AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
DIMANA ADA MASTER, DISITU ADA KITA.


__ADS_3

Setelah berunding di meja bundar.. Keempat Pria tersebut menyaksikan dari Zona mana! Tampak sosok Sang Master yang sedang menunggangi Zion.


"Ya Nak, kita sudah sampai." ujar Zion.


Zion mengubah bentuknya sedikit mengecil, Lannox turun lebih dulu.. Lalu menggendong Putrinya. Ravella terkejut saat melihat tempat tersebut di penuhi dengan banyak pohon-pohon indah, yang menyala terang di siang hari.


"Wow.. Mereka seperti hidup! Ini jadi terlihat seperti Game Piano." ujar Ravella takjub.


"Game Piano..! Apa maksudnya Putriku?"tanya Lannox bingung.


'Oups.. Aku salah bicara, di dunia ini mana ada yang mengerti permainan seperti itu!' pikirnya bingung. " I-itu.. Ng? Bagaimana ya.. menjelaskannya! Intinya itu sebuah permainan Ayah he.."


Ravella bingung menjelaskannya, karena di dunia yang ia tinggali sekarang, tidak ada permainan seperti itu. Setelah tiba di tempat tersebut.. Setiap kali angin bertiup, setiap pohon itu menyala bergiliran seperti mengikuti irama angin.


"Ayah, Ravel baru tahu jika ada tempat seindah seperti hutan ini." ujar Ravella yang di pimpin Sang Ayah, saat mereka berjalan.


Sedangkan Zion, hanya diam mengikuti dari belakang, Ravella yang peka akan situasi tersebut! Langsung mengutarakan isi pikirannya.


"Kakek, sejak tadi kulihat Kakek banyak diam. Memangnya apa yang sedang kakek pikirkan?" tanya Ravella polos.


"Tidak ada sayang, aku hanya menikmati momen indah hutan ini." ujar Zion beralasan, sambil sesekali ia melirik kearah Sang Master.


Sedangkan Sang Master tidak memberi tanggapan sedikitpun, Lannox hanya diam. Seolah ia sedang menyimpan sesuatu di pikirannya.. Zion sebenarnya merasa sangat canggung saat mereka saling berdiam seperti itu. namun ia sadar.. Perkataannya telah melukai Sang Master, Tapi ia hanya mengatakan kejujuran tanpa ada niat menyinggung sama sekali.


"Kakek benar, tempat ini sangat bagus bukan. Lalu Ayah.. Sebenarnya kita mau pergi kemana?" tanya Ravella, yang masih santai berjalan, mengikuti langkah Sang Ayah.


Belum sempat Lannox menjawab! Tiba-tiba muncul keempat Pria, yang sejak tadi hanya berdiam di Zona Mana. Dan saat melihat kehadiran keempatnya, Lannox langsung bergumam.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Lannox terkejut, melihat kehadiran mereka yang tiba-tiba muncul.


"Di mana Master, di situ ada kita." ujar Saga.


"Tumben hari ini kau tidak sibuk Nak!!" ujar Jura, berjalan di sisi Lannox.


"Bukan Urusanmu." ujar Lannox ketus.


Jura lalu melirik kearah Zion, yang tampak Canggung tidak seperti biasanya.!. Melihat itu Jura berceletuk, membuat keduanya saling membuang muka.


"Ada apa dengan kalian berdua? Tumben sekali.. Kalian tidak banyak bicara, Apa kalian sedang bertengkar??" pancing Jura.


"Heh.." Lannox.


"Cih.." Zion.


Keduanya saling membuang muka.. Melihat itu Garda langsung tertawa. karena keduanya tampak seperti pertengkaran anak-anak baginya.


"Hahahaha... Dasar para bocah. Kalian sungguh tidak menunjukkan contoh yang baik, di hadapan Putri kecil kita. apa kalian tidak malu bertengkar seperti ini..!" ujar Garda melirik keduanya.


"Benar, kami saja tidak pernah bertengkar dengan Dewi tuh, sepertinya Dewiku jauh lebih dewasa di banding kalian berdua." sambung Gira, Membuat keduanya kesal.


"Berisiiiik...!!!" ujar keduanya berteriak secara bersamaan.

__ADS_1


"hahaha.. Ayah dan Kakek sangat kompak sekali, kalian seperti sehati." tawa Ravella pecah melihat keduanya, mempunyai sifat yang sangat mirip.


Melihat reaksi Putrinya, Lannox dan Zion hanya terdiam tidak menanggapi, Tak lama mereka tiba di tempat tujuan.


"Kita sudah sampai Putriku." ujar Lannox, yang masih membuat Ravella dan yang lainnya bingung, kecuali Zion.


"Bukankah pemandangan di sini, sama dengan yang tadi..?" ujar Ravella heran.


Tiba-tiba Lannox menyeringai, dengan Zion.


"Hehe.. Nak, kau akan terkejut saat melihatnya!" ujar Zion.


"Ng! Apa maksud Kakek?" tanya Ravella masih bingung.


"Zion, ayo lakukan." perintah Lannox.


'Mereka dalam sekejap langsung Akur Begitu saja.. Benar kata Kek Garda! mereka berdua mirip seperti anak-anak, bertengkar lalu dengan mudahnya berbaikan lagi.' ujar Ravella memperhatikan keduanya.


Sedangkan keempat Pria masih heran, dengan sikap keduanya yang tampak misterius.


"GWAAAARRRRRRR.....!!!" Zion maju kedepan memunggungi yang lainnya, yang sedang heran memperhatikan sikapnya.. Sedangkan Ravella langsung di gendong oleh Ayahnya.


"Ayah.. Apa yang Kakek Zion lakukan??"


"Hem.. Kau akan segera tahu Sayang."


Zion menghadap pada pohon-pohon tersebut, lalu mengaum garang sehingga suaranya bergema keras di setiap hutan tersebut. Dan tak lama.. Tampak pohon-pohon yang berjejer rapi, saling bergeser, seolah sedang membuka jalan untuk mereka.


Pohon-pohon tersebut memisahkan diri menjadi dua barisan, Nampak sebuah jalan terbentang panjang luas hingga jauh kedalam.


"Ayo kita masuk Sayang!"


Lannox masuk lebih dulu sambil menggendong Putrinya, di ikuti Zion di sisi kanan Duke. Begitu pun yang lainnya.. Yang mengikuti dari belakang. Dan setelah mereka masuk ketempat tersebut, pohon-pohon itu bergerak kembali seperti semula, menutup jalan lalu menghilang.


"Ayah, Hutannya menghilang! bagaimana kita bisa pulang nanti?" tanya Ravella dengan polosnya.


"Hehe, kau tidak perlu khawatir Sayang. Ayo kita pergi.."


***


Di tempat lain... Di perpustakaan istana, Lukas sedang duduk merenung memutar cincin yang ada di jarinya.


'Aku sangat berharap jika Guru baik-baik saja.. Dan kenapa beliau berpesan seolah beliau sudah tahu dengan apa yang akan terjadi padanya! Dan untuk apa Kaisar masih ingin menangkap Raja Dan Guru? padahal, Kaisar sudah mendapatkan apa yang ia mau. Ia juga sudah menang dan memiliki segalanya.


Baginda Raja dan Guru juga, sudah tidak ingin terlibat lagi dalam urusan negara.. Apa yang sebenarnya Kaisar Muda itu inginkan dengan menjadikan mereka buronan Kekaisaran..??' pikirnya menanyakan perbuatan Kaisar.


Saat ia hanyut dalam pikirannya.. Tak lama datang sosok kedua temannya, Arlo menepuk pundaknya.. Membuat Lukas tersentak dari lamunannya itu.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Dari tadi kami panggil, kau tidak dengar." ujar Arlo.


Sedangkan Zora langsung menarik kursi, lalu ia duduk di samping Lukas.

__ADS_1


"Hem.. Tidak ada, ini.. Ambillah hadiah dari Guru untuk kalian berdua." ujarnya mengulur kedua cincin hitam tersebut, yang berukir nama mereka masing-masing.


"Dari Guru! Memangnya.. Kapan kau menemui Guru?" tanya Zora.


***


Di Mansion, Argus yang tampak kebingungan memikirkan kejadian semalam. Ia mondar-mandir di kamarnya, karena merasa ada yang janggal!


'Malam tadi aku benar-benar tidur sangat nyenyak, tidak biasanya aku seperti itu! Sebenarnya apa yang telah terjadi di Mansion ini?? Dan hari ini aku tidak melihat keberadaan Master dan Zion, bahkan keberadaan Putri pun tidak bisa aku rasakan sama sekali..!! Kemana sebenarnya mereka pergi..?' Pikirnya bertanya-tanya sendiri.


Argus sudah memeriksa seluruh Mansion, dan benar saja.. keberadaan ketiganya tidak ia temukan dimanapun. Begitupun saat ia pergi menanyakan Pada kesatria penjaga, dan para pelayan. Semuanya memberikan jawaban sama. "tidak tahu" Dan saat ia menemui Kepala Pelayan.. Baru ia mendapatkan jawaban pasti.


"Ranov.. Apa kau tahu dimana Yang Mulia?" tanya Argus menyelidik.


"Ya, Yang Mulia menitipkan pesan untuk Anda, ini pesan dari Yang Mulia untuk anda."


Ranov menyerahkan sepucuk kertas yang masih terlipat rapi, Argus pun mengambilnya dari tangan Kepala Pelayan. Saat ia membuka dan melihat isi surat tersebut, Ekspresinya berubah terkejut.


(SAAT AKU SEDANG TIDAK BERADA DI TEMPAT, KAU HARUS MENGGANTIKAN AKU UNTUK MENJAGA MANSION.)


"Haah.. Ini sungguh merepotkan. Sepertinya Master benar-benar marah padaku!"


Mendengar ucapan argus, Kepala Pelayan tersenyum dan langsung memberi tugas pada Argus.


"Nah Yang Mulia Argus.. Tugas anda tidak hanya menjaga Mansion ini, tapi Yang Mulia juga berpesan pada saya. Jika Anda juga Harus menyelesaikan berbagai dokumen yang sudah menumpuk di ruangan kerja Duke." ujarnya sambil tersenyum.


"Haah.. Apa.....!! Sampai aku juga harus mengerjakan tugas yang membosankan itu?" Ujarnya masih tak percaya.


"Benar, ini adalah perintah mutlak dari Yang Mulia Duke, untuk anda. Dan jika anda menolak, beliau akan menambahnya menjadi tiga bulan."


"Sial.. Ini benar-benar petaka buatku, seharusnya aku mendengarkan perkataan Rudolf, untuk tidak datang Kemansion ini." keluhnya pelan, sambil mengikuti Ranov dari belakang.


***


Di tempat lain.. Masih dalam perjalanan.


'Hem.. Hem.. Anak itu pasti sedang mengeluh sekarang?' ujar Zion bertelepati dengan Lannox.


'Biarkan saja.. Sudah bagus Aku memberi hukuman yang sangat ringan buatnya!' ujar Duke balas menyeringai.


'Apa kau yakin, bocah itu bisa menyelesaikan urusan internal di Mansion?' tanya Zion Ragu dengan kemampuan Argus.


'Tentu saja.. Meski begitu dia adalah seorang Pangeran, dan dia juga sangat berbakat. Karena itu aku menyerahkan tugasku padanya.. Untuk mengurus Dukedom.'


'Cih, ternyata kau kejam juga. Sebaiknya kau jadikan saja dia asistenmu, agar kau tidak kerepotan mengurus Dukedom sendirian.'


'Heh.. Akan kupikirkan nanti, dan lagi.. Itu masih belum seberapa di bandingkan kemarahanku, terhadap niat kurang Ajarnya itu!'


'Hehe.. Kalau itu Aku setuju denganmu. kau harus mengerjainya dan buat sampai dia merasa bosan, dan menyerah ingin meminta pulang. Hahaha.. Bisa aku bayangkan, bagaimana reaksi anak itu sekarang! terjebak dalam kebosanan dengan hal-hal yang merepotkan.' tawa Zion pecah, membuat Lannox juga berseringai menikmati hal itu.


Di mansion..

__ADS_1


'Hem.. Kenapa tiba-tiba aku merinding!!' ujar Argus mengusap kedua lengannya, yang sedang duduk di ruang kerja Duke, berhadapan dengan banyak dokumen di atas meja, menggantikan peran Duke.


__ADS_2