AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
APA KAU INGIN MENEMUINYA?


__ADS_3

Di saat yang lain sedang sibuk mengkhawatirkan Sang Dewi kecil, sementara Raffael sedang menunggu di ruang tamu, sudah hampir satu jam ia menunggu, namun ,orang yang ditunggu belum juga muncul menampakkan wajahnya. Belum lagi Ia dan Razak, juga merasakan hal yang sama seperti yang lainnya.


Tampak Razak sudah tidak sabar ingin menggebrak tempat tersebut, karena ia juga merasa terpacu dengan Aroma Dari Sang Dewi.


"Bersabarlah Razak, aku ingin menunjukkan citra yang baik pada Calon Pengantinku."


Mendengar perkataan Sang Master, Razak tampak kecewa. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan Masternya itu.


'Baiklah jika itu yang anda inginkan Baginda.. Namun jika anda berubah pikiran, segera katakan pada saya!'


Raffael hanya menyeringai mendengar perkataan Spirit kesayangannya itu. Lalu ia duduk merenung, mengingat kembali kegagalannya.


'Aku sudah pernah gagal dua kali.. Dan kali ini aku tidak akan memakai cara kekerasan lagi. Aku akan mencoba bersabar, meskipun memakan waktu lama.


Namun seandainya cara ini juga gagal..!! Tidak ada cara lain, aku akan menggunakan kartu AS ku. Untuk sekarang nikmati saja Prosesnya dulu.. Meskipun Dewi Kecil itu masih bersikap dingin padaku.' Pikirnya dalam hati.


***


Di tempat lain.. Lukas yang sedang berada di luar Istana. Ia menyamar dan berjalan dalam diam mengenakan pakaian seorang pelayan, yang hendak membeli keperluan stok makanan untuk Istana.


Lukas melihat sekeliling.. Setelah merasa aman, ia menarik nafas lega.. Karena penyamarannya tidak ketahuan. Bahkan sahabatnya sendiri juga tidak mengenalinya! Ia menaiki kereta khusus yang digunakan untuk membawa stok barang pangan.


'Haah.. Syukurlah, tidak sia-sia aku mengubah wujudku dengan sihir. Aku mengambil secarik kertas, yang di kirimkan oleh guruku Julius.'


"(DATANGLAH KETEMPAT BIASA, AKU AKAN MENUNGGUMU.


SEBAIKNYA KAU BERGERAK CEPAT, KARENA WAKTUKU JUGA TIDAK BANYAK..


KAU TAHU BUKAN! GURUMU INI SEKARANG SUDAH MENJADI BURONAN KEKAISARAN, JADI AKU SEMAKIN SIBUK MENYELAMATKAN DIRI.


GURUMU JULIUS.)"


Tak lama surat itu terbakar, Lukas menghapus bukti tersebut. Ia bergumam dalam hati sambil melihat kelangit cerah.. udara dingin menyeruak masuk menembus kulit. Untungnya dia seorang Wizard, jadinya Lukas bisa menghangatkan tubuhnya dengan sihir.


'Cih.. Tidak hanya kau yang di buru Guru, posisi kami juga sedang tidak aman sekarang, karena pergerakan kami juga sedang di awasi. Jadi kami tidak bisa bergerak bebas sepertimu, karena Kaisar yang sekarang terlalu berbahaya untuk dihadapi dengan hanya kami bertiga.


Meski ia masih terlihat sangat muda, tapi ia sangat pintar dalam menekan musuhnya dn memanfaatkan mereka. aku masih mengingat betapa tidak berdayanya kami bertiga, saat berhadapan dengannya. Meski di satu sisi.. negara ini akan banyak perubahan jika berada di tangannya.


Karena Kaisar terkenal sangat peduli dengan Rakyatnya, dan hal itu tampak bagaimana cara dia memperlakukan para bangsawan penjilat, namun berbeda saat ia berhadapan dengan Rakyatnya. Ia akan bersikap sangat lembut, dan memperlakukan mereka dengan sangat baik dan adil.'


...****************...


Argus tampak sudah siap untuk bertarung.. Ia menyeringai dan tampak tidak mengelak dengan apa yang sudah di katakan Zion padanya. Sedangkan Duke yang terlihat bingung menoleh kearah tatapan Zion, ia melihat kebelakang, nampak sosok Argus sedang menunduk hormat kepadanya. Argus juga tampak sudah mempersiapkan diri, untuk menerima kemarahan Sang Master kalau-kalau Sang Master menghukumnya.

__ADS_1


"Apa maksudmu Zion?" tanyanya dengan alis mengkerut, dan mata menyipit.


Zion yang baru saja ingin menjawab pertanyaan Sang Master.. Tiba-tiba di hentikan oleh Jura. karena Jura yang sudah memperhatikan perubahan sikapnya sejak tadi, yang seolah ingin menerkam Argus. Dan tak lama terdengar suara Jura, berbicara dengannya menembusi pikiran.


'Zion.. Hentikan sikap kekanakanmu itu. Amarahmu bisa memicu yang lainnya untuk saling bertarung! Tenanglah Nak, ini bukan situasi yang tepat untuk membahas masalah itu di sini.'


Zion terkejut, karena Jura bisa memasuki pikirannya dan berbicara dengannya! Bahkan, Ia merasakan sentuhan Jura di punggungnya.. Padahal Jura terlihat sedang duduk di sofa bersama dengan yang lain.. Dan sedang memperhatikannya!


'Gila! Ba-bagaimana bisa Kakek melakukannya..? Ah tidak, lupakan dulu soal itu. Tapi Kek, aku tidak suka melihatnya menatap Putriku..!!' Ujarnya kesal, karena telah menganggap Ravella seperti Putrinya sendiri.


Tidak hanya Lannox, Zion juga bersikap sangat protektif terhadap Ravella, Hanya saja ia tidak pernah menunjukkannya secara jelas.


'Aku mengerti dengan perasaanmu Nak! Untuk itu tenanglah.. Jika kau memaksa mengikuti Egomu! Yang ada.. Bukannya membantu, kau malah akan semakin memperkeruh keadaan.' ujar Jura, menepuk punggung berbulu Sang Singa muda itu.


Menanggapi nasehat Jura yang ada benarnya.., Zion menarik nafas panjang lalu berujar kepada Sang Master. "Cih, lupakan apa yang baru saja aku katakan, aku melakukannya karena aku membencinya, tidak ada alasan lain." ujar Zion kepada Lannox dengan enggan, lalu ia melihat kearah Ravella.


Ravella melihat tatapan Zion, tampak sedang menahan Amarahnya! Dengan mata Dewinya itu, bahkan ia bisa melihat sosok Jura Ada Dua. Namun, hanya dia yang bisa melihatnya, sedangkan Zion hanya bisa merasakan sentuhannya.


Menyadari tatapan Dewi kecilnya itu, Jura tersenyum lembut dan meletakkan Jari telunjuknya di atas kedua bibirnya, agar Ravella kerahasiakan hal tersebut. 'Ssshhhhhtttt...'


Ravella balas tersenyum, dan mengangguk. Jura kembali masuk ketubuhnya.. Setelah melihat Jura kembali ketubuhnya, Ravella melihat kearah Sang Ayah, Lalu berujar pada Ayahnya.. yang tampak tidak ingin melepaskan pelukannya dari putrinya.


"Ayah.. Turunkan Ravel."


"Hem.. Hem.. Ayah juga akan tahu." ujarnya beranjak turun dari pelukan Sang Ayah.


Ravella lalu melepaskan pelukan Ayahnya.. Dan menuju kearah Zion, dan di perhatikan oleh yang lain.


Jay yang sejak tadi memperhatikan suasana tegang yang ada di dalam Ruanngan itu, juga ikut terpana sekaligus terpesona dengan sosok Lady kecilnya.


kesayangan semua Penghuni Mansion. Namun, ia juga tidak memungkiri sejak tadi tubuhnya berkeringat dingin, kakinya gemetar melihat Amukan Zion pada Argus.


'Ada apa dengan Yang Mulia Zion! Mengapa ia tampak sangat marah dengan Yang Mulia Argus?' pikirnya bingung.


Sedangkan Zion, yang menyadari kehadiran Dewi yang sudah di anggapnya Putrinya sendiri itu.. Zion memaksakan diri untuk tersenyum kepada Putri kesayangannya itu.


Ravella menyentuh kepala Zion, untuk menengkan Singa Muda Itu! Zion menutup matanya merasa seperti ada transfer Energi yang tak terlihat, masuk kedalam dirinya.. Meski ia tidak tahu itu apa?


'Haah.. Ini sangat menenangkan.' ujar Zion bergumam dalam hati.


Sementara Argus tampak tidak suka melihat keakraban keduanya.. Timbul rasa iri yang membuatnya semakin berambisi untuk memiliki Sang Putri. Dan ia juga baru menyadari, akan keberadaan empat Pria Asing yang sedang duduk di sofa.


'Siapa mereka? Sepertinya aku pernah melihat mereka! Tapi dimana ya..??' Pikirnya Merasa Dejavu.

__ADS_1


Ketiga Spirit dan Garda merasa lega, saat melihat Emosi Zion bisa di dinginkan, hanya dengan sentuhan Ravella. Meski Jura berhasil menenangkannya, namun ia tidak berhasil membuat emosi Zion mereda.


''Apa kakek sudah tenang?'' Ravella berbisik di telinga Zion, membuat Zion tersenyum padanya.


'Tentu saja Nak, perasaan ini benar-benar nyaman sekali.'


"syukurlah.." Ravella tersenyum, padanya lalu kembali kepada Sang Ayah.


"Ayah.. Sebenarnya apa yang ingin Ayah bicarakan padaku tadi?" tanya Ravella penasaran.


Lannox kembali teringat, jika ada tamu yang sedang menunggu, dan ingin bertemu dengan Putrinya.


'Haruskah aku memberitahunya..!' Pikirnya sambil mengetuk meja dengan Jarinya.


"Ayah... Apa Ayah mendengarku?"


Lannox melihat mata Putrinya masih tetap sama dan tidak menghilang, lalu ia mengangkat Putrinya.. Dan mendudukkannya di atas meja.


"Putriku.. Apa kau bisa menghilangkan warna matamu yang mencolok itu?" tanyanya sambil menangkup kedua pipi Putrinya, Yang masih belum sadar dengan perubahan matanya sendiri.


"Apa maksud Ayah?? Kenapa dengan warna mataku!" tanya Ravella bingung.


"Jay.. Ambilkan cermin."


"Baik Yang Mulia." Jay berjalan mengambil Cermin.


Beberapa saat kemudian, Jay kembali membawa Cermin dan memberikannya kepada Duke.


"Apa kau lihat sekarang Nak, warna matamu memang sangat indah. Akan tetapi lebih indah lagi jika kau mengembalikan warna matamu itu, seperti milik Ayah. Ayah lebih menyukai warna matamu yang sebelumnya." ujar Duke, beralasan.


"Ravel juga tidak tahu Ayah.. Bagaimana ini bisa terjadi!"


Lannox mencoba mengingat jika perubahan itu terjadi, disaat Putrinya sedang Sedih dan terlihat cemberut.


"Kau harus memikirkan yang membahagiakan Sayang, heum.. contohnya hal yang paling kau sukai..!"


Ravella mendengarkan perkataan Ayahnya, dan mencoba memejamkan matanya. Ia mengingat kembali momen indah saat bersama sang Ayah, dan Para Spirit miliknya.


Dan saat ia membuka mata.. tampak kelegaan dimata Lannox, karena mata Putrinya telah kembali seperti biasa, Ia lantas memeluk Putrinya itu dengan rasa syukur.


Begitupun dengan Para Spirit yang merasa Lega, karena bahaya yang mereka takutkan akhirnya bisa teratasi dengan mudah.


"Haah Syukurlah Nak, Sayang sebenarnya yang ingin Ayah katakan padamu! Itu tentang kedatangan tamu jauh, ia bilang sudah membuat janji padamu, dan memaksa ingin menemuimu. dan orang itu sekarang ada di ruang tamu, Ayah menahannya di sana.. Karena ingin tahu kebenarannya darimu. Bagaimana, apa kau ingin menemuinya?"

__ADS_1


__ADS_2