AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
EVOLUSI


__ADS_3

"Apa... Benarkah itu?" tanya Duke tak percaya, sambil melihat kearah Rabarus.


Mendengar hal tersebut dari putrinya, muncul ide licik di kepalanya.. Yang membuat Ravella dan yang lainnya terkejut.


"Baiklah.. Aku akan membiarkanmu membawa Putriku, tapi dengan satu syarat!!" ujarnya menyeringai.


'Heeh.. Kenapa perasaanku jadi tidak enak??' pikir Rabarus menatap curiga pada Duke, yang saat ini sedang menggendong Putrinya.


"Haah.. Baiklah katakan apa itu?" ujarnya yang seolah bisa menebak dari tatapan Lannox.


"Hem.. Berhubung aku mempunyai banyak waktu luang, jadi aku ingin kau juga membawaku." ujarnya menawarkan diri.


'Haa.. Ada apa dengan Pak Tua ini..?' kaget Ravella, yang tidak menyangka jika Sang Ayah akan mengikutinya.


"Cih bilang saja kau ingin pergi karena bosan Bukan..!" celetuk Zion.


"Hem.. Hem.. Selama tiga minggu kedepan aku punya waktu senggang, jadi, kalian berdua tetap tinggal dan jaga baik-baik Mansionku." ujarnya sambil melirik sekilas kearah Argus.


Argus yang mendengarnya langsung mengerti maksud dari Masternya tersebut, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia juga sedang di hukum oleh Masternya.


"Cih, sudah ku duga.. Heum..., baiklah kalau begitu cepatlah naik ke punggungku." ujar Rabarus menyeringai, saat mendengar ucapan Lannox.


Lannox pun segera melompat tinggi sambil menggendong Putrinya, dan langsung duduk di atas punggung Rabarus.


"Apa kalian bertiga sudah siap!!!" tanya Rabarus memastikan.


"Ya, ujar ketiganya serentak." Lannox menatap Gapi dalam pelukan Ravella, namun karena hatinya sedang baik.. Jadi ia membiarkannya saja.


Dan, setelah itu muncul pusaran angin besar di sekitar Rabarus, yang membuat semua mata melihatnya pusaran angin langsung menghalangi pandangan mereka.


Dalam sekejap mereka menghilang dan sudah berada di atas udara.. Melihat itu.. Para Spirit Ravella pun, mengikutinya secara diam-diam.


Rabarus yang tahu mereka di ikuti.. Hanya menyeringai.


***


Akhirnya mereka tiba di Istana Rabarus, tempat ia lama menghabiskan tapanya, dan setelah ia pergi dengan Putranya. Tempat itu menjadi kosong.


Setelah tiba di Istananya, Rabarus langsung berubah kewujud manusianya ia terlihat jauh lebih muda dari saat terakhir kali Lannox melihatnya.


"kita sudah sampai, selamat datang di istanaku." ujarnya tersenyum.


"Di mana ini? Kenapa kau membawa kami kesini..??" Tanya Duke.


"Ayo ikuti aku.." Rabarus pun pergi membawa ketiganya ketempat yang lebih nyaman untuk berbicara.


Sesampainya di sebuah Ruang yang agak luas, Rabarus pun mempersilahkan mereka duduk. Dan membuat teh hangat dengan sihir untuk di hidangkan pada kedua Ayah dan Anak itu.


"Maaf, aku tidak tahu selera kalian." ujarnya sambil melihat poci tersebut melayang sendiri, menuangkan teh hangat kedalam tiga gelas yang ada di atas meja.

__ADS_1


Setelah mereka meminumnya.. Duke pun meletakkan gelasnya, dan membuka pembicaraan lebih dulu. Karena ia sudah tidak sabaran lagi, mendengar alasan Rabarus membawa mereka keistananya.


"Katakan, apa yang ingin kau bicarakan pada Putriku?"


"Hehe.. Ternyata kau tidak sabaran ya, baiklah, kalau begitu aku pun akan langsung pada intinya."


Rabarus duduk sambil melipat kedua kakinya.. Ia menyeruput sejenak teh yang masih hangat. Rabarus melirik sekilas kearah Ravella yang masih tenang dan dengan sabar menunggunya.


"kletak.. Dengar Nak, aku sebenarnya datang ketempatmu bukan hanya sekedar datang berkunjung atau melihat Putraku..!" ucapnya.


Ia diam sejenak, melihat air teh yang ada di dalam gelas miliknya.. "Sebenarnya.. aku datang membawa misi untuk melindungimu, dan orang yang kau sayangi."


"Apakah itu Kakek Zando, yang menyuruh anda?" tanya Ravella semangat.


"Hem.. Tepat sekali, ternyata kau juga mengenalinya!" umpannya.


"Haah.. Tentu saja aku mengenalinya, karena beliau juga salah satu Spiritku yang paling sulit di temui, dan juga sangat misterius. Namun beliau selalu ada di saat aku sedang dalam bahaya." akunya dengan helaan nafas.


"Begitu Rupanya.." 'Tapi setelah mendengar keseluruhan dari cerita Jura, aku jadi mengerti sekarang. Jika beliau sendiri, tidak tahu bahwa dirinya adalah titisan reinkarnasi Sang Dewi.'


Sementara Lannox dan Gapi, hanya diam menyimak dan mendengarkan pembicaraan keduanya.


"Lalu.. Bagaimana keadaan Kakek? Apakah beliau baik-baik saja??"


"Hem.. Kau tidak perlu khawatir, beliau sangat sehat dan baik. Sangking sehatnya beliau bisa saja menghancurkan satu planet haha..' ujarnya keringat dingin, dengan intonasi bercanda.


"Apa itu?"


***


Di sisi lain.. Di ruang perpustakaan.


"Hei.. Apa istana ini benar-benar milik Ayahmu?" tanya Zaku, yang tampak takjub.


"Benar, tapi aku tidak suka.. Tempat ini terlalu sunyi." ujar Tama mengeluh.


"Haah.. Apa aku tidak salah mendengarnya, bukankah kau justru suka tempat seperti ini??" tanya Zaku heran.


"Cih.. Kalau itu lain lagi ceritanya."


"Tapi omong-omong tampat ini di penuhi dengan banyak Buku-buku langka, Apa Ayahmu suka membaca??" tanya Roya.


Tama yang melihat tumpukan Rak, yang di penuhi berbagai macam buku.. Merasa jengah melihatnya.


"Ya, Kelihatannya seperti itu. Ia mengoleksi seluruh buku yang ada di dunia, dan meletakannya di sini.


Tapi aku juga kurang yakin sih! Apakah Buku-buku di sini cuma di jadikan pajangan, atau memang sudah di baca semuanya." ujar Tama.


"Kalau begitu, Ayahmu itu sangat pintar bukan.. Jika seluruh pengetahuan yang ada di dunia, ada di sini"

__ADS_1


"Entahlah.. Kalian baca saja kalau mau. Kalau aku sih memang tidak tertarik." ujarnya memperhatikan kearah Jura, Saga, dan Gira.


Sedangkan Roya dan Tama.. Sibuk melihat-lihat. "Hei.. Kenapa wajah kalian tampak murung sejak kita tiba di sini? Memangnya ada apa!?" tanyanya.. Menghampiri ketiga temannya itu.


"Hem.. Entahlah, saat kita kita sedang dalam perjalanan kesini, Aku merasakan ada yang aneh Dengan tubuhku!" ujar Saga, merasa tenaganya seperti terkuras habis.


"Benar, aku merasa aneh dengan tubuhku.. Tubuhku tiba-tiba merasakan, ada hawa dingin, Yang seolah memaksa ingin keluar!!" sambung Gira.


Seolah merespon dengan perasaan kedua temannya itu.. Tubuh Tama seketika bereaksi. Namun, ia merasakan ada hawa panas sedang membara di dalam tubuhnya.


"Tidak.. Kenapa be-gi-ni, a-a-apa yang terkadi padaku??" ujar Tama yang merasakan pusing teramat sangat, Dan melihat kedua tangannya tiba-tiba merasakan dingin dan gemetar.


Zaku dan Roya yang sedang Fokus melihat-lihat buku pun.. Saat mendengar ucapan ketiga temannya itu, mereka berdua langsung menoleh kearah keempat temannya yang lain berada, dan menghampiri mereka.


"Tunggu, Jangan bilang mereka akan..!" ujar Roya, tiba-tiba perkataannya terhenti. Roya merasakan pikiran dan pendengarannya melengking nyaring hingga membuat telinganya dan matanya sakit. Bahkan ada getaran aneh, menghentak ingin keluar


"Hei.. A-da a-pa??" tanya Zaku, yang melihat gelagat aneh Roya. Dan tiba-tiba tubuhnya pun merasa kesakitan seperti sedang di cabik-cabik dari dalam.


Melihat perubahan kelima temannya itu.. Jura menjadi khawatir dan segera menghubungi Rabarus. Dan tak lama.. terdengar suara Jura bertelepati dengannya.


'Pak Tua.. Cepatlah kemari, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang.. Tapi, Kelima Saudaraku merasakan kesakitan yang amat sangat.


Cepatlah Pak Tua...!!' teriak Jura khawatir.


Mendengar suara Jura yang panik, tampak kedua alis Rabarus mengkerut.. 'Baiklah Aku akan segera kesana sekarang.' koneksi pun terputus.


Melihat reaksi Rabarus, Lannox langsung meludahkan pertanyaan padanya. "Katakan Ada apa??"


"Ayo kita pergi.. Aku harus memindahkan kelima anak-anak itu." ujarnya.


Rabarus bangkit berdiri.. Ravella yang melihat kekhawatiran terukir di wajah Rabarus, langsung mengutarakan pikirannya.


"Sebenarnya, apa yang telah terjadi Kek? Kau tampak khawatir." tanya Ravella.


"Haah.. Keenam Spiritmu ada di sini sekarang. Mereka mengikuti kita sejak tadi, saat kita berangkat. Hanya saja, mereka masih belum berani menunjukkan diri di hadapanmu.


Karena mereka takut akan membuatmu semakin kesal, Dan aku harus cepat, karena kelima Spiritmu.. Sepertinya akan segera berevolusi.


Aku harus memindahkan mereka segera.. Jika tidak, tempat ini akan segera hancur. Sebab tidak bisa menahan besarnya amukan mereka" ujarnya menjelaskan


Mendengar itu Ravella jadi semakin khawatir, dan merasa bersalah telah mengabaikan mereka, dan juga telah membuat mereka mengkhawatirkannya.


"Kalau begitu.. Aku akan ikut!!" ujarnya yang juga cemas.


"Baiklah.. Apa kalian berdua ingin tingg..."


"Tidak, aku juga akan ikut." ujar Duke, yang dengan cepat menyela.. Dan segera menghampiri Putrinya, begitupun dengan Gapi.


Tak lama mereka berempat menghilang, dan bergegas ketempat Jura dan Yang lainnya berada.

__ADS_1


__ADS_2