
Aku mengerti maksudmu Nak! Jadi kau tidak perlu menjelaskannya lagi. Karena bagiku, kau tetaplah anak-anak yang masih membutuhkan Peran Orang Tua!
Jika sesuatu yang kau bela itu benar, aku tidak akan melarangmu.. Justru aku akan berada di pihakmu. Hei.. Apa kau lupa siapa aku! Aku ini adalah Rubah keadilan yang bisa melihat kebenaran dan kesalahan." ujarnya lalu menarik Ravella kedalam pelukannya. Ia lalu menggelitik Ravella, Ravella yang masih sedih kini menjadi riang kembali...
"Hahahaha.. Hentikan itu Kek.. geli.. Hahahaha..." tawa Ravella pecah, hingga terdengar keluar.
"Baiklah aku akan berhenti, Haah.. Rasanya aku sangat senang sekali mempunyai Putri cantik sepertimu Nak Dewi. Jika bisa jujur.. Aku lebih senang melihatmu kecil terus seperti ini, dan jangan cepat-cepat tumbuh menjadi Dewasa ya.!" ujarnya mencubit pipi Ravella, yang tampak chubby di matanya.
"Hahahaha.. Maaf saja Kek! Rasanya keinginanmu tidak akan pernah terwujud. Justru aku ingin cepat-cepat Dewasa, agar bisa melindungi semua yang kusayangi..!" ujarnya tertawa polos dalam pelukan Rabarus.
Rabarus terharu mendengarnya.. 'Hem.. Tentu saja Nak Dewi, kelak perkataan itu akan menjadi kenyataan, Jika itu adalah dirimu!' pikirnya sambil tersenyum haru.
Gira yang mendengar tawa si kecil dari luar markas, tanpa sadar tersenyum lega. Karena ia telah mendengar semua pembicaraan keduanya sejak tadi.
Ia tidak menyangka, jika Masternya menerima dengan lapang dada perkataan Rabarus, Dan mengakui kekurangannya begitu saja.. 'dasar Rubah Tua, aku tidak menyukainya! Tapi setelah ia tinggal bersama kami akhir-akhir ini,
Mau tidak mau.. Aku dengan terpaksa harus mengakui, jika dia memang lebih layak disebut Si Tua Bijaksana dan Adil. Ia bahkan mampu bertindak tegas dalam keadaan genting! Dimana kami sendiri, tidak mampu melakukannya pada Nak Dewi.
Jangan-jangan.. Inilah alasan kenapa Baginda Kaisar mengutusnya kemari. Selain mendidik kami sebagai muridnya, tapi ia juga berani menegur kesalahan Dewi.
Selama ini aku mengira, ia hanyalah Rubah Tua lembut yang tidak bisa marah dan hanya menyebar senyum keramahannya dimana-mana seperti orang gila. Tapi justru itu yang membuat ia terlihat berbeda dari yang lain!
Karena ia selalu menyembunyikan keseriusannya, di balik canda dan tawa. Ia terlalu lihai memanipulasi situasi! Sehingga orang lain sulit menebak, mana sifatnya yang asli.' Gira bergumam dalam hati, sambil memikirkan sifat Rabarus.
Setelah selesai berbicara dan bercanda dengan Rabarus, akhirnya Ravela tertidur pulas dalam pangkuan Rabarus. Rabarus menggendongnya dan meletakkan tubuh kecilnya di atas ranjang besar.
Ia memperhatikan Putri kecil yang tengah tertidur nyenyak itu.. Karena ia telah membuat sihir tidur. Agar Ravella benar-benar bisa tertidur nyenyak, dan tidak akan terbangun sebelum ia menghilangkan efek sihirnya.
'Maaf Nak Dewi.. Aku terpaksa melakukan ini demi kebaikanmu! Karena setelah mendengar pikiran Gira, Aku tahu jika firasat burukku memang benar.
Aku harus melindungimu, dan semua yang kau sayangi agar tidak terluka, karena itu sudah menjadi tanggung jawab ku, sebagai pelindungmu.
Mansion saat ini sedang kacau dan berada dalam situasi yang tidak aman!! Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menahanmu.' gumamnya dalam hati, setelah menidurkan Ravella.. Ia kembali menemui Gira, yang berada agak jauh dari markas.
Setelah kepergian Rabarus, ternyata sihir Rabarus sangat berpengaruh besar terhadap diri Ravella. Tidak hanya jasadnya yang tertidur, bahkan sukmanya pun ikut terlelap bersama sihir Rabarus.
Sedangkan di luar Markas.. Gira tengah duduk bersila sambil menyilangkan kedua tangannya, melihat kelautan luas.
Rabarus melihat punggung tegapnya, sedang duduk menghadap laut.. Tampak Rabarus berjalan menghampirinya, dengan posisi kedua tangannya ada dibelakang.
"Katakan apa yang telah terjadi di mansion..? Kau tampak gelisah sejak tiba di sini..!!" ujarnya menghampiri Gira yang tengah duduk di atas bongkahan batu besar, mendengar suara Rabarus, Gira menoleh pada sosoknya yang tengah menatap kearahnya.
"Akhirnya kau selesai juga Rubah Tua, Dengar! Aku akan langsung ketopik pembicaraan. Saat kami sedang duduk di gazebo, menikmati pemandangan bersama Dewi.. Tiba-tiba kami merasakan kehadiran musuh. dan yang lebih parahnya lagi, Kami merasakan adanya Energi keberadaan Dewa.
Dan itu sangatlah berbahaya bagi Dewi. Dan Jura berpesan padaku, untuk membawamu kembali ke Mansion. Karena kami berdua.. Tidak akan sanggup melawannya.
Untuk itu, keikutsertaanmu dalam masalah ini, Sangatlah di butuhkan di Mansion. Bukankah kau juga berperan besar melindungi Dewi, dan yang lainnya..!?" jelas Gira, menatap tajam, menunggu jawaban Rabarus.
Rabarus tampak terdiam sejenak, ia mengalihkan pandangannya dari Gira.. Sambil memandangi Telur Raksasa dari kejauhan. Kedua matanya tampak sayu, Shingga Gira mencoba mengira-ngira apa yang dipikirkan Rabarus saat itu.
'Sejujurnya.. Jika lawan kami adalah Dewa, Aku masih ragu! apakah bisa menghadapi mereka atau tidak..!! Terakhir kali aku menghadapi mereka dengan percaya diri, Malah berakhir tragis menjadi sebuah tragedi yang memilukan.
Untung saja Paduka segera datang menyelamatkan ku! jika tidak, mungkin aku tidak akan pernah ada di sini, dan melihat Putraku lagi seperti sekarang.' gumam Rabarus dalam diam, ia larut dalam ingatan kelam yang membuat moodnya menjadi suram.
Peristiwa tersebut tanpa sadar telah membangunkan ingatan yang telah tertidur. Rabarus berbalik memunggungi Gira..
Ia berhenti sejenak sebelum berlalu pergi meninggalkan Gira, dan bergumam padanya. "Hem.. Beri aku waktu sejenak untuk berpikir." ujarnya, lalu pergi meninggalkan Gira, dengan seribu tanya.
'Huh! Kemana Rubah Tua itu akan pergi.. Apa dia trauma dengan kejadian waktu itu? Emm... Jika apa yang aku pikirkan ini benar!
Itu sangatlah wajar jika ia sampai menolak untuk ikut dengan kami.' Gira menundukkan pandangannya menatap Rumput hijau.. Sambil memegang dagunya merenungi apa yang terjadi.
'Kalau sampai dia menolaknya.. Mau tidak mau kami sendiri yang harus mengahadapi.. Tapi yang jadi masalahnya sekarang, lawan yang kami hadapi adalah seorang Dewa.' Gira melihat kearah Para telur Raksasa yang masih tergantung di langit terang.
'Apalagi jika hanya kami berdua saja yang melawan, mana mungkin bisa menang. bahkan meskipun kami melawan berenam pun!! Itu tetap saja mustahil untuk dilakukan.
__ADS_1
Cih, sial.. Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan pada Jura nanti..! Pikirnya dipenuh dengan banyak tekanan.
Bagaimana jika Rabarus menolak untuk ikut! Tapi, andaikan ia ikut pun, keberhasilan untuk menang tetap saja nihil.' ia terus menimbang-nimbang apa yang akan ia lakukan selanjutnya..!! Sambil bolak-balik di tempat.
...🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥...
Sementara itu di Mansion..., Argus yang sibuk menyelidik Jura dalam diamnya. Di kejutkan dengan pandangan mengerikan di langit mansion.
Langit yang tadinya tampak cerah benderang dan tenang, kini tiba-tiba berubah menjadi diselimuti awan hitam. Jura dan Lannox, juga di buat terkejut dengan pemandangan tersebut.
Jura tidak terlalu perduli dengan keberadaan penyihir lusuh tersebut, yang ia khawatirkan justru keberadaan Dewa itu sendiri.
Yang sejak tadi tidak terlihat batang hidungnya, namun hawa kehadirannya terasa sangat kentara sekali.
Mata dan hidung Jura terus mencari secara liar. Keberadaan Dewa yang sejak tadi terus menyembunyikan keberadaannya.
Jura yang tiba-tiba merasakan firasat buruk! Dengan cepat berujar pada kedua Pria yang ada di sampingnya.
"Bocah, aku punya sesuatu untuk dibicarakan pada kalian berdua..!" seruannya, membuat Argus mengerutkan kening, mendengar ucapannya yang terdengar sok akrab.
Karena Argus masih belum mengenal siapa? Pria yang ada di hadapannya tersebut. Argus yang seorang Pangeran, sangat menjunjung tinggi akan Etika.
Ia sangat risih melihat orang lain yang tidak di kenal, tiba-tiba seenaknya memanggilnya bocah, tanpa memperkenalkan diri terlebih dahulu.
Namun, ia terpaksa bungkam berusaha menahan diri. Karena ia tahu situasi saat ini, sedang tidak memungkinkan untuknya berdebat. Apalagi melihat Sang Master yang dengan cepat menjawab seruan Jura.
"Katakan apa itu?" tanya Lannox tidak sabaran.
"Di antara kalian berdua, siapa yang mahir menggunakan sihir?" tanya Jura mendesak.
Argus diam beberapa detik, lalu baru menjawab pertanyaan Jura. "Aku!"
"Bagus, maaf jika ini terdengar tidak sopan, karena kita tidak mempunyai waktu untuk memperkenalkan diri sekarang.
Bisakah kau bantu aku mengatasi penyihir yang ada di sana..?" ujar Jura, melirik kearah Penyihir yang berpakaian lusuh, Yang saat ini tengah melayang di udara.. Sambil merapalkan mantra.
Setelah menerima arahan Jura, Argus pun pergi menghampiri penyihir tersebut. Melihat Argus yang telah menjauh, Jura kembali menatap Lannox.
"Dan kau bocah, setelah aku selesai memberi perlindungan pada Pasukanmu! Sebaiknya kau segera membawa mereka ketempat yang lebih aman.
"Kenapa?" tanya Lannox penasaran.
Mendengar jawaban Lannox, Jura mengangkat satu alisnya. Dan menjelaskan situasi yang terjadi saat ini.. Sedangkan Argus kini telah berhadapan dengan penyihir.
"Dengar Nak, lawan kita kali ini lebih berbahaya daripada penyihir yang ada di telaga itu! Dan keberadaan pasukanmu, tidak dibutuhkan sama sekali disini. Karena lawan kita yang sebenar..." perkataan Jura terhenti, saat mendengar bunyi ledakan di arah belakang.
"BOOOM!!!! BLECAK..! BLECAK..!" tubuh dari salah satu prajurit yang ada dalam barisan, tiba-tiba meledak dan hancur lebur berserakan. Tampak sisa-sisa gumpalan daging dari salah-satu Prajurit, berserakan di tanah.
Tidak hanya satu orang.. Dua.. Tiga.. Empat.. Bahkan di susul dengan jasad yang lainnya.. Hingga percikan darah segar dari sisa ledakan tersebut, mengenai Prajurit lain yang ada di sekitarnya. Melihat itu.. Sontak Para Prajurit pada berlari berhamburan karena ketakutan, dan menyelamatkan diri masing-masing.
"Astaga.. Apa yang ter-ja-di?? Bagaimana mungkin!!!" celetuk Robi, menjatuhkan pedangnya tanpa sadar. Membuat Sang Komandan Roland, melirik kearah Robi, yang kini tengah gemetar karena syok.
Tidak hanya Robi, Roland, Jay, Dean, bhakan Rog. yang saat ini hanya memperhatikan pun, ikut terkejut menyaksikan Pemandangan yang sangat mengerikan itu!
"Bagaimana mungkin ini...!" ujar Lannox, dengan kedua matanya yang melebar tak percaya.
"Sial, musuh seperti apa yang sedang kita hadapi sekarang?? Itu, benar-benar mengerikan dan sangat brutal sekali..!!" celetuk Dean, dari kejauhan.
Apa yang ditakutkan Jura akhirnya menjadi kenyataan... Ia dengan cepat mengatur strategi dadakan dan memberi arahan pada Lannox.
"Haah.. Lihat, itulah alasanku kenapa aku menyuruhmu untuk membawa mereka menjauh dari tempat ini. Jika kau masih membiarkan pasukanmu berada di sini, Satu persatu dari mereka akan musnah.
Dan aku tidak bisa melindungi semuanya sekaligus, bahkan,aku tidak yakin apakah aku bisa melindungi diriku sendiri atau tidak." jelas Jura, yang juga meragukan dirinya.
Sedangkan di belakang mereka, Rog yang juga penasaran lalu bertanya. "Memangnya, musuh seperti apa yang sedang kita hadapi Guru?"
__ADS_1
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang jelas kita harus melindungi Yang Mulia Duke." tegas Roland, yang masih tetap bertahan.
Mendengar jawaban Roland, Rog segera mencari keberadaan Ibu Angkatnya dan merasakan khawatir.
Pandangan Jura kini berhenti di suatu tempat, ia memperhatikan sisa Prajurit yang masih setia bertahan menunggu perintah dari Duke, ia berjalan mengabaikan Duke, Yang juga terlihat syok dengan situasi tersebut.
Mengabaikannya, Jura langsung terbang kearah Pasukan yang masih tersisa. sambil mengarahkan kedua tangannya di atas mereka.
Tampak para Prajurit yang kini sedang melihat kearahnya, dari kedua tanganya muncul cahaya hijau transparan. Cahaya tersebut menyebar semakin membesar dan melindungi mereka semua.
"I-ini.. Beliau melindungi kita. Ujar Roland, membuat yang lain menatap kearahnya sejenak. Dan kembali melihat kearah Jura, yang kini tengah terbang menyebarkan perisai pada yang lain.
"Memangnya siapa Beliau?" Tanya Dean, yang sejak awal penasaran. Namun ia tidak pernah mempunyai kesempatan untuk bertanya.
"Beliau adalah salah satu Raja Spirit milik Yang Mulia Putri.. Bahkan, Spirit Yang Mulia Duke saja, sangat menghormatinya."
"Apa, Raja Spirit!! Tu-tunggu dulu, ini terdengar agak mustahil. tapi jika benar Spirit terkenal Seperti Yang Mulia Zion saja sampai menghormatinya..!
Artinya.., Spirit Yang Mulia Putri, berada pada level yang jauh lebih tinggi dari Yang Mulia Zion?" celetuk Dean, yang masih belum percaya dengan apa di dengarnya. Begitupun dengan Rog dan Robi, yang juga baru tahu kenyataan tersebut.
'Bagaimana mungkin anak kecil sepertinya.. bisa memanggil dan membuat perjanjian dengan Raja Spirit..?
"Ya, ini memang terdengar mustahil, Tapi itulah kenyataannya. Bahkan Yang Mulia Duke pun mengakui keberadaan mereka."
Tiba-tiba di saat mereka tengah berbicara, terdengar suara seseorang sedang berbicara pada mereka dengan seringai yang sangat akrab.
"Hehehe.. Apa kalian tidak takut mati hah? Bukannya pergi menyelamatkan diri, malah sibuk bergosip membahas hal yang tidak perlu.
Hem.. Apa kalian begitu banyak nyawa? Sampai terlihat santai! Sepertinya aku harus mengatakan pada Kakek, agar membiarkan kalian tetap tinggal di sini.. Dan menjadi buruan." ujar Zion menakuti mereka.
"Ya-Yang Mulia.. Ma-maafkan kami.." ujar mereka segera menunduk pada Zion.
Zion memandang kearah Jura, dan berbalik menatap kearah Pria yang membicarakannya tadi. "Cih, kalau begitu tunggu apalagi.. Cepat lari selamatkan diri kalian. Karena beliau sudah memberi kalian jalan untuk pergi."
"Ba-baik Yang Mulia..!" Roland melihat kearah Pasukan di belakangnya, dan memerintahkan mereka untuk pergi mengikutinya.
"Semuannya, ikuti akau!" jawab mereka serentak. Namun, di saat mereka akan pergi, tiba-tiba terdengar suara riuh sedang berlari mendekati kearah Mansion.
Semua Pasukan tampak sangat terkejut dengan penampakan tersebut, begitupun dengan Duke. Roland dan bawahannya yang baru saja ingin pergi, langsung menghentikan langkah mereka, dan mengeluarkan pedang agar tetap waspada.
Tiba-tiba terdengar suara Jay berceletuk.. "Cih sial, sekarang apalagi ini? Tidak cukup dengan kehadiran para penyihir sialan.. Kini datang lagi Pasukan Serigala." ujarnya kesal.
"Di-Dia.. Bukankah Dia adalah Pemimpin Serigala yang waktu itu menyerangku! Kenapa dia malah datang kemari dan menyerang Mansion? Bukankah dia sendiri tidak ingin terlibat dengan Manusia..!" gumam Rog dalam hati, yang juga terkejut dengan kehadirannya. Dan membuat Dean menoleh kearahnya.
"Jadi.. Serigala itu yang telah menyerangmu?" tanyanya berseringai
"Ya.."
"Bagus, kalau begitu mari kita habisi mereka, karena telah berani memasuki Mansion ini." ujar Dean.
"Hem.." angguk Rog bersemangat, karena ia juga ingin membalaskan dendamnya waktu itu. Namun saat mereka sudah bersiap akan menyerang, tiba-tiba terdengar suara lantang Zion, menghentikan pergerakan mereka.
"Tahan... Masukan kembali pedang kalian, karena mereka adalah teman." ujarnya memandang Para Serigala yang kini telah sampai dan menunduk hormat pada Zion.
"Yang Mulia..." Albo menyapa Zion, di ikuti dengan pasukannya yang lain.
Melihat pemandangan tersebut, sontak saja membuat semua orang yang ada di situ, tercengang menyaksikan pemandangan tersebut. termasuk Lannox, Yang kini telah berada di sisi Zion.
Rog dan Dean saling menoleh tak percaya.. Begitupun Roland, Robi, dan Jay. Yang saat ini di buat tak percaya namun sekaligus merasa takjub. Melihat itu, Lannox pun langsung bertanya pada Zion, tentang keberadaan mereka di Mansion.
"Hei Pak Tua, siapa mereka?"
"Aku akan menjelaskan nanti, saat ini kita sedang dalam masalah besar. Apalagi Kakek Jura, sudah mentransfer penglihatannya padaku." Zion melihat kearah Serigala Hitam, dan memanggil namanya
"Albo?"
__ADS_1
"Ya, Yang Mulia!" ujarnya maju mendekati Zion.