AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
BERSIAPLAH SIR ROLAND


__ADS_3

Aku ingin melihatmu.." Jawab Zion tegas.


'Ada apa dengan pria ini.. Apa dia sudah gila?' Pikirnya mengerutkan kening. "Jika hanya omong kosong yang ingin kau bicarakan, sebaiknya aku kembali."


Singa hitam itupun berpaling memunggungi Zion, dan melangkah pergi untuk kembali masuk kedalam Gua. Melihat ia mengabaikan Zion, akhirnya Zion pun berseru, yang membuat Singa hitam tersebut berteriak marah.


"Jika kau memaksa pergi, jangan salahkan aku karena akan aku hancurkan tempat yang menyembunyikanmu dari pendanganku."


Mendengar keseriusan Dari perkataan Zion, Singa betina tersebut menghentikan langkah kakinya.. Dan kembali menatap Zion dengan nyalang.


"Apa kau sudah gila....!! Bukankah kau sendiri yang telah memberiku izin untuk tinggal di tempat ini. Dan sekarang, kau ingin menghancurkan tempat ini begitu saja hanya karena aku mengusirmu??? omong kosong apa ini..!!!" Ujarnya Galak.


'Hem..Hem.. Ia sangat lucu saat marah. Aku jadi semakin ingin menjahilinya.' Pikir Zion dalam hati, sambil menyeringai Membuat Singa Hitam tersebut, jadi merinding melihat ekspresi Zion.


"Ya.. Seperti yang kau katakan, aku memang gila. Karena itu menurutlah, maka aku akan memperlakukanmu dengan baik. Karena aku tidak sesabar yang kau kira."


'Pria sialan ini, kenapa auranya jadi mendominasi..! Sebenarnya apa yang dia inginkan dariku. Baru dua kali pertemuan, tetapi dia sudah berani bersikap memerintahku! Jika aku membantahnya, ia pasti akan menghancurkan tempat ini.. Jika sampai itu terjadi, kemana lagi aku harus bersembunyi??' Pikirnya sedang menimbang.


"Bagaimana jika aku tetap menolak!!"


"Kalau begitu.. Jangan salahkan aku, karena aku akan melebur gua itu."


"Cih, tidak bisakah kau memberiku kesempatan untuk berpikir?" Tanyanya mengulurkan waktu.


"Tidak, aku mahu jawabanmu sekarang." Ujarnya tegas.


'Sial.. Dia benar-benar tidak bisa di ajak bicara.' Keluhnya. "Cih, baiklah aku akan menurutimu." Ujarnya sambil memalingkan muka kearah lain.


"Hem.. Hem.. Kau membuat keputusan yang bagus. Karena aku memang tidak suka bertele-tele dalam bertindak."


"Aku tidak bertanya tuh!" Ujar Singa betina Ketus.


'Siaaal, dia sangat menggemaskan.' Ujar Zion, menggeram dalam hati.


"Lalu.. Apa yang kau ingin bicarakan?" Tanya Singa Hitam ketus.


"Mmm.. Ayo kita jalan-jalan daripada kau menghabiskan waktumu di dalam gua, bukankah lebih baik menikmati keindahan dunia luar!!"


Mendengar perkataan Zion, Singa Hitam tampak sedikit sedih, ia berseru dengan nada kecewa. Dia kemudian duduk di depan Zion, sambil berseru.


"Bagaimana bisa aku menikmati dunia luar.. Jika keberadaanku selalu diburu. Justru aku merasa tidak aman saat berada di luar, Jika tidak untuk apa aku harus repot-repot mencari tempat persembunyian."


Mendengar kata-katanya.. Zion jadi merasa bersalah. Tapi juga penasaran.. Siapa yang ingin memburunya? dan untuk apa ia sampai bersembunyi di dalam hutan terlarang.


"Bolehkah aku tahu, kenapa kau sampai di buru?" Tanya Zion, berhati-hati tanpa ada maksud menyinggung.

__ADS_1


"Haah.. Ini sangat memalukan untuk di ceritakan."


"Kenapa?"


"Karena aku belum terlalu percaya padamu!"


Singa Betina berbicara sambil menyeringai, melirik kearah Zion. Mendengar itu, Zion juga tidak ingin memaksa.


'Sangat wajar jika dia bersikap waspada terhadapku, karena kami baru dua kali bertemu. Kalau begitu.. Aku akan menunggu sampai ia sendiri yang mahu berbicara kepadaku.' Pikir Zion bijak. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu, Kau mempunyai hak untuk tidak bercerita kepada siapapun. Tapi, akan aku buktikan dengan caraku, aku berbeda dengan mereka yang pernah kau temui."


Mendengar Zion berbicara dengan percaya diri.. Singa Hitam tertawa.


"Hahahaha.. Kau tidak perlu membuktikannya, karena aku tidak butuh pembuktianmu. Yang kubutuhkan hanyalah ketenangan, jadi, jika kau tidak menggangguku itu sudah cukup bagiku. Haah.. Baiklah, tampaknya hari sudah mulai sore, sebaiknya kau kembali."


Ujar Singa hitam sambil. Melihat ke langit. lalu ia bangkit berdiri.. Dan ingin beranjak pergi meninggalkan Zion.


"Tunggu.."


"Haah.. Apa lagi? Apa sekarang kau mahu membunuhku!!"


"B..bukan seperti itu! Hanya saja.. Aku akan berkunjung lagi besok."


"Haa..., apa kau begitu banyak waktu luang, sampai tidak punya kesibukan lain selain menggangguku? Sudahlah, jangan buang waktumu, hanya untuk berbicara denganku."


"Terserah apa katamu, yang jelas.. Saat aku datang kau harus keluar. Dan jangan menghindariku, aku tidak suka."


Zion tersentak, dia memang tidak punyak hak mengaturnya.. Tapi itu dilakukan agar dia bisa berduaan dengannya.


"Terserah aku, pokoknya aku akan datang lagi nanti, jadi jangan menghindariku. Saat aku memanggilmu kau harus keluar, jika tidak.."


"Ya.. Ya.. Kau akan menghancurkan tempat ini bukan." Ujarnya berjalan memunggungi Zion.


Mendengar Kata-kata Singa Betina, wajah Zion jadi memerah malu, namun ia berpura-pura tenang, dengan nada memerintah.


"Ya.. Baguslah kalau kau tahu, jadi saat aku datang lagi memanggilmu. Kau harus keluar.. Apa kau dengar?"


"Ya.. Seperti keinginanmu Tuan." Ujarnya dari jauh sambil menyeringai.


"Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu."


Zion mengatakannya dengan lancar, meski kenyataannya hati berkebalikan dengan mulutnya. Wajahnya sudah memerah, jantungnya berpacu tidak karuan.


'Cih, apa yang terjadi dengannya.. Kenapa dia suka sekali memaksa. Apa karena dia dibesarkan dengan manja!! Ah entahlah, sebaiknya aku sambung lagi semediku.'


Zion kembali dengan wajah memerah, sedangkan Singa Hitam kembali memasuki Gua, dan melanjutkan semedinya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain.. Putri Ravella, dan yang lainnya berjalan menyusuri hutan. Tampak pemandangan yang tidak normal, berkeliaran bebas memenuhi hutan.


"Tempat apa ini..! Aku belum pernah melihat hutan yang seperti ini selama di Mansion." Ujar Roland memperhatikan keadaan sekitar.


"Pu..Putri, tempat ini kelihatannya berbahaya. Apa sebaiknya kita kembali saja ke mansion.."


'Aku lihat Reni dan Marri, tampak sangat ketakutan dan khawatir.. Mereka terus berjalan berdekatan denganku seolah takut kehilanganku. Sedangkan para pengawal lain, berjalan sambil mengelilingi kami, seakan mengerti dengan katakutan Reni dan Marri. Mereka sepeprti perisai.. Pelindung yang takut aku kenapa-napa.'


"Komandan.. Hutan apa ini? Aku tidak tahu jika di dekat mansion ada hutan seperti ini??" Tanya Jay yang juga takjub melihat pemandangan tersebut.


Hutan yang mereka masuki.. bukanlah hutan biasa yang ada di wilayah kekuasaan Duke. Di mana semua pohon Raksasa menjulang tinggi hingga menyentuh awan, bunga-bunga tidak normal yang ukurannya jauh lebih besar dari manusia.


Gapi yang mempunyai ingsting tajam merasakan bahaya datang mendekat, tiba-tiba ia tampak serius dan langsung melompat dari pelukan Ravella, ia berlari kedepan seolah ingin melindungi.


"Gggrrrrr.... Ggggrrrr..."


Yang lain kaget melihat reaksi Gapi yang tiba-tiba melocat, dan berlari berdiri di depan Roland, dengan sayap yang sedikit menguncup. Lalu ia menggeram melihat kedepan.. Sambil memerintah pengawal.


"Semuanya.. Lindungi Dewi...!"


Roland terkejut mendengar perintah Gapi, seolah ia menyadari bahaya yang akan datang mendekat. Melihat reaksi Gapi, Roland pun berseru pada yang lain.


Semunya.. Apa kalian tidak dengar apa yang baru saja anak ini katakan, Lindungi Yang Mulia Putri....!!!!" Teriaknya lantang.


Para pengawal yang mendengarkan perintah sang komandan, lagsung bergerak cepat, dan bersiaga sambil memegang pedang, Sedangkan Roland berdiri di sisi Gapi.


"Hei bocah Bayi Naga.. Ada apa sebenarnya??"


"Aku punya nama.. Dan namaku Gapi."Ujarnya galak.


"Ah.. Ba..baiklah Gapi, kalau begitu Katakan padaku, Musuh seperti apa yang datang mendekat, apakah monster?" Tanya Roland.


"Ggggrrrrr... Gggrrr.... Seratus meter di depan kita, ada pergerakan yang sangat aneh, di lihat dari auranya.. Seperti aura membunuh yang sangat kuat dan berbahaya."


"Gapi.. Kemarilah, katakan ada apa?" Tanya Ravella khawatir melihat Gapi pergi menjauh dari pelukannya.


Tatapan tajam Gapi.. Terus fokus mengarah kedepan. Mendengar suara Dewi kesayangannya sangat mengkhawatirkannya.. Gapi pun berseru.


"Dewi.. Bukankah aku sudah bilang, aku akan melindungimu. Jadi tetaplah di sana.." Ujarnya keras kepala.


'Sejak kapan bayiku jadi seperti ini..! Apa dia tidak sadar dia masih bayi.. bahkan, melawan Monters tingkat rendah saja dia belum tentu bisa.' Pikir Ravella, yang masih menganggap Gapi seekor bayi yang tidak bisa apa-apa.


'Apa dia ingin membuktikan kepadaku, jika dia juga bisa di andalkan..!'

__ADS_1


"Ggggrrrr... Ggggrrrr... Lima puluh meter.. Bersiaplah Sir Roland, sepertinya musuh semakin mendekat." Ujarnya menatap tajam.


__ADS_2