
Seorang Pria tinggi.. berbadan kekar, mengenakan pakaian sutra putih panjang, tanpa lengan, hingga diatas mata kakinya. memperlihatkan otot dengan warna kulit kecoklatan miliknya. Ia juga mempunyai paras yang tak kalah tampan dari dewa lain. dan Pria itu juga, mengenakan mantel jubah emas, yang menempel dikedua bahunya.
Pria berambut abu-abu doff, berjalan mendekati mansion, dengan seringainya. tapi, ketika ia sudah mendekati mansion.. Ia dihalangi dengan banyaknya prajurit, yang datang mengepungnya. melihat itu, ia pun menghentikan langkah kakinya. Pria dengan wajah ramah, memperhatikan prajurit yang ada di hadapannya.
Lalu.. ia melihat sekilas kearah jendela, yang berada di lantai empat. diterangi cahaya terang.. Hingga menembus keluar jendela. Dan tak lama ia bergumam!
"Ternyata kau ada di situ rupanya.!. Aku harus cepat membawamu, sebelum keduluan yang lain." lalu ia kembali melihat kearah prajurit. "Aku tidak punya urusan dengan kalian, jadi aku akan memintanya dengan baik-baik. Mundurlah, jika tidak ingin terluka." Ujarnya dengan sopan.
"Jangan mimpi, siapa kau? Berani memerintah kami, semuanya.. Jangan anggap remeh musuh kalian. Ayo Ssseraaaaaannnnnggg!!!" Printah Roland, semangat.
"Yaaaaaa........!!!!!" Teriakan para Prajurit, dengan semangat.
"Heh.. Baiklah, jika kalian memaksa, jangan bilang aku tidak memperingatkan kalian."
Saat prajurit mulai menyerang, Pria bertubuh kekar itu, menahan serangan dengan telapak tangannya. Dan, yang terjadi..! Semuanya terpental jauh. tidak merasa jera dan takut, para Prajurit kembali bangkit, untuk menyerang.
Kekacaaun tidak hanya terjadi diluar mansion, menyadari jika sosok yang mereka hadapi ternyata sangat kuat.. para prajurit beramai-ramai mulai melakukan penyerangan. Namun, tidak hanya diluar.. bahkan didalam mansion pun, sedang terjadi ketegangan antara Spirit.
***
"Ternyata sudah dimulai ya.. Apa yang akan kalian lakukan sekarang! Sepertinya, Dia berbeda dengan musuh yang ada diluar Perisai." Ujar Rabarus, sambil memperhatikan dari jendela.
"Apa maksudmu Pak Tua...!" Tanya Tama, Penasaran.
"Tentu saja.. orang yang sedang kalian khawatirkan, telah muncul." Jawab Rabarus.
"Apa.....!" Jawab Keenam Spirit Serentak.
Ketika mereka mendengar Ucapan Pria Paruh Baya itu.. Ketujuh Spirit saling melirik. Lalu bergegas menghampiri jendela dan, melihat Sosok yang sedang di hadang para Prajurit.
"Tidak mungkin, bahkan dia tidak perlu repot-repot melewati Perisai. Berarti suara petir tadi, berasal dari dia..!" Ujar Gira.
"Benar." Jawab Rabarus.
"Haah.. Sialan, Dewa mana lagi Sekarang??? Awalnya, Dewa Pembantai. Dan sekarang.. muncul lagi sosok lain yang tidak dikenal." Oceh Zaku kesal.
"Jadi, Seperti itu Sosok Dewa!!" Ujar Roya menimpali.
"Kelihatannya, dia sangat kuat. Aku jadi ingin mencoba melawannya..! Seberapa hebatnya yang di sebut Dewa itu!!" Celetuk Tama. Penasaran.
"Cih, Kau saja yang tidak pernah merasakan secara langsung, bagaimana tidak enaknya, berada di ujung kematian. Makanya kau bisa berbicara seenak jidatmu! singkirkan rasa penasaran bodohmu itu." Celetuk Zaku, kesal.
__ADS_1
Tama.. Melihat kearah Zaku, lalu menyeringai dengan senyum miringnya, membuat Zaku semakin geram.
"Hehe.. Apa Kau takut?" Ujar Tama.. Seolah menantang dengan alis terangkat sebelah.
Zaku yang melihat tatapan Tama, dengan seringai meremehkan. Membuatnya bertambah emosi.. Dan berbalik menantang Tama.
"Dasar sialan, Jaga ucapanmu.. Siapa yang kau sebut takut hah..? Aku hanya tidak ingin kau celaka TOLOL. lebih baik kau gunakan otak bodohmu itu, sebelum berbicara. Tapi jika urat takutmu benar-benar sudah putus, baiklah, ayo kita hadapi Dewa itu bersama.. Agar kau tahu, betapa hebatnya mereka." Gumam Zaku kesal.
"Sudah Cukuuup, hentikan pertengkaran bodoh yang tidak ada gunanya. Jika kalian takut, biar kami saja yang maju." bentak Lannox geram.
"Haah.. Kalian berdua, tenaglah, jangan gegabah." Ujar jura memperingatkan, namun diabaikan oleh keduanya.
Melihat pertengkaran di antara kedua Spirit, yang tidak ada habisnya.. Tanpa banyak bicara, Lannox pun.. langsung bersiap untuk meninggalkan ruangan itu.
"Zion, ayo kita pergi." Ajaknya Serius, melirik kearah Zion.
"Heeh.. Ya." Jawab Zion menyeringai, jika itu perintah dari Masternya.. Meskipun konsekuensinya adalah mati, ia tidak perduli. Apapun yang terjadi.. Zion akan selalu setia dengan Masternya.
Mendengar ucapan Lannox, si bocah gila bermodal nekat itu, mulai bergerak. Ekspresi keenam Raja Spirit, berubah terkejut dan khawatir. Zaku Dan Tama, Mulai merasa Bersalah, Semua dikarenakan ulah mereka berdua. Para Spirit, ingin menghentikan kedua bocah Gila tersebut.
Namun, belum sempat mereka melakukannya, seseorang yang sejak tadi, hanya diam menyimak, dan mendengarkan kebisingan tersebut.. Akhirnya mulai melakukan tindakan serius.
Tiba-tiba saat keduanya mulai bergerak, untuk meninggalkan ruangan tersebut..! para Spirit pun dengan cepat menghentikan keduanya. Tapi, belum sempat mereka melakukan tindakan. "TIK" dalam sekejap semuanya langsung berhenti. karena dikejutkan, dengan kemunculan penghalang merah, segi empat, yang mengurung keduanya secara tiba-tiba.
"Sialan, cepat lepaskan penghalangnya.." Ujar Lannox kesal.
Mendengar kemarahan Sang Master, Zion yang selalu bersifat melindungi menjadi marah.
"Grrrrr... Grrrrr... Grrrrr... Apa kau tidak dengar apa yang Masterku katakan..! Cepat lepaskan penghalangnyaaa sialan....!!!" Bentak Zion Galak, yang kelihatannya sudah tidak sabar, ingin menyerang Rabarus. Namun, terhalang dengan Perisai.
Lannox yang sudah dipenuhi dengan amarah, menyerang tanpa henti, menggunakan berbagai cara. Hanya untuk menghancurkan penghalang tersebut. Tetapi selalu saja Gagal, Zion yang sudah terpancing emosi.. kini bergumam pada Lannox.
"Minggir nak, dan tutup telingamu dengan jurus penyatuan." perintahnya, melirik sekilas kearah Lannox.
Lannox pun mundur beberapa langkah kebelakang, lalu mulai fokus menarik nafas panjang, dan berujar. "PENYATUAN AKTIF." telinga Lannox seolah menggemakan sesuatu.
Setelah mendengar ucapan Lannox, Zion pun menyeringai menarik Nafas Panjangnya. Lalu,,
"GGWWAAAAAAAAARRRRRR.........!!!!!" Zion mengaum keras, mengeluarkan Suara Rajanya.
Aumannya.. memekakkan telinga siapapun, bagi yang bisa mendengarnya. keenam Spirit lain pun, ikut merasakan dampak dari Auman Zion. Tapi.. karena mereka sudah membentengi telinga mereka, dengan Aura. Jadi, Auman tersebut tidak bisa menembus telinga mereka. Auman keras Zion, menimbukan keretakan, pada dinding penghalang tersebut.
__ADS_1
Di antara semuanya, hanya Rabarus, Yang tampak biasa saja, seolah tidak terpengaruh sedikipun. Melihat keretakan yang di buat Zion, Semakin melebar.. Rabarus, dengan cepat memperbarui penghalang tersebut. Hingga apa yang dilakukan Zion, berakhir dengan Sia-Sia belaka.
"Sudah cukup Pak Tua.. Apa yang telah kau lakukan? Pada kedua anak-anak itu. Cepat lepaskan penghalangnya!! Ini semua karena kesalahanku, Dan Zaku, yang telah memancing emosi mereka."
"Benar, jika kau tidak melepaskan penghalang tersebut! Aku tidak akan segan menyerangmu Grrrrrr... Grrrrrr..!! Ujar Zaku yang tampak marah, dan sudah berubah kewujud Singa Putih besar. Ia tidak tahan melihat cucu kesayangannya diperlakukan seperti tahanan, Dan memberontak ingin keluar dari kurungan tersebut.
Melihat Zaku yang sudah berubah kewujud Singa.. Tama, dengan cepat berdiri didepan Zaku, untuk menghadang amarahnya dalam melakukan serangan tiba-tiba. Berbeda dengan Rabarus, Rabarus dengan sikap tenangnya, tidak bergeming sedikitpun dengan ancaman Zaku.
Wajahnya yang selalu tersenyum ceria.. kini menjadi dingin dan menakutkan, perubahannya yang tenang dan mendominasi, membuat semua Spirit merasa terintimidasi dan mulai mewaspadainya.
"Hentikan Ayahanda.., Kenapa masalahnya menjadi melebar seperti ini..! Zaku, kau juga tenanglah, Tahan emosimu kawan." Keempat Spirit lainnya pun, ikut membantu tama, untuk menghentikan kemarahan Zaku, yang sudah berubah wujud.
"Ayahanda, Kubilang HENTIKAAAANNN sudah cukup. Jika kau masih tidak mau menghentikannya..! Mulai sekarang, Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai AYAHKU lagi." Gumam Tama lantang.. Menatap nyalang kepada Rabarus.
Ucapan Tama.. Membuat kelima Spirit terkejut dan menegurnya..!
'Apa kau tidak terlalu berlebihan Tama!!' Ujar Jura khawatir, dengan hubungan kedua orangtua dan anak itu.
Mendengar Ucapan Putranya.. Rabarus langsung tersentak kaku.
...----------------...
Di kerajaan elf, di puncak Gunung tertinggi. ketiga Dewa, Dewi. sedang mengontrol Energi Piramida, dan Baginda Raja.. menyaksikan dalam diam, kebangkitan kekuatan Putranya.. ARGUS. Perisai Cahaya Segitiga Piramida Emas, di buat khusus, untuk mengekang kekuatan Argus, Agar tidak meluap keluar.
Ketiganya melayang, mengelilingi Piramida tersebut. Dengan Tubuh, yang dipenuhi Cahaya menyilaukan. Raja menyaksikan dari bawah, proses penyatuan tersebut. Cahaya turun dari langit mengarah tepat, menelusur masuk kedalam Piramida, seperti bentuk pilar. Begitupun dengan ketiganya.. Cahaya ditubuh mereka, saling terhubung dengan Piramida tersebut. sedangkan tubuh Argus, melayang tinggi di dalam Piramida. Ia berteriak histeris, karena rasa sakit yang di terimanya, bagai dihantam petir bertubi-tubi.
Argus hampir tidak sanggup menahannya, karena terlalu banyak menyerap besarnya energi tersebut. Melihat reaksi Putranya, Raja Faran menjadi khawatir, melihat Putra kesayangannya, berteriak kesakitan.
"AAAAAAGGGGGGHHHHHH........!!!!!"
"Bertahanlah, Putraku!" Ujarnya khawatir, mendengar teriakan Putranya.
'Ibunda.. Apa kita hentikan saja!' Ujar Dewi Helmina, yang juga merasa khawatir.
'Tidak Sayang, bersabarlah, Cucuku, pasti bisa melakukannya.' Ujar dewi Romina meyakinkan.
'Tapi bu..' Rayunya, namun dihentikan sang Ayah.
'Putriku Helmina, jangan sampai kau kehilangan konsentrasimu..! Kesempatan tidak akan datang dua kali. Tetaplah fokus, karena sebentar lagi.. akan memasuki tahap akhir.' Ujar Dewa Zagwan, mengingatkan.
'Baik Ayahanda.' Dewi Helmina pun, kembali fokus.
__ADS_1
'Memasuki tahap akhir.. rasa sakit yang di terima Argus, seratus kali lipat lebih sakit daripada sebelumnya. Raja dan Ratu, sampai berkeringat dingin, mendengar teriakan Putra mereka. Raja yang tidak sanggup mendegarnya.. dengan cepat meninggalkan tempat itu..!'