
Tama.. Melihat sekeliling tempat Ia berada.. Kini dimensi itu berubah lagi, dipenuhi dengan lahar yang sangat panas, tubuh manusianya pun, kembali dalam bentuk Rubah Api.
"apa-apaan tempat ini.. Cepat tunjukkan dirimu yang sebenarnya!! jangan bermain-main denganku sialan, karena aku sudah terlalu banyak membuang waktuku, hanya untuk hal yang sia-sia karena kau."
"........... "
Senyap tidak ada jawaban, hanya suara Tama yang bergema di dalam perut gunung tersebut. Tama, terus mencari keberadaan mahluk yang berhenti berbicara kepadanya..!!
'dimana dia? Dan kenapa aku ada disini..!' ia merasa asing dengan tempat tersebut. "cepat tujukkan dirimu sialan..lan..lan..!! Kenapa..kenapa.. diam..diam..? Apa kau..kau.. takut..kut..kut..!"
Tak lama.. Terdengar dengusan nafas mengerikan.. Sedang mendekat kearah Tama berada. Gerakan langkah kakinya.. membuat Tama terkejut, dan segera mencari arah keberadaan suara tersebut.
"khu.. khu.. khu.. kau terlalu tidak sabaran nak?" ujarnya berjalan pelan, diatas permukaan lahar yang panas dan mendidih.
Saat kemunculannya.. Tama, langsung dibuat terperangah dengan kehadirannya..!!
"k.. kau!!!" ucapnya terkejut, seolah tak percaya dengan apa dilihatnya.
***
(flashback) "hmm.. kau tidak usah mengkhawatirkan masalah itu! dan lagi.. aku mempunyai misi penting untukmu!"
"misi apakah itu paduka..?" tanyanya penasaran.
"aku ingin kau, pergi kewilayah para monster, untuk membawa kembali barang yang telah di ambil, secara diam-diam oleh penguasa danau tersebut."
"kalau boleh hamba tahu, benda apakah yang telah ia ambil, Paduka?"
"Itu adalah sebuah kunci, untuk memasuki alam spirit."
"alam spirit!!! Bukankah alam hewan spirit dan para monster itu berbeda!! Lantas, untuk apa ia mengambilnya Paduka? Sudah jelas peraturannya.. Jika monster tidak boleh memasuki alam spirit!!"
"heem, tumben kau pintar..!!"
'cih, paduka selalu saja begitu, apa aku terlihat sangat bodoh? sampai tidak bisa membedakan benar dan salah..!!' keluhnya dalam hati.
__ADS_1
Sementara Sang Dewa yang telah mendengar semuanya, hanya menyeringai memperhatikan emosi garda, yang terpendam.
"katakan saja.. untuk segera mengembalikan barang yang telah ia ambil secara diam-diam dan, beri dia sedikit pelajaran."
"baik Paduka, akan hamba lakukan." dalam hati. 'hmm.. Meski aku tidak tahu apa yang beliau pikirkan. Padahal beliau bisa menghancurkan mahluk itu dalam sekejap, tetapi kenapa beliau malah menyuruhku! untuk menyelesaikannya sendiri?? Kelihatannya.. benda itu juga tidak terlalu penting, melihat bagaimana ekspresi Paduka biasa-biasa saja.' (massa kini)
"hehe.. Anda tidak perlu repot-repot tuan, karena saya akan mengembalikannya secara sukarela." ujar Sang Raja pasrah.
Raja Mughi mengeluarkan, kunci bewarna merah maroon tersebut dari saku bajunya, kunci itu terbuat dari darah Dewa, yang telah mati.
"i..ini.. Aku kembalikan, aku juga tidak sengaja menemukannya. Jadi, jangan salahkan aku, karena aku benar-benar tidak mengambilnya."
Garda memperhatikan dengan teliti, tidak ada kebohongan yang terdeteksi dari raut wajah Sang Raja.
'hem.. Aneh sekali, sepertinya ia jujur mengatakannya.. Lalu jika ia tidak mengambilnya, mengapa paduka..!!' ia menaruh rasa curiga, namun segera di tepisnya jauh-jauh perasaan itu. 'Ah, entahlah! Yang penting kunci ini, sudah ada di tanganku, Sebaiknya aku segera kembali.'
***
Di ruang tahanan, dari kejauhan.. Tampak sesosok tampan berambut panjang sepunggung, sedang mendekatinya. Rey merasakan ada yang aneh, dia sendiri juga tidak mengerti perasaan apa itu?
Saat Argus mendekat, rey segera membuang pandangan kearah lain, Seakan malas melihat seakan malas melihat kehadiran Argus. Sadar akan tatapan benci dari rey.. Argus hanya menyerigai.
"percuma kau datang lagi, kau tidak akan bisa menemukan apa yang kau cari..!!"
"kau percaya diri sekali, tapi sayangnya.. aku datang bukan untuk itu sekarang!"
"apa pun itu.. aku sudah tidak peduli. Tapi, perlu kau tahu.. Meskipun aku tidak ada.. Akan ada orang lain sepertiku, yang akan mengincarmu dan yang lainnya kau lindungi. Aku tidak sendirian, karena jumlah kami tersebar hingga keseluruh dunia. dan kami tidak takut dengan yang namanya mati." rey.. dengan berani mengungkapkan sedikit tentang keberadaan Orsi, karena ia seperti sudah tahu, bisa jadi ini adalah akhir dari kehidupannya. Setelah ia mengatakan sedikit tentang Orsi, iapun tanpa takut, langsung meledakkan dirinya sendiri. "boooommmm!!! Bwooossshh" ia menggunakan sihir ledakan yang sudah terpasang di bawah kakinya.
Argus yang melihat kegilaan rey, dengan cepat melindungi dirinya sendiri menggunakan perisai sihir.
'cih, hampir saja aku terkena noda darahnya. dia cukup gila untuk bocah ingusan sepertinya, bahkan dia rela mati bunuh diri. Dari pada harus mati di tangan musuh, hmm.. Entah ajaran sesat apa? yang telah diajarkan Orsi kepada anak-anak sepertinya!! Sungguh memprihatinkan. Sangat disayangkan.. Jika bocah seperti mereka, harus mati dengan sia-sia. padahal, jika mereka di tempa dengan benar, mereka akan sangat berguna dimasa depan.' pikirnya.
"tap.. tap.. tap.. Apa yang terjadi tuan?!! saya barusan mendengar ledakan dari arah sini.. Mungkinkah ada penyusup!!" tanya sang penjaga, pada Argus.
Mendengar bunyi ledakan, pria bertanduk, dengan cepat berlari.. Kearah Argus.
__ADS_1
"jangan khawatir, hanya seorang tahanan bodoh, melakukan tindakan bunuh diri." ia melirik kearah tubuh rey, yang sudah hancur karena ledakan. "Segera bersihkan ruangan ini.. Dan jangan ada jejak apa pun yang tertinggal, karena ini adalah perintah langsung dari Yang Mulia.. Aku akan pergi sekarang." setelah memberi perintah, Argus pun berlalu pergi.
"baiklah, saya mengerti tuan." mendengar nama yang disebutkan, pria bertanduk itu pun langsung mematuhi perkataan Argus. "prajurit... cepat bersihkan tempat ini, dan jangan ada yang tersisa."
"baik..!!" jawab mereka serentak.
Setelah berada di luar, Argus berjalan keluar Mansion.. Ia pergi ketempat biasa yang sering ia kunjungi, Yaitu pohon Maple besar.. Tempat itu juga, menjadi tempat favorit bagi Putri kecil Duke. Pohon itu sangat besar dan rindang, suasananya yang teduh dan sejuk. Membuat siapapun yang ada disana merasa ingin tidur. ia sangat suka berada di dekat pohon Maple, sambil bersandar dan berbaring menatap langit.
Dan, tidak lama lagi.. Takdir, akan segera mempertemukan keduanya, tanpa mereka tahu. dan pada saat itu.. Berbagai hal aneh akan terjadi. Dan Sang Duke, akan segera kerepotan karenanya.
......................
"k.. kau!!! A..ayahanda..???"
"ya.. Ini aku Putraku Tamarus, Sudah lama kita tidak bertemu ya, hahaha.. Kau sudah besar rupanya, kau semakin hebat saja nak." ujar sosok bertubuh Api itu tertawa lepas dengan bahagia, Api miliknya.. lebih merah dari pada milik Tama.
Tidak terasa ada air mata jatuh mengalir, dari kedua pelupuk matanya yang tajam. Tama segera berpaling kesisi lain, untuk menyembunyikan emosinya yang sudah meluap keluar. Melihat putranya berpaling darinya.. Rubah api yang ukuran tubuhnya lebih kecil sedikit dari Tama, merasa sedih. dan, ia datang menyenggol putranya dengan tubuh apinya. Ia mengelus lembut wajah Tama, dengan kepalanya yang tampak lebih kecil dari Tama. .
"Maafkan aku putraku, karena selama ini aku telah meninggalkan banyak masalah di kedua pundakmu."
"cih, dasar orang Tua bangka menyebalkan, setelah meninggalkan banyak beban, dan pergi begitu saja.. sekarang kau malah kembali memberi masalah lain, untuk anakmu ini, Kau memang kejam Orang tua."
"hahaha... Kau memang putraku." ujarnya senang.
"dasar sialan, kenapa baru muncul sekarang!! Kemana saja kau selama ini??"
"cih mulutmu sama tajamnya seperti ibumu, aku jadi merindukannya. yah.. tapi aku tidak bisa menyalahkanmu..! Ini semua salahku, karena aku terlalu lama meninggalkan kalian berdua tanpa kabar."
Tama, memperhatikan sosok Sang Ayah, yang ada dihadapannya. Sudah terlalu lama waktu berlalu, ia hampir melupakan wajah dan keberadaannya. Lalu, tiba-tiba kedua pandangan matanya.. jatuh tertuju pada kepala sang Ayahanda.
"omong-omong bagaimana bisa, kedua tanduk itu ada situ???" tanya Tama, penasaran.
terakhir kali saat anda pergi.. aku tidak melihat tanduk apa pun di kepala anda!! Dan sekarang, bagaimana bisa ia tumbuh begitu saja di atas kepala anda??"
"oh ini.."
__ADS_1