
Keesokan harinya.. Rog dan Ron memulai Proses latihan bersama Roland, Roland benar-benar senang mengajari keduanya.
Karena Rog dan Ron sudah mempunyai skill dasar bela diri, jadi keduanya bisa beradaptasi dan belajar dengan sangat cepat sekali. Apalagi Rog.. Yang memang sudah terlatih, karena ia juga pernah menjadi mantan prajurit gelap selama di Orsi.
Jadi sangat mudah mengajari keduanya.. Roland pun nampak bersemangat saat melatih Rog, sementara itu Ron, berlatih untuk menambah kemahiran lagi dengan pedang kayu. Berbeda dengan Rog, ia adu tanding dengan sang Komandan langsung.
mereka berdua tampak menikmati pertarungan tersebut, meskipun itu hanya latihan biasa. untuk menggali potensi tersembunyi yang dimiliki oleh Rog, Roland yang nampak begitu bersemangat langsung menyerangnya tanpa aba-aba.
Pertarungan antar keduanya pun dimulai.. Hingga mengundang decak kagum dari para prajurit lainnya. sampai mereka semua para prajurit yang tengah latihan, berhenti. dan berkumpul melihat keduanya latihan dengan sangat serius! Termasuk dengan Dean, yang melihat kehebohan di antara kerumunan prajurit.
timbul rasa penasaran menggelitik hatinya.. Dean mencoba mencari tahu, kehebohan apa yang sedang terjadi, sehingga para kesatria bersorak-sorai ramai-ramai. Saat ia menghampiri tempat tersebut, ia tidak bisa melihat apa-apa karena terlalu ramainya kerumunan.
Ia pun langsung menanyakan perihal yang menghebohkan itu, pada salah satu pria yang ada ditengah krumunan tersebut.. Kesatria itu pun mejawab dengan semangat.
"Hei.. Apa yang sedang terjadi? Mengapa semua orang pada berkumpul disini, memangnya apa yang mereka lihat?" tanya Dean penasaran.
"Oh, kau belum tahu ya.. Katanya Komandan sedang bertarung dengan anak angkat Yang Mulia Putri, beliau tampak bersemangat sekali melatih anak itu."
"Haah.. Anak angkat Yang Mulia Kecil!! Memangnya siapa??" tanya Dean terkejut, lalu mencari sosok yang sedang bertarung dengan Komandan.
"Itu anak Baru, mereka kakak beradik." ujarnya.
'Tunggu.. Kakak beradik! Kalau tidak salah dulu Rog juga pernah bilang jika mereka mempunyai Orang Tua Yang menggemaskan, haa.. Jangan bilang!!' Rog berusaha memasuki kerumunan, untuk memastikan apakah dugaannya benar.
Dan benar saja.. Setelah ia melihat sosok Rog yang tengah bertarung singit dengan Sang Komandan, membuatnya sangat terkejut seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, maupun yang ia dengar.
'Ba.. Bagaimana bisa mereka berdua jadi anak angkat Yang Mulia Kecil??' pikirnya heran.
Robi, yang sejak tadi sudah ada di tengah kerumunan tersebut, menikmati pertarungan sang Komandan, dengan Pria muda yang tampak lebih muda beberapa tahun darinya.
'Anak itu cukup hebat, dia hampir bisa menyaingi gerak Komandan. Padahal pergerakan Komandan sangat cepat dan akurat, ia langsung mengunci target ketika sudah berada dalam jangkauannya.
Tapi, anak itu juga tidak bisa di anggap remeh. Ia bisa menghindar, meski pergerakannya telah di kunci dengan Komandan.' Rog yang tengah terdesak, dengan serangan yang datang tiba-tiba dari Komandan, dengan cepat memutar balik tubuhnya,
Dan dalam sekejap ia sudah berada di belakang komandan. Roland yang menyadari kecepatan Rog, menyeringai.. Sambil berujar, dengan pedang yang masih terkepal di dalam genggamannya.
"Hehe.. Kau cukup tangkas juga ya, tapi tidak semudah itu anak muda." ujar Roland berseringai.
Dalam sekejap, Roland menghindar dan menangkap tangan Rog, yang hampir meraih lehernya. Lengan Rog di genggam dan langsung dibanting kedepan, Rog yang sudah tertangkap tidak bisa menghindar dan langsung di jatuhkan ketanah.
Melihat Rog yang gigih dan bersemangat, akhirnya.. Roland mengakuinya sebagai murid. Roland memasukkan kembali pedangnya.
"Baiklah, melihat betapa gigih dan bersemangatnya dirimu! Aku mengakuimu bocah. Mulai hari ini, aku akan mengangkatmu menjadi muridku." ujarnya sambil mengulurkan tangan menarik Rog, yang tengah terduduk kelelahan.
__ADS_1
Mendengar ucapan sang Komandan, tampak kedua mata Rog berbinar cerah. Ia tampak senang dan dengan cepat berujar kepada Roland.
"Benarkah yang anda katakan Sir Roland? Aku telah diterima menjadi muridmu!??"
"Yah, tentu saja.. Sekarang kau sudah menjadi muridku. Kau anak yang berbakat.. Jika kau bersungguh-sungguh berlatih, kau bisa bergabung kedalam pasukan inti."
"Oh Dewa.. Terima kasih Komandan, saya janji akan berlatih dengan lebih giat lagi." ujarnya langsung menunduk hormat karena Senang.
"Latihan hari ini, cukup sampai di sini dulu.."
"Siap Komandan."
***
Setelah selesai latihan, Rog dan Ron Kembali berjalan-jalan mengitari taman.
"Kakak.. Kau sangat hebat tadi, Aku sangat iri padamu! Kau begitu lincah, dan tangkas. Para kesatria bersorak senang melihat latihan kalian berdua."
"Hehe.. Benarkah? Kalau begitu.. Kau juga harus berlatih lebih giat lagi Ron." ujarnya menepuk bahu adiknya itu.
"Tentu saja Kak, aku akan segera menyusulmu." ujarnya bersemangat.
Dean dan Robi yang melihat dari kejauhan, pemandangan yang di suguhkan oleh kedua kakak beradik itu! membuat mereka tersenyum. dan Mereka pun datang menghampiri keduanya.
"Kau sangat hebat Rog, lama tidak melihatmu! Tiba-tiba saja kau sekarang sudah berkembang sepesat ini."
"Ah, kenalkan Dia Robi temanku." ujar Dean.
"Robi, senang berkenalan denganmu."
"Aku Rog, saya juga."
Mereka duduk di dekat kursi taman, lalu berbincang sebentar. Dean langsung membahas topik yang sedang hangat di Mansion.
"Jadi, Orang Tua Angkat yang kau sebut menggemaskan itu! adalah Yang Mulia Putri..?" ujarnya duduk bersandar, di sandaran kursi taman, sambil melihat kelangit berawan.
"Hem.. Ya begitulah, aku bersyukur bertemu dengan beliau. Meskipun ia tampak masih kecil, tapi cara ia berpikir jauh lebih dewasa daripada anak-anak seusianya."
"Kau benar..! Meski aku tidak mengenal dekat dengan sosok beliau, tapi aku yang sempat menjadi pengawal pribadinya, menyetujui pendapatmu.
Tindakan Yang Mulia Putri selalu di luar dugaan, terkadang ia sulit di tebak, tapi terkadang beliau juga bisa bersikap normal layaknya anak-anak seusianya."
"Hem.. Ya, di tubuh kecilnya, sudah terpatri jiwa kepemimpinan yang sangat mendominasi. Hanya saja, beliau tidak menunjukkannya secara terang-terangan, seolah itu terlihat samar-samar, Beliau seperti menyembunyikan bakatnya itu!!
__ADS_1
"Betul, apalagi beliau adalah pewaris satu-satunya dari Yang Mulia Duke. Jadi aku tidak heran, jika bakat yang di miliki oleh Yang Mulia Duke, juga menurun pada Yang Mulia Putri."
Sementara keduanya sedang mengobrol, Robi sedang sibuk bermain bersama Ron, Robi sengaja memberi ruang untuk kedua teman lama itu, agar bisa mengobrol dengan santai.
Melihat persahabatan Dean dan Rog, Robi jadi teringat temannya yang berada di kekaisaran, Kala itu temannya menyarankannya untuk kabur dari istana.. Agar ia aman dari ancaman Pangeran.
'Entah bagaimana kabarnya sekarang? Semoga dia baik-baik saja di sana.'
***
Setelah kembalinya Ravella ke Kastil, bersama keenam Pria di sisinya.. Tentu saja tanpa Rabarus dan Tama, Rabarus masih tinggal di Zona Mana bersama Tama. Mereka sengaja membiarkan kedua Ayah dan anak itu, menghabiskan momen bersama.
Ravella duduk di taman kastil, bersama para Spirit. Di perbincangan mereka, Ravella pun menyadari ketidak hadiran Tama, Ia pun langsung menyakan keberadaan Tama.
"Omong-omong Kek, dimana Kakek Tama? Aku tidak melihatnya sejak kemarin kita kembali."
"Hem.. Ada urusan yang harus ia selesaikan Nak. Jika semuanya sudah selesai, ia akan segera kembali membawa kejutan." Ujar Roya, beralasan.
"Kejutan, apa maksud kakek?"
"hem.. Kau akan segera tahu nanti." sambungnya Zaku.
***
Tak lama setelah menghabiskan waktu bersama para Spirit miliknya.. Ia pun mendatangi kantor Sang Ayah.
"Tok.. Tok.. Tok.."
"Ceklik, ngiik.. Silahkan Masuk Putri." ujar Emilio dengan ramah.
"Ayah.. Apakah Ayah sibuk..?"
"Tidak sayang, kemarilah."
Ravella pun langsung datang menghampiri Duke, lannox mengangkat tubuh kecil Putrinya itu, dan meletakkan di atas pangkuannya.
"Bagaimana perjalananmu saat kembali kemansion Nak?"
"Semuanya sangat baik, dan.. Oh ya, bolehkah saya meminjam Sir Roland, untuk melatih kedua anak-anak itu??"
"Selama itu baik menurutmu, lakukan saja. Ayah akan menyetujuinya.. Dan tentu saja Ayah juga akan terus memantau mereka." seringainya penuh arti.
"Terima kasih Ayah."
__ADS_1
"Sayang.. Mulai malam ini, kau harus tidur lebih cepat. Karena besok kita akan keistana Raja Zavier. Pemilik dari negara ini. Dia juga sahabat Ibumu, dan teman baikku."
"Baik Ayah, Ravel tidak sabar menanti hari esok."