
Seorang Pria tampan berambut pirang terurai panjang sedada, sedang duduk bersandar pada bingkai jendela kamarnya.. Dengan satu tangan bertopang di atas lutut kanannya. Sambil memejamkan mata, Sesekali angin bertiup pelan masuk melalui jendela.
'Apa yang sedang bocah itu lakukan.. Dari tadi hanya duduk diam di situ! Apa dia tertidur..?' pikir Razak, yang sedang memperhatikan Argus.
Argus masih tak bergeming dari tempat duduknya.. Sudah satu jam ia duduk bersandar di jendela. Tiba-tiba Razak merasakan bosan, lalu pergi meninggalkannya.
'Haah.. Rasanya tidak ada yang mencurigakan dari anak ini..! Sebaiknya aku segera kembali melaporkannya. Sudah cukup memata-matai anak ini.. Tidak ada yang menarik darinya! Untuk kuselidiki, Aku jadi bosan.' keluhnya dalam hati.
Setelah bergulat dengan pikirannya seharian.. Razak pun menghilang meninggalkan kediaman Duke. Dan setelah kepergiannya, Argus membuka matanya.. Tampak warna mata yang seperti telaga indah itu.. Melihat keluar jendela sambil menyeringai.
'Akhirnya dia menyerah sendiri.. karena merasa bosan. Heeh.. Spirit yang aneh, jadi itu adalah sosok Spirit milik anak itu? Pantas saja dia tampak dominan.' ujarnya berseringai sambil melihat keluar jendela.
Argus menatap sendu pada bintang yang bertaburan di langit malam..
'Kapan Putri kecilku kembali dari liburannya.. Aku sudah tidak sabar ingin berbicara dengannya, dan menanyakan apa saja yang telah ia lakukan selama liburan.
Hem.. Hem.. Aku juga masih penasaran dengan sosok bayinya, yang pernah ia katakan waktu itu! bayi seperti apa yang ia maksud? Hem.. dia sangat lucu dan polos. Masih sekecil itu saja sudah ada yang mengincarnya..
Bagaimana jika ia sudah beranjak tumbuh, menjadi seorang gadis! Membayangkannya saja di kelilingi dengan banyak lalat, aku sudah kesal. rasanya ingin aku mengurungnya.. hanya untuk diriku sendiri, agar tidak ada yang menempel padanya!
Haah.. Ini benar-benar aneh! Sejak kapan aku jadi terobsesi seperti ini? Sejujurnya aku juga masih belum yakin akan perasaanku!! Apakah ini murni cinta.. Atau hanya rasa ingin memiliki sesaat.
Tapi sungguh begitu.. Terlalu banyak halangan untuk mendapatkannya! anak itu dikelilingi dengan banyak orang yang menyayanginya.. Tapi justru itu membuat aku semakin ingin memilikinya.
Banyaknya rintangan menjadi satu tantangan tersendiri buatku, seperti ada kesenangan yang tidak bisa aku gambarkan.. Memiliki Ayah mertua yang adalah Masterku sendiri..! Ah, Sial. apa yang sedang aku pikirkan?? Apa aku sudah menjadi gila!!' Wajah Argus tiba-tiba memerah, membayangkan ia menjadi menantu dari Sang Master.
Argus menyibak rambutnya yang panjang kebelakang, setelah puas berkeluh-kesah dengan hati dan pikiran.. Argus turun dari jendela, dan kembali kepangkuan ranjangnya, untuk melepas lelah dari rutinitas kerja seharian.
'Aku harus segera tidur, karena besok banyak yang harus kulakukan.'
Tak lama mata indah seperti telaga itu, terbenam menjemput mimpi.. Di saat ia telah terlelap dalam pelukan malam. Muncul sosok cantik dan anggun sang IBUNDA..
Ia duduk di samping Argus, sambil membelai Rambut pirang Putranya itu.. Lalu ia bergumam di kesunyian malam.
"Ternyata Putraku sedang di mabuk cinta pada seseorang rupanya! Sampai ia bertahan dan rela tinggal di sini, dengan alasan ingin mandiri.
Kau terlalu naif Putraku, sebenarnya gadis seperti apa yang telah meruntuhkan benteng keras dihatimu! Hem.. sepertinya aku harus mencaritahunya sendiri. Haruskah aku juga tinggal disini untuk memantaunya?" ujar Dewi tersebut.
Tak lama setelah ia berpikir dan melihat Putranya.. Ia pun kembali untuk meminta Izin pada Raja Faran.
Apa yang akan dilakukan Argus, jika tahu ibunya akan memberi kejutan padanya..!
***
Razak kembali pada Sang Master, dengan perasaan tidak puas hati.. Tampak raut kecewa dari Raffael.
"Jadi, hanya itu informasi yang kau dapatkan?" ujarnya tampak tidak senang
"Benar Baginda.. Anak itu tampak membosankan dan tidak menarik untuk diselidiki. Dia melakukan rutinitas seperti biasa, yang di lakukan seorang Duke pada umumnya! Tidak ada yang mencurigakan darinya.. Untuk dilaporkan." ucap Razak Malas.
"Lalu.. Apa kau tahu apa hubungannya dengan Calon Ratuku??"
__ADS_1
"Tidak Baginda.. Saya masih belum menyelidiki masalah itu! Tiba-tiba saya merasa jenuh sekali, saat berada di dekatnya."
"Haah.. Aku menyuruhmu mencari tahu, apa hubungan Pria itu dengan wanitaku! Bukan cuma mengawasi gerak-geriknya Razak..!" ujar Raffael sambil bersedekap tangan.
"Haha.. Saya akan lanjutkan nanti, setelah rasa bosan saya menghilang baginda." jawabnya malas.
"Terserah kau saja.. Kali ini aku akan memaklumimu. Yang penting aku membutuhkan informasi ditail mengenai Pria itu! Dan kau tidak boleh kembali dengan tangan kosong lagi.
Biasanya kau selalu bisa di andalkan, tapi kenapa kali ini.. kau jadi pemalas sekali. Dan banyak mengeluh?"
"Emm.. Itulah yang saya pikirkan sejak beberapa hari ini Baginda. Saya juga merasa aneh, biasanya saya selalu kembali dengan hasil memuaskan. Baru kali ini saya merasa cepat bosan, dan sangat jenuh.. Saat berada di dekat anak itu!
Tiba-tiba muncul perasaan tidak tertarik melakukan apapun, dan rasa bosan yang amat sangat. Saya juga bingung dengan perasaan saya Baginda..!" ujarnya meluahkan, apa yang ia rasakan selama ia menyelidiki Argus.
"Begitukah...! Hem, rasanya ada yang aneh." ia mencoba menelaah apa yang terjadi, sambil memegang dagunya. 'Bahkan penyusup itu juga tahu kelemahan Bagzul, Yang bahkan aku sendiri tidak tahu? Siapa sebenarnya Pria itu!?
Razak tidak pernah gagal menjalankan Misinya selama ini, apa lagi hanya karena alasan bosan yang tidak masuk akal seperti itu..!!
Hem.. ada yang aneh, Semakin kesini jadi semakin mencurigakan..?! Mungkinkah dia sudah tahu jika aku memata-matainya?'
Raffael memikirkan semua yang terjadi secara kebetulan, dan tidak masuk akal.
...****************...
Di keremangan malam yang hanya diterangi Cahaya Bulan Biru.. Ketiga Pria yang sedang mengikuti Jura, dan sang Putri Kecil dari kejauhan.
"Ternyata apa yang kau katakan, Benar Pak Tua!" ujar Gira.
"Itulah yang sedang kita selidiki sekarang.. Jadi jangan buat kekacauan yang membuat mereka curiga." ujar Garda kepada keduanya.
"Aku benar-benar penasaran dengan apa yang akan mereka berdua lakukan, tanpa mengatakan apapun pada kita!" ujar Gira.
"Mungkin karena itulah, Jura tidak ingin kita berdua mendengar pembicaraan rahasia mereka.." ujar Saga.
"Aku justru berpikir, mereka sengaja tidak ingin melibatkan kita.. Pasti karena tidak ingin membuat kita khawatir." sambung Gira.
"Bisa jadi.. Apa lagi bocah Naga misterius satu itu, memang sangat aneh..! Dia sering bertindak sendiri, yang bisa membuat kita salah faham dengan tindakannya.
Aku saja yang sesama Ras Naga dengannya.. tidak bisa menebak jalan isi pikiran anak itu seperti apa?" keluh Saga, pada keduanya.
"Dia jadi terlihat mirip dengan seseorang bukan?" ujar Gira.
"Ya, kau benar.. Mungkin karena sifat mereka yang mirip itulah, yang membuat Kaisar sangat menyukainya. Terkadang aku merasa Kaisar pilih kasih dengan kita, benarkan Gira..? Kau juga pasti berpikir sama sepertiku!"
"Heh.. benar sekali..!" jawab Gira, tidak menampik hal tersebut.
"Aku tidak menyangka! Ternyata para Spirit juga memiliki banyak konfilk batin, hehe.." ujar Garda menyela, perbincangan keduanya dengan seringai.
Keduanya hanya terdiam mendengarkan ocehan Garda, yang sedang menertawakan mereka.
"Kau jangan berpikiran yang aneh-aneh, Pak Tua!" ucap Saga.
__ADS_1
"Benar, ini hanya sebuah persepsi yang bermain dipikiran. Kenyataannya kami sangat menyayangi saudara kami, seperti keluarga sendiri." ujar Gira.
"Aku mengerti maksud kalian berdua, tenang saja.. Aku juga tahu akan hal itu! memang sudah pembawaan sifatnya yang misterius seperti itu, sehingga bisa membuat siapapun salah faham dengan tindakannya.
Padahal kenyataannya.. dia sangat peka dan peduli pada lingkungan sekitarnya. Buktinya dia sangat memperhatikan Bayi merah kesanyangan Dewi, Seperti anaknya sendiri.
Dia pasti mempunyai alasan sendiri.. Kenapa dia suka bergerak secara diam-diam, untuk itu kita akan menyelidikinya secara diam-diam juga.. seperti saat ini. Kita bertiga sudah seperti penyusup bukan hihihi..." seringainya membuat keduanya malas.
***
Ravella dan Jura.. Akhirnya tiba di tempat seperti yang suara itu sebutkan. Tampak Bulan Biru bersinar terang.. menerangi kegelapan malam.
Jura mengibaskan sayapnya yang terbentang bebas di langit, di bawah Cahaya Bulan, dengan di tunggangi seorang gadis kecil di atas punggungnya.
'Apakah di sini tempatnya Nak?' tanya Jura.
'Benar Kek, suara itu mengatakan tepat disini, di bawah kita. Tapi, dilihat bagaimanapun.. tidak ada apa-apa di sekitar sini, selain hutan dan danau.' ujar Ravella melihat kesekitar tempat itu.
'Tunggu Nak, lihat baik-baik.. danaunya jadi dipenuhi dengan kabut.' ujar Jura, sambil merentangkan sayapnya.
Tiba-tiba danau yang sunyi dan tenang itu.. Di diselimuti dengan banyak kabut tebal. Lalu muncul kilatan cahaya di dalam kabut tersebut, dan tak lama.. nampak kedua Pilar putih dan Megah, muncul di atas permukaan danau.
Di tengah kedua Pilar tersebut, terdapat Cahaya terang seperti ruang dimensi..
'Kek.. Bukankah ini jadi persis seperti perkataan Pertapa Tua, yang kita bicarakan tadi siang!!' ujar Ravella, sambil memperhatikan keganjilan tersebut.
'Kau benar Nak.. Sebaiknya untuk menghindari apa yang terjadi, lebih baik kita tinggalkan tempat ini.'
Saat mereka akan pergi... Terdengar lagi suara berbisik di telinga Ravella.
"(Apa segitu saja rasa ingin tahumu Putri.. Apa kau tidak penasaran dengan keberadaanku..! Kau akan melihat banyak hal menakjubkan, jika kau memasuki gerbang tersebut. kemarilah Putri.. Kemarilah..)"
'Nak.. Nak.. Sadarlah.. Jangan mudah tertipu dengan bisikan tersebut.' teriak Jura, yang curiga melihat Masternya seperti tidak sadarkan diri.
'Gawat, sepertinya ia terkena pengaruh ilusi.. Dari bisikan tersebut. Sebaiknya aku harus segera pergi dari sini, sebelum terjadi hal yang tidak di inginkan.' gumam Jura, yang khawatir saat melihat keadaan Putri Kecilnya.
Baru ia ingin berbalik arah.. Tubuh Ravella melayang tinggi, dengan tatapan kosong, meninggalkan punggung Jura.
"Apa yang terjadi..? Nak Dewi, Sadarlah..!" teriaknya.. Namun suaranya di abaikan oleh Ravella, karena ia tidak mendengarnya.
Menyadari hal tersebut.. Jura secepat kilat bertransformasi kewujud manusianya. Ia langsung terbang maraih tubuh Ravella yang bergerak sendiri, Seolah sedang dikendalikan.
Setelah menangkap tubuh Ravella.. Ia pun langsung bergerak meninggalkan tempat tersebut. Tapi belum sempat ia melakukannya.. di sekitarnya sudah dipenuhi dengan banyak Kabut tebal.
Lalu.. terdengar suara yang sangat jelas, sedang berbicara padanya dengan nada kemarahan.
"Jika kau tidak ingin celaka, tinggalkan anak itu di sini..!" ujar suara tersebut, dengan nada mengancam.
Bagaimana dengan keadaan Garda dan yang lainnya.. Mampukah mereka menyelamatkan temannya itu?
Dan siapakah sosok Pria, yang sedang berbicara dengan Jura? Bagaimanakah nasib Jura Dan Ravella...!!
__ADS_1