
'aku masih berjalan melihat kesekitar, selain patung, dan gerbang besar.. selebihnya, hanya suara alam yang bergemuruh dan tampak logis bagiku. tapi, apa benar ini nyata? atau hanya ilusi menjebak mata! hmm.. ini aneh sekali, aku mencoba terbang setinggi tinggi mungkin, untuk melihat keseluruhan tempat ini, dari udara. sejauh mata memandang, tak ada yang salah dengan tempat ini.. tapi ada yang tidak beres pada tempat ini.'
tama melihat kesekitar, tidak ada satupun jejak kehidupan, selain gerbang merah, dan patung besar.
'hmm.. aku mencoba mendekati gerbang besar itu, namun yang terjadi malah sebaliknya.' tama terlempar jauh. "ugh, gedebug.. sialan.. ternyata ada barrier yang melindungi gerbangnya."
tama terlempar jatuh mendarat ketanah, dan mengenai pohon-pohon yang ada disekitarnya.
'sialan, aku seperti dihempaskan oleh sesuatu, apa-apaan berrier itu? itu.. bukan hanya berrier biasa, sepertinya.. ada yang telah melakukan sesuatu. aku akan mencoba sekali lagi, untuk membuktikannya.'
tama mengambil batu kecil, dan mencoba melemparnya.
"bwusss tak.. tak.. tak.."
dalam sekejap batu itu terlempar jauh dan hancur berkeping-keping, tama semakin yakin, dengan kecurigaannya.
'benar dugaanku, ada sesuatu energi yang aneh disitu. aku menoleh kearah patung burung hantu yang ada dihadapanku, jika dilihat dengan mata telanjang, patung itu tampak biasa saja. tapi, jika dilihat dengan mata surgawi.. ada energi gelap yang menyelimuti dari salah satu patung itu! kalau begitu.. aku akan memastikannya sekali lagi.'
tama melayang mendekati patung burung hantu itu, dan mengulurkan tangannya pada kepala patung tersebut, iapun merapal mantra.
"tunjukkan wujudmu kepadaku, jika tidak.. aku akan memusnahkanmu. regullus zandi.."
"hahahaha.. hahahaha.. kretak.. kretak..bwusssh sayang sekali, ternyata aku ketauan ya.. padahal kupikir, penyamaranku sudah cukup sempurna untuk mengelabuimu. tapi ternyata, kau cukup tangguh hingga bisa merasakan keberadaanku."
tampak salah satu patung besar itu, mulai retak dan pecah. sosok burung hantu asli muncul menunjukkan wujudnya, dihadapan sang raja rubah. sementara patung yang satunya lagi.. hancur lebur berserakan.
"katakan, siapa kau?"
ditempat lain.. dean dan robi, dihampiri salah satu penjaga.
"salah satu diantara kalian berdua, ayo ikuti aku."
robi dan dean saling menoleh dan menggangguk, seolah sudah tau apa yang harus dilakukan. dean yang sudah mengerti dengan tatapan robi, langsung mengangguk dan pergi mengikuti penjaga tersebut dari belakang. sementara robi, menoleh disekitar area tambang, ia terus memperhatikan para penjaga secara diam-diam. dan jauh didepannya, tampak seorang pria memakai baju compang-camping sedang menggali, ia terlihat begitu kurus tak terurus.
"cepat gali yang benar.. jika kalian tidak bekerja dengan benar, siap-siap menjadi persembahan."
robi yang melihat pemandangan tersebut, mulai tertarik mendengar perkataan sipenjaga. ia kemudian meninggalkan pekerjaannya, dan pergi begitu saja.. tanpa ada yang tau, dan penjaga yang menyadari akan ketiadaan robi, dengan cepat memberitahukan teman-temannya.
"hei kalian.. cepat berpencar, ada pekerja yang kabur."
'aku membuka kepalan tanganku, ada kertas kecil yang diberikan robi, sebelum ia pergi. tampak tulisan aneh seperti..' robi membuka kertasnya, tapi.. "haah.. apa maksudnya ini?"
(ketika bulan jatuh menimpa danau, kedua peri akan datang membawa bejana kosong.)
"sialan, apa artinya..!"
__ADS_1
ditempat lain, dean sedang berjalan mengikuti penjaga yang ada didepannya.
'aku harap, robi mengerti apa maksudku!'
dean mengikuti penjaga dari belakang, namun semakin jauh ia berjalan
, semakin gelap dan sunyi tempat tersebut.
'hmm.. kira-kira kemana ia akan membawaku pergi, aku harus memanfaatkan kesempatan ini.. sebaik mungkin.'
...----------------...
dihutan larangan, zion yang sempat menangkap gapi, sudah berada di udara dengan kibasan sayapnya yang lebar, ia melihat kepulan asap, dari serangan yang menghantamnya barusan. ia menoleh kearah gapi, yang berada dalam pelukannya.
'heuh.. syukurlah, aku sempat meraihnya. jika aku terlambat sedikit saja.. mungkin, aku tidak akan sanggup menemui dewi.'
gapi melihat lengan zion, yang begitu besar memeluk tubuhnya yang kecil dengan erat, sambil mengibaskan sayap panjangnya yang direntangkan diudara.
"apa paman, baik-baik saja..!"
"dalam keadaan seperti ini.. kau masih saja mengkhawatirkan orang lain, dasar bocah bodoh."
"selama ada paman, aku yakin.. aku akan aman bersama paman hihiiiy."
"hmm.. baiklah, akan aku pikirkan nanti, tapi omong-omong.. siapa yang telah menyerang kita paman?"
"bwuzzhh.. bwuzzhh.. entahlah, kita lihat saja.. setelah kabut itu menghilang."
"puuunnggg.. boom.. puuunnngg... boom"
'gawat ia terus menyerang, padahal aku saja.. tidak bisa melihat siapa sosok yang sedang menyerang kami. tapi bagaimana bisa, dia tau keberadaan kami? ini benar-benar berbahaya, jika musuh sampai tau keberadaan kami, apalagi aku tidak bisa bertarung dengan bebas sambil memegang anak ini. sebaiknya, aku harus membawa gapi ketempat yang lebih aman dulu, setelah itu.. aku akan membuat perhitungan dengan mahluk yang tidak jelas wujudnya itu.'
"bwuzzhh.. bwuzzhh.. paman kita mau kemana?"
"mengantarmu."
"maaf, karena aku telah menjadi beban untuk paman..!!"
"cih.. apa yang kau bicarakan, justru aku sangat berterimakasih padamu nak. jika kau tidak menemukan tempat ini, mungkin aku hingga sekarang, tidak akan pernah tahu, siapa yang telah lancang berani memasuki wilayahku."
"jika itu benar membantu paman, aku cukup senang. karena akhirnya, aku juga bisa berguna.. walaupun cuma sedikit."
"cih.. tidak perlu kau pikirkan, masih butuh waktu lama untukmu, agar lebih berguna buat dewi. karena itu, perbanyaklah latihan, manfaatkan naluri memburumu untuk melatih ingstingmu dalam melacak mangsa. anggap mereka seperti musuhmu, dengan begitu.. lama-kelamaan nalurimu akan terlatih dengan sendirinya. bahkan, refleksmu terhadap sedikit gerakan saja, kau bisa langsung merasakannya."
"benarkah begitu paman..?"
__ADS_1
"ya.. untuk itu, Sekarang aku akan membawamu ketempat yang lebih aman. dan langsung melatihmu, ingatlah, latihan tidak hanya dilakukan dalam keadaan santai saja, tapi juga bisa dilakukan disaat genting seperti ini."
"tu..tunggu dulu paman, kau tidak serius bukan.. dengan perkataanmu..!"
"heh, apa aku kelihatan bercanda sekarang..! justru disaat seperti inilah, bakatmu akan terlihat."
"apa maksud paman?"
"bwuzzhh.. bwuzzhh.. bwuzzhh.."
keduanyapun, mendarat disebuah tempat yang lebih jauh, dari hutan larangan tersebut, zion menurunkan gapi dari pelukannya.
"dengar nak, mulai sekarang.. aku akan melatihmu" zion melihat kesekitar tempat itu. "kau harus bisa menyelamatkaan dirimu, aku akan meninggalkanmu sendiri disini, mungkin ini sedikit ekstrim. tapi, justru latihan seperti ini.. akan lebih cepat merangsang naluri membunuhmu, dimedan ini.. kau adalah rajanya. apapun yang kau dengar, apapun yang kau lihat, jangan pernah takut dan mundur. meskipun nyawamu taruhannya.. apa kau mengerti?"
"a..apa maksud paman? apakah paman, akan meninggalkanku sendiri disini..?!"
"dengar nak, jika kau ingin berguna untuk dewi kelak, inilah saatnya kau membuktikan kemampuanmu. aku tidak punya banyak waktu untuk menjelasknnya sekarang, aku akan meninggalkanmu disini, dan jika kau beruntung, temui aku ditempat tadi kita tiba. namun jika kau gagal, aku akan membawa mayatmu kembali, dan akan mengkremasinya dengan layak. Selamat tinggal nak, aku harap kita akan bertemu lagi, dan pada saat itu.. tunjukkan hasil dari latihanmu padaku."
"tu..tunggu.. paman.... ti..tidak, ja.. jangan pergi.. kumohon... hiks.. hiks.. Paman.."
zion langsung terbang tinggi, meninggalkan gapi, yang tampak sedih dan ketakutan.
'hem.. semoga dengan cara ini, anak itu bisa menunjukkan bakatnya yang terpendam. dan, sambil menunggu latihannya selesai. aku juga bisa dengan leluasa, bebas bergerak menghadapi musuh.' zion menghentikan perjalanannya. "kalian berlima.. keluarlah."
"kami menghadap yang mulia raja.."
sahut kelima bayangan gelap tersebut, zion berhenti diudara, dan kelima bayanganpun muncul menunduk hormat kepadanya.
"aku ingin kalian berlima.. apa kalian sudah mengerti."
"ya.. kami mengerti yang mulia raja, kalau begitu, izinkan kami bergerak sekarang."
"hmm.. pergilah." setelah melepas kepergian kelimanya, zion kembali melanjutkan perjalannya. "sekarang, saatnya untukku memburu mangsa, hehe.."
ditempat lain dibenua timur, seseorang pria yang tengah duduk dimeja makan, didalam sebuah bar. bar itu.. berada didalam gang sempit, dikawasan kumuh.
sesosok pria berambut panjang, sebahu dengan pakaian lusuh, ia duduk sambil berpura-pura menikmati minuman yang sudah disajikan untuknya.
"bagaimana kabar anak itu..?"
"maafkan aku, seperti yang kau takutkan.. ia telah tewas dibunuh. dan aku telah gagal menyelamatkannya.. saat aku tiba disana, mayatnya sudah tidak utuh lagi."
pria berambut panjang sebahu itu, cukup terkejut mendengarnya. namun, ia tidak menunjukkan ekspresi keterkejutannya. ia hanya mencengkram gagang gelas minuman itu, dengan erat. temannya yang menyadari, dan melihat cengkraman tangannya digagang gelas, ia hanya menyeringai tidak mengatakan apapun.
"kalau begitu, kita akan bergerak malam ini." ujar pria berpakaian lusuh itu, sementara temannya hanya mengiakan tanpa membantah.
__ADS_1