AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
AMBISI PANGERAN


__ADS_3

Keesokan harinya.. suasana pagi di Mansion, seperti biasanya. para pelayan sibuk berkeliaran melakukan kegiatan mereka masing-masing. sedangkan para prajurit, ada yang sedang marathon pagi keliling lapangan. Sebagian lagi ada yang sedang berpatroli menjaga keamanan seluruh Mansion, dan sebagian lagi sibuk melakukan latihan fisik. hari masih agak gelap, karena baru jam lima lewat lima belas dini hari.


Ravella yang sudah terjaga sejak tadi, tepatnya.. Ia tidak bisa tidur karena memikirkan perkataan Pangeran, tadi malam. Mereka berdua berbicara hingga larut. Ravella pergi ke arah jendela, dan membuka gorden putih polos, yang menghalangi pandangan. Lalu ia melangkah perlahan berdiri sambil memegang pagar balkon.


Ia tersenyum lembut, menghirup udara segar yang masih terasa sejuk. Ia masih mengenakan pakaian tidur, tak lama ia memutar tubuhnya, dan duduk melemaskan tubuh lalu bersandar di pagar balkon kamarnya.. sambil memeluk kedua lututnya yang kecil. ia tenggelam menikmati udara segar yang masih terasa dingin.


Seluruh pepohonan, rumput-rumput hijau, dan bunga-bunga yang masih basah karena embun, udara bersih terasa begitu menyegarkan. Suasana pagi dini hari, sangatlah menenangkan hati dan pikiran. Ravella merasa nyaman, dan sangat menyukai suasana tenang dini hari tersebut.


Kicauan dari burung (Goldfinch) terdengar merdu di telinga. Sesekali Ia memperhatikan kebawah, sambil menyaksikan kesibukan dari para Pelayan, dan Prajurit di sekitar Mansion. Suara sibuk dari langkah kaki di sekitar Mansion, terdengar riuh sekali. Ia terdiam sejenak memperhatikan momen saat ini, lalu ia mengalihkan pandangannya ke langit yang masih gelap.


Namun seketika tatapan dari kedua matanya yang indah, menjadi sayu. Senyuman di wajah cantiknyapun segera memudar, seakan telah di renggut oleh kenyataan. saat momen percakapan bersama Pangeran, kembali terlintas di benaknya.


(Flashback) "Jadi, jika kau merasa tidak nyaman dengan kehadiran anak itu! Aku akan membawamu pindah dari tempat ini. Dan aku juga telah menyiapkan tempat yang pastinya sangat kau sukai, dan nyaman untuk di tempati. Yang tidak kalah bagusnya dari Mansion, ini. Bagaimana Vella? Jika kau setuju, katakan padaku! kita akan segera berangkat besok. Pikirkanlah baik-baik." ujarnya menatap Ravella, dengan rasa simpati.


Ravella terdiam sejenak, ia memperhatikan wajah Pangeran dengan detail. Tampak tak ada kebohongan sedikitpun dari ucapannya, maupun kedua matanya yang setenang danau. Pangeran terdiam menunggu jawaban Ravella, yang kelihatan masih menimbang perkataannya.


Ia mencermati dalam diam, menikmati pemandangan indah yang di suguhkan di depan matanya. Seorang gadis kecil yang sangat cantik tiada duanya, kini tengah duduk fokus berpikir berhadapan dengannya, sambil bertopang dagu menatap meja yang berisikan sepiring kue cookies kering, dan dua cangkir teh. Rambut perak panjang keunguan yang terkadang sering berubah-ubah itu. Kini sedang terpaku menatap gelas yang masih berisikan teh yang sudah agak berkurang, dan mulai dingin.


Melihat itu, reaksi Pangeran seolah-olah sedang tersihir oleh kecantikkannya yang tampak seperti tidak nyata itu. Ia yang tadinya terlihat serius, tanpa disadari hanya tersenyum dalam diam, menikmati momen langka tersebut. Sangat jarang ia bisa berduan selama ini, sambil menikmati momen sesantai dan setenang ini, tanpa ada gangguan dari siapapun.


Dalam hati ia sangat senang dan bergumam, sambil memikirkan apa yang telah lama ia rencanakan selama ini. 'Kau tahu Vella, aku sangat tidak sabar menunggu momen debutante kedewasaanmu. Jika saat itu tiba, aku akan segera mengumumkan pernikahan kita. Aku harus segera mengikatmu, agar tak ada satupun yang bisa merebutmu dariku. Sampai-sampai aku sempat berfikir, Rasanya aku sangat ingin mengurungmu hanya untuk diriku sendiri. agar kau tidak bisa pergi kemanapun. pikirnya sangat berambisi ingin memilikinya.


Ravella menyentuh bibir gelas, dan memainkannya dengan jari tangannya yang mungil. Dalam keheningan, dua anak manusia tengah terpaku dan saling membisu, dengan pikirannya masing-masing. Setelah lama terdiam dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Ravella kembali mengeluarkan suara, dan membuat keputusan. Namun kali ini.. Intonasi suaranya terdengar agak sendu, namun penuh ketenangan.

__ADS_1


"Pangeran.., tawaran anda, tentunya sangat menggiurkan. Saya sangat senang dan berterima kasih dengan segala perhatian, dan kebaikan anda." ujarnya sambil tersenyum lembut. Pangeran yang sudah tahu kemana arah pembicaraan tersebut! Mulai merasa sedikit kecewa, karena ketulusanya langsung di tolak. "Saya sangat menghargai ketulusan anda kepada saya, akan tetapi.. ini adalah masalah internal keluarga saya. Jadi, mau tidak mau saya harus menghadapi kenyataan tersebut, tanpa harus melibatkan pihak luar.


Anda tidak perlu khawatir.. saya baik-baik saja. Sekali lagi saya benar-benar minta maaf, saya benar-benar tidak bisa menerima bantuan anda." ujarnya berterus-terang, membuat Pangeran tidak bisa berkata apa-apa lagi, dengan keputusannya tersebut. Dan hanya bisa menghela nafas, melihat ketegasan Ravella, yang sangat kekeh dengan pendiriannya. Pangeran menarik tubuhnya dan bersandar pada kursi yang di dudukinya, lalu ia bersedekap tangan dan menyilangkan kedua kakinya sambil menghembuskan nafas kasar.


"Haaah.. Baiklah jika kau sudah memutuskan seperti itu. Aku tidak akan memaksamu lagi, tapi perlu kau tahu Vella.. Aku sangat tulus dan serius ingin membantumu. Jika kau kesulitan kedepannya, jangan segan-segan untuk meminta bantuanku. Apapun itu, aku akan selalu ada di pihakmu." ujarnya, lalu bangkit berdiri, namun sebelum pergi.. ia menoleh ke arah Ravella, dan berbicara kembali. "Istirahatlah, ini sudah larut. Ah, satu lagi.. kemungkinan aku akan tinggal di sini, sampai Duke kembali." tegasnya lalu beranjak pergi. setelah selesai berbicara, Pangeran pun meninggalkan Ravell, dalam keheningan.


(Saat ini) 'Aku mengerti maksud baiknya itu, akan tetapi.. Aku juga sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi kedepannya! Dan.., perkataan Kakek, selalu menggangguku. Sebenarnya.. kebenaran seperti apa yang Kakek maksudkan?! Untuk itu, aku akan mencaritahu sendiri kebenarannya.' pikirnya, sudah membulatkan hati. tak lama, terdengar suara ketukan dari luar pintu, yang menyadarkan lamunannya.


"Tok.. Tok.. Tok.. Putri, ini saya Reni, ceklik." suara pintu terbuka.


Suara Reni memecah keheningan dalam ruangan yang hening dan dingin. setelah mengetuk pintu, Reni pun langsung masuk. Namun saat ia masuk, ia terkejut karena tidak menemukan keberadaan sang Putri, Ravella tidak ada di ranjangnya. Ia mencari kesegala arah, tampak jendela terbuka lebar.


Angin sejuk menyeruak masuk memenuhi kamar. dan tampak sosok Tuan Putri, duduk bersandar di pagar balkon, dan sedang menoleh ke arahnya. Ia duduk sambil memeluk kedua lututnya. Ia hanya tersenyum saat melihat kehadiran Reni. Reni yang tampak khawatir melihat Tuan Putrinya berada di balkon kamar, segera berlari dengan membawa selimut, karena khawatir Sang Putri kedinginan dan masuk angin.


"Reni, aku tidak apa-apa." ujarnya menghelah nafas saat melihat kepanikan ibu asuhnya tersebut.


Reni yang sudah menganggap Sang Putri seperti anaknya sendiri, bisa merasakan ada sesuatu yang sedang mengganjal di hati Putrinya itu. Melihat wajah Reni yang hanya diam tanpa berkata apapun, membuat Ravella merasa bersalah dan tidak enak hati. Sangat terlihat jelas di wajahnya, bahwa Reni sangat mengkhawatirkan dirinya. Melihat itu, Ravella kembali bergumam untuk menenangkan Ibu asuhnya itu.


"Reni, kau tidak perlu khawatir.. Aku hanya menghirup udara segar di luar. Udaranya sangat sejuk dan menenangkan." ujarnya yang kini sudah berada di ranjang besar miliknya. Namun Reni tidak mudah di tipu. Ia tahu betul dan sangat mengenal watak Putri asuhnya itu. Apalagi ia sangat jarang berada di balkon sepagi ini, hanya untuk alasan menghirup udara segar.


Reni duduk di pinggir ranjang sambil menggenggam kedua tangannya yang kecil, tampak air mata yang hampir basah tergenang, ingin segera keluar. Dan bibir yang mengatup, mengerucut seolah sedang menahan tangis. Ravella memperhatikan ekspresi wajah pengasuhnya itu. lalu meraih tangan Reni, untuk menenangkan pengasuhnya, agar tidak perlu khawatir padanya. Reni terdiam sejenak dengan reaksi Ravella. Beberapa saat kemudian, terdengar suara Reni, yang bergetar dan sedang tertunduk sambil memejamkan kedua matanya.


"Putri.. Saya sangat mengenal Putri sejak anda masih bayi lagi, saya bisa merasakan. Putri saat ini sedang tidak baik-baik saja. Meski Putri tidak pernah menunjukkannya, ataupun mengatakannya sekalipun. Tapi saya mohon, apapun yang terjadi.., jangan pernah memendamnya sendiri. Karena itu akan menjadi beban pikiran buat anda sendiri, Putri." ujarnya menggenggam erat kedua tangan Ravella, sambil menatapnya penuh kasih, layaknya seorang ibu kepada anaknya.

__ADS_1


Ravella terdiam saat mendengar perkataan pengasuhnya itu. Ia tak bisa mengelak karena apa yang dikatakan Reni, memang benar. Ia pun taak kuasa dan segera membuang pandangannya ke arah lain, sambil bergumam dalam hati. 'Entah kenapa? setelah mendengar perkataan Reni, hatiku tiba-tiba menjadi sangat sesak sekali. Mungkinkah ini perasaan dari pemilik tubuh ini..!!' Ravella hanya menanggapi perkataan Reni, dengan senyuman. Beberapa saat kemudian, ia pun langsung memeluk Reni, yang sudah seperti ibunya sendiri.


Ia hanya memeluk tanpa mengatakan apapun, namun dalam hati kecilnya, ia kembali bergumam lirih. 'Ya, kau benar Reni! Saat ini.. aku sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak tahu, apakah aku sudah benar-benar siap menghadapi perubahan Ayah, terhadap ku? saat kepulangannya nanti..! Jika bukan karena pesan Kakek waktu itu.. Rasanya aku ingin sekali kabur dan pergi sejauh mungkin untuk meninggalkan tempat ini.


Aku juga tidak berani berharap banyak, Apakah masih ada ruang yang tersisa untukku di tempat ini? setelah kemunculan Grasia..!' gummanya lirih, hati dan pikirannya, menjadi berisik. karena dipenuhi berbagai pertanyaan, dan hal yang belum terjadi. Namun tanpa ia sadari.. Para Spirit telah berkumpul mendengarkan dari dalam Zona Mana. Sambil memperhatikan semua, isi pikiran dan kekhawatirannya tersebut.


Semuanya terdiam termasuk Garda, yang kini telah berada di Zona Mana. Awalnya ia ingin memberi kejutan padanya, karena telah dibebaskan dari hukuman. Akan tetapi.. Setelah melihat suasana hati Ravella saat ini, ia kembali mengurungkan niatnya tersebut. Dan lebih memilih bergabung dengan Para Spirit lainnya. Begitupun dengan Jura dan Rabarus, yang sudah tiba lebih dulu darinya.


'Jadi, ini maksud Paduka.. Jika Permaisuri saat ini sangat membutuhkan kehadiran kami.' pikir Jura, dan Rabarus bersamaan.


'Aku tidak menyangka, jika Permaisuri kecil kami saat ini.. sedang dilanda kesedihan dan kebingungan.' pikir Garda, memperhatikan situasi tersebut.


Dalam kebungkaman dan keheningan di dalam Zona Mana, Zaku yang sedang duduk bersandar di sudut jendela, tiba-tiba berceletuk, hingga membuat yang lain menoleh ke arahnya. "Cih..., Awas saja kalau sampai anak itu berani membuat Putriku, menangis. Aku tidak peduli meskipun dia adalah Ayah, dari Master. Aku akan membuatnya memohon, sampai ia lebih menginginkan mati daripada hidup." ujarnya memecah keheningan.


"Cih, kali ini, aku sangat sependapat denganmu." sahut Tama, yang sedang duduk di sebelah Saga, sambil menyeringai dan melipat kedua tangannya.


"Heh.. hei.. hei.. hei.. jangan lupakan aku, aku juga punya bagian di sini." lanjut Roya, tidak mau ketinggalan. Ketiga Pria itu, tampak sangat antusias sekali dalam hal tersebut. Berbeda dengan kedua temannya. Gira, dan Saga. Yang tampak lebih tenang dan berkepala dingin. Sementara Garda, dan Rabarus. Terlihat sangat santai dan terus memantau keadan Permaisuri kecil. Namun, berbeda dengan yang lainnya.. Jura, yang duduk sedikit agak jauh dari yang lainnya. tampak tenang dan dingin. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia bergumam dan berjanji pada dirinya sendiri.


'Jadi hal tersebut, yang selama ini sering mengganggu pikiranmu, dan selalu membuatmu ingin segera pergi dari tempat ini, Nak Dewi!' Pikirnya mengenang kembali, perkataan Ravella.


'Jika sampai itu terjadi padamu, aku bersumpah pada diriku sendiri..! Tidak perduli siapapun itu. Akan aku lenyapkan siapapun yang yang berani manyakitimu, lalu meratakan tempat tersebut hingga tak ada lagi yang tersisa.' Pikirnya menyimpan amarah dalam diam.


Namun, Kaisar Zando yang sedang berada di singgasana misteriusnya, mendengar semua isi hati Jura. Ia hanya berseringai, mendengar ocehan dari salah satu pilar kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2