarinya, keluar ratusan kubus biru terang, di setiap titik kordinat yang ada diseluruh benua barat, tempat prajurit berada.


"semuanya.. apa kalian mendengarku?"


"ya baginda, kami mendengarnya."


"bagus, bersiap-siaplah. karena untuk beberapa jam kedepan, musuh akan datang menyerang. pasukan sihir tim satu bagian tameng, berjaga digarda terdepan sebagai perlindungan, untuk pasukan tim dua penguasa mana dan aura berjaga dibaris kedua untuk melindungi pasukan tameng, dan untuk tim penyembuh kalian harus selalu siaga disaat dibutuhkan. setiap tim ditempakan lima orang penyembuh. karena peran kalianlah yang paling penting disini, dan buat tim siluman.. segera menyebar disetiap penjuru untuk mengecoh musuh. dan terakhir.. bagi tim pengguna sihir bagian penyerang, kalian akan menyerang melalaui jalur udara."


"siap baginda dilaksanakan." jawab mereka semua serentak


bayangan hitam: "baginda, kenapa anda harus repot-repot turun tangan, hanya untuk menghadapi musuh lemah seperti mereka."


"hem, menurut pengalaman yang telah aku pelajari dari kegagalan perang monster sebelumnya, jangan pernah menganggap remeh lawanmu, walau terlihat selemah apapun mereka."


bayangan hitam: "mengapa tidak anda perintahkan saya saja, untuk membasmi para hama."


"hem.. belum waktunya, karena peranmu tidak dibutuhkna dalam perang ini."


bayangan hitam: "tapi baginda." ia sedikit merasa kecewa, dengan keputusan tuannya.

__ADS_1


"hentikan razak, jangan membuat aku mengulanginya."


"baik baginda, saya mengerti. kalau begitu, paling tidak izinkan saya untuk terus berada disamping anda?"


"haah baiklah, tapi.. jangan pernah membuat kekacauan apapun, tanpa seizinku."


bayangan hitam: "dimengerti baginda, saya akan mematuhinya."


rafael dan razak sudah bersiap-siap, untuk menyambut kedatangan musuh. namun sayangnya, razak merasa sangat kecewa dengan keputusan rafael, karena posisinya hanya diam melihat tanpa melakukan apapun.


pukul dua puluh satu, sebelum penyerangan.


lannox yang sudah bersiap siaga sejak tadi, menunggu kedatangan jura dengan sangat tenang, sambil membaca buku, untuk mengisi kebosanannya.


jura: "apa kau sudah siap..?"


tiba-tiba muncul suara dalam kamp lannox, lannox menyeringai.


"darimana saja kau pak tua..? aku sudah bersiap-siap sejak tadi. namun orang yang membuat janji, malah terlambat dua jam."


jura: "benarkah...! dan apakah amarahmu telah tertidur..?"


"sialan, apa maksudmu? jangan memancingku jura."


jura: "tentu saja kau sudah mengerti maksudku, karena jika kau masih tidak bisa mengontrolnya, maka aku akan pergi sendiri dan meninggalkanmu. karena aku tidak suka keributan, kau hanya akan mengganggu berjalannya misi."


"dasar sialan kau, naga brengsek."


jura: "haah baiklah.. jika begitu, aku akan pergi sen...."


"tunggu, baiklah aku janji tidak akan membuat keributan."


jura: "hem.. puk.."


dalam sekejap jura sudah berada disamping lannox dan menepuk pundaknya tanpa ia sadari kehadirannya.


jura: "kita pergi, bwushhh.."


jura dan lannoxpun menghilang dalam sekejap, dan kamp menjadi kosong, sementara roland dan prajurit lainnya, sedang berjaga diluar kamp, suara kayu bakar masih terdengar nyalang dilahap api.


dimenara sihir kerajaan, lukas, zora, dan arlo juga sudah bersiap-siaga untuk berangkat. namun tiba-tiba keheningan suasana dalam ruangan menjadi pecah karena ketukan dari sang merpati pembawa pesan.


"tuk.. tuk.. tuk.."


arlo: "suara apa itu..?"


zora: "biar kulihat..!"


zora menghampiri jendela, lalu membukanya. tampak seekor merpati hinggap dibingkai jendela. dengan gulungan kertas kecil yang menempel dikakinya.


zora: "lukas, arlo. coba lihat ini.. ada merpati pembawa pesan."


arlo: "mungkinkah itu dari baron aisher..?"


lukas lalu bangkit dari kursinya, dan merampas surat yang ada ditangan arlo.


arlo: "kau seperti menantikan surat cinta saja."


lukas membuka gulungan kecil itu, dengan sangat hati-hati


"(kepada tuan lukas, saya baron aisher memberi laporan.)"

__ADS_1


apa isi surat dari Baron aisher..? nantikan bab selanjutnya.


__ADS_2