AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
LINDUNGI AKU!!


__ADS_3

Argus mencari Tuannya diruang kerja Duke, melihat Lannox tidak datang hari ini.. Membuat Argus merasa kecewa.


'tumben sekali beliau tidak bekerja hari ini!! Hah.. Padahal, aku mempunyai hal penting yang harus aku bicarakan kepada beliau. Mmm.. Dimana beliau sekarang? Haruskah aku mencarinya!!' saat Argus, sedang berdiri dalam ruangan kosong memikirkan keberadaan Tuannya, ia sampai tidak sadar kehadiran Zion.


Zionpun muncul, namun dengan ekspresi yang sangat kesal dan kecewa. Karena.. Tidak menemukan orang yang ia cari, malah bertemu dengan seseorang yang tidak ia suka.


"cih, sedang apa kau disini? Dimana bocah itu! Mengapa malah kau yang ada di ruangan ini?!!"


"oh, ternyata kau si kucing galak! Mmm.. Bagaimana ya.!!" ia berpikir sambil mengalihkan matanya kearah lain, yang membuat Zion makin jengkel saat melihat reaksinya.


"cepat katakan, jangan bertele-tele sialan!!"


"Entahlah, aku juga tidak tau beliau dimana. Kebetulan sekali, aku juga sedang mencari beliau sekarang. Tapi, yang kutemukan.. Hanyalah ruangan kosong, dan kehadiran kucing galak." ujar Argus sambil tersenyum sinis.


"heh.. Buang-buang waktu saja berbicara denganmu." ujar Zion, sambil melirik kearahnya sekilas, Lalu berlalu pergi meninggalkannya.


"hei.. Tunggu dulu Kucing Galak, bukankah kau juga ingin mencari beliau? Jadi, sebaiknya ayo kita pergi mencari bersama! Karena aku juga ada keperluan penting dengan Yang Mulia."


"tidak usah, aku bisa mencarinya sendiri." jawabnya ketus, lalu menghilang.


"hah.. dia galak sekali? Kenapa setiap bertemu denganku, dia selalu seperti itu, Padahal kita ini sama-sama spirit milik Yang Mulia!! Ya.. Meskipun, dia lebih senior dariku. Ah sudahlah, lupakan saja. Sebaiknya, aku mencari Beliau sekarang." Argus pun berlalu pergi, meninggalkan ruangan kosong.


***


Di tempat lain.. dunia Elf, Ratu, dan Raja. Sedang duduk berdua menikmati kebersamaan mereka, di kebun bunga, belakang istana kerajaan.


"suamiku, apakah sudah ada kabar dari putra kita, Argus?" tanya sang Ratu dengan lembut.


"puufftt.." Raja yang sedang menyeruput teh hangat, hampir saja menyembur kannya keluar. 'ah celaka, benar juga.. Aku masih belum mendengar kabar apapun dari Rudolf. Hmm.. Apa ia diberi umpan lebih besar? Hingga berani mengabaikan perintahku!! Bocah sialan itu, benar-benar suka sekali bikin masalah.'


"sayang.. Kenapa kau diam saja.. Apa kau tidak mendengarku?" ujar Ratu, melihat tidak ada tanggapan dari sang suami.


"ah benar, o.. omong-omong soal anak itu, a.. aku sudah mengirimkan Rudolf untuk mencarinya, dengan menggunakan barang milikmu. Tapi.." jawab Raja terhenti.


"tapi kenapa sayang? Apa anak itu juga tidak kembali..?!!"


"he.. he.. Ya begitulah, sampai sekarang aku masih belum mendengar kabar apapun darinya, maafkan aku istriku!" jawab raja, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "A.. apalagi.. ayah dan ibumu, juga belum tau apa pun tentang ini..!! Aku khawatir, jika mereka tau masalah ini.. Mereka pasti akan menyalahkanku." ujar Raja, risau.


"hem.. Aku tidak heran, jika Rudolf mengkhianatimu demi anak kita. Kau tau sendiri bukan! Mereka berdua tumbuh besar bersama. sejak kecil, Mereka juga sudah seperti sahabat, meski terkadang Argus bertingkah tidak acuh kepadanya. Namun, Ia tetap setia kepada putra kita. Hmm..Hmm.. Mereka berdua mirip seperti Kau dan Badar bukan?."


"apa!! Kau tega sekali sayang, menyamakan aku dengannya cih, tentu saja kami berbeda. Aku dan Badar lebih tepatnya, seperti musuh daripada sahabat! Kami benar-benar tidak cocok." ujar Raja ketus, sambil melipat kedua tangannya.


Sementara Ratu hanya tersenyum lembut, menyaksikan sifat suaminya yang seperti anak kecil, karena menolak mengaku kebenaran.

__ADS_1


'hem.. Dia masih tidak berubah,masih saja seperti anak-anak.' pikirnya dalam hati. "jika Argus masih belum juga kembali, terpaksa aku harus turun tangan!!"


Mendengar jawaban dari istrinya, Raja tampak senang.


"ah itu lebih baik istriku, jika kau yang melakukannya.. Anak itu pasti akan langsung menurutinya." jawab Raja semangat.


Ratu mengangguk setuju, dan melanjutkan kembali menyeruput teh hangat miliknya.


***


"Di sini kau rupanya, pantas saja aku tidak menemukanmu." Zion baru saja muncul, mendengar suara yang sangat ia kenal, Lannox pun menoleh kearah suara tersebut. "Oh ya! Baru saja aku bertemu dengan si Bocah Elf kesayanganmu, di ruang kerjamu, sepertinya.. Ada masalah penting yang ingin dia bicarakan denganmu!"


"benarkah..! lalu.. Kau sendiri, ada apa mencariku?"


"lupakan dulu tentangku, sebaiknya, kau cepat temui anak itu! Jangan sampai dia dulu yang datang menemuimu. Aku tidak suka dengannya, aku masih menahannya sampai saat ini, itu karena dia spiritmu. Jika tidak, sudah lama aku menyerangnya. Dan lagi, bukankah dia juga tidak tau mengenai keadaan Putrimu, dan juga keberadaan para Raja spirit lainnya?."


"apa maksudmu?"


"entahlah, ini hanya firasatku. Perasaanku mengatakan.. bocah itu tidak boleh menemui Putrimu!! Sebaiknya cepat kau temui dia." paksanya kepada Lannox.


"hah.. Baiklah. Padahal, aku baru saja ingin bersantai, dan meluangkan waktu bersama Putriku."


Dengan berat hati, Lannox pun bangkit dari duduknya, dan pergi menemui Argus. Karena ia sedang malas melewati pintu, ia langsung menghilang.


Sedangkan Jura yang sejak tadi hanya menyimak, kini fokus memperhatikan Zion.


Begitupun para spirit lainnya.. Yang sibuk sendiri dengan kegiatan masing-masing. Ada yang membaca buku, dan bermain catur.


"hmm.. Apa yang kau pikirkan Jura? Sedari tadi aku perhatikan, kau seperti menyembunyikan sesuatu dari kami, apa kau yakin tidak ingin mengatakan apa pun itu!!" Zaku datang duduk berhadapan dengan Jura.


Seperti biasa, Jura tetap terlihat tenang, Bahkan ia tidak merasa terganggu sedikitpun, dengan kecurigaan Zaku padanya. Mendengar pertnyaan Zaku yang tiba-tiba membuat Spirit lain menjadi tertarik mendengarnya.. dan menunggu jawaban Jura. Jura yang sedang duduk bersantai sambil tersenyum, hanya menjawab singkat.


"tidak ada yang ingin aku bicarakan."


Mata Zaku menyipit seolah sedang menyelidik, sadar akan tatapan Zaku yang tampak tidak percaya. Jura menanggapinya dengan senyum, membuat Zaku dan Spirit lainnya menyerah, lalu mengabaikannya begitu saja.


"haah.. Baiklah, dasar kau ini.. Dari dulu hingga sekarang, kau masih tidak berubah, Selalu irit bicara."


"tidak juga, itu hanya perasaanmu saja." jawabnya serius.


"cih, tapi itulah kenyataannya." celetuk Zaku tak mau kalah.


'haah.. Syukurlah ia tidak menanyakannya lagi, Jika aku tidak bersikap tenang, ia pasti akan langsung curiga dan tau jika aku sedang berbohong. Entah kenapa kedua pundakku kini terasa semakin berat!!' keluhnya dalam hati.

__ADS_1


...****************...


Di dimensi lain.. Kaki Pria Bertopeng menjadi kaku sesaat, karena tidak bisa di gerakkan sama sekali.


"apa yang terjadi? Jangan-jangan dia..!"


"khe..khe.. Apa kau baru menyadarinya!! Ya.. benar sekali, aku sengaja membuat diriku terkena seranganmu" dalam hati Tama. 'heh.. Padahal itu bohong, kenyataannya aku memang tidak menyadari kehadirannya, yang tiba-tiba.'


"jadi kau sengaja menerima seranganku begitu saja!!"


"ya kira-kira begitu, agar kau tidak melihat jebakan yang telah aku buat. Dan kini, secara perlahan-lahan tubuhmu akan mengeras."


"cih, kau pikir aku bisa percaya begitu saja dengan trik bodohmu ini!! dengan menjebakku seperti ini, tidak berarti aku tidak bisa bergerak, Dasar payah. "


Pria Bertopeng merapal sedikit Mantra, Dalam sekejap, Pria itu bisa terlepas dari belenggu sihir, Yang telah di buat oleh Tama.


"jika hanya seperti ini.. Monster tingkat rendahan, juga bisa melepaskan sihir level rendah sepertimu. Heh.. apa kau sudah kehilangan kekuatanmu!! Sampai kau jadi lemah seperti ini?"


Wajah Tama berubah menjadi malas, mendengar ocehan dari lawannya itu.


"apa kau sudah selesai bicara hah?? Itu tadi hanya main-main saja." Tama berbicara santai sambil melipat kedua tangannya. "Yah, habisnya aku bosan sekali.. permainanmu tidak ada perubahan, khi.. khi.. Tapi, jika kau ingin aku serius!! Baiklah, akan aku tururuti kemauanmu. Kheh.. Bersiaplah!!" Tama menengadahkan telapak tangan kirinya keatas, lalu menggenggamnya erat. "(HUJAN METEOR!!!!)" pekiknya.


'eh, apa yang akan dia lakukan!! Energi disekitarnya jadi berubah.'


Tiba-tiba serangan dari langit berdatangan, ratusan bola api menghujam kearah Pria Bertopeng bagai hujan. Meski ia menangkisnya, Bola Api tidak ada habisnya.


'dari tari tadi, ia sudah menyiapkan serangan sebanyak ini, tanpa sepengetahuanku! darimana dia mendapatkan energi sebesar itu??' "BELUUUUSSSSSS lindungi aku!!" teriaknya pada Monster Tanah, ciptaannya.


Mendengar teriakan dari Tuannya, Monster itu pun, dengan cepat langsung berlari kearah Tuannya, dan melindungi dengan tubuhnya sebagai pelindung. Hujan Bola Api berjatuhan dari langit, menimpa tubuh Monster tersebut.


"cih, dari mana dia bisa mendapatkan kekuatan sebanyak ini??"


Setelah satu menit berlalu, tubuh Monster itu pun hangus terbakar.


"kau sudah bekerja dengan baik Belus, Kini giliranku." ujarnya sambil menatap tubuh Monster gosong itu, kini Si Pria melirik tajam pada lawannya.


"heh.. Kau benar-benar tidak berguna, bahkan rela mengorbankan ciptaanmu sendiri, sebagai alat pelindungmu!!"


"heh, memang itu fungsinya mereka di ciptakan."


"baiklah, aku sudah mulai bosan sekarang, mari kita selesaikan urusan kita." ujar Tama, mulai serius.


Tama, mulai merapalkan mantranya.. Melihat perubahan pada aura tama, yang tampak berbeda dari sebelumnya, Membuat Si Pria Bertopeng bersiaga.

__ADS_1


'tidak mungkin, ini..'


Hai.. Terima kasih sudah mampir, 🙂 jangan lupa, vote, like, and komen ya.. Agar lebih bersemangat lagi dalam menulis. Dan silahkan beri saran, jika ada kekurangan dalam penulisan saya, sekali lagi terima kasih.


__ADS_2