AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
KAU TIDAK PERLU MEMIKIRKAN SIAPA DAN KENAPA??


__ADS_3

"Yang Mulia.. Bukankah sebaiknya Singa Itu di biarkan mati saja! Karena saya takut jika dia lebih berbahaya dari Manusia itu!" ujar Si Monyet dengan cepat, mengutarakan kekhawatirannya tersebut.


Mendengar ucapan si Monyet, Rusa itu hanya tersenyum tipis. Si Monyet bingung dengan ekspresi Rusa tersebut, yang hanya merespon dengan senyuman atas ketidak setujuan si Monyet.


Rusa itu kembali fokus menatap Zion, ia mendekat dan menyebutkan sesuatu.


"(ANGIN BERHEMBUS, BUMI BERGETAR, AIR MENGALIR, API BERKOBAR. WAHAI JASAD YANG MASIH BELUM WAKTUNYA UNTUK PERGI. DENGAN IZIN DEWA AGUNG, AKU MEMERINTAHKANMU, MENYATULAH MENJADI UTUH SEPERTI SEDIA KALA.)"


Tak lama setelah Rusa itu menyeru dengan pelan, dan tubuh Zion perlahan terangkat keudara. Tanah, air, api, udara. Melayang menyatu dan menggulung tubuh Zion hingga tak terlihat oleh mata.


Semua Hewan Herbivora yang menyaksikan hal tersebut, di buat terkesima dan takjub, sekaligus takut. Dengan apa yang mereka pikirkan benar-benar akan terjadi, dan mengancam nyawa mereka.


Dan setelah beberapa menit kemudian, semua elemen alam telah menyatu dengan tubuh Zion. Perlahan tubuh Zion, kembali turun dan mendarat dengan lembut ketanah.


Tampak Zion masih belum sadar, semua hewan saling melirik dan bersembunyi di balik pohon. Kini perhatian Rusa besar itu kembali tertuju dan fokus kepada Jura.. Jura yang masih terbaring kaku, tubuhnya hampir membeku sepenuhnya.


Rusa itu kembali mendekatkan muncungnya kearah telinga Jura, dan berbisik pelan di telinganya.


"(WAHAI JIWA YANG SEDANG MENGEMBARA DAN KEBINGUNGAN, KINI SUDAH WAKTUNYA BAGIMU UNTUK KEMBALI. PULANGLAH, RAGAMU TELAH MENUNGGU.)"


Tak lama setelah Rusa itu berseru memanggil jiwa Jura yang entah dimana..! Kini perlahan-lahan mata Jura kembali terbuka paksa, dan nafasnya kembali terengah-engah, seolah-olah ia habis kembali dari berlari.


Hewan Herbivora yang melihat reaksi Jura, yang kini telah sadar. dan mereka dengan cepat berlari masuk kedalam rumah mereka. ada yang langsung memanjat pohon, ada yang masuk kedalam batang pohon. Dan ada juga yang kembali masuk kedalam lubang tanah.


Semuanya berlari ketakutan, sedangkan Jura langsung terbangun dari tidur panjangnya.. Ia terduduk dan mengatur nafasnya. Ia termenung sejenak, bingung dengan semua yang terjadi, sambil mencerna apakah ini mimpi atau nyata.


'Ada apa ini..? Bukannya aku sudah mati? Di mana ini?? Heh.. Suara air terjun, angin berhembus pelan, suara kicau burung! Bahkan langit cerah berawan.' Jura celingak-celinguk melihat kesekitarnya.


Dan tampak sosok putih bertanduk dan bercahaya sedang melihatnya.. "Kau....!" gumamnya dalam keterkejutannya.


Rusa itu mendekat dan duduk di depan Jura.. "Hem.. Akhirnya kau kembali sadar anak Muda."


"Dimana ini.. Bukankah aku sudah mati di tangan Dewa!!" tanya Jura, sambil melihat sekelilingnya. Sementara Ras Herbivora mengintai dari balik tempat persembunyian mereka..


"Ini adalah duniaku, dan kalian telah di kirim kemari, oleh bocah Rubah."


"Apa maksudmu Si Rubah Tua?" tanya Jura memastikan.


"Ohoho, ternyata itu adalah pangilannya ya, hahaha.. Ya, memang anak itu yang mengirim kalian kemari."

__ADS_1


"Kalian! siapa yang kau maksud?" tanya Jura, yang masih belum sadar dengan keberadaan Zion.


"Hem.. Lihatlah bocah yang sedang tertidur di sampingmu." ujarnya menunjuk Zion.


Jura mengikuti arah tatapan Sang Rusa tersebut, dan tampak sosok Zion menggeliat, seperti sedang bermimpi.


"Hah.. Jadi dia selamat! Haha.. Syukurlah. Terima kasih Sang Pertapa." ujar Jura terkejut, namun kembali merasa lega setelah melihat Zion, menggeliat sambil tidur.


"Hem.. Tidak perlu sungkan. Ini sudah menjadi tugasku." ujar Rusa tersenyum.


Jura bangkit berdiri.. Dan bertranformasi menjadi wujud Naga Hitam Putih besar. Ia berjalan menuju kedanau.. Lalu menyelam dan kembali muncul kepermukaan, ia langsung melompat terbang tinggi dan berubah menjadi lebih besar.


Para Herbivora yang melihat pemandangan mengerikan tersebut, segera bergumam membuat kehebohan di tengah hutan.


"Astaga.. Ternyata dia Raja Monster. Yang Mulia.. Cepat kabur! Berbahaya jika anda di sini. Karena dia akan menelan kita semua. Pekik Si Monyet dari atas pohon.. Ia berteriak heboh membuat para penghuni hutan berlari ketakutan.


Jura yang sedang terbang, melihat dari ketinggian pemandangan dari dunia asing, yang baru pertama kali ia lihat.


Saat ia mendengar kehebohan di antara penghuni hutan, yang sedang ketakutan. Jura segera turun, dan mengecilkan tubuhnya menjadi ukuran normal, yang sama besar dengan Sang Rusa.


Jura yang baru mendarat, langsung memuntahkan pertanyaan pada Sang Rusa Putih, yang kini tengah duduk memperhatikan kepanikan Para Penghuni hutan.


"Hmm.. Tenang saja. Mereka terlalu takut melihat wujudmu! Mereka mengira kau akan menelan mereka dan memakan ku hem.. hem..." ujar Si Rusa tersenyum, karena merasa lucu.


"Haah.. Aku kira kenapa? Ternyata cuma salah faham." ujar Jura menarik nafas lega, lalu ia melihat kearah Rusa tersebut dan bergumam. "bisakah kau memerintahkan mereka untuk keluar? Karena aku akan memperkenalkan diri, agar tidak terjadi salah faham." jelas Jura, yang di angguki Sang Rusa.


"Semuanya.. Cepat keluar. Kalian tidak perlu khawatir, dia tidak akan menyakiti kalian." ujar Si Rusa lantang.


Mendengar perintah Sang Rusa, Ras Herbivora mengintip dan perlahan-lahan mulai muncul keluar. satu-persatu maju menunjukkan diri.


Di mulai dengan Si Rakun, dan di susul Tupai dan di ikuti oleh yang lainnya. Mereka melangkah maju beramai-ramai, melihat Jura dari dekat.


Jura yang kini telah merubah ukuran tubuhnya sama besarnya dengan Sang Rusa.. Ia Duduk di samping Rusa, sambil meperhatikan satu-persatu wujud Para Penghuni hutan tersebut.


Setelah semuanya berkumpul, Baru Jura bersuara. Meski ia Adalah Ras dengan kasta Tertinggi, tapi Jura tetap rendah hati dan menyapa mereka dengan sopan.


"Perkenalkan, aku Jura. maaf jika kehadiran kami berdua telah membuat penghuni di sini merasa tidak nyaman. Namun kalian tidak perlu khawatir, karena aku tidak tertarik memakan kalian sedikitpun, hiiiiiy." ujarnya singkat.


Sang Rusa hanya tersenyum mendengar perkataan Jura, sedangkan hewan Herbivora saling menatap satu sama lain. Lalu.. Salah satu dari mereka maju kedepan, dan melontarkan pertanyaan.

__ADS_1


"Benarkah, jika anda tidak akan memakan kami, ataupun menghancurkan tempat ini? Apa anda bisa memegang kata-kata anda barusan." tanya Si Rakun dengan berani.. Sedangkan yang lain sedang menunggu jawaban Jura dengan serius.


Suasana di sekitar menjadi hening seketika.. Tak lama Jura pun tertawa, mendengar kepolosan Para Ras Herbivora tersebut. Dan kembali berujar.


"Hahahaha... Tenang saja, aku berjanji dengan kata-kataku. Kecuali..." Perkataan Jura terhenti, salah satu alisnya terangkat sebelah. Membuat para Herbivora bergidik ngeri menunggu kelanjutan ucapan Jura.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hmm.. Kau sama saja seperti Jura. Tetaplah tenang bocah, kau sedang di awasi sekarang.' ujar Sang Dewa Zando, memperingatkan Rabarus.


'Ah! I-ia, haha.. Habisnya karena terlalu senang mendengar suara Paduka, hamba hampir saja melupakan keberadaannya. Kalau hamba boleh tahu, siapa sebenarnya Dewa itu, Paduka?' tanya Rabarus bersemangat.


Dewa Zando diam sejenak.. Setelah beberapa saat kemudian, suara beratnya kembali terdengar di pikiran Rabarus. Namun, ucapanya kali ini membuat Rabarus bergidik ngeri.


'Hem.. Kau tidak perlu memikirkan Siapa Dan Kenapa?? Tugasmu hanyalah melindungi Permaisuriku, dan semua yang ia sayangi.


Eum.. Dan ini juga adalah ujian pertama untukmu, dariku! Jika kau ingin aku akui, maka tunjukkan kesungguhanmu padaku bocah.


Tapi...., jika kau gagal melindungi Permaisuri ku, dan semua yang ia sayangi...! Maka bersiaplah, Aku akan mengembalikanmu seperti semula. Dan akan aku cabut keistimewaanmu.


Ah, satu lagi.. sudah waktunya bagimu untuk mulai serius menghadapi lawanmu. Dan jika kau berhasil menyelesaikan ujian kali ini..! Hem.. Hem.. Bersiaplah menerima hadiah dariku.' Jelas Dewa Zando ambigu.


'Ba-baik Paduka. A-akan hamba usahakan.' ujar Rabarus nampak gemetar.. Satu sisi perkataan Dewa Zando seperti ancaman. Dan sebagian seperti angin segar di musim panas.


'Ini.. Mengerikan, aku tidak mau kembali menjadi diriku yang dulu. Dan aku tidak ingin kehilangan keistimewaan yang telah beliau berikan padaku! Hem.. Aku juga ingin di akui oleh Paduka.


Kalau begitu tidak ada cara lain, aku harus membuktikan kesungguhanku kepada Beliau. Daripada harus kalah dan gagal, meskipun nyawa taruhannya.. Lebih baik mati saat bertempur.' tekad Rabarus kini sudah bulat, ia pun mulai serius.


Dewa yang sejak tadi mengawasi dan mengamatinya.. Kini tertawa senang. Ketika melihat Rabarus menatapnya dengan nyalang.


"Hahahahahah... Ternyata sejak tadi kau memang telah menyadari keberadaan ku ya..! Haah.. Bisa-bisanya aku mengira kau terlalu naif. Rupanya aku telah tertipu olehmu ya. Heum, Bocah yang menarik..!" ucap Dewa tersebut, menyeringai saat melihat reaksi Rabarus.


'Pantas saja ada perasaan tidak nyaman, saat melihatnya! Kalau begitu.. Sudah cukup bermainnya.' pikirnya kini mulai serius.


Dewa itu pun langsung memetikkan Jarinya.. Dan dalam waktu yang sekejap. Badai tanah menelan tubuh Rabarus.


Rabarus yang terkejut tidak sempat menghindar, karena kakinya seakan di tarik kedalam Tanah secara paksa. 'Celaka, ini bahaya.' pikirnya dan dengan sekuat tenaga ia berontak, namun usahanya sia-sia.


Melihat tanah telah kembali tenang.. Dewa itu pun menyeringai dan berbalik pergi meninggalkan Rabarus yang telah tenggelam kedalam tanah. Namun, baru saja ia berbalik tiba-tiba ia di kejutkan dengan pemandangan yang tidak biasa.

__ADS_1


__ADS_2