
Apa dia lupa dengan hukuman yang aku berikan padanya waktu itu..?' pikir Duke, kesal.
"Heum.. Arguuuusss.....!!" Seru Duke, dengan intonasi marah.
Argus yang sedang berjalan di area keramaian, tiba-tiba mendengar suara yang sangat ia kenal sedang menyeru namanya..
'I-ini, Suara Yang Mulia! Kapan beliau kembali? Bukankah seharusnya liburan beliau masih ada enam hari lagi..!!' pikirnya.
"Arguuus.. Jika kau masih tidak muncul sekarang, aku akan menambah masa hukumanmu menjadi..."
Mendengar amarah dari Duke, Argus yang sedang tenggelam dalam pikirannya dengan cepat langsung bergegas dan menghilang di tengah keramaian.
"Wuuusss.... Saya menghadap Yang Mulia. Maaf, sebab terlambat heehee..." ujarnya beralasan.
Duke yang melihat kemunculan Argus, setelah mendengarkan ancamannya dengan cepat Argus langsung muncul di hadapan Duke.
"Darimana saja kau? Tidak biasanya kau mengabaikan panggilanku!!" ujar Duke, sambil menyipitkan kedua matanya, untuk menuntut jawaban dari Argus.
"Haha.. S-saya sedang berjalan-jalan melihat tempat tersebut Yang Mulia." akunya pada Duke.
Mendengar jawaban dari Argus, tidak membuat Ia senang. Duke justru menyeringai sambil berujar.
"Hem.. Kau punya banyak waktu luang ternyata. Baiklah, melihat bagaimana banyaknya waktumu, hukumanmu akan aku tambah tiga minggu lagi. Jika membantah menjadi satu bulan."
"Gulp.." Argus menelan ludah saat mendengar ucapan terakhir. dan mau tidak mau dia hanya bisa diam menerimanya.
"Dan serahkan urusan di lapangan pada yang lain, sedangkan kau.. Selesaikan tugasmu seperti biasa di dalam ruangan ini.
Aku akan pergi dulu, karena aku sangat sibuk." ujarnya berlalu pergi meninggalkan Argus, di dalam ruangan sendirian. Argus dengan raut wajah lemas melihat tumpukan dokumen di atas meja, yang tidak ada habisnya .
"Haah.. Aku lebih baik di suruh membunuh di bandingkan melakukan tugas yang membosankan ini.. Sepertinya beliau sangat tahu apa yang tidak aku suka.
Haah.. Brug.. Susah payah aku meyakinkan Ranov agar bisa terlepas dari Ruangan pengap ini.' ujarnya yang langsung menjatuhkan diri di sofa.
'Tapi aku tidak menyangka! jika Yang Mulia kembali lebih cepat dari waktu yang seharusnya. Eum, omong-omong mengapa beliau kembali lebih cepat?? Apakah ada sesuatu yang telah terjadi.. Yang tidak bisa beliau ceritakan!!" pikirnya lagi.
***
Keesokan harinya.. Ravella yang sedang berada di taman Bunga milik ibunya. Berjalan di temani Reni, pengasuh kesayangannya. sambil menikmati pemandangan indah disana.
__ADS_1
Sesekali angin berhembus, hingga meniupkan aroma harum dari bunga-bunga yang sedang bermekaran di taman tersebut.
Sedangkan para Spirit masih belum berani menampakkan diri, di hadapan Master mereka. Keenam Spirit tersebut hanya mengikuti Ravella dalam diam, menyaksikan apa yang sedang Master mereka lakukan.
Saat Ravella sedang berjalan santai.. Nampak dari kejauhan, sosok Rubah Putih Kecil dan bayi Naga Merah, datang menghampiri Ravella. Gapi, yang sudah beberapa hari tidak bertemu Ravella..
Langsung berlari menghampiri sosok Tuan kecil yang sangat ia rindukan itu.. sedangkan Rabarus yang melihat Gapi berlari meninggalkannya, hanya berseringai sambil berjalan santai menyaksikan pemandangan tersebut.
Dan ia pun bergumam dalam hati.. 'Cih, pantas saja dia sangat menyayangi anak itu! Dan cemburu waktu aku berdekatan dengannya.. Ternyata begitu rupanya.
Meskipun ia masih anak-anak, tetapi.. Ia mempunyai jiwa yang sangat lembut dan penyayang. Lihatlah betapa ia sangat memanjakan anak itu!!'
Tampak Gapi yang sedang berlari sambil memanggil Dewi, dan langsung melompat kedalam pelukan Ravella. Reni dan Para Spirit yang menyaksikan pemandangan tersebut.. Hanya bisa tersenyum dengan tingkah keduanya.
Saat Ravella sedang membelai Gapi, Rabarus pun muncul dan duduk di hadapannya.
Ravella yang melihat sosok Rubah lucu itu.. Langsung menyapanya.
Rabarus melihat kearah Gapi, tampak Gapi tersenyum. tidak seperti saat awal pertama kali ia melihat Rabarus di belai dengan Ravella.
'Heum, Aura ini..! Bukankah ia sosok Rubah Api suci, Ayah dari Kek Tama? Kenapa ia berubah menjadi Rubah Putih biasa!?
Rabarus yang tahu kehadiran keenam Pria Spirit tersebut, sesekali melihat kearah mereka. "Ya, aku baru saja habis jalan-jalan bersama bayimu." ujarnya.
Dan Tak lama, tubuhnya langsung berubah membesar. Setinggi Rumah Dua lantai. Saat itu, Reni Di buat terkejut dan takjub. Begitupun dengan keenam Spirit.
"Astaga.. Aku belum pernah melihat Rubah sebesar ini Yang Mulia Putri..!" ujar Reni yang tampak sangat terkejut, dengan perubahannya yang dari kecil, tiba-tiba langsung membesar. sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
'A-apa Ru-Rubah ini juga Spirit milik Yang Mulia Kecil..!!' pikirnya takjub, dengan bentuknya yang indah, dan tampak putih bercahaya.
Sedangkan Para Spirit yang menyaksikan hal tersebut, merasa sangat heran dengan apa yang dilakukan oleh Rabarus, Terutama Tama Putranya.
'Cih, Apa yang sedang Pak Tua Itu lakukan?? Apa ia ingin pamer heeh dasar ke kanak-kanakan.' ujar Tama, heran melihat sikap Ayahnya tersebut.
'Hem.. Dia memang tidak menunjukkan bentuk Aslinya.. Akan tetapi, hanya berubah besar dengan bentuk Rubah biasa. Heum.. jika seperti ini, ia terlihat seperti sosok Monster atau Siluman. Namun, ia tidak bisa menghilangkan tanda di keningnya itu.' sambung Jura.
Kelima Spirit mengangguk saat mendengarkan ucapannya, lalu mereka melirik kearah Jura dengan penuh tanya..! Dan salah satu dari mereka bergumam. 'Memangnya, tanda apa itu?' tanya Zaku penasaran.
Sedangkan Rabarus yang sudah berubah menjadi besar.. Mengundang banyak perhatian, termasuk, Zion dan Argus. Mereka merasakan kekuatan tak terbatas mengalir keluar dari tubuhnya yang besar.
__ADS_1
Lannox yang merasakan hal tersebut, langsung menghilang, ia segera mencari Arah sumber tekanan kekuatan tersebut.
'Ini.. Aku belum pernah merasakan tekanan dari kekuatan sebesar ini.' ujar Duke bergegas menuju arah kekuatan tersebut berada. 'Cih, Kekuatan besar apa ini??'
Zion, dan Argus, sudah tiba lebih dulu dari Duke. Keduanya tampak terkejut saat melihat sosok Rubah Putih besar menutupi taman.
"Senior, Sejak kapan ada Rubah sebesar itu di Mansion ini..?" Ujar Argus, menghampiri sosok singa Putih yang sebesar Kuda itu.
"Entahlah.. Aku juga baru pertama kali melihatnya!" ujarnya terus memperhatikan sosok Rubah yang ada di hadapan Putri kesayangannya. 'Siapa Rubah Putih itu? Ia seperti mahluk Suci abadi..!!' Pikirnya yang masih belum tahu, jika sosok itu adalah jelmaan dari Rabarus.
'Apa mungkin Nak Dewi, mendapatkan Spirit baru.. Tapi, itu tidak mungkin terjadi, melihat beliau yang tidak pernah kemana-mana, kecuali saat ia kabur dari Kastil bersama Kek Garda.'
'Hei senior, meski aku merasakan kekuatan yang tidak terbatas darinya! Tapi, aku tidak merasakan ada Aura permusuhan dari Rubah indah itu.' ujar Argus, yang juga sedang mengamati sosok Rabarus.
Sedangkan Ravella yang sangat takjub dan senang melihat perubahan sosok Rabarus, yang menurutnya sangat mempesona. Malah berujar, menyatakan kekagumannya.
"Wow.. Kau benar-benar indah Kek..!" ujar Ravella, saat melihat sosoknya yang besar. Dan juga mempunyai tanda khas di keningnya.
"Nak, ayo naik ke punggungku!" Gumam Rabarus tiba-tiba.
Melihat reaksi Rabarus yang berubah serius, Ravella langsung faham.
'Hem.. Pasti ada sesuatu yang tidak bisa ia bicarakan di sini..' pikir Ravella, yang sangat peka sambil melihat area sekitar taman, Yang sudah dipenuhi banyak orang.
Namun, saat Ravella mulai mengangguk dan tubuhnya mulai melayang perlahan.. Tiba-tiba tubuh kecil itu, langsung di tahan oleh Lannox yang baru saja muncul.
Lannox yang sangat protektif dengan Putrinya.. Tidak peduli dengan sosok Rubah besar yang ada di hadapannya itu. Baginya Putrinya adalah yang utama.
"Katakan siapa kau?" ujar Lannox menatap tajam, kepada Rabarus. Dan langsung merangkul Putrinya yang juga sedang memeluk Gapi.
Lannox mengabaikan Gapi, karena perhatiannya saat ini hanya terfokus pada sosok Rabarus, Namun tidak dengan Gapi.
Gapi yang sangat ketakutan dengan tubuhnya yang gemetar karena kehadiran Duke, baginya hal yang paling mengerikan di dunia ini adalah sosok Duke. Ia benar-benar trauma dengan apa yang telah di lakukan Duke padanya.
Kedua Spirit yang terkejut melihat kehadiran sosok Masternya.. Segera menghampiri Sang Master.
'Celaka, aku tidak merasakan adanya Aura permusuhan dari Rubah itu! Tapi justru, perasaan ini berasal dari bocah kunyuk itu. Sial, semoga saja ia tidak bertindak bodoh.' ujar Zion, yang mengkhawatirkan Masternya.
"Ayo.. Dia harus secepatnya di cegah, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan di lakukan Rubah tersebut. Melihat bagaimana besarnya, kekuatan tak terbatas yang ia miliki." ujarnya kepada Argus.
__ADS_1
Argus mengangguk setuju, dan keduanya pun segera menghampiri Sang Master.