AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
MENJADI BATU


__ADS_3

Saat ini... Keadaan di Dukedom benar-benar tampak sangat Kacau, Roland dan Para Prajurit, dibuat heran seketika, dengan kejadian aneh tapi nyata itu! Langit yang sejak awalnya tampak sangat cerah, Tiba-tiba saja, berubah dipenuhi kabut gelap. Yang disertai angin ribut, bercampur kilat dan juga petir.


Dan siapapun yang berada di sana dan terkena terpaan badai tersebut! Pasti akan berubah menjadi batu. Bagaikan sebuah kutukan yang mengancam. Dan di saat ini..., Itulah yang sedang terjadi. Sebagian Prajurit, dan Para pelayan yang tak sempat melarikan diri, pun telah berubah menjadi batu.


Melihat itu.. Roland dan para bawahannya yang masih jauh dari jangkauan Badai tersebut, dengan cepat memerintahkan yang lain. Agar segera pergi ke arah Mansion. Untuk mendapatkan perlindungan.


.


.


.


Di sisi lain...., dua bersaudara telah sampai di Paviliun tempat Pangeran berada saat ini. Namun sayangnya, orang yang mereka cari sudah tidak ada lagi. Yang tampak hanyalah sosok Pangeran, beserta Para pengawalnya.


Rog dan Ron, celingak-celinguk mencari keberadaan Ravella. tapi, tak mereka temukan sosoknya di manapun. Rog pun bertanya dengan Pangeran.


"Yang Mulia.. Di mana Yang Mulia Putri?" tanya Rog dan Ron bersamaan. Karena mereka tampak khawatir.


Meski terlihat enggan, Pangeran tetap menjawab pertanyaan Kedua bersaudara tersebut. "Apa kalian tidak bertemu dengannya? Ravella baru saja pergi. Karena dia bilang ada yang ingin ia lakukan."


Mendengar Itu.. Rog dan Ron saling menoleh. Mereka semakin cemas mendengar jawaban Pangeran, apalagi kondisi saat ini tampak aneh. Keduanya jadi teringat kembali perkataan Tama, beberapa tahun yang lalu.


*Flashback*


Setelah Rog dan Ron selesai latihan, keduanya pun menghampiri Tama. Yang sedang duduk tak jauh dari tempat mereka latihan, sambil mengawasi keduanya.


Rog dan Ron, duduk di hadapan Tama, yang saat ini tengah melipat kedua tanganya sambil bersandar pada salah satu pilar, teras Mansion. Rog yang selama ini selalu penasaran pun, langsung melontarkan pertanyaan.


"Paman, kenapa paman memaksaku untuk ikut berlatih? Bukannya aku sombong, tapi.. aku sudah mempunyai dasar bela diri yang cukup mumpuni, untuk melindungi diriku dan orang terdekat ku. Selain itu! aku juga bisa menggunakan sihir, dan telah memiliki Spirit. Seharusnya Paman fokus saja mengajari adikku. Karena ia jauh lebih membutuhkannya daripada aku." imbuhnya dengan percaya diri.


Melihat sikap Rog, Tama berseringai geli mendengarnya, dan mendecih sambil mengumpat.


"Cih.. Cih.. Cih.. Dasar bocah songong, jangan buat aku tertawa, Nak. apa selama ini kau tidak pernah belajar dari pengalamanmu, sebelumnya?! kau terlalu percaya diri dan mulai merasa congkak, tanpa kau sadari. Hanya karena kau kini sudah hidup nyaman. Sampai tidak sadar! betapa lemahnya dirimu saat ini.


Dengar Nak.. Jika kalian ingin mengabdikan diri pada... Ehem, maksudku Ibu kalian!" ujarnya berdehem, sambil melihat ke arah keduanya. "Maka kalian harus membuktikan padanya, dan membuatnya bangga. Bukan malah membuatnya khawatir.


Dan tidak hanya itu! kalian berdua juga harus melindunginya dengan taruhan nyawa kalian sendiri. Dan sebelum melindungi Dewi, paling tidak kalian sudah bisa melindungi diri kalian sendiri, tanpa bantuan darinya. Jadilah anak yang berguna..!


Karena posisinya bukan hanya sekadar Putri dari seorang Duke saja. Akan tetapi.. keberadaannya jauh lebih penting dari semua itu!! Dan kelak, ketika ia beranjak dewasa akan banyak musuh yang mengincar dirinya." ujarnya ambigu.


Ron, yang penasaran dengan salah satu alis yang terangkat keatas, pun melontarkan pertanyaan. "Aku sangat mengerti soal itu? Tapi, apa maksud Paman, dengan keberadaan beliau, jauh lebih penting dari semua itu!? intinya.. musuh yang seperti apa Paman maksudkan??"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Ron, Tama memegang dagunya sambil merenung sejenak. Ia berpikir bagaimana caranya menjelaskan, agar mudah di mengerti oleh kedua anak-anak itu.


"Pertanyaan yang sangat bagus. Tapi untuk saat ini, aku hanya bisa bilang jika Ibu kalian itu..! Sangatlah berharga bagi kami. Jadi jangan pernah mengkhianatinya, ataupun membuatnya sedih. Jika itu sampai terjadi..! aku dan saudara-saudaraku yang lain, tidak akan segan-segan menghabisi siapapun yang telah menyakitinya. Bahkan, jika itu adalah Ayahnya sendiri. Jadi, sampai sini, kalian berdua pasti sudah paham maksudku, bukan!?" ucapnya menatap tajam pada kedua bersaudara itu, terutama Rog.


Mendengar penjelasan Tama yang penuh tekanan, membuat keduanya merasa terdapat peringatan pada nada bicaranya. Keringat dingin mengucur, sampai kedua Pria muda itu menelan salivanya, karena ngeri.


'Sepertinya, ia sangat serius dengan ucapannya! Bahkan, tidak ada ampun sekalipun, walau itu adalah Yang Mulia Duke. Orang ini benar-benar sangat gila dan berbahaya. Bagaimana bisa kakakku bertemu dengan mereka? ' batin Ron, bertanya-tanya.


Berbeda dengan sang adik.., justru Rog hanya kelihatan mengangguk saja, tanda mengerti. Itu sangatlah wajar, karena ia sudah sering mendengar Tama berbicara penuh penekanan dan ancaman. Bahkan tak hanya Tama, begitupun dengan yang lainnya. Apalagi ia juga sudah membuat sumpah dengan Tama.


(Saat Ini.)


Melihat reaksi dari keduanya... Pangeran balik bertanya. "Kenapa kalian memasang ekspresi seperti itu?!" tanyanya menyelidik.


Takut Pangeran salah faham pada mereka! Rog dengan cepat beralasan. "Haha.. Tidak ada apa-apa Pangeran. Kalau begitu kami pamit undur diri dulu. kami akan mencari Yang Mulia Putri di tempat lain." ujarnya sambil tersenyum. Namun sebelum pergi, ia berpesan pada Pangeran, yang tampak sedang bosan.


"Sebaiknya anda segera kembali ke Mansion Yang Mulia. Karena sepertinya.. akan ada badai." Ujarnya sambil melihat ke langit yang sudah berubah gelap. Dan langsung pergi, di ikuti Ron dari belakang. Keduanya masih belum tahu jika badai yang datang saat ini.. Benar-benar sangat berbahaya untuk diri mereka sendiri.


Mendengar ucapan Rog, Pangeran merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Namun, karena melihat apa yang di katakan Rog, ada benarnya. Ia yang sedang kesal sambil mengusap kasar rambutnya. Segera kembali Ke Mansion. 'Cih, sebaiknya aku akan mencaritahu nanti. Entah kenapa aku tidak percaya pada mereka berdua.' pikirnya sembari berlalu pergi meninggalkan Paviliun.


Akan tetapi.... Sesampainya Pangeran di Mansion. Ia justru dikejutkan dengan kehebohan dari Para Pelayan, Dan Prajurit yang berlarian karena panik. Melihat hal tersebut, Pangeran pun langsung menghampiri salah satu dari mereka, dan menanyakan tentang apa yang terjadi.


"Hei.. Ada apa ini? Kenapa suasana di Mansion ribut sekali??" Ujarnya heran. Mendengar ucapan Pangeran, kedua Prajurit saling menoleh. Dan salah satu dari mereka menjawab rasa penasaran Pangeran. Yang membuat Pangeran langsung bereaksi saat mendengarnya.


"Dengar semuanya... perintahkan yang lainnya, juga ikut membantu pencarian Putri. Dan kalian berdua ikut dengan ku." perintahnya pada kedua pengawal kepercayaannya. Lalu segera beranjak pergi mencari Ravella."


.


.


.


Sementara itu, di Zona Mana. suasana saat ini menjadi hening seketika. Tak ada satupun yang berani berbicara. Jura dan Rabarus yang peka dengan situasi tersebut, mulai merasakan firasat buruk.


'Ada yang aneh dengan ekspresi wajah Paduka, saat ini! kenapa perasaanku menjadi gelisah begini!? mungkinkah telah terjadi sesuatu!!?' pikir Jura mengamati ekspresi Naga Emas tersebut. tak hanya Jura, begitupun dengan Rabarus, ia juga merasakan hal yang sama.


'Entah kenapa? Paduka terlihat seperti sedang marah. Apa mungkin cuma perasaanku...!?' pikirnya menelaah. Berbeda dengan keenam Spirit lainnya, Zion, yang merasa paling kecil di antara Para Spirit, bergumam dalam hati.


'Aku tidak tahu kenapa? tapi setelah aku merasakan Energi Kakek Garda tadi, kini tubuhku jadi merinding ngeri saat melihat Kakek Kaisar. Energi Kakek Garda mirip sekali dengan Kakek Kaisar?! apa jangan-jangan..., ah tidak... Itu tidak mungkin! ini hanya asumsiku yang tidak berdasar. aku tidak boleh berpikir yang aneh-aneh. Ah... Siaaaal! tapi kenapa hatiku masih juga tidak tenang?! apa mungkin karena rasa takutku yang masih belum menghilang!!' pikirannya kini mulai bercabang.


Sedangkan kelima Spirit lainnya... Hanya terdiam sambil menunggu dengan patuh. Dewa Zando yang mendengar isi pikiran ketiga Spirit, kini sedang memperhatikan kedelapan Spirit tersebut. Dengan tatapan tajam penuh tekanan. Dan tak Lama.. Sang Kaisar pun mulai mengeluarkan suara baritonnya.

__ADS_1


''Dengar semuanya... Saat ini, suasana di Mansion sedang terjadi kekacauan. Dan Dewi, telah berada di tangan musuh.' gumamnya yang membuat Para Spirit terkejut, dengan apa yang baru saja dikatakan Kaisar Zando.


''Tunggu..., memangnya apa yang telah terjadi pada Dewi? kalau begitu, kenapa kami tidak bisa merasakan apapun, atau mendengar panggilan dari Dewi?'' tanya Tama, mewakili kekhawatiran semuanya.


Semuanya terdiam terpaku menunggu jawaban, Kaisar Zando. Melihat ekspresi kekhawatiran Para Spirit yang dipenuhi dengan berbagai pertanyaan, Sang Kaisar pun kembali melanjutkan.


''Tentu saja kalian tidak bisa merasakan, maupun mendengarkan pangilannya. itu karena telepati Dewi, dan kalian! telah di blokir oleh musuh. sehingga tidak ada satupun di antara kalian, yang bisa merasakan ataupun mendengar panggilannya.


Tapi kalian tidak perlu khawatir, serahkan urusan Dewi, pada Garda. Karena saat ini ia tengah mengejar musuh yang menculik Dewi. Dan sekarang... Ayo kita ke Dukedom." uajrnya, dan dalam sekelip mata, mereka sudah berada di luar Mansion.


Penampakan keadaan di sana sungguh mengenaskan... banyak prajurit, yang telah berubah menjadi batu. Kedelapan Spirit tampak begitu menyesal, karena tidak bisa berbuat apa-apa di saat Dewi mereka, membutuhkan. Zion yang prihatin melihat penderitaan para prajurit miliknya.. Bertanya pada Sang Kaisar.


''K-Kakek Kaisar... para prajuritku telah berubah menjadi batu. B-Bisakah Kakek mengembalikan mereka seperti semula?'' tanyanya ragu-ragu.


Naga Emas yang mendengar permohonan Zion, hanya diam dan sedang fokus memperhatikan area sekitar. Melihat tidak adanya jawaban, membuat Zion terdiam. ia tidak berani lagi bertanya, begitupun dengan Spirit lainnya. melihat ketakutan cucunya, Zaku tidak bisa berkata apa-apa.


.


.


.


Lima belas menit sebelum kemunculan Para Spirit. Argus dan Albo muncul bersamaan di depan pohon tempat Favorit Ravella. Akan tetapi... Saat mereka tiba, mereka justru di hadapkan dengan pemandangan yang tidak biasa.


Dan apa yang mereka lihat saat ini, benar-benar membuat keduanya geram. Argus yang biasanya tampak tenang, kini menunjukkan emosinya. Begitupun Albo, yang mulai menggeram dan sudah dalam posisi menyerang.


Tampak Ravella sedang berada dalam gendongan seorang Pria tinggi besar, yang berpakaian serba hitam dan mengenakan tudung kepala, yang menutupi hampir setengah wajahnya. Namun yang paling membuat keduanya berang adalah wajah dan seluruh tubuh Ravella, telah memucat.


"Dewi...!" ujarnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Ketakutan, marah, sedih. Bercampur menjadi satu. Tak lama tatapannya langsung tertuju pada Pria tinggi besar, yang mengenakan pakaian serba hitam. Amarahnya kian memuncak, ia sudah tidak bisa berpikir realistis. Yang ia tahu bagaimana caranya menyelamatkan Ravella.


Dalam sekejap tubuhnya melesat hilang, dan tiba-tiba sebuah tendengan mendarat pada wajah Pria tersebut. Pria itu dengan cepat menangkis serangannya. Di sisi lain... Albo datang ingin merobek leher Pria tersebut dari belakang. Melihat itu Argus menunggu celah. Namun, Pria itu menghilang, dan sudah berpindah di belakang Albo. Ia mengarahkan telapak tangannya pada kepala Albo. Dalam sekejap Albo berubah menjadi batu.


Argus yang sedang menunggu celah, dengan cepat menghindar. Setelah membuat Albo membatu...! Mata Pria itu, kini hanya tertuju pada Argus, dalam sekejap ia menghilang. Argus.. Dalam posisi waspada. Ia mencoba mendeteksi keberadaan Pria tersebut.


Akan tetapi... Ia tidak bisa merasakan keberadaan Pria misterius itu, di manapun. 'Sial, dimana dia? Kenapa aku tidak bisa merasakan keberadaannya..! Konsentrasi Argus. Jangan terpancing hanya karena kau tidak bisa mendekteksi energi musuh. Aku harus tenang. Pikirnya mensugesti dirinya.


Ia mulai diam dan memejamkan mata, tangan kanannya ia taruh di depan dada dan hanya terlihat dua jari. Ia mulai mengaktifkan Skil Mata Dewa miliknya. Keberadaan Pria tersebut pun mulai terlihat dalam wujud cahaya putih. Tapi, pergerakannya yang sangat cepat.. Kini Sudah berada di depan Argus, dengan tangan menghadap Wajahnya.


Argus dengan cepat membuka mata dan ingin menghindar, akan tetapi... Pergerakan Pria tersebut jauh lebih cepat. Dalam sekejap Argus telah berubah menjadi batu. Melihat sosok Argus, Pria itu berseringai sambil bergumam.


"Khe.. Khe.. Khe.. Ternyata kau adalah Putranya, ya..! Hem.. Elf muda yang memiliki darah setengah Dewa. Tapi sayang..., darah kotor tetaplah darah kotor." ujarnya dengan tatapan jijik. Ia kemudian melihat ke arah langit. Dan kembali bergumam. "Sepertinya sudah saatnya aku kembali."

__ADS_1


Ia memutar tubuhnya dan langsung menghilang. Setelah kepergian dirinya, suasana di Mansion perlahan-lahan menjadi cerah kembali. Kabut perlahan-lahan menghilang. Dan suasana di sekitar Mansion kini mulai terlihat jelas.


__ADS_2