
Satu jam sebelumnya...
"Apa Maksud Kakek? Apa Kakek juga merasakan hal yang sama sepertiku??" Tanya Ravella terkejut, setelah mendengar ucapan Zion.
Sedangkan Argus dan Gapi, malah bingung melihat reaksi keduanya. Zion, menghela nafas, mendengar apa yang ia rasakan, juga dirasakan oleh Ravella. Ia tidak menyangka, jika perasaan yang sejak tadi membuatnya gelisah, kini juga berdampak pada Putri kecilnya.
Bahkan, itu lebih parah dari yang ia rasakan. 'Jangan-jangan ini benar-benar ada sangkut pautnya dengan Kakek!! Apa mungkin karena mereka telah menjalin kontrak? Jadi secara tidak langsung, perasaan mereka saling terhubung, membuat mereka bisa saling merasakan apa yang terjadi. Seperti aku dan juga Master.' pikirnya mencerna kembali.
"Benar Nak! Sejak tadi, entah kenapa? perasaanku terus gelisah, tidak menentu. Aku merasakan firasat buruk seolah sedang terjadi. Aku juga telah mencari sumber akar permasalahan dari ke gelisahanku.. Tapi entah kenapa?
Aku tidak menemukan apapun yang bisa membuat hatiku tenang!" ujarnya merenung kembali. ia merasa heran! karena kegelisahan di hatinya, masih belum mereda hingga saat ini.
"Jadi karena itu, kau pergi dengan tergesa-gesa, Senior?" ujar Argus, menanyakan kepergian Zion, tadi.
"Ya, semakin aku diam, semakin aku tidak tenang." ujarnya, ia menghampiri lalu duduk di samping Putri kesayanganya. "Jadi Nak, perasaan apa yang telah membuatmu bersedih, hingga mengeluarkan air mata?" tanya Zion, sambil mengelus pipi Ravella, dengan hidung besarnya.
Ravella tersenyum, dengan tingkah Zion, karena Zion sangat memanjakannya. Ia mengelus wajah Zion, Sambil berbicara menatap hampa pada rumput.
"Aku merasakan perasaan pedih yang amat mendalam, sangat menyayat hati. Hingga rasanya aku ingin mati.. Hatiku sakit, sesak, dan perih. Mungkin ini adalah perasaan Para Kakek saat ini.
Apalagi aku sudah lama tidak melihat mereka.. Aku akan menemui mereka sekarang. Hanya dengan begitu, kegelisahan di hatiku akan terjawab." ujarnya semangat.
"Kalau begitu.. aku akan ikut denganmu, Nak!" ujar Zion, dengan cepat.
"Aku juga ikut." ucap Gapi, yang tak mau kalah.
"Kalau begitu, jangan tinggalkan aku..!" celetuk Argus cepat.
Mendengar ucapan Argus, Zion sangat tidak suka. Dan dengan ketusnya menjawab.
"Haah.. Kau! Untuk apa kau pergi, kau sebaiknya tinggal saja di sini, Dan jaga Mansion ini." jawab Zion cepat, karena ia tahu percuma Argus ikut. karena ia juga tidak tahu, kemana tujuan Ravella.
"Kau tidak punya hak melarangku Senior, kecuali Putri sendiri yang menginginkannya." jawab Argus cepat, sambil menatap tajam atas ketidak sukaannya pada Zion. Yang melarangnya untuk ikut.
"Cih, tentu saja aku berhak, karena dia Putriku." Decih Zion, menegaskan pernyataannya atas haknya.
"Haah.. Kau saja yang mengaku-ngaku jadi orang Tuanya, yang jelas dia bukan Putrimu, tapi Putri Master. Pokoknya aku tidak peduli, selama bukan Putri sendiri yang melarangku pergi, aku akan tetap ikut." ujar Argus keras kepala dan tak mahu kalah.
Revella yang melihat pertengkaran antar kedua Spirit ayahnya itu, saling berebut hanya untuk ikut. Membuatnya tersenyum geli, sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kekanan, kedua Spirit Ayahnya.
'Hem.. Aku memang belum pernah membawa Argus, ke Zona Mana. Jika aku hanya Membawa Kakek dan Gapi, sama saja aku bersikap tidak adil. Haruskah aku membawanya..! Karena selama ini, selain Kakek Zion, Argus juga berperan penting menjagaku. Dan selalu setia menemaniku kemanapun, saat Para Kakek tidak ada disisi ku.
Tidak hanya Kakek Zion, ia juga selalu peka dan protektif terhadapku.
Mereka berdualah yang selam ini selalu melindungiku. Di saat Para Kakek dan Ayah, tidak ada di sisiku. Jika aku pergi begitu saja dengan Kakek Zion.. Aku jadi merasa tidak enak hati pada Pria lucu ini. Hem.. Sebaiknya apa yang harus kulakukan?' pikir Ravella, sedang menimbang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya Jura dan Rabarus di Istana Langit.. Rabarus langsung mengikuti Jura, karena Jura lebih mengenal Garda di bandingkan dirinya yang hanya beberapa kali bertemu.
Dan itupun mereka tidak pernah saling menyapa, meski pernah bertatap muka. Jura pergi mencari Garda, di tempat biasa ia sering bersantai.. Dari kejauhan tampak sosok Garda, sedang duduk di jembatan. Sambil memberi makan Ikan peliharaan Sang Paduka.
Menyadari ada kehadiran yang tidak asing, Garda langsung menoleh dan menyapa dengan senyuman saat ia melihat kehadiran Jura, yang sudah lama tidak bertemu dengannya. Melihat keramahan yang sudah lama tidak ia lihat, Jura langsung menyapa Garda.
"Lama tidak bertemu Pak Tua! Sepertinya banyak yang telah berubah padamu..!" ujar Jura, menghampiri Pria bertubuh biru tersebut. Yang kini sedang bersandar pada pagar jembatan putih keemasan.
"Kau juga Nak, aku sudah mendengar dari Paduka, tentang kedatanganmu kemari." ujar Garda menepuk bahu Jura.
"Benarkah! Oh.. iya, kenalkan beliau adalah Ayahnya Tama, dan juga Guruku." ujar Jura menunjuk Rabarus.
"Hai.. Aku sering melihatmu, namun kita belum berkenalan dengan benar. Aku Rabarus."
"Garda, senang berkenalan denganmu." ujarnya tersenyum tipis.
"Omong-omong, apa yang terjadi padamu dan Dewi? Mengapa hanya Dewi sendiri yang kembali tanpa dirimu?" tanya Jura tentang Ravella, yang pergi bersama Garda. Meski ia sudah tahu karena Ravella sudah menceritakan semuanya. Akan tetapi.. ia hanya ingin tahu, alasan apa yang membuat Garda, pergi begitu saja dan tidak pernah kembali.
Mendengar ucapan Jura, senyuman yang tadinya merekah, kini menghilang dari wajahnya. Tampak raut penyesalan muncul di permukaan wajah tampannya. Ia pun menceritakan semua yang terjadi.
"Lalu.. apa kau tidak ingin bertemu dengan beliau? Karena Dewi sangat mengkhawatirkan keadaanmu, Pak Tua. Apalagi sejak kejadian hari itu, kau tidak pernah kembali lagi ataupun memberi kabar! Beliau sangat mencemaskan keadaanmu, ia sempat mengurung diri. Dan menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi padamu."
__ADS_1
"Benarkah...? Ini tidak ada hubungannya dengan Dewi. sepenuhnya adalah kesalahanku. Aku menyesal telah melibatkan beliau ke dalam masalah. Sebenarnya setelah kembali dari masa hukuman, Aku sangat ingin bertemu dengan beliau, menjelaskan apa yang terjadi.
Akan tetapi.. Sejak kejadian itu! Paduka tidak pernah lagi mengutusku untuk bertemu dengan Dewi, ataupun melihat kalian." ujarnya muram.
"Haah.. Maaf, Jika begitu aku pun tidak bisa membantumu, Pak Tua." mendengar jawaban Garda, Jura hanya mampu menghela nafas.
Sedangkan Rabarus, sejak tadi hanya diam mendengarkan, ia tidak ingin ikut campur atas perbincangan keduanya.
'Jadi seperti itu, pasti telah terjadi sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan masalah tersebut. Hingga membuat Paduka marah dan melarangnya, untuk bertemu lagi dengan Permaisuri kecil.' pikirnya sambil menelaah ucapan Garda.
Disela obrolan mereka, tak lama sosok Ikan besar yang sejak tadi hanya mendengarkan obrolan keduanya.. Tiba-tiba mengeluarkan suara.
"Hei, Rubah Api. Lama tidak melihatmu? Bagaimana kabar Dewi? Dan apakah kau sudah menyampaikan pesanku??"
Suara Ikan tersebut, mengalihkan perhatian ketiga Pria yang sedang asyik bicara santai. Jura tampak terkejut, dengan pendengarannya tersebut, karena Jura baru tahu jika Ikan besar tersebut, bisa berbicara. Ia pikir selama ini Ikan tersebut hanyalah Ikan hiasan biasa.
"Egh.. Oh, kau Ikan yang waktu itu ya! Hehe.. Tentu saja sudah, beliau justru penasaran dan sangat ingin bertemu denganmu." ujar Garda, yang sempat lupa dengan Ikan tersebut.
"Oh, benarkah! sayang sekali aku tidak bisa menemuinya." ujarnya dengan raut sedih.
Garda yang merasa heran dengan perbualan keduanya, langsung berceletuk pada si Ikan tersebut.
"Hei.. Ikan Gemuk, jangan membuat masalah. Memangnya apa yang kau katakan pada Dewi haa? Jika Paduka sampai tahu akan masalah ini, kau bisa mendapat hukuman dari beliau." ujar Garda memperingatkan.
"Aku hanya rindu dengan Dewi, jadi sebaiknya jaga mulutmu. kau enak.. Bisa bertemu dan bertatap muka langsung dengannya, Tidak seperti aku." keluhnya kesal.
"Cih, jika rindu, padahal kau hanya tinggal mengatakannya saja pada Paduka. Beliau pasti akan mengizinkanmu untuk bertemu dengan Dewi. meskipun itu hanya dalam mimpi hahahaha..." gumam Garda, sambari bersedekap tangan.
"Haah.. Mudah kepalamu, Bagaimana caranya aku bertemu! Aku bahkan tidak bisa berubah wujud seperti kalian." sambungnya kesal, dan kembali menyelam ke dasar, dengan raut sedih.
Merasa tersinggung dengan perkataan Garda, Sang Ikan pun merajuk, dan membenamkan diri kedalam kolam.
"Kau kejam sekali, Pak Tua. lihatlah.. dia pasti tersinggung dengan perkataanmu." ujar Jura membuat Garda, merasa bersalah.
"Heh.. S-sebenarnya aku tidak bermaksud seperti itu." ujar Garda, sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. ia melihat kearah kolam, lalu berbicara kembali. "Hei maafkan aku jika aku menyinggungmu! Aku akan kembali lagi nanti.. Kalian berdua, ayo kita ke Istana."
"Hem." Jura langsung mengangguk, dan mengikuti Garda.
Setelah kepergian ketiga Pria tersebut.. Ikan itupun kembali mengintai kepermukaan, melihat punggung ketiganya yang kini telah menjauh.
'Cih, jika aku bisa, aku sudah pasti akan keluar dari tempat ini, dan langsung menemui Dewi. Kudengar beliau mempunyai peliharaan baru yang selalu dekat dengannya.
Haah.. Aku sangat iri, padahal dulu aku adalah peliharaannya, Dewi selalu memperhatikanku! Tapi sekarang sudah berbeda.' pikirnya kembali menenggelamkan diri ke dasar, karena sedih.
...****************...
Mendengar Nama Garda disebutkan.. Kelima Spirit bereaksi dan saling beradu pandangan. Namun mereka tidak berani menanyakan hal tersebut pada Sang Kaisar. di karenakan Sikap dan wajah Kaisar yang tampak dingin dan tidak bersahabat.
"Tuk.. Tuk.. Tuk.." Kaisar mengetuk lengan kursi, sembari memperhatikan kelima Spirit, yang kini tampak tak bergeming sedikitpun dari tempat mereka berdiri. semenjak kepergian Jura, dan Rabarus.
Kaisar, telah mengetahui isi hati pikiran mereka berlima, yang sedang mempertanyakan status Garda. Ia sengaja tidak membahas hal tersebut, karena memang ia tidak menginginkannya. Setelah lama diam dalam keheningan.. Beberapa saat kemudian, Kaisar kembali mengeluarkan suara beratnya.
"Dengar anak-anak, kalian tidak perlu merasa kecewa dan malu dengan kekalahan yang sering kalian alami. Itu sangat wajar, dan sering terjadi dalam setiap perjalan hidup. melihat usia kalian yang sangat muda, masih banyak waktu untuk mengasah kemampuan kalian.
Teruslah berusaha, dan jangan pernah menyerah dengan nasib buruk yang terkadang datang tanpa pemberitahuan. Setiap perjalanan pasti ada rintangan dan butuh proses panjang, agar bisa bertumbuh dan berkembang.
Layaknya pepohonan! Dibutuhkan banyak hari dan tahun, agar mereka bisa beproses menjadi kokoh dan memberi manfaat pada setiap mahluk hidup.
Namun, kekohan tersebut juga mempunyai batas kelemahan. Mereka juga bisa hancur kapan saja, dan berakhir dalam keadaan apa saja.
Intinya.. Apa yang baru saja kalian alami bisa saja terjadi di kemudian hari. Jadi, yang ingin kusampaikan.. Latihan kalian saat ini, masih belum cukup membuat kalian menjadi kuat. Bagiku, kalian bahkan masih belum sanggup melawan Para Prajurit Langit tingkat lima.
Karena kalian terlalu berfokus hanya pada serangan dan kekuatan, apa kalian tidak pernah belajar dari kegagalan yang kalian alami selama ini?? Kalian terlalu congkak dan percaya diri. hingga menganggap musuh kalian lawan yang mudah.
Terutama kau Zaku.. Begitupun dengan kalian berdua. Jika aku yang menjadi musuh kalian..! maka aku akan melenyapkan Spirit seperti kalian lebih dulu.
Zaku, Tama, dan Roya, Langsung tersentak. Hati ketiganya sesak saat mendengar perkataan Sang Kaisar. Yang begitu tajam dan menusuk. Namun, teguran itu membuat ketiganya semakin takut dan ngeri. Karena cara Kaisar berbicara kali ini sangat dingin. sangat berbeda jauh dari biasanya yang selalu tampak tenang dan ramah.
Meski ia bicara dengan nada tenang, dan terkadang tampak lembut.. Kali ini, Kaisar benar-benar jauh berbeda. Tampak raut kekecewaan saat ia melihat Zaku, Tama, dan Roya. yang masih belum berubah sedikitpun.
__ADS_1
Semuanya tak ada yang berani menyela maupun membantah ucapan Sang Kaisar, apalagi ucapan Kaisar dipenuhi dengan kemarahan yang mendistorsi dan dingin. Keempat hewan Mana Beast, belum pernah melihat Sang Kaisar, menegur mereka seserius saat ini.
Biasanya Sang Kaisar, lebih sering berbicara santai. Terkadang ia juga bisa diajak bersenda gurau dengan Para Spirit. Agar tak ada jarak yang membuat mereka merasa canggung padanya, hanya karena dia seorang Kaisar.
"Rupanya aku terlalu memanjakan kalian. Tuk.. Tuk.. Tuk.. Aku akan melupakan masalah ini, dan akan membahasnya lagi nanti. Sekarang sembunyikan aura kalian, karena kita kedatangan tamu.
mendengar ucapan Kaisar Zando, semuanya saling menoleh. dan penasaran dengan siapa Tamu yang dimaksud oleh Kaisar!
Tak lama, nampak kemunculan sosok Permaisuri kecil kesayangannya, bersama Zion, Gapi, dan juga Argus. yang kini sedang memasuki gerbang. Melihat itu, Kelima Spirit yang sedang dalam Wujud Mana Beast, langsung tersenyum, karena senang melihat kehadiran penyelamat mereka.
Ravella yang melihat sosok Naga Emas yang kini tengah duduk di atas singgasana miliknya, segera berlari memeluk Naga Emas tersebut. Wajah Kaisar Zando, yang tadinya dingin. kini berubah menjadi hangat karena kehadiran Permaisuri kecilnya.
Zion, dan Gapi, langsung memberi Hormat pada Sang Kaisar, kecuali Argus. Melihat tingkah Argus, kelima Spirit lain mulai tampak tidak senang. Tapi teguran dari Sang Kaisar, membuat mereka berhenti dan terdiam.
"Hormat Pada Kakek Kaisar." ujar Zion diikuti Gapi.
Kaisar tersenyum melihat keduanya, sementara Argus, menatap heran pada Gapi, Dan Zion. yang tampak sangat menghormati sosok Naga Emas tersebut.
"........" Saga.
"........" Gira
'Cih, bagaimana bisa bocah itu masuk kemari..? Dia benar-benar tidak sopan.' ujar Roya, kesal.
'Sepertinya bocah itu memanfaatkan Putri kecil kita, agar bisa masuk kemari. Dia harus diberi pelaja..' ucapan Tama, langsung di potong Zaku..
'Tidak, biarkan aku saja yang memberinya pelaja..' ucapan Zaku, terhenti saat mendengar perintah Kaisar.
'Hentikan, karena Dewi yang telah membawanya.. Jadi dia adalah Tamu sekarang.' ujarnya menahan ketiga Spirit tersebut.
Berbeda dengan Argus, Argus justru merasa ngeri saat melihat sosok Sang Kaisar yang tampak mencolok dan berwibawa. Meski ia menunjukkan sikap tenang, namun tidak dengan hatinya.
'Aku tidak menyangka Dewi ternyata mempunyai tempat persembunyian seperti ini..! tunggu..
Kenapa banyak Hewan Mana Beast di sini..? Kelihatannya, level mereka berada jauh di atas Senior. Aku harus berhati-hati, sedikit saja aku membuat kesalahan aku bisa celaka.
Dan diantara mereka, kelihatannya yang paling berbahaya sekali, adalah sosok Naga Emas yang tampak sangat mencolok itu! Tapi, kenapa Senior Dan Bocah Naga itu, sangat menghormatinya! dan juga memanggilnya dengan sebutan Kaisar??
Jangan-jangan dia adalah pemimpin dari segala Spirit..! Dan lagi.. kelihatannya Dewi juga terlihat sangat akrab dengan Sosok Naga Emas tersebut.
Siapa mereka sebenarnya? Tidak mungkin.., Jangan bilang mereka semua adalah Spirit Sang Dewi..!!' pikirnya lagi, yang hanya bisa di dengar oleh Sang Kaisar sendiri.
Benak Argus, dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan. yang membuat dirinya sendiri bingung! apakah harus takjub, atau merasa ngeri.
Setelah Ravella melepaskan pelukannya pada Kaisar Zando. ia segera menghampiri kelima Spirit yang sangat ia khawatirkan itu.
"Kakek... Bagaimana keadaan kalian? tiba-tiba aku merasakan perasaan yang menyakitkan. Apa sebenarnya yang terjadi? apa kalian baik-baik saja??" desak Ravella pada kelima Spirit yang saat ini merasa bersalah saat melihat wajah polos Master mereka.
"Egh, Hehe.. Anda tidak perlu khawatir Nak Dewi. Lihatlah, kami semua baik-baik saja. benarkan kawan-kawan?" Ujar Zaku tertawa, sembari melihat keempat temannya.
"Kakek, jangan berbohong! kau tidak bisa menipu kami, apalagi kau adalah Spiritnya Dewi. bahkan tidak hanya Dewi, aku juga bisa merasakannya. Jawab yang jujur Kek! apa sebenarnya yang telah terjadi padamu? hingga membuat kami gelisah." desak Zion menegur Kakeknya, dengan tatapan tajam.
'A-apa.. Ka-kek.., Spirit.., pantas saja ukurannya terlihat jauh lebih besar dari Senior.
Aku tidak menyangka, Kakek Senior adalah Spirit Dewi..! jika dipikirkan lagi, ini benar-benar tidak normal. bagaimana bisa seorang anak kecil memiliki Raja Spirit! apalagi jika itu tidak hanya satu.
Namun, jika ditelaah kembali.. tidak ada yang tidak mungkin jika Itu adalah Dewi. karena beliau adalah anak dalam Ramalan.
Ternyata, terlalu banyak hal yang masih belum aku tahu tentang Dewi. setiap hal tentangnya selalu saja menakjubkan.' pikir Argus yang tak hentinya, menganggumi sosok kecil tersebut.
Sementara Zaku, yang mendengar ocehan cucunya tersebut. membuat Zaku menjadi tidak enak hati, begitupun dengan keempat temannya yang merasa bersalah. mereka lupa sejenak, apa yang telah mereka alami tadi.. ternyata juga berdampak pada Masternya.
'Sial, apa yang harus aku katakan pada kedua anak ini..? kenapa di antara yang lain, mereka berdua hanya mendesakku!' pikir Zaku, kelabakan dengan tatapan keduanya.
Melihat temannya yang kesulitan, gira dengan cepat memberikan pembelaan.
"Kau tidak perlu khawatir Dewi.. bocah ini baik-baik saja. ia bahkan sangat sehat dan bisa menghancurkan apapun di sekitarnya. hihi..." ujar Gira sambil menyeringai, dan melirik penuh arti pada Zaku.
'Haa.. sial, di satu sisi, dia memang membantuku. tapi disisi lain, bocah ular ini malah sedang meledekku. Awas saja kau nanti..' pikir Zaku kesal, karena secara tidak langsung Gira, sedang menertawakan temannya tersebut.
__ADS_1
Tidak hanya Gira, bahkan seringai geli, terlihat jelas di wajah ketiga Spirit lainnya. kecuali Kaisar Zando, yang hanya diam mengamati.