
Jura yang masih bersembunyi didalam ruangan, hanya mendengarkan dan menyaksikan dengan tenang. Walau sebenarnya dia tidak peduli, tapi karena misinya adalah untuk mengawasi argus! Mau tidak mau diapun merasa ikut terlibat. 'yah tontonan menarik.'
Ditempat lain.. didalam perut gunung, setelah doja melaporkan apa yang terjadi..! Iapun mendapatkan hukuman karena kelalaiannya, sebab telah gagal dalam menjalankan misi. Setelah mendapatkan hukuman, ia pergi keruangan lain yang sangat suram dan tampak mistis. Ruangan itu adalah tempat ia melakukan praktek sihir, dan membuat racun. Ia masih termenung berdiri didepan meja panjang..! Dimana terdapat berbagai ramuan tersusun rapi diatas meja tersebut. Pria berjubah hitam itu kemudian mengangkat tangannya, ia membuka kain yang menutupi lengan kanannya.
'ini benar-benar sakit, hah.. Maafkan aku ban, aku membawamu kemari untuk menyelamatkanmu dari hukuman. Akan tetapi.. Bukan keselamatan yang kau dapatkan, malah berakhir mati mengenaskan. Andai saja anak itu bisa menahan mulutnya..! semuanya pasti tidak akan berakhir seperti ini.' ia melihat keatas meja.. Lalu doja meraih botol kecil berisi ramuan yang telah ia racik sebelumnya. 'aku sudah menduga akan jadi seperti ini, ia mengingat kembali kejadian saat ia dihukum.'
flashback ("pria itu, mempunyai sihir yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Dan lagi.. Dia bisa mengetahui rute keberadaan kami, para penyihir.. Dengan begitu mudah."
"lalu..?"
"beberapa penyihir telah tertangkap, dan hanya saya dan ban yang berhasil lolos..!" Doja melihat mayat ban yang telah hangus terbakar mati mengenaskan didepanya. 'ya.. Tadinya begitu tapi.. maafkan aku ban.. !'
"dan kau kabur tanpa membawa apa-apa? Kecuali mayat temanmu yang tidak berguna itu..!"
"ma.. mafkan saya wahai sang agung..! Sa..saya telah gagal dalam misi ini.. saya bersedia dihukum oleh anda."
"baiklah, untuk kali ini.. Aku akan mengampunimu, untuk itu! aku akan memberikan hukuman ringan padamu."
Tiba-tiba saja doja berteriak kesakitan. "aaaa........." lengan doja melepuh seperti terkena tikaman besi panas.
"te.. terima kasih sang agung, atas belas kasih anda." tak lama suara itupun menghilang. Begitu saja. 'apakah dia sudah pergi..! I..ini benar-benar menyakitkan,' "euh.." 'Aku harus segera mengubur jasad ban.') masa sekarang.
'untung saja aku sudah menyiapkan ramuan ini..' tampak cairan bewarna hitam pekat, ia mengaduk pelan agar semua ramuan itu, bisa larut menjadi satu.
...----------------...
Setelah beberapa menit, dean masih tetap dengan posisinya.. berlutut dengan gaya kesatria. Lannox yang kelihatan bungkam sejak tadi berdiri dihadapannya. Membuat dean bergidik ngeri, karena takut sumpahnya tidak akan diterima, dan ia akan langsung dibunuh. Kebungkaman lannox membuat suasana didalam ruangan, menjadi hening. Argus hanya diam memperhatikan tuannya, ia tidak ingin ikut campur atas keputusan sang duke. 'hmm.. Peraasaan apa ini..?' tiba-tiba saja argus melihat keseluruh sudut ruangan. 'cih, mungkin cuma perasaanku.'
"baiklah.. Aku akan menerima sumpahmu, tapi.. sebelum itu..! Ada yang harus kau lakukan untukku."
"baik tuan, apapun itu.. akan saya lakukan untuk membuktikan kesetian saya kepada anda."
__ADS_1
"hmm.. Argus,"
"saya yang mulia."
"lepaskan belenggu yang ada dikedua pergelangan tangan dan kakinya."
"baik." argus membaca mantra, beberapa detik kemudian, belenggu itupun menghilang.
Dean memegang pergelangan tangannya. 'Tanganku menjadi ringan, pantas saja aku tidak bisa menggunakan sihir dan mana selama ini..! Ternyata ada belenggu yang tidak kelihatan dikaki dan tanganku.' dean memperhatikan argus.. dengan teliti. 'siapa dia sebenarnya? Dia pasti sangatlah kuat.' dean kemudian kembali melihat kearah sang duke. "tuan, lantas apa yang anda, ingin saya lakukan?"
"untuk sekarang.. Kau gantilah pakaianmu, dan bersihkan dirimu! aku tidak suka melihat penampilan orangku berantakan dan terlihat kotor." dean melihat tubuhnya.. Dan mencium aroma tubuhnya sendiri. 'astaga.. bau sekali.' "hehe.. Maafkan saya tuan, kalau begitu bisakah sa..."
"pelayan..." lannox langsung memotong pembicaraan, dan memanggil pelayan, terdengar suara pintu terbuka.
"ceklik, ngiik.. saya yang mulia.."
"antarkan dia untuk mebersihkan dirinya."
"entahlah.. masih aku pikirkan, Dia pasti sudah ditempa sejak dini oleh orsi, demi menjalankan misi berat, Karena bagaimanapun! Anak itu adalah prajurit yang sudah terlatih. untuk sekarang, kau pantau saja dulu pergerakan anak itu!! Jadi kau harus lebih ketat lagi memperhatikannya, tapi jangan sampai ketauan."
"baik yang mulia, kalau begitu.. saya izin undur diri dulu." arguspun menghilang, begitupun jura yang sejak tadi menguping pembicaraan keduanya.
"ranov.."
"ceklik, tap.. tap.. tap.. saya yang mulia."
"katakan pada anak itu, setelah dia selesai, segera temui aku."
"baik yang mulia."
Digazebo dekat danau, tampak zaku dan zion sedang duduk menikmati pemandangan. sambil mendengarkan dengan tenang, setiap kata yang keluar dari mulut sang kakek. 'yah aku pernah mendengar sebagian cerita kakek tentang kepergian nenek yang mengenaskan untuk melindunginya tapi..! Kakek tidak pernah membahas sekalipun mengenai perasaannya.'
__ADS_1
"kepergian nenekmu membuatku merasa frustasi sekali.. dan aku mengabaikan segalanya yang ada disekitarku! Teman, Saudara, Bahkan putraku sendiri. kepergian istriku, meninggalkan luka yang dalam. terlalu menyakitkan buatku, semua yang kulalui terasa hambar tanpanya! Wanita yang paling kusayangi didunia ini melebihi diriku sendiri, wanita yang selama ini mendampingiku, dan selalu berada disisiku..! harus merelakan dirinya hanya untuk menyelamatkanku. Andai aku bisa memilih, lebih baik aku yang pergi menggantikan posisinya." zaku memandang kelangit biru dan memejamkan matanya, tampak airmata jatuh membasahi bulu putihnya yang indah.
'ia pasti sangat merindukan beliau, rasa kehilangan telah membuatnya frustrasi..!' zion melihat kelangit, tampak matahari yang sudah mulai tergelincir dari tempatnya.. Ia melihat sang kakek dan mencoba untuk menenangkan kesedihannya. Zion bangkit berdiri dan menghampiri sikakek, tampak mendung singgah diwajahnya yang bringas. zion bersikap manja layaknya seorang cucu pada kakeknya, demi menghibur wajah sendu itu. zion mendorong manja wajah sang kakek, zakupun tersadar dari lamunan karena sentuhan lembut sang cucu! Ialu.. dengan buru-buru ia menggosok matanya yang basah. zion duduk bersandar ditubuh besar singa putih itu. "kek..! sebuah penyesalan yang lahir dari perbuatan sendiri, akan terus melahap dan mengerogoti jiwa hingga kau merasa seakan ingin mati. Tapi, penyesalan yang lahir bukan karena sebuah kesalahan yang dibuat, itu adalah palsu..!"
"apa maksudmu?"
"Penyesalan itu hanya sebuah tipuan yang kakek ciptakan sendiri, kenyataannya kakek sangat merindukan nenek dan masih belum merelakan kepergiannya. Semua adalah kehendak takdir, jangan menyesali apa yang terjadi seolah-olah itu karena kesalahanmu! Kakek harus menerima kenyataan dengan berlapang dada. jika kakek terus bersedih seperti ini, Nenek pasti tidak akan tenang dialam sana! yang ada.. malah nenek semakin tersiksa karena mengkhawatirkmu kek, Hmm aku punya solusi untuk menghilangkan kerinduanmu itu kek."
"Plak..."
"auw.. apa yang kakek lakukan kepadaku..? Itu sakit.. aku tidak bercanda! Aku bersungguh-sungguh dengan perkataanku ini."
"dasar bocah nakal, momen orang lagi tepat untuk memgenang.. malah kau hancurkan dengan ide konyolmu itu!"
"cih dasar tidak tau berterima kasih! Aku ingin menyirami hatimu yang gersang itu.. Agar tidak kekeringan lagi. karena aku sudah menyaksikkannya sendiri, cara ini sangat ampuh untuk mengobati kerinduan seseorang."
"cih, dasar kau bocah sok tau, kau mengatakan kata-kata indah seakan-akan kau pernah mengalaminya..! Padahal saat aku jodohkan kau dengan gadis cantik saja, kau malah kabur ketakutan."
"aku bukan takut kek, tapi aku tidak suka perjodohan.. Apa lagi itu adalah pilihan pria tua sepertimu! Asal kau tau.. saja kek, Gadis yang kau jodohkan untukku bukan tipeku. seleramu sungguh jelek sekali soal wanita. Kalau nenek masih ada.. Dia pasti akan memarahimu, karena sembarangan memilihkan wanita untuk cucu kesayangannya ini."
"dasar kau bocah kurang ajar.. beraninya kau membawa nama nenekmu awas kau... Kemari kau bocah nakal.." zion yang peka langsung berlari.. karena takut dipukuli oleh sang kakek.
"ampun kek.. aku cuma bercanda..! Tapi aku juga serius soal selera jelekmu itu hahahaha.. dan nenek pasti ketiban sial karena memilikimu."
"bercanda dengkulmu, bocah sialan. Dasar kau.. berani-beraninya kau membawa nenekmu yang sudah tenang dialam sana. Dan sekarang, kau malah menghina seleraku..! Haaup" zaku langsung melompat menangkap zion dari belakang lalu menggelitik dengan giginya, Zion tidak bisa menghindar karena perbedaan tubuh mereka yang sangat jauh.
"hahahaha ampun kek... Aku bersalah.. Hahahaha...ampuun.."
"rasakan ini bocah nakal.." zaku terus menggelitik zion hingga ia merasakan sakit perut, dan terus tertawa hingga mengeluarkan air mata. Kedua cucu dan kakek itu, tampak sangat bahagia. Hingga jura yang baru saja melalui jalan itu melihat mereka berkejaran dari kejauhan, jura tersenyum lega.
'baguslah.. sepertinya mereka sudah berbaikan lagi, Keduanya tampak akur sekali..! Mereka tampak seperti kucing yang tengah bermain.'
__ADS_1