AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
KENGERIAN YANG MUNCUL DI ZONA MANA!


__ADS_3

Dua hari kemudian.. Ravella bangun pagi-pagi sekali. Setelah ia selesai mandi dan sarapan. Ia pun bergegas keluar di kawal oleh kedua Spirit milik Ayahnya. Melihat semangat Putri kecilnya tersebut, Zion langsung melempar pertanyaan pada Putri kesayangannya itu.


"Kau terlihat bersemangat sekali Nak, apa yang membuatmu tampak begitu bahagia?" Ujarnya yang juga di setujui oleh Argus, karena sebenarnya, ia pun ingin menanyakan pertanyaan yang sama, hanya saja.. sudah didahului Zion.


Ravella yang sedang bersenandung riang di depan keduanya, kini membalikkan tubuhnya kebelakang. Ia menoleh ke arah kedua Spirit, yang kini tengah menatap penasaran.


"Hem.. Hem.. Entahlah, aku merasa hari ini sangat menyenangkan saja." ujarnya lalu kembali berbalik, dan berlari kecil mengelilingi taman yang luas. Sementara kedua Spirit Ayahnya, saling beradu pandangan karena merasa ada yang janggal, pada sikap Putri Masternya itu.


'Senior.. Apa menurutmu Dewi tidak terlihat aneh?' tanyanya, bertelepati dengan Zion.


Zion yang mendengarkan perkataan juniornya itu, sambil melihat punggung kecil yang kini tengah berlari menjauh bersama Gapi. lalu kembali bergumam.


'Apapun itu, selama beliau bahagia.. Itu sudah cukup bagiku, sebagai orang tua, bukankah itu yang harus kita lakukan!!' ujarnya tersenyum tipis, sambil menoleh ke arah Argus sekilas. Karena ia ikut merasa senang jika Putri kecilnya bahagia, dan tampak lebih riang daripada biasanya.


Dan dalam waktu yang sekejap, ia kini sudah berada di dekat Ravella, dan Gapi, yang sedang bermain kejar-kejaran.


Mendengar jawaban dari Zion, yang telah pergi meninggalkannya sendiri, Argus kembali terdiam sejenak. dan mengamati dari kejauhan. 'Hem.. Ini benar-benar aneh! Apa mungkin ini cuma perasaanku saja..?' pikirnya mulai meragukan dirinya sendiri, lalu kembali melihat sosok Sang Putri yang telah menjauh.


Sementara Ravella yang tengah sibuk bermain, tidak menyadari kehadiran Zion, sangking senangnya. Gapi, yang melihat Zion, mengabaikannya begitu saja, dan terus bermain bersama Ravella.


Setengah jam kemudian, setelah keduanya lelah dan puas bermain-main, keduanya pun duduk bersandar di bawah teduh dan rindangnya pohon Maple.


Merasakan ketenangan tersebut, langit yang tampak tertutup mendung, angin sepoi bertiup pelan membuat perasaan nyaman. di tengah keheningan sekitar.. Gapi pun mengeluarkan pertanyaan yang tidak terduga pada Dewinya.


"Dewi..." panggilnya sambil berpangku dagu, pada kedua punggung tangannya.


"Hem.." sahut Ravella santai, sambil menatap langit berawan, tampak sesekali.. kepulan awan menutupi sinar mentari pagi.


"Kenapa Dewi hari ini tampak begitu bahagia? Kau tidak terlihat seperti biasanya Dewi!" ujarnya, yang juga ikut mengamati perubahan Dewinya itu.


Mendengar ucapan Gapi, Ravella tersenyum lembut padanya, yang tampak sedang menunggu jawaban keluar dari mulutnya. Tidak hanya Gapi, bahkan sosok singa putih yang ada di balik pohon tempat mereka bersandar saat ini. kini tengah duduk memasang kedua telinga diam-diam, sembari mendengarkan percakapan kedua anak kecil itu.


Berbeda dengan Zion, Argus tampak sedang berbaring santai di atas dahan pohon besar, tempat ketiganya kini sedang duduk bersandar. Dengan beralaskan kedua tangannya yang kekar. Keduanya kini tampak begitu serius menyimak perbualan tersebut, apalagi Argus.. ia sangat penasaran dan ingin memastikan.


Apa yang telah membuat Dewi kecilnya itu, sangat berubah, tidak seperti biasanya..! Namun jawaban yang keluar dari mulutnya justru membuat kedua Spirit itu merasa kecewa.


"Hem.. kau akan segera tahu nanti." ujarnya ambigu.


Mendengar jawaban tersebut, kedua Spirit tampak kecewa. terutama Zion, yang tidak menyangka! jika kebahagiaan Putri kecilnya itu ternyata, mempunyai alasan.


'Hah.. sayang sekali, bahkan Dewi tidak ingin berbagi pada peliharaanya sendiri. jadi apa yang di bicarakan bocah itu, ternyata benar! memangnya, apa yang di sembunyikan Dewi? tidak biasanya beliau menyimpan sesuatu dariku sampai seperti ini!' pikir Zion, merenung sejenak.


Argus yang merasa tebakannya benar! Hanya Berseringai tipis, dan berujar dalam hati. 'Heheh.. ternyata benar dugaanku, beliau memang menyembunyikan sesuatu dari kami berdua.'


"Cih, Dewi curang, tidak bisakah Dewi, beritahukan hanya kepadaku saja..!?" keluh Gapi, sambil cemberut, karena Ravella masih bertahan tak ingin memberitahukan pada siapapun.


Melihat reaksi Gapi yang imut, Ravella tersenyum lembut sambil membelai kepala peliharaan kesayangannya itu.


"Jika kau tahu, berarti ini bukan rahasia lagi, Gapi." ujarnya menatap Gapi.


"Baiklah, tapi aku jadi makin tidak sabar menantikan jawabanmu Dewi?" ujar Gapi menyerah, dengan sifat pertahanan Dewinya tersebut.


*****


Sementara itu di dalam Zona Mana, Para Spirit saling gempur. dentuman hebat terdengar di sepanjang Zona Mana, dan terus bergema. sedangkan pandangan Rabarus, tidak pernah lepas sedikitpun dari Murid-muridnya.


'Hem.. mereka kini sudah jauh berkembang dari sebelumnya. meskipun kehebatan anak-anak itu masih kalah jauh, jika berhadapan langsung dengan Dewa.


Jangankan mereka, bahkan aku saja yang sudah hidup kembali dengan bentuk yang sempurna ini, masih belum bisa mengalahkan seorang Dewa.


Jika kami saja tidak bisa melawan Dewa, lalu.. bagaimana bisa beliau memerintahkan aku untuk mempersiapkan anak-anak ini, demi melindungi Permaisuri kecil..?


Saat itu.. mungkin aku hanya beruntung saja, karena Dewa tersebut hanya sekedar bermain-main. jika dia benar-benar serius menghadapiku, mungkin saja aku sudah tidak ada disini, sekarang!' pikir Rabarus, mengingat kembali apa yang pernah ia alami.

__ADS_1


Di saat semuanya sedang sibuk berlatih, tak lama. semua Spirit termasuk Rabarus! tiba-tiba saja merasakan guncangan hebat dan tekanan yang sangat dahsyat yang begitu mengerikan, muncul di Zona Mana.


Mereka yang tadinya sibuk bertarung, kini langsung berhenti setelah merasakan perasaan terintimidasi. Perasaan takut, risau, marah, kesal. Semuanya bercampur aduk menjadi satu..


'Apa yang terjadi? Ini...' Roya, tiba-tiba tersentak kaget.


'Perasaan apa ini, jangan-jangan, semoga saja apa yang aku pikirkan tidak benar.' Zaku, yang merasakan perasaan yang sama, mulai bersikap waspada.


'Ini, tidak mungkin.., bagaimana bisa ada kekuatan lain, selain Pak Tua Rabarus?' pikir Jura, yang juga merasakan sesuatu yang sangat mengerikan, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


'Gawat, saudaraku. jujur saja.. aku tidak yakin, apakah kekuatan kita saat ini, sudah benar-benar mampu melawan Dewa, atau tidak? Cih.. sedangkan kita masih belum mampu mengalahkan, Ayahmu!' ujar Saga, bertelepati dengan kelima temannya, dengan intonasi kesal bercampur khawatir.


'Sial, mengapa harus di saat seperti ini.. mereka malah muncul?' ujar Gira, yang juga cemas.


Sedangkan Tama, hanya diam menyimak percakapan temannya. Ia tidak merespon ataupun membalas, tanpa banyak bicara, Tama langsung mendekati Ayahnya dan menanyainya, mengenai apa yang baru saja terjadi.


'Ayahanda, apa sebenarnya yang terjadi? bukankah kau pernah bilang pada anak itu, Bahkan Dewa sekali pun tidak akan bisa memasuki tempat Ini, karena tempat ini telah mendapat perlindungan terkuat dari Kaisar Zando? lantas, bagaimana bisa ada kekuatan yang sangat mengerikan memasuki tempat ini?? apa mungkin, ada Dewa lain yang bisa mematahkan perisai Kaisar Zando..??' ujar Tama, mengingat kembali apa yang pernah di ceritakan Zion, pada mereka.


Sementara Rabarus menatap liar sekelilingnya.. pandangannya sedang mencari sosok keberadaan yang tak terlihat.


'Seharusnya memang seperti itu! bahkan Dewa yang waktu itu kuhadapi, tidak tahu akan keberadaan tempat ini.' ujarnya dengan ekspresi serius, dan tegang. Rabarus kini bersikap paling waspada dari Spirit lainnya.


'Anak-anak, berhati-hatilah.. Meskipun kalian sudah jauh lebih kuat dari tiga tahun sebelumnya, tapi tetap saja kalian bukanlah tandingan Dewa. begitupun aku, yang kalian anggap sempurna sekalipun, juga belum tentu bisa menghadapi seorang Dewa.' ujarnya mulai memperingatkan keenam Mana Beast lain, dengan tatapan nyalang.


Ketujuh Mana Beast kini telah saling berkumpul, di sisi Rabarus. mereka membetuk sebuah lingkaran, untuk saling melindungi dan bersikap waspada.


Sementara itu, tekanan besar tiba-tiba mendistorsi seluruh area Zona Mana, bahkan Rabarus pun tidak berdaya di bawah tekanan tersebut.


Ketujuh Spirit, merasakan persaan berat bagai di timpa ratusan gunung di atas pundak mereka.. Para Spirit menahan tekanan tersebut dengan punggung mereka yang besar. Hingga kaki Para Spirit, terus terbenam kedalam tanah.


"Egh.. Guru, Apa-apaan tekanan ini? Bahkan, kekuatanmu saja yang tiada terbatas, tidak bisa menahan tekanan sedahsyat ini." ujar Saga, Di tengah-tengah ketegangan yang mencekam.


"Cih, jangan bercanda bocah. Eugh.. Heh.. Heh.. Musuh kita adalah Dewa! Kau pikir, siapa yang bisa melawan Dewa haah? Kecuali sesama Dewa itu sendiri, dasar bocah tengik." ujarnya mengumpat, di sela-sela menahan beban berat, di punggung mereka.


"Hihi.. Kau benar kucing bengis. Kalau begitu, semuanya.. mari kita mengamuk sekarang. Keluarkan semua kekuatan yang kalian miliki..! Anggap ini sebagai latihan." seru Rabarus menyeringai, melihat semangat Zaku, yang tidak berkurang meski di tengah tekanan yang mengerikan.


Semangatnya kian membara, Rabarus pun ikut terpacu dan mengerahkan seluruh ke kuatannya, dengan semangat yang berapi-api.


Melihat Zaku yang keras kepala, yang lain pun juga ikut terpacu, awalnya mereka merasa Ragu, dan hampir menyerah karena terintimidasi dengan kekuatan misterius, yang tak terlihat oleh mata telanjang bahkan dengan mata surgawi. kini.. keadaan pun berbalik. Keenam Spirit melakukan hal yang sama, seperti apa yang baru saja Zaku, lakukan.


Ketujuh bola energi pun, dikeluarkan dari mulut Para Spirit. Semuanya mengarahkan dengan serentak bola energi ketanah, hingga perlahan tubuh mereka terangkat naik, dan terlempar jauh ke udara.


'Akhirnya.. kaki ku bisa terbebas juga.' ujar Zaku, merasa lega. karena sejak tadi, mereka tidak bisa bergerak.


Namun, kelegaan itu hanya bertahan sementara.. Yang terjadi malah sebaliknya! Ketujuh Spirit terhempas jauh, hingga menabrak apapun yang ada di sekitarnya .


Tubuh besar mereka yang baru saja terlepas dari tekanan, kini seolah sedang ditarik paksa, hingga tubuh mereka saling bertabrakan sesama Spirit.


Ketujuh Spirit meronta-ronta agar bisa terlepas dari belenggu yang seolah mengikat dan menghisap tubuh mereka, sampai-sampai tidak bisa digerakkan. Bahkan udara disekitar mereka, kini jadi menyempit dan semakin menipis.


Rabarus dan Jura, terus berupaya dengan caranya masing-masing.


sedangkan yang lain hampir kehabisan nafas, tubuh kelima Spirit sudah mulai lemas, dan tidak berdaya lagi untuk digerakkan.


'Ti-tidak.. A-aku tidak boleh mati di-sini..' ujar Zaku, di sisa kesadarannya yang terakhir.


Udara disekitar mereka terus menipis, hingga membuat kelima Spirit tak berdaya, bahkan untuk bernafas sekalipun. Dan tubuh mereka mulai terkulai lemas. hanya Jura, dan Rabarus, yang masih bertahan.


Rabarus merapalkan mantranya.. tiba-tiba muncul angin yang entah datang darimana? Angin berhembus di sekitar kelima Spirit, memberi udara untuk bernafas. Para Spirit yang tadinya hampir tewas, kini secara perlahan kembali sadar dan bisa menghirup udara.


Jura yang diam-diam mengamati sekitar, kini mulai fokus. dan mengeluarkan sukma dari tubuhnya. Setelah keluar dari tubuhnya, Jura mulai mencari keberadaan musuh yang tak terlihat oleh mata telanjang, dan mata surgawi miliknya.


'Tidak mungkin, bahkan mata surgawiku pun, tidak berhasil menembus ruang keberadaannya!' pikirnya yang terus mencari keberadaan dari sosok tersebut.

__ADS_1


Namun sayangnya, belum sempat sukma Jura menelusuri lebih jauh lagi, tiba-tiba tanpa ia sadari.. sukmanya kini telah terkurung di suatu ruang gelap dan hampa. Jura tampak terkejut dengan hal tersebut. Karena ia tidak menyangka, ada yang menyadari pergerakan sukmanya. Hingga tanpa ia sadari.. Jura sudah terjebak di dalam ruang gelap-gulita.


'Dimana ini..? Kenapa tempat ini tiba-tiba menjadi gelap-gulita! aku bahkan tidak bisa melihat keberadaan kelima saudaraku yang lain..?' gumamnya mulai khawatir.


Jura mulai kelabakan mencari jalan keluar.. namun yang ia dapati hanya kegelapan tak berujung. Dan tidak ada siapapun disana selain dirinya sendiri. Bahkan ia tidak bisa melihat keenam saudaranya, yang kini sudah sadar, dan sedang panik karena kehilangan dirinya.


Menyadari ada perubahan yang aneh pada kebungkaman Jura.. Tama yang baru saja bisa menghirup udara segar, dengan cepat merapal mantra pemanggil jiwa.


Namun sekali lagi Tama di buat terkejut dan kesal. 'Sial.. ini aneh, aku bahkan tidak bisa merasakan keberadaan Jiwa Jura, dimanapun!!' pikirnya mulai cemas.


Gawat, jika jiwanya menghilang dari tubuhnya di saat genting seperti ini..! berarti di tubuhnya kini, hanya tersisa setengah kekuatannya saja.'


Menyadari kepanikan Tama yang terlihat janggal.. Saga yang peka, langsung menepuk pundak Tama, dan bertanya perihal perubahan ekspresinya tersebut. 'Katakan, Apa yang membuatmu tampak begitu putus asa, kawan?'


'Jura...' ujar Tama terhenti, membuat Saga penasaran.


'Memangnya kenapa dengan Jura?' tanyanya dengan alis mengkerut.


'Aku-aku tidak bisa merasakan Keberadaan Jiwa Jura..! Raganya.. Raganya kini, hanyalah cangkang kosong yang tidak berjiwa.' ujarnya mulai khawatir.


Mendengar ucapan Tama.. semua Spirit ikut tercengang, sekaligus masih tak percaya dengan apa yang baru mereka dengar dari mulut Tama.


"........." Gira.


"........." Roya.


"Apa...! Bagaimana mungkin itu bisa terjadi??" ujar Saga, mulai terlihat cemas


Semuanya langsung terdiam, bagai tersambar petir. Meski saat ini, mereka masih meragukan perkataan Temannya itu.


'Cih, Sial.. Ugh! i-ini pasti gara-gara kita yang terlalu lemah! Jura sampai nekat mencari tahu keberadaan musuh, dengan menggunakan cara terakhir.' Ujar Zaku menggeram kesal, dan mulai menunjukkan taringnya.


'Masalahnya.. Tidak hanya itu!' ujar Tama.


'Apa maksudmu?' desak Roya.


'Biasanya, saat ia menggunakan sukmanya, tubuhnya masih tetap sadar dan bergerak juga bisa berbicara seperti biasanya. Akan tetapi.. kali ini benar-benar berbeda. Jiwanya benar-benar pergi dan menghilang sepenuhnya dari raganya.' sambung Tama lagi, membuat semua yang mendengarnya menjadi semakin risau.


'Apa...!' ujar Keempat temannya bersamaan.


'Inilah yang jadi masalahnya.. Jika jiwanya terlalu lama meninggalkan tubuhnya, lama-kelamaan Tubuh Jura akan, cih...!' perkataannya tercekat. Dan Tama tidak melanjutkan lagi ucapannya tersebut. Begitupun dengan yang lain, yang ikut terdiam.


Rabarus yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, tidak merespon sama sekali. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa sangat gusar dan khawatir dengan keadaan Jura. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, karena ia sedang fokus melacak energi keberadaan musuh. Dan juga mengontrol agar udara di sekitar mereka, tetap stabil.


Jika ia mengalihkan sedikit saja fokusnya.. Bisa-bisa, udara di sekitar mereka akan kembali menipis dan menghilang. Dan Para spirit yang telah sadar.. akan kembali lemas dan kehilangan pernapasan mereka.


'Sial, aku harus fokus sekarang. Aku akan percayakan semuanya pada mereka! Aku yakin anak-anak itu bisa mengatasinya..!' pikirnya, yang sebenarnya kesal. Namun ia kembali bersikap tenang dan mulai fokus.


Sedangkan Zaku, amarahnya kini telah mencapai puncak dan mulai meluap-luap ingin keluar. Ia sudah tidak bisa menahan diri lagi, dan langsung berbicara lantang, hingga suaranya bergema keras di Zona Mana.


"Hei sialan-lan-lan, jangan hanya berani bersembunyi-nyi-nyi dan cepat tunjukkan wujahmu-mu-mu, dan hadapi kami secara jantan-tan-tan. bukan malah bertindak seperti pengecut yang sedang takut-kut-kut." teriak Zaku, balik menantang.


"........." senyap tak ada jawaban.


'Dasar bocah bodoh, Apa yang sedang kau lakukan? jangan gegabah, caramu ini malah semakin memperkeruh keadaan.' celetuk Tama kesal, dengan sikap sembrono temannya itu.


'Cih, aku tahu ini salah. tapi jika terus seperti ini.. yang ada kita malah akan mati konyol, tanpa adanya perlawanan sama sekali. aku tidak mau seperti itu.


lihatlah Jura.. kini ia malah terlihat seperti mayat hidup tak bernyawa. aku tidak pernah melihat anak ini, sampai seperti ini.' ujar Zaku, menatap Tubuh Jura, dengan perasaan cemas dan takut.


Raga Jura, tampak diam dan kaku. Mendengar ucapan Zaku.. Saga, Roya, Tama, dan Gira. Jadi semakin khawatir. Namun, sesuatu yang baru saja terjadi, membuat wajah semuanya menjadi pucat, dan tak bergeming dari tempat mereka saat ini.


Keenam Spirit tak mampu berkata-kata dan hanya diam terpaku menyaksikan kenyataan yang mengerikan, sedang terjadi di hadapan mereka saat ini.

__ADS_1


Sangking terkejutnya.. Dengan pemandangan tersebut. Seluruh tubuh keempat Spirit, dan Rabarus, tampak gemetar. dan keringat dingin mengucur saat menyaksikan hal tersebut.


__ADS_2