
Di tempat lain di bagian hutan pedalaman yang jauh dari Kastil. Jura sedang menghadapi sosok Pria misterius.
"Heh, baiklah jika kau tidak ingin menunjukkan dirimu.." ujarnya sambil menyipitkan mata. 'sepertinya aku memang harus menggunakan cara itu!' gumamnya dalam hati.
Bagian diri Jura yang tidka terlihat, keluar dari raganya. Ia masuk kealam yang tak terlihat. Dimana ada dua dimensi yang terpisah dengan dunia nyata, Namun masih satu dunia.
Sementara ia sambil mencari sosok misterius, dirinya yang lain mengajak bicara Pria tersebut.
"Jika kau berani, hadapi aku sekarang! Jangan bertele-tele dasar pengecut, ayo kita akhiri sekarang..!" ujanya memancing keluar Pria tersebut.
Mendengar perkataan Jura, terdengar seringai dari Pria tersebut memecah keheningan di antara gelap dan pekatnya malam berkabut...
"Hehehe.. Kau bicara seakan kau bisa mengalahkan ku saja bocah! Bahkan sekarang kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa he..!" ujarnya Angkuh.
Sementara Jura mengajaknya bicara.. Bagian dirinya yang lain, sudah menemukan keberadaan sosok tersebut.
'Hehe.. Akhirnya aku temukanmu Pria sombong.' bagian diri Jura, yang lain menyeringai.
"Heheh... Kau terlalu meremehkan ku! Apa kau yakin aku tidak bisa menemukanmu hem..?" ujar Jura menyeringai.
"Heh.. Coba saja kalau bisa, bocah sombong." balas Pria itu.
Dalam sekejap mata, Pria misterius itu langsung menyerang punggung Jura.. Dari belakang. Jura terhempas jauh hingga menghantam Pohon besar yang ada di pinggir danau.
"Baaag.... Egghhh!!" Jura terhempas di batang pohon besar tersebut.
Tak lama Pria itu berbicara lagi.. Sambil menyeringai ia menertawakan Jura. Yang tampak lemah tak berdaya.
"Heheh.. Lihatkan, bahkan kau saja tidak bisa menghindari seranganku barusan!! Apa kau masih berpikir dapat mengalahkan ku bocah?"
Tiba-tiba sudut bibir Jura melengkung kesamping.. Melihat seringai Jura yang seolah menertawakan ketidak tahuannya itu.. Membuat mata Pria tersebut menyipit, melihat perubahan sikap Jura tersebut yang tiba-tiba.
"Apa yang kau tertawakan..? Percuma saja, apapun yang kau lakukan tidak akan berhasil padaku." ujarnya congkak.
__ADS_1
Dan tiba-tiba Pria yang sedang meremehkan Jura tadi.. Langsung terdiam, dan tak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Hehe.. Kenapa Kau diam saja? Bukankah tadi kau tertawa dengan sangat bangga. Lalu.. Dimana kebanggaanmu itu, heh..! Jangan bilang kau sudah kehilangan kebanggaanmu yang kau sombongkan tadi hehe.."
"Bluuurrppp... Ka-kau.. A-apa yang sebenarnya telah kau lakukan pa-padaku! Ba-bagaimana bi-bisa!!" gumamnya terbata-bata karena menahan sakit.
"Hehehe... Pengalihan berhasil." ucap Jura langsung bangun.
Pria itu terjatuh berlutut.. Darah segar keluar membasahi baju putihnya.. Perutnya berlubang terkena serangan mamatikan Jura.
Di ruang dimensi yang tak terlihat, bagian diri Jura yang lain melihat sosok tersebut.. Pria yang tengah berbicara dengan Jura, tidak bisa merasakan kehadiran diri Jura yang lain.
Jura menghampirinya.. Dan ia mengeluarkan sesuatu dari tangannya sambil menyeringai.. Sesuatu energi yang tak terlihat oleh mata dan tidak juga bisa dirasakan kehadirannya. Energi itu Sebesar lengan berbentuk jarum runcing, langsung diarahkan keperut Pria yang sedang berbicara kepada Jura.
Dan alhasil, Pria tersebut terjatuh bertekuk lutut, perutnya yang utuh menjadi bolong sebesar lengan. Darah segar terus mengalir membasahi bajunya yang bersih..
"Ka-kau.. Bagaimana bisa kau menemukan ke-keberadaanku?"
Saat Pria itu sedang berbicara pada Jura, diri Jura yang lain kembali menyatu denga tubuhnya. Di saat itu.. Jura bangun dan mulai mendekati sosok Pria yang sudah terlihat raganya.
Jura yang sudah berdiri di hadapan Pria tersebut, berbicara sebentar sebelum ia melakukan tindakan lain.
Tatapan tajam menatap kebawah.. Tampak Pria yang sudah kehabisan darah sedang melihatnya dengan tatapan pucat tidak seperti tadi.
"Kau.. Sama persis dengan Pria yang pernah berniat jahat dengan Dewiku! Hanya saja.. Kau memang lebih hebat darinya. Akan tetapi.. Melihat kalian bersungguh-sungguh ingin memiliki Dewiku,
Sudah pasti kalian mempunyai niat tersembunyi bukan!! Apa lagi sampai mempengaruhinya dengan ilusi pengendali pikiran.. Untuk menghindari hal seperti ini.
Agar tidak terjadi lagi di kemudian hari. Aku terpaksa melakukan hal ini padamu, beristirahatlah dengan tenang.
"Ti-tidak.. Jangan lakukan itu pada.. Aaagggghhh.."
Jura meletakkan tangannya di atas kepala Pria tersebut.. Rasa sakit menjalar keseluruh tubuh Pria itu, sampai ia berteriak kesakitan dan.. Dalam sekejap tubuhnya meledak hancur menjadi serpihan debu.
__ADS_1
Setelah melihat tubuh itu menghancur, Jura melihat kembali tangannya.. Dan tak lama terdengar suara yang memecah fokusnya.
"Ternyata percuma aku mengkhawatirkanmu!" ujarnya dengan satu alis terangkat.
Jura menoleh kebelakang, tampak sosok Garda sedang berdiri sambil melipat tangan kebelakang. Ia melihat kejadian tadi dengan sangat jelas.
'Aku tidak menyangka, kemampuan bocah ini sudah meningkat pesat. Tapi ia masih belum bisa mengintrolnya dengan baik.' pikirnya memperhatikan Jura.
"Kau.. Bagaimana kau tahu, aku ada di sini?" tanya Jura, sambil mengernyitkan kedua alisnya.
"Hem.. Bahkan tidak hanya aku yang kesini, temanmu juga mengkhawatirkan kalian berdua, dan menyusulmu. akan tetapi.. Dalam perjalanan kemari.. Kami di cegat dengan sosok yang tidak dikenal.
Mereka menyuruhku menyusulmu lebih dulu, tapi sayang.. Rasanya kau tidak memerlukan bantuanku lagi. Omong-omong dimana Dewi?" ujarnya celingak-celinguk mencari sosok kecil tersebut."
"Ah benar, hampir saja aku melupakan Dewi." ujar Jura yang baru sadar.
Jura turun kepermukaan danau, tampak diantara kedua Pilar ada ruang dimensi ditengah Pilar tersebut. Jura pergi begitu saja menembusi Kedua Pilar.. Tanpa menjawab pertanyaan Garda.
Melihat raut wajahnya, yang baru menyadari sesuatu, Garda pun mengikutinya dari belakang, tanpa bertanya apapun.
Dari jauh tampak sosok Putri kecil sedang terbaring kaku di atas Altar pengorbanan, yang sepertinya memang telah di persiapkan untuk Ravella.
Melihat itu Jura menggertakkan giginya.. Dan mengepal kedua tangannya. Tidak hanya Jura saja yang geram akan penampakan tersebut, bahkan Garda pun nampak marah dan kesal melihat Hal itu.
'Artinya mereka ingin menjadikan Dewi sebagai Tumbal persembahan, Kalau tahu begini, seharusnya aku tidak membiarkannya mati dengan mudah, lebih baik aku menyiksanya lebih dulu, sampai ia memohon untuk mati. Cih!' gumamnya dalam hati, dengan kedua tangan yang terkepal erat.
"Sepertinya ini sudah keterlaluan.. Jura, cepat ambil Dewi. Dan menjauhlah Dari tempat ini."
Mendengar itu, Jura langsung menoleh dan bertanya pada Garda yang tampak sedang menahan emosi.
"Apa maksudmu?"
"Kau akan segera tahu." ujar Garda, dengan pandangan dingin.
__ADS_1
Melihat ekspresi yang tidak biasa dari Garda, Jura pun melakukan apa yang dikatakan Garda. Setelah ia meraih tubuh Ravella, lalu menjauh dari tempat itu, tubuhnya kembali melayang tinggi keudara dan memeprhatikan apa yang akan di lakukan Garda.
Garda merentangkan kedua tangannya.. Di kedua tangannya muncul cahaya Biru gelap yang membara.