
'baginda kelihatannya, sangat menyayangi beliau, dan mempercayainya.'
"kalau anak itu yang pergi.. dia pasti akan cepat menyadari. ada yang salah, tentang wabah ini..?"
"apa maksud baginda..?"
"hmm.. ya seperti memancing di air yang keruh."
"berarti maksud baginda, wabah ini terjadi bukan murni karena hukum alam, tapi karena campur tangan manusia, berarti ada yang mencari keuntungan dari kasus wabah ini...?"
kaisar meletakkan kedua tangannya diatas meja dengan kedua punggung tangannya yang disilang.
"lalu, menurut baginda.. siapa pelaku sebenarnya? hingga tega melakukan semua ini, sampai memakan begitu banyak korban?"
"karena itulah, aku mengirim anak itu kesana..! untuk mencari tahu jawabnya."
"semoga saja, beliau bisa memecahkan masalah ini."
"tenang saja.. anak itu tidak pernah mengecewakanku, ya.. meskipun dia suka membangkang perintahku. hem..!"
'kaisar tersenyum? ya.. beliau memang tidak pernah mengecewakan, setiap misi yang diberikan, selalu dilakukannya dengan membawa hasil kemenangan. tidak heran, jika baginda menaruh harapan tinggi pada duke lannox.'
diistana timur, sang pangeran sedang resah berjalan putar balik ditempat.
"mengapa sulit sekali.. mencari tahu keadaannya. bahkan orang yang aku kirim! selalu pulang tidak membawa hasil. si duke sialan itu, semenjak penjagaan mantionnya diperketat, orang-orangku jadi semakin sulit untuk masuk. jika begini.. aku tidak punya cara lain, jika cara ini tidak bisa, bukankah aku harus bermain terang-terangan."
dipuncak menara, rafael sedang berdiri santai memandang danau yang ada dibawah kastilnya, satu tangan kirinya dilipat kebelakang, sementara satu tangan lagi terentang menyala tampak kubus kecil sedang melayang diatas telapak tangannya, ia memanggil lima pasukan siluman yang sedang berada dalam perjalanan.
"muri.." tiba-tiba saja kubus biru menyala muncul ditengah-tengah prajurit siluman.
(muri) "ini dari baginda. ya baginda..!"
"formasi penjagaan telah berubah."
(muri) "apa.. kalau begitu, apa yang harus kami lakukan..?"
"hmm.. karena sudah terlanjur, apa boleh buat. berikan saja sedikit pelajaran, apa kalian sanggup?"
(muri) "baik baginda, akan kami usahakan."
dan kubus biru itupun, menghilang dari pandangan.
"hem.. ini sedikit sambutan kecil, mari kita cari tahu! apa mereka terpancing..? kuharap mereka memakan umpannya."
Rafael tersenyum licik, sementara itu, pasukan gagak sudah berpencar. prajurid dibuat heboh, karena tidak menemukan jejak musuh, dan dua kesatria telah tiba dikerajaan.
setelah mendapatkan izin raja, dua wizardpun di kirim untuk membantu prajurit, dan mereka segera berangkat melalui sihir teleportasi agar lebih cepat.
"kemana mereka pergi.. cepat cari, mereka pasti masih ada disekitar sini."
para kesatria berpencar mencari kesekitar. tak lama, yang ditunggupun telah tiba. tampak sosok pria berambut putih sebahu mengenakan jubah hitam.
(lukas) "apa yang telah terjadi..!"
(Mike) "ah tuan lukas, anda datang tepat waktu. kami telah kehilangan jejak lima orang musuh."
lukas melihat keatas.
(lukas) "apa mereka melalui jalur atas?"
(mike) "benar tuan."
lukas menyentuh pohon pinus dengan kelima jarinya, dan matanya sedikit menyipit, lalu merapal mantra.
"(rammarez ozias)" keluar asap hitam dan menyebar disetiap pohon, tampak jejak kaki yang menyala.
(lukas) "ikuti jejak itu."
(mike) "baik tuan lukas, semuanya.. berpencar, ikuti asap hitam."
disetiap pohon tampak jejak kaki yang menyala, asap hitam terus menyebar.
(lukas) "sudah dekat, sepertinya disini cuma ada satu orang."
ditempat lain.
(empat) "celaka, apa aku ketahuan? baga...!"
tiba-tiba saja, seseorang wanita berjubah abu-abu gelap, dan mengenakan topeng harimau, membekap mulut pria berjubah merah.
"sssssshhhhhttt, tenanglah jangan berisik."
pria itu mengangguk, prajurit masih mencari dan berjalan di bawah pohon, menyerusuri semak-semak. namun, mereka hanya menemukan jejak kaki itu, hanya sampai di situ.
"apa ini..! apa jejaknya hanya sampai di sini..? tapi ini bukan pohon terkhir,,"
"ini aneh, kita harus melaporkannya pada tuan mike."
"tapi tempat ini tidak boleh ditinggal, aku yakin musuh pasti masih berada disekitar sini, karena jejaknya berhenti hanya sampai dipohon ini."
__ADS_1
"berarti salah sat.... bug.. bug.."
dalam sekejap wanita itu memukul kedua prajurit, dan melemparnya diantara semak-semak, ia mengibaskan tangannya seolah-olah sedang kotor.
"sudah aman, ayo kita pergi ketempat yang lainnya berada."
(empat) "anda siapa?"
"aku dikirim baginda, untuk membantumu."
(empat) "baginda...! dan anda seorang wanita?"
"hmm.. jangan menilai sesuatu dari luarnya saja."
wanita yang memakai topeng harimau itu, melihat pria berjubah merah dengan tatapan dingin, sementara sang pria mencoba mengalihkan pandangannya, dengan mengalihkan pembicaraan.
(empat) "apa kau cuma sendiri saja?"
"yang lainnya sedang menuju kekordinat lain, tempat temanmu berada."
(empat) "syukurlah, kalau begitu ayo.. kami sudah berjanji akan bertemu disuatu tempat, aku rasa temanku pasti sudah berada disana."
merekapun pergi, namun kali ini, tidak melalui jalur pohon, melainkan mamakai sihir teleportasi.
asap hitam terus mencari sisa-sisa jejak kaki yang tertinggal.
"bwussshh..."
"puk..."
"tenanglah kita bukan musuh, kami utusan baginda."
pria itu melepaskan tangannya dari bahu si tiga, pria dengan nama tiga itu, kemudian dengan cepat berbalik badan, dan yang dilihatnya sosok pria tinggi bertubuh besar, pria itu mengenakan topeng rubah.
(tiga) "kalau begitu, ayo ikuti aku. kami sudah berjanji bertemu disatu tempat."
"tidak, kita akan pergi melalui sihir teleportasi, karena jejakmu sudah dilacak oleh wizard."
(tiga) "apa? berarti temanku juga...!"
"tenang saja, yang lainnya mungkin sudah berada bersama temanmu. ayo kita ketempat mereka"
tiga menggangguk, dan pergi mengikuti pria bertopeng rubah.
dikota dakus.
"aku kembalikan lagi tubuhmu, untuk sementara, aku akan tinggal di sisimu. karena misi ini, masih belum selesai."
'lannox terkejut melihatnya, ini.. jangan-jangan ini yang dimaksudkan zion, saat dia bertanya apa aku memakai cincin. tapi kenapa aku tidak menyadarinya?'
"apa ini bentuk aslimu..?"
"hmm mungkin."
"kau sangat keren, pemilikmu pasti bukan orang sembarangan bukan."
"terimakasih pujianmu, tapi kau tidak perlu tahu, tugasku hanyalah membantumu."
"cih.. kau masih saja keras kepala, tidak ingin memberi tahunya?"
'hmm.. apa yang akan terjadi jika aku menghancurkannya..? apakah pemiliknya akan keluar!'
"buang pikiranmu itu jauh-jauh anak muda, karena kau tidak akan bisa melakukannya?"
"apa kau yakin..? bahkan Sekarang aku bisa menghancurkanmu..!"
"kalau tidak percaya kau bisa mencobanya, aku ini bukan cincin sembarangan, tidak ada yang bisa mengatasiku, kecuali pemilikku."
"mengatasi.. apa maksudmu kau bukan sekedar cincin biasa?"
"kau tidak bisa menjebakku, dasar bocah licik."
"cih, kau mengetahuinya..! ini tidak asik.. padahal kau hampir saja menceritakan dirimu."
"aku tahu semua yang ada dipikiranmu itu, bahkan yang terbesit dihatimu."
"heh.. sombong sekali kau, lannox menyeringai licik. ia mengepalkan tangannya, dan keluar aura merah dari kepalan tangannya, aura itu kemudian berubah menjadi api.. lannox mencoba untuk menghancurkan cincin itu dan membuatnya menyerah. agar memohon kepadanya, tapi yang terjadi malah sebaliknya."
"apa kau mengancamku bocah? hem apimu bukanlah apa-apa bagiku."
api lannox dalam sekejap menghilang dari tangannya, kekuatannya seakan terkuras oleh cincin itu.
"ini.. dia menyerap kekuatanku..! hah baiklah hentikan, aku menyerah! aku tidak akan memaksamu lagi, kembalikan kekuatanku."
"baru segitu saja kau sudah menyerah..!" dilihatnya wajah lannox yang sangat kesal, baiklah akan aku kembalikan."
'anak ini.. auranya type dominan, ia lebih cocok menjadi seorang raja.'
"bocah.."
__ADS_1
"hem.."
"apa kau tidak berkeinginan menjadi seorang kaisar?"
"aku tidak tertarik."
"hmm.. begitu ya."
merekapun saling terdiam. tak lama, pusaran angin kecil muncul dihadapan lannox.
"hormat kepada yang mulia."
"katakan apa yang kau dapat?"
"seperti kecurigaan yang mulia, wabah ini tidak normal!"
"apa maksudmu?"
"wabah ini ada campur tangan manusia, sebenarnya penyakit ini tidak menular
namun, ada campur tangan sihir hitam, yang membuat orang yang mengalaminya menjadi menderita luka semakin parah, karena penyiksaan secara perlahan dari dalam. dan, akan mengeluarkan darah hitam dimata mereka."
"pantas saja ini tidak bisa diobati oleh dokter biasa."
"ya, dan lagi.. jika si penderita dibiarkan selama satu jam tanpa penanganan yang tepat, si korban akan lebih menderita kesakitan lagi dan mati. karena, alat vital didalam tubuh korban, akan hancur melebur dan mencair."
"berarti, sihir ini hanya menambah rasa sakit sipenderitanya, dan menyiksanya dari dalam secara brutal, sungguh sihir yang mengerikan."
"lalu.. bagaimana dengan para korban? apakah masih ada yang tersisa..!"
"saya sudah mengumpulkan mereka disuatu tempat yang mulia, tinggal menunggu penanganan anda"
"baiklah, bisakah kau temukan dalang dari masalah ini?"
"itu yang ingin saya bicarakan dengan anda yang mulia."
ditempat pasien, para dokter merasa lega situasi ini bisa diselesaikan hanya dengan memberi minum air yang diberikan sang duke.
"sir roland.. apakah duke seorang pendeta suci?"
"ha..., apa maksud anda dokter anna?"
"yah, saya heran saja, beliau bisa menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan para dokter, bahkan dokter kerajaan saja sudah menyerah dengan penyakit para pasien."
"heh.. itulah yang mulia kami, dia sangat hebat. apalagi tuan pu.." roland tersadar 'ah tidak hampir saja aku mengatakannya'
"apa, ada apa?"
"tidak, saya harus pergi, masih ada tugas lain, saya tinggal dulu dokter."
"ah baiklah, terimakasih bantuannya sir roland."
iapun pergi, dokter anna melihat punggung lebar itu semakin menjauh.
'sebenarnya apa yang ingin dikatakannya tadi...?'
dimantion gapi yang sedang bosan.
"sebenarnya kapan dewi bangun paman?"
"entahlah"
"paman, kenapa aku tidak melihat, paman dan yang lainnya! kemana mereka semua?"
"tidak tahu, mereka tidak mengatakannya padaku." ujar zion berbohong
"hem.. ini sangat membosankan, kalau begitu.. aku akan pergi mencari buruan untuk makan malam, aku akan kembali lagi nanti, aku pergi dulu paman."
"ya pergilah."
naga merah itu menaiki jendela yang terbuka lebar, ia mengibaskan sayapnya dan langsung pergi.
"hmm sebenarnya sampai kapan para kakek sesepuh akan mematung seperti itu..! apa mereka sedang dihukum? haah.. sayang sekali, aku tidak sempat bertanya apapun pada kakek kaisar."
"apa maksudmu argus..?"
"masalah wabah ini ada sangkut pautnya dengan para orsi gelap."
"apa kau bilang..! orsi..?" lannox berpikir sejenak. 'hem.. bukannya akhir-akhir ini mereka terlihat sangat diam? ternyata ini hasil kediaman mereka, mereka berhenti menyelidiki arnold, tapi malah ikutan andil dalam masalah wabah.'
"lalu apa keputusan yang mulia?"
'pantas saja si ular tua itu mengirimku kesini, karena dia sudah menaruh curiga sejak awal! dan dia tidak bisa memecahkan kasus ini, jadi dia mengirimku kemari.'
"argus, kau kembalilah kekota vala. lindungi para korban yang masih hidup, kalau melihat situasi sepertinya, mereka memang sengaja mengincar para penduduk, dan mengorbankan banyak nyawa yang tidak bersalah! tepatnya pembasmian secara masal. mereka pasti punya tujuan lain? aku akan segera kesana setelah menyelesaikan masalah disini."
"baik yang mulia, ah satu lagi.. yang mulia, apakah kaki tangan para orsi harus dibunuh? karena saya sempat melihat mereka sedang bermain kejar-kejaran dengan para korban."
"heeh tidak, justru kau harus menangkap mereka hidup-hidup, untuk sementara kurung mereka, dipenjara hampa."
__ADS_1
"baik yang mulia, jika begitu.. saya pamit dulu."
"hem, ini semakin menarik."