
Di istana Langit, setelah melihat ikan peliharaan Dewa, ia kembali mencari Sang Paduka. Dipertengahan jalan.. Ia teringat kembali percakapannya dengan saudara keduanya Renma.
(flashback) "omong-omong Paduka, sangat perhatian sekali dengan kedua ikan tersebut. Apa istimewanya dari ikan-ikan besar seperti mereka?" Ujarnya heran.
"Entahlah, menurut yang kutahu, beliau mempunyai kenangan tersendiri, dengan sepasang ikan tersebut!" Ujar Renma.. Menatap sepasang ikan yang sedang melompat indah di atas mereka.
Sepasang ikan yang dipelihara sejak kecil hingga, menjadi besar dengan ukuran yang tidak biasa.
"Apa maksudmu kak?" Tanya Garda Bingung.
"Tidak perlu dibahas, ada kalanya.. Tidak Tahu itu jauh lebih baik, daripada terlalu banyak ingin tahu. Karena kau akan Celaka, jika terlalu penasaran akan masalah yang bukan urusanmu." Gumamnya sambil menyeringai.
"cih, apa maksudnya itu..! Karena aku tidak tahu, makanya bertanya, biar tidak jadi masalah di belakang hari."
"masalah apanya.. Itu hanya ikan. Tidak perlu untuk dibahas, lebih baik kau lanjutkan tugasmu. Kudengar sebentar lagi beliau akan memasuki Aula Utama. Jadi, cepatlah kau bergegas, sebelum beliau Pergi lagi."
(masa sekarang) "heran, tinggal jawab saja kenapa? Apa susahnya sih." sambil jalan ia tenggelam dalam pikirannya. 'sebenarnya.. aku masih kepikiran tentang kunci tersebut. Bukankah beliau bisa pergi kemanapun, meski tanpa kunci ini. Tapi, aku baru tahu.. Jika kedunia spirit harus memakai kunci seperti ini. bahkan, waktu pergi kedunia Spirit saja, aku tidak ada menggunakan kunci tuh!
Aneh, tapi.. Kenapa sekarang bisa ada kunci. Apa benar ini kunci kedunia spirit??? Hmm.. Mencurigakan, apa Jangan-jangan sejak awal, beliau memang sengaja mengerjaiku!!!' pikiran Garda mulai dipenuhi berbagai spekulasi. Yang membuat Garda, hampir meragukan dirinya sendiri.
...*******...
Di Aula Utama.. Sang Paduka sedang duduk di singgasana miliknya. Ia mendengarkan dan menyimak, Laporan yang diberikan Garma dan Doma.
Garda masih menunggu di luar Aula, sambil menimbang antara melaporkan atau tidak. Tak lama.. Garma pun keluar, hanya meninggalkan Doma, dan Dewa, yang masih berbincang di dalam.
Saat Garma keluar melewati pintu, ia melihat Garda sedang duduk di tangga istana, Iapun turun menyapa Garda.
"hei.. Apa yang sedang kau lamunkan? Sampai seserius itu..!"
Garda tampak sedikit linglung, saat melihat Garma saudara pertamanya. Datang menghampirinya, Garma duduk disamping Garda.
"Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau linglung seperti itu." Ujarnya Cemas.
__ADS_1
'Perasaan, ini.. sudah kedua kalinya, ada yang melontarkan pertanyaan yang sama padaku!' ia pun mulai mengalihkan pembicaraan. "tidak apa-apa, Apa urusan kakak dengan Paduka, sudah selesai??"
"ya urusanku sudah selesai, jika kau benar tidak kenapa-napa.. masuklah kedalam, beliau sudah menunggumu sejak tadi. Kalau begitu, aku pamit dulu, masih ada pekerjaan lain, yang menungguku."
"Baiklah, aku akan segera kedalam." angguknya, sambil melihat punggung kakaknya, yang sudah beranjak pergi.
Tak lama Doma, saudara ketiga pun keluar, saat berpas-pasan dengan Garda, ia pun mengatakan hal yang sama.
"kau sudah disini, kebetulan sekali.. beliau baru saja memerintahkanku, untuk mencarimu. Beliau sudah menunggumu di dalam.. Cepatlah masuk."
"benarkah?" tanya Garda cemas.
"hmm.." Jawabnya dengan anggukan.
'Tumben sekali.. Beliau sampai menungguku!! Biasanya beliau akan langsung memanggilku, Jika ada yang beliau inginkan. Ada apa sebenarnya..?? Ia pun langsung bergegas berlari kedalam, dan memberi hormat. "Hormat hamba kepada Paduka, hamba datang untuk menghadap.
Memperhatikan Garda yang Tampak linglung, sang Paduka langsung mengeluarkan Suaranya.
"Baik Paduka." jawabnya pelan. namun, pikiran Garda dipenuhi dengan banyak tanya.
Dalam sekejap, keduanya pun sudah berpindah ketempat lain.
...****************...
...Di menara sihir, Raffael tengah duduk menghadiri ruang rapat,...
... dimeja Bundar....
...Rapat tersebut, di hadiri oleh sembilan orang. Ada delapan dewan sihir, dan yang paling termuda adalah Raffael , sekaligus menjabat sebagai ketua Dewan....
...Raffael duduk santai mendengarkan pergolakan dimeja bundar, sambil bertopang dagu, di atas kedua punggung tangannya. Ia memperhatikan, dan menyimak dalam diam, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Semuanya sibuk membahas tentang kebijakan baru, atas pembentukan penggabungan kota Valthoz, dangan Benua Barat....
...Selain itu.. Tidak hanya membahas masalah kenegaraan, Para Dewan, Juga sibuk membahas tentang kasus musiman, yang sedang marak terjadi, akhir-akhir ini. Dan salah satu dari dewan, yaitu Sanders Loman, Mencoba melaporkan apa yang terjadi....
__ADS_1
..."Baginda.. Memasuki penghujung tahun, Di perbatasan kota, telah terjadi lagi Praktek Sihir Terlarang, hingga menelan puluhan korban, dan kebanyakan korban yang berjatuhan, selalu saja anak-anak dan, hanya sedikit untuk yang Dewasa. saya sudah mengerahkan sepuluh tim Ekspedisi, untuk mencari dalang dari masalah ini. Akan tetapi.. alhasil yang kami dapatkan adalah nihil, Baginda....
...Bahkan, jejak mereka juga sudah menghilang begitu saja!! Banyak para orangtua mengeluhkan masalah ini. dan jika masalah ini terus berlanjut.. Lama-kelamaan, populasi di daerah perbatasan akan punah." Ujar Sanders melaporkan....
...Raffael diam menyimak, apa yang disampaikan oleh Sanders, sedangkan tujuh Dewan lain, juga ikut mendengarkan dengan fokus, Sambil menunggu giliran. Suasana di dalam ruangan tersebut, menjadi hening sesaat. tak lama.. Rhagel pun ikut mengutarakan pendapatnya....
..."Hmm.. Melihat bagaimana rumitnya kasus ini.. Setelah beberapa tahun berlalu, masih saja belum terpecahkan. Sehingga sulit menemukan jejak praktek yang mereka lakukan. Berarti para pelaku adalah Orang yang sangat lihai dan berpengalaman dalam masalah ini. Mereka bermain sangat bersih dan halus, sampai tidak ada jejak sihir apapun yang tersisa."...
...Rhagel lalu, melihat kearah Kaisar muda, yang hanya diam sejak tadi. Ia memberanikan diri bertanya, mewakili Para Dewan lain....
..."Baginda.. bukankah ini sesuatu yang harus kita selidiki lebih dalam lagi.. Lantas, apa jawaban anda, baginda?? jika tim Ekspedisi saja sering gagal menangani kasus ini. bukankah berarti, kita harus menurunkan tim lain.. Yang lebih mahir lagi soal sihir..!"...
...Raffael masih bungkam seribu bahasa, merenungi perihal yang dibicarakan bawahannya. Ia sangat geram, setelah mendengar laporan tersebut. Melihat Sang Kaisar tidak menjawab apapun, membuat suasana dalam ruangan tersebut. menjadi terdistorsi, dengan ekspresi Kaisar yang tampak dingin, dan berbahaya. Mereka faham betul, dengan sifat kaisar yang seperti ini....
...Melihat bagaimana ekspresi Kaisar, tidak ada satupun dari mereka yang berani berbicara. Setelah beberapa saat kemudian, suasana yang dingin kembali hangat. Namun, itu hanya sekejap....
..."hem.. hem.. Sudah berapa lama kasus ini berlangsung??" Ujarnya tenang....
..."Itu.. sudah tiga tahun Baginda."jawab Sanders mulai gelisah....
..."Dan setiap penghujung tahun, mereka akan memulai teror tersebut. Dan baru sekarang, kalian melaporkan kasus sepenting ini kepadaku!!" tanyanya, Dengan nada sedikit meninggi....
...Tampak Sanders mulai pucat, dengan pertanyaan dari sang kaisar....
..."heh.. Aku sengaja diam dan hanya duduk manis sejak tadi. Hanya Untuk melihat, bagaimana cara kalian menangani kasus ini. Mmm.. Tapi aku tidak menyangka, ternyata kalian tidak berguna."...
...Mendengar jawaban yang Raffael lontarkan, membuat semua yang ada ditu, terdiam membisu. Raffael bangun dari kursinya, dan melangkah pelan, mengelilingi Para Dewan....
..."sebelum ini, disetiap rapat yang kita lakukan.. Tidak pernah sedikit pun kalian membahas kasus ini. Heh.. Kalian selalu mengatakan jika keadaan di perbatasan aman-aman saja. Dan sekarang, setelah kalian tidak dapat mengatasinya.. Kalian baru mahu mengatakannya kepadaku!!" Ujarnya kesal....
..."Hehehe.. haruskah aku ganti posisi kalian, dengan Dewan yang Baru??"...
...Mendengar ucapan Sang Kaisar .. Para Dewan menjadi pucat tak bergeming sedikitpun. Kecuali Rhagel, ia tampak tenang. Ia memang sudah berniat, Sekalipun ia dikeluarkan dari Dewan, ia tetap tidak ambil peduli. Karena ia merasa, memang sudah sepantasnya ia meninggalkan jabatan tersebut....
__ADS_1