AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
ALTAR PERSEMBAHAN


__ADS_3

disaat semua orang sedang sibuk mencari jejak para pengintai, muri telah memanfaatkan kesempatan itu, dan memasuki istana kerajaan seorang diri.


"apa disini sudah cukup!" muri melihat kesekeliling istana 'hmm masih belum, aku harus pergi lebih dalam lagi ternyata.'


ia terus berjalan memasuki sebuah lorong rahasia, yang bisa menembus langsung menuju keistana.


"apa ini.. tempatnya? terlalu gelap, sebaiknya aku harus memanggil spiritku."


dilihatnya sekeliling sunyi senyap, hanya suara cicak yang sesekali berbunyi."ralf keluarlah.


bwussshh..


"akhirnya anda memanggil saya tuan, apa yang anda ingin saya lakukan?"


ia memanggil spirit cahaya kelas menengah.


"ralf terangi jalanku, ini terlalu gelap."


"haha itu sangat mudah tuan, akan saya lakukan."


ralf membuat dirinya bersinar terang, dan ia melayang tinggi didepan muri, dan menerangi jalannya.


saat cahaya ralf semakin tinggi dan terang.. muri terus berjalan, dan sekitar dua puluh meter kedepan, tampak aula besar dengan bentuk bulat yang aneh.


"tempat ini seperti ruang pertemuan atau mungkin sejenisnya."


ia melihat keatap langit-langit, ada ukiran-ukiran unik.


'ukiran apa itu, disetiap dinding terdapat pola yang aneh, hmm dan setiap sudut terdapat patung berbentuk hewan, apakah, seperti patung penjaga. tak hanya ada satu.' dilihatnya sekeliling ruangan. 'semuanya ada lima patung, tapi kenapa yang satu ini bentuknya berbeda sendiri..! dan ada ditempat yang lebih tinggi, dari patung lainnya. ini kemungkinan.. sejenis arca pemujaan.'


"tuan.. tuan.. coba anda lihat ini..!"


muri menoleh kearah suara ralf, ia melangkah perlahan, dan melihat lebih dekat lagi.


"tempat apa ini tuan?"


tampak sebuah meja panjang yang ditutupi kain hitam, dan ada bekas noda darah.


"ini... ini adalah altar persembahan."


'hmm jadi begitu ya..? baiklah.. seperti perintah baginda, tempat ini sangat cocok dijadikan target, hem'


senyum licik bertengger dibibir indahnya, dan kepanikan di istanapun membuat gempar.


"tap.. tap.. tap.." kesatria penjaga berlari dengan panik.


"tolong.. tolong.. ada kebakaran.. dimana baginda raja..?"


"hei ada apa?" tanya baron aisher


"tuan baron, sepertinya ada kebakaran diruang aula bawah tanah."


"apa......?"


"kalau begitu, cepat laporkan kepada baginda raja, dan panggilkan water mage sekarang.."

__ADS_1


"ba..baik.. tuan baron."


'ada apa ini...? apakah ada penyusup, aku harus bergegas kesana Sekarang.'


"tap.. tap.. tap.. hormat hamba kepada baginda raja."


seorang pria kisaran empat puluh tahun, duduk dengan angkuh di atas singgahsananya. dengan kaki yang disilang, dan kepala sedikit miring kekanan dengan menopang pada satu tangannya yang kekar.


"ada apa? hingga kau tergesa-gesa berlari kemari..!"


"baginda raja, hah.. hah.. te.. telah.. ter.. ter.. terjadi.. kebakaran di ruang aula rahasia."


"apa katamu..? kebakaran..!"


"benar baginda."


raja menoleh pada dark knight miliknya, seolah ia memberikan kode untuk pergi.


"selidiki apa yang terjadi?"


"baik baginda, wuuuuuusssssh" pria itu menunduk hormat, dan hilang dalam kegelapan.


"apakah kau sudah mengirimkan water mage, untuk mematikan apinya?"


"sudah saya lakukan baginda.. dan sekarang, baron aisher sedang menangani masalah ini."


"hmm, kalau begitu.. cepat segera kirimkan sepuluh prajurit, untuk membantu baron aisher disana."


"baik baginda, saya undur diri, tap.. tap.. tap.." pria itupun berlari meninggalkan raja sendiri.


dark knight mengulurkan sebuah surat untuk sang raja, raja mengambil surat yang diulurkan kepadanya, dan membukanya lalu membacanya, ekspresinya yang tadi tenang dan dingin, kini berubah menjadi berang.


"kurang ajar....! beraninya dia. kau cepat kumpulkan black mage kelas master, dan panggilkan lukas, arlo dan zora kemari."


"baik baginda, saya pamit dulu."


'bagaimana bisa ada penyusup yang mengetahui tempat ini..? apapun itu berarti rahasia negara ini telah bocor keluar, karena selama ini.. negara ini selalu tenang dan damai. namun, sejak deklarasi perang dari baginda raja. kekacauanpun mulai terjadi, mungkinkah ini adalah sebuah amaran dari musuh?. apapun itu, aku harap baginda raja memiliki keputusan yang bijak, dan tidak mudah termakan umpan. karena jika beliau terpancing! mahu tidak mahu kami harus bersiap.'


muri merentangkan telapak tangannya, dan keluar cahaya biru dari kubus kecil yang melayang ditangannya.


"baginda, misi untuk melenyapkan target sudah selesai."


pria berambut hitam sebahu, tersenyum miring dengan sangat puas.


"hem.. apa kau sudah membawanya..?


"ya.. seperti yang baginda perintahkan"


"bagus muri..! aku tidak salah memberikan misi ini, kepadamu. bagaimana dengan gagak merah..?"


"semuanya selamat baginda."


"kalau begitu, katakan pada yang lainnya untuk segera kembali."


"baik baginda."

__ADS_1


kubus itupun menghilang.


'hem.. Sekarang waktunya, untuk menyusul mereka.'


dipuncak menara kastil.


"tuk.. tuk.. tuk.." rafael melipat satu tangannya kebelakang, dan satu lagi, berpegang pada tembok balkon sambil mengetuk jari. ia berdiri didekat balkon menara miliknya, lalu memandang kelangit malam yang terbentang luas.


'bagaimana kabarmu..? aku tidak sabar ingin segera bertemu denganmu. tapi., sebelum itu.. ada masalah yang harus aku selesaikan terlebih dahulu.'


...****************...


dikota vala.. argus sedang duduk bersandar diatas pohon rindang dan tinggi.. dengan satu tangannya yang disangga pada lututnya.


'heh.. sambil menunggu kedatangan yang mulia, aku akan bermain dulu dengan mereka.. hmm, sepertinya bagus, jika aku menjadikan mereka sebagai buruan, sambil menghilangkan bosan. hmm.. padahal aku ingin sekali melihatnya, tapi dengan kondisinya yang sekarang, sangat tidak mungkin bukan. kita akan berkenalan secara resmi nanti.'


'dimana sebenarnya orang itu, kota ini sangat besar, tapi sudah beberapa hari aku mengelilinginya. namun, tak ada tanda jejak kehadiran orang itu..! dimana sebenarnya dia..?'


"kreek.. kreek.. bangunan ini sudah sangat tua.."


'suara ini..' dean segera bersembunyi dibalik rumah kosong, yang berdekatan dengan tempat rey berada.'


'sial, kenapa harus sekarang bertemu mereka disini, jika mereka tahu aku ada disini, ini bisa gawat. tunggu, siapa itu disampingnya..? dilihat dari pakaiannya, bukankah itu seorang penyihir..! sejak kapan anak itu berteman dengan penyihir..?'


dia teringat pesan dari tuannya sebelum berangkat.


'hmm jadi begitu.. ia memakai cara kotor demi meraih kedudukan lebih tinggi, dasar otak anak itu, benar-benar sudah dicuci rupanya. sebelum mereka menyadari keberadaanku, lebih baik aku pergi dulu.'


dalam sekejap dean menghilang, rey menoleh kesamping.


"ada apa?"


"apa kau tidak merasakannya? barusan seperti ada seseorang disana."


"jangan berpikir yang aneh-aneh, mana mungkin ada orang disini selain kita berdua.. jelas-jelas penduduk disini sudah banyak yang mati."


"yah kau benar, mungkin hanya perasaanku saja.. tapi untuk berjaga-jaga, aku akan mengecek rumah kosong itu."


"terserah kau saja, aku ngantuk, aku akan tidur dulu."


rey masih tidak puas hati, untuk menghilangkan keraguannya, ia mengecek rumah kosong disamping mereka.


"huh, ternyata benar cuma perasaanku saja.. sebaliknya aku kembali, kami harus mengumpulkan tenaga untuk besok."


reypun kembali untuk istirahat.


"hampir saja ketauan, untung aku cepat pergi dari sana, karena akan sangat merepotkan jika berurusan dengan penyihir."


"srek.. srek.."


'hmm ada orang'


dalam sekejap, pedang runcing miliknya telah mengarah keleher musuh.


"katakan siapa kau..?"

__ADS_1


__ADS_2