AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
BERBURU DI TENGAH HUTAN


__ADS_3

"Hei Belka.. Apa yang sedang kau lakukan di tempat ini, sendirian pula??" tanyanya khawatir.


Belka yang sedang sibuk berpikir, langsung buyar saat mendengar suara dari temannya itu. "Ah ternyata kau Pan!" jawabnya sambil mencari posisi yang nyaman untuk duduk di atas bongkahan batu besar.


"Seperti yang kau lihat, aku sedang dalam misi sekarang!" ujarnya sambil tersenyum pada temannya.


"Misi, misi apa memangnya?" tanya Pan heran.


"Heum.. Entahlah, ini terlalu memalukan untuk dikatakan." jelasnya sambil mengembungkan salah satu pipinya.


"Aku tidak akan memaksamu, jika kau tidak mau bercerita. Lalu, sampai kapan kau akan tinggal di sini?" tanya temannya menunggu jawaban.


"Heeem..., sampai batas kesabaranku habis. Jujur saja, aku sudah mulai bosan. Tapi karena ini perintah Yang Mulia Raja. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, selain menunggu di sini." ujarnya sambil melihat kearah Garda sekilas.


Paus besar tersebut mengalihkan pandangannya kearah tatapan temannya itu! Dan ia langsung menoleh kebelakang, dan terkejut saat di suguhkan pemandangan tersebut. Melihat reaksi temannya, Belka pun bertanya akan keterkejutannya itu.


"Ada apa Pan?" tanyanya heran.


"I-itu.. Sejak kapan ada seorang Pria di tempat ini..?" ujarnya yang baru saja sadar dengan keberadaan Garda.


"Heum.., sejak awal Pria itu memang sudah ada di sini." ujarnya polos.


"Ta-tapi, aku beberapa kali melewati tempat ini. Dan yang aku lihat hanyalah bongkahan batu besar yang tidak bernilai sama sekali." ujarnya merasa heran.


"Belka mengernyit heran, saat mendengar ucapan temannya. seolah tak percaya dan bertanya-tanya dalam hati. 'Bagaimana mungkin, sedangkan aku saja bisa melihatnya' pikirnya, lalu melanjutkan lagi. "Benarkah itu!"


"Ya, kalau kau tidak percaya, kau juga bisa menanyakannya dengan temanku. Mereka juga jalan bersamaku melewati tampat ini. dan melihat seperti yang aku lihat." ujarnya lagi menjelaskan kejadian tersebut.


'Begitu ya!! Lalu, bagaimana bisa waktu aku datang kemari, aku bisa melihatnya?' pikirnya merenungi lagi kejadian awal saat ia tiba di sini.


"Heem.. Mungkin saja yang Mulia sendiri yang telah menyembunyikannya dari pandangan umum." jelasnya menepis pikiran aneh, yang ada di pikirannya.


Paus tersebut mengangguk setuju, karena penjelasan temannya yang masuk akal. "Bisa jadi, begitu." jelasnya setuju.


*****


Sementara situasi di Mansion saat ini.. Tampak fajar sudah menyingsing, suara kicauan burung, terdengar di pagi hari yang cerah.


Para Prajurit, melakukan aktifitas mereka seperti biasa.. Latihan pagi yang di lakukan secara rutin setiap harinya.


Setelah selesai latihan, mereka semua membersihkan diri dan melakukan tugas berpatroli keliling area Mansion. Sedangkan sebagian pasukan cadangan, mereka masih sibuk berlatih berburu di tengah hutan.


Indra mereka di asah lebih tajam, agar lebih peka saat berada dalam pertarungan. Baik itu pertarungan jarak jauh maupun dekat. Rog, yang sudah berpengalaman pun, tetap giat melatih kemampuannya.


Ia tidak tinggi hati, dan terus menunjukkan prestasi dalam latihannya, membuat yang lain menaruh iri padanya yang seorang anak angkat Putri. Selain pintar dan mempunyai skill yang mumpuni, ia juga giat dan rajin.


Namun, untungnya.. Mereka tidak pernah bersikap dengki padanya. Mereka terus bersaing secara sehat, menjadikan rasa iri, sebagai motivasi diri untuk membuktikan bakat mereka secara alami.


Rog pun tampak sangat nyaman semenjak ia di angkat menjadi prajurit, meskipun itu hanya berada di posisi cadangan. Ia tidak perduli, baginya.. Berada di sini sudah membuatnya bersyukur dan merasa aman dari tekanan.


Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan, seorang Pria berteriak girang, hingga membuat burung-burung di dalam hutan kabur berhamburan.

__ADS_1


"Hei.. Kawan-Kawan, lihat, Hahaha... aku mendapatkannya lagi. aku berhasil membidik lima ekor rusa hutan, hanya dengan sekali serangan." ujarnya bangga, dengan keberhasilannya tersebut.


Sedangkan Rog, yang melihat itu tersenyum lega. lalu, ia mengalihkan kembali perhatiannya di tempat lain dengan fokus. Dan saat ia menarik busur panahnya.. Mengarahkan jauh ketengah hutan. Karena ia melihat sosok serigala hitam sedang menatapnya dari kejauhan.


Ia jadi tertantang untuk membidiknya, agar tepat mengenai dadanya. Ia mengunci pandangannya pada tubuh serigala hitam. Lalu.. Setelah merasa tepat, ia langsung melepaskan anak panahnya.


Namun yang terjadi malah sebaliknya.. bidikannya meleset, dari kejauhan tampak seringai serigala dalam hutan, seolah sedang menertawakannya.


Melihat reaksi Serigala tersebut, Rog bereaksi, matanya melebar dan bergumam dalam hati. 'Tidak mungkin, bagaimana bisa Serigala itu bisa menghindari bidikan ku??' pikirnya tak percaya. 'Reaksi diwajahnya itu! Apa mungkin aku salah lihat!?'


Rog Langsung berlari kencang menyelinap masuk kedalam hutan, lebih dalam lagi, sampai ia terpisah dari para kawanan. Sesampainya di dalam hutan tersebut, ia merasa ada kejanggalan yang membuatnya merasa ngeri.


'Apa-apaan ini.. Kenapa sekarang tempat ini, jadi di penuhi dengan banyak kabut tebal? Bukannya tadi udaranya sangat bersih!!' pikirnya aneh.


*****


Saat Zion sampai di Zona Mana, tampak Duke sedang duduk di meja bundar. Lannox tengah berbicara dengan Rabarus.


Saat mereka berdua lagi sibuk berbincang, tiba-tiba tampak kepala Zion muncul di balik pintu. Rabarus pun langsung berhenti berbicara dan melihat kehadiran Singa Putih itu!


Menyadari tatapan Rabarus, Lannox langsung menengok kebelakang, kearah mata Rabarus memandang.


"Kau?? Sedang apa kau disini?" tanya Lannox, dengan satu alis terangkat keatas.


"Heh.. Dasar Bocah tengik, kau bilang akan menjemput Putrimu! Tapi nyatanya kau bersantai di sini, bergosip seperti perempuan!!" ujar Zion tampak kesal, lalu menatap sekilas pada Rabarus yang hanya merespon dengan senyuman santainya.


"Cih, kau pasti Yang menyamar menjadi Pak Tua Rubah tadi bukan?" ujarnya memastikan, karena ia tidak melihat jejak Rubah tadi sama sekali.


"Haaa!! Jika itu bukan wujud aslimu? Lantas, apa wujud aslimu??" tanya Lannox bingung, begitupun Juga Zion, yang sedang menunggu jawaban keluar dari mulut Rabarus.


"Hem.. Hem.. Belum saatnya bagi kalian melihat wujud asliku!" ujarnya sambil tersenyum tipis.


"Cih! Jika cuma bikin orang penasaran, sebaiknya tidak usah kau katakan, membuang waktuku saja." ujar Zion jengah, lalu membuang pandangannya kearah lain.


Mengabaikan Rabarus, Lannox mengalihkan perhatiannya pada Zion. Lalu kembali bertanya padanya! tentang tujuan Zion ke Zona Mana.


"Lantas, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lannox, dengan satu alis terangkat keatas.


Zion melihat sekeliling, tidak di temukannya sosok Ravella, dan Para Spirit lain. "Aku datang ingin melihat Putriku, lalu dimana dia? Kenapa aku tidak melihatnya ada dimanapun!" tanyanya penasaran, lalu mengerutkan keningnya.


"Dia ada di dalam, sedang tertidur. Kalau yang lain, kau lihat saja keluar!" jelas Lannox, sambil menunjuk dengan tatapannya, memandang keluar jendela.


Zion mengalihkan perhatiannya keluar, tampak matanya melebar karena terkejut melihat lima telur raksasa sedang mengambang di udara.


"Se-sejak kapan mereka mulai berevolusi? Bahkan sampai Kakek ku, juga ikut-ikutan berevolusi..!!" ujar Zion, tak percaya dengan apa di lihatnya.


Rabarus dan Lannox memperhatikan kelima telur, dan bergumam menjawab pertanyaan Zion. "Itu, karena hati dan pikiran mereka telah menyatu. Jika salah satu dari mereka kesakitan, yang lain juga akan ikut merasakan hal yang sama." jelas Rabarus, sambil duduk menyilangkan tangannya.


Merasa tidak masuk akal, Zion mengangkat Satu alisnya! dan mengkritik apa yang di katakan Rabarus barusan. "Jika memang benar seperti yang Kakek katakan, Lantas, kenapa waktu Kekek Jura berevolusi.. Mereka tidak ikut berevolusi..! Bukankah mereka juga Spirit yang sama! Dan, hati dan pikiran mereka juga telah menyatu seperti yang lainnya." ujarnya kritis.


Belum Sempat Rabarus menjawab, tiba-tiba orang yang mereka bicarakan pun muncul di tengah mereka. "Hem.. Hem.. Itu karena aku sedikit berbeda dengan yang lain." jelasnya yang baru saja datang menghampiri mereka, dan duduk di depan meja bundar sambil menyilangkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Maksud Kakek?" tanya Zion belum mengerti, namun Jawaban Jura membuat Zion, malas untuk mengulik lebih dalam lagi.


Jura melihat sekilas kearah Zion, ia tersenyum tipis, dan bergumam lagi. "Jika kau begitu penasaran dan ingin tahu, tanyakan saja pada Kaisar Zando." ungkap Jura Santai.


"Cih, tahu begini lebih baik aku tidak bertanya apapun! Kakek sama Saja dengan Pak Tua Rubah." tegasnya mendengus kesal.


Setelahnya, suasana di dalam ruangan menjadi hening seketika, Zion kembali menatap Lannox, Dan berbicara padanya. "Hei kau bocah asam, seharusnya kau istirahat sekarang! Kau tahu sendiri bukan, waktu disini berbeda dengan dunia kita.


Kau harusnya menyimpan tenagamu untuk besok!"


"Eum! Apa maksudmu Pak Tua?" tanya Lannox, dengan alis terangkat sebelah.


"dasar lamban, maksudku! Kau istirahat sebentar sebelum fajar tiba. Karena nanti, selain membawa Putrimu, kau juga mempunyai tugas yang tak kalah pentingnya."


"Hem.. Bukankah aku sudah menyerahkan tugas tersebut pada kalian berdua? Berarti itu sudah menjadi tanggung jawab kalian berdua untuk menggali informasi. Jadi, selesaikan tugas kalian dan jangan ganggu aku lagi, karena aku sedang libur." jelasnya acuh.


"Dasar bocah keparat, seenaknya saja melepaskan tanggung jawabmu pada orang lain. Heeh.. Aku tidak mau, kalau begitu suruh saja Spirit kesayanganmu yang patuh itu, untuk menyelesaikannya." ujar Zion berlalu pergi mencari kaberadaan Ravella.


Lannox yang melihat sifat keras kepala Zion, mulai geram dengan tingkah Zion, yang sangat mirip dengan sifatnya.


"Cih, Sial! Setiap kali melihatnya seperti ini.. Aku jadi merasa seperti sedang berbicara dengan diriku sendiri." ujarnya sambil meringis kesal.


Rabarus dan Zion yang sejak tadi hanya diam memperhatikan perdebatan keduanya, hanya bisa tersenyum menyeringai.


"Wajar saja jika sifatnya sangat mirip denganmu! Karena secara tidak langsung, kalian berdua telah tumbuh bersama. Dan hubungan yang terjalin di antara kalian berdua jauh lebih erat, di bandingkan Spiritmu yang lain." jelas Jura, melihat kearah Lannox sekilas.


Lannox hanya menghela nafas panjang, dan melemaskan tubuhnya bersadar pada sandaran kursi yang ia duduki.


Tiba-tiba Rabarus yang semula tampak tenang, kini bereaksi saat melihat keretakan pada salah satu cangkang telur yang ada di langit.


Jura mengernyitkan kedua alisnya, saat melihat reaksi Rabarus yang tampak terkejut. Dan langsung berdiri dari kursinya lalu berjalan menghampiri jendela.


"Ada apa Pak Tua?" tanya Jura, yang heran melihat sikapnya.


"Salah satu dari anak-anak itu, hampir selesai. Aku akan memeriksanya sebenatar." jelasnya langsung melesat pergi secepat kilat.


Rabarus menghampiri Telur raksasa tersebut, dan telur itu adalah milik Roya. 'Heem.. Ternyata kau yang paling cepat di antara yang lainnya. Itu wajar saja.. Karena dia adalah Ras dari Burung Elang penguasa dari segala Burung.'


Rabarus mendekati cangkang telur Roya, tampak keretakan di tengah-tengahnya yang hampir manyatu.


'Heem, sepertinya tak lama lagi ia akan keluar!' pikirnya memperkirakan.


Setelah memeriksa telur tersebut, Rabarus kembali ke markas. Tampak Jura dan Zion sedang memperhatikannya dengan cemas.


"Ada apa? Kenapa kalian melihatku seperti itu??" tanya Rabarus pada keduanya.


"Hem.. Kau tanyakan saja pada anak ini." jelas Jura, menunjuk dengan matanya kearah Zion.


Rabarus menoleh kearah Zion, dengan ekspresi konyolnya. "Katakan saja apa yang ingin kau katakan!" ujarnya langsung menarik kursi dan duduk berseberangan berhadapan dengan keduanya.


"Kakek Tua, katakan yang jujur. Sebenarnya apa tujuanmu datang ke Mansion kami?" ujar Zion, dengan tatapan menyelidik seolah sedang mengintrogasi Rabarus.

__ADS_1


Rabarus menyeringai dan melemaskan tubuhnya, lalu bersandar pada sandaran kursi.. Dan menengok keatas "Haah.. Aku kira apa?" ucapnya sambil melihat ke langit-langit Ruangan yang telah di bangun Kaisar Zando, hanya dalam waktu satu menit.


__ADS_2