AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
KESATRIA PETARUNG BERZIRAH EMAS


__ADS_3

Di Istana Kaisar.. Duke dan Grasia telah bersiap-siap untuk berangkat meninggalkan Ke kaisaran, dan akan segera kembali ke Mansion. Kaisar pun mengantarkan kepergiannya. Sebelum pergi, Kaisar berbicara dengan Duke.


"Kau sudah ingin kembali!? Haaah.. Sayang sekali, Padahal aku sangat senang jika kau tinggal lebih lama, di sini." ujar Kaisar berseringai, sambil menepuk bahu Duke, penuh arti.


Sebenarnya Lannox sangat kesal, karena mendapt pesan dari Kaisarlah.. Dia sampai terpaksa harus menunda kepulangannya. Dan lebih memilih pergi menemui Kaisar. Hanya untuk memastikan keabsahan dari informasi tersebut.


'Cih.. Siasat apalagi yang di rencanakan Pak Tua busuk ini..?!!' gumamnya dalam hati. "Hem..., Terima kasih atas kebaikan Baginda. Tapi entah kenapa? tiba-tiba saya merasa sangat khawatir meninggalkan Putri kesayangan saya terlalu lama sendiri. Untuk itu saya harus segera kembali mengusir lalat yang mengganggu Putri saya." ujar Duke menyindir Kaisar, sembari tersenyum. Karena ia telah mendapat kabar dari prajurit bayangan miliknya. Jika Pangeran tinggal di Mansion.


Mendengar ucapan Duke, yang penuh tekanan. Justru membuat Kaisar tertawa lepas. Seolah ia sudah mengerti maksud dari sindiran Duke tersebut. "Hahahaha... Sayang sekali. Padahal banyak yang ingin aku bicarakan denganmu! Tapi, yah.. Mau bagaimana lagi.. karena Kau juga mempunyai seorang Putri, yang sedang menunggumu bukan? pastinya kau sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengannya..!" seru Kaisar sembari berseringai, dan melirik ke arah Grasia sekilas, yang kini ada di belakang Duke. Sedang memperhatikan mereka berdua.


Sadar akan tatapan Kaisar, padanya..! Grasia berusaha tetap terlihat tenang, dan mencoba tersenyum, meski merasa terpaksa. 'Tampaknya Kaisar tidak menyukaiku? Apa mungkin hanya perasaanku saja..!' pikirnya masih ragu dengan perasaannya.


Setelah saling menyapa, Duke pun segera pamit untuk menaiki kereta. Dan perjalanan ke Mansion pun di mulai.


.


.


Di dalam perjalanan pulang, suasana dalam kereta.. Terasa sunyi senyap, tak ada pembicaraan yang terjadi. Duke tampak secara frontal bersikap apatis, dan mengabaikan keberadaan Grasia. Mereka Duduk bersebrangan dan tidak saling bicara.


Duke bersandar sambil melipat tangan, dan memejamkan kedua matanya seolah membuat batas agar tidak diganggu. Sedangkan Grasia, yang paham dengan reaksi Duke.. Tampak tidak terpengaruh sedikitpun, dan kebetulan ia juga sedang malas berbicara. Grasia Mengalihkan pendangannya, ke arah jendela. Tampak matahari sudah hampir tergelincir.


Melihat pemandangan tersebut, ia tampak menikmati suasana hiruk pikuk kota yang kelihatan sangat ramai dan riuh itu. Ia tersenyum simpul melihat pemandangan tersebut, sambil bergumam dalam hati. 'Aku tidak menyangka semua ini berjalan begitu mulus.' pikirnya berseringai.


Sedangkan Icarus yang berada di luar kereta.. Ia berada di jalur lain, sambil memantau situasi sekitar kota, dan mengawasi kereta Masternya dari kejauhan. Namun.. Jauh di dalam lubuk hatinya. Ia justru sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Putri Masternya tersebut. Sambil bergumam dalam hati.


'Entah kenapa? Hatiku dari kemarin, terasa senang sekaligus gelisah! Aku benar-benar tidak paham dengan perasaan ini..!? Dan lagi.. Jujur saja. Aku tidak merasakan apapun, pada anak yang mengaku Putri, bocah itu! Seharusnya taku turut senang. Tapi justru sebaliknya.. aku sangat tidak senang dengan kehadirannya.


Satu-satunya cara untuk memastikan apakah perasaanku ini benar atau tidaknya! Ialah dengan bertemu Putri kesayangan, yang sering ia bicarakan itu. Dan mulai sekarang, aku juga harus mengawasi anak itu! Entah kenapa aku merasa tidak tenang saat berdekatan dengannya. Seperti ada energi aneh di sekitar anak itu. Aku juga tidak ingin menduga tanpa bukti. karena ini baru opiniku saja.' gumamnya dalam hati, sambil melompat ke setiap pohon tinggi. Ia mengawasi kereta dari kejauhan. Dan beberapa saat kemudian, ia pun mulai menghubungi Lannox.


Icarus bertelepati dengan Duke. 'Kheh.. Tumben kau tidak berbicara dengan Putrimu? Seharusnya kau menunjukkan sikap selayaknya orang tua pada umumnya! Dan merasa bahagia, karena telah dipertemukan dengan Putrimu yang lain?!' ujar Icarus menyindir Lannox.


Mendengar ocehan dari Spirit ketiganya tersebut, ia merasa dongkol dan risih. Karena terdapat ejekan yang terselubung, dibalik perkataannya yang terdengar sok bijak itu.


'Cih, bukan urusanmu. Kau fokus saja mengawasi dari luar, dan laporkan semuanya padaku, jika kau melihat sesuatu yang mencurigakan.' ujarnya mengabaikan omongan Icarus, dan membahas hal lain.


'Heh.. Tidak perlu kau ingatkan pun, aku juga sudah tahu tugasku. Kenapa kau mengalihkan pembicaraan?! Bukankah kau tampak bahagia kemarin, saat berbicara dengannya..!' ujarnya menyentuh lagi topik tersebut. Meskipun apa yang ia lihat justru sebaliknya.

__ADS_1


Icarus tampak sengaja memicu amarah Lannox, dan ingin membuat Masternya kesal. Dan benar saja. Tak lama.. Lannox tersulut dengan perkataan Icarus barusan.


'Semakin lama.. Sifatmu jadi menyebalkan ya..? Bilang saja jika kau sudah bosan hidup! aku akan dengan senang hati menghabisimu saat ini juga.' ujarnya yang sudah muak dengan ocehan Icarus. Hidupnya yang terasa tenang menjadi berisik, karena Icarus. 'Sial, bagaimana bisa aku terus mendapat Spirit yang sama cerewetnya dengan Pak Tua itu. Padahal awalnya dia sangat pendiam..! Tapi, semenjak kami tiba di Istana, sikapnya mulai berubah. Sifatnya jadi semakin mirip dengan Pak Tua itu. Apa memang semua Spirit seperti itu?!' pikirnya heran, ia tidak habis pikir dengan perubahan sifat Icarus.


'Omong-omong apa yang sedang di lakukan Pak Tua itu, sekarang? Aku sudah lama tidak memberinya kabar. Kira-kira bagaimana reaksinya saat melihat Icarus nanti ya..!!' pikirnya lagi. Namun, bayangan Putrinya kembali terlintas di benaknya. Hatinya semakin dibuat tidak tenang.


'Haah.. Sial, bagaimana caranya aku menjelaskan masalah ini dengan Putriku? Aku juga tidak menyangka ini akan terjadi secepat ini. bukannya aku tidak paham dengan maksud Icarus! Hanya saja.. Aku tidak sanggup membayangkan reaksi Putriku, saat melihat Anak ini. karena itu, aku berusaha tetap tenang, meski sebenarnya aku sangat gelisah. Jujur saja.. Aku sangat takut membayangkan reaksinya saat kembali.' Lannox sangat khawatir dengan sifat pemberontak putrinya yang akan kabur meninggalkannya.


Hati dan pikiran Lannox saat ini sedang berkecamuk, sementara itu.. tidak ada yang tahu bahaya apa yang sedang mengincar Putrinya.


.


.


.


Di paviliun.. Sang Pangeran yang melihat kedekatan Ravella dengan kedua anak angkatnya itu. Sangat tidak senang, Saat Ravella sedang asyik-asyiknya mengobrol.., Pangeran langsung menghampiri mereka bertiga. Yang di ikuti kedua pengawalnya.


"Sepertinya kalian begitu menikmati jamuan makan siang, tanpa kehadiran ku ya...!" sindirnya sambil melihat Rog dan Ron, dengan tatapan tajam. Tampak ekspresi masam mulai singgah di permukaan wajahnya. Dengan perasaan yang sedang kesal, ia langsung duduk di dekat kursi di samping Ravella.


Pangeran diam mengabaikan keduanya, dan berbicara pada Ravella. "Kau sangat tega, Vella." ujarnya dengan ekspresi masam.


"Maaf jika saya telah lancang karena tidak mengundang anda Pangeran, tapi karena hari ini, memang sudah seharusnya saya menghabiskan waktu bersama mereka berdua." balas Ravella. Sadar akan ekspresi Pangeran yang tampak merajuk, ia jadi merasa tidak enak hati. Begitupun dengan Rog dan Ron. Rog yang sangat peka membaca situasi, dengan cepat mengajak Ron, untuk pergi. Namun tidak dengan Ron, yang tampak tidak rela meninggalkan mereka berdua.


"Baiklah, karena kami juga sudah selesai.. Ka-kalau begitu izinkan kami berdua pamit undur diri Yang Mulia Putri, Dan Yang Mulia Pangeran." ujarnya memberi hormat yang juga di angguki oleh Ravella.


"Baiklah kita akan bertemu lagi, saat makan malam." ujarnya singkat. Setelah itu merekapun berlalu pergi meninggalkan keduanya. Berbeda dengan Rog, Ron justru tampak tidak senang dengan kehadiran Pangeran. Baginya Pangeran hanyalah pengganggu. Rog yang sadar dengan kekesalan adiknya hanya tersenyum sambil mengusap kepalanya.


Setelah kepergian Rog dan Ron, keduanya hanya terdiam. Ravella yang sejak tadi merasa gelisah, terus melihat ke arah gunung yang ada di hadapan mereka. 'kenapa ini..? Firasatku tidak enak. Sebenarnya apa yang ada di balik gunung itu!? Awan gelap yang entah datang darimana tiba-tiba saja terus menyelubungi gunung tersebut. Dan kenapa tidak ada yang bereaksi pada gunung itu? Apa mungkin hanya aku saja yang bisa melihatnya..!!' pikirnya bertanya-tanya.


Sedangkan Pangeran yang melihat perubahan pucat pada wajah Ravella, dengan cepat menyapanya. "Vella.. Vella.. Ada apa? Apa yang terjadi, apa kau sakit?" ujarnya menepuk bahu Ravella. Seketika Ravella langsung tersadar dari lamunannya.


"Ah.. A-apa? Ti-tidak ada apa-apa. Omong-omong Pangeran, apakah anda melihat sesuatu yang aneh pada gunung itu??" dalihnya mengalihkan topik pembicaraan, dan memastikan apa yang ia lihat.


Pangeranpun memutar pandangannya pada gunung yang dibicarakan Ravella. Ia melihat dengan seksama, namun tak ada yang aneh pada gunung tersebut. "Hmm.. Sejauh yang aku lihat, gunung itu sangat indah. Namun tak ada hal aneh seperti yang kau tanyakan.'' ujarnya santai.


'Apa.. Berarti hanya aku yang bisa melihatnya! Pantas saja tak ada kehebohan yang terjadi.' gumamnya dalam hati. Ia memastikannya lagi untuk melihat kesekian kalinya. Dan.. pemandangan yang ia lihat masih sama dengan sebelumnya. Gumpulan awan hitam terus menyelimuti gunung tersebut, seolah-olah akan menelannya.

__ADS_1


'Gawat, kalau begitu aku harus segera memanggil para Kakek, untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.' ujarnya mulai cemas. "Pangeran.. Maaf saya harus segera pergi. Kita akan bertemu lagi saat makan malam." ujarnya segera beranjak dari kursi, dan meninggalkan Pangeran yang dipenuhi banyak tanya.


"Tunggu... Memangnya kau mau pergi kemana, Vella..?" panggilnya, yang melihat Ravella berlari tergesa-gesa. Seakan ada keperluan mendesak.


Saat Ravella sedang berlari, Sesuatu yang tidak terduga pun terjadi. cuaca yang tadinya cerah.. berubah menjadi gelap, angin ribut bercampur kilat, menyelubingi seluruh Mansion. Ravella dan Pangeran serta yang ada di Mansion.., semuanya di buat terkejut dengan pemandangan tersebut. Para pelayan berteriak sambil berlari ketakutan.


Para kesatria yang mengkhawatirkan keadaan Putri, berpencar mencari keberadaan Yang Mulia kecil. Begitupun Rog dan Ron.. Yang telah pergi mulai berbalik arah menuju Paviliun tempat Sang Putri berada.


Sedangkan para Spirit tidak ada di tempat. Kecuali Argus, dan Albo. Argus yang tengah sibuk di ruangan kerja, tiba-tiba saja di kejutkan dengan tiupan angin kencang, yang membuat jendela terus membanting ke dinding. dan semua dokumen di atas meja berserakan berterbangan karena hal tersebut.


'Ada apa ini.. kenapa ada angin ribut? bukannya barusan cuaca terlihat sangat cerah. dan perubahan cuaca yang tiba-tiba ini' sangat janggal! tunggu.. apa jangan-jangan.. sial, kenapa aku bisa tidak menyadarinya. aku harus segera menghubungi senior.' pikirnya cemas. Argus pun segera bergegas meninggalkan ruang kerja.. Dan menuju ketempat Ravella berada sembari menghubungi Zion.


Sedangkan Albo.. ia yang baru saja pulang berburu dan langsung Di kejutkan dengan pemandangan yang tidak biasa. 'Apa yang terjadi....? Bukankah tadi cuacanya sangat cerah...!! mengapa di sini malah terjadi badai?' gumamnya yang juga merasa janggal dengan fenomena tersebut. 'ini aneh, aku harus melaporkan masalah ini pada Yang Mulia Zion. Tapi, di mana beliau? Aku bahkan tidak merasakan keberadaanya! Sial, aku baru ingat Yang Mulia berpesan untuk selalu melindungi Yang Mulia Kecil, saat beliau sedang tidak di tempat. Gawat, kalau begitu aku harus mencari Yang Mulia kecil.' pikirnya langsung menghilang, dan mencari keberadaan Putri Ravella.


...----------------...


Sementara itu..., di dalam Zona Mana! Situasi di sana sangat menegangkan. Garda yang selalu terlihat santai dan tidak pernah serius bertarung, sekalipun dalam latihan dengan Para Spirit. kini mulai menunjukkan entitas kekuatannya.


Sangking besarnya energi yang ia keluarkan, hingga membuat semua Spirit kelabakan. Termasuk sekelas Rabarus dan Jura, ikut merasa terintimidasi. Mereka dibuat tidak berdaya akan kengerian energi Garda. Yang justru levelnya berada jauh di atas mereka. Keduanya bahkan tidak bisa bergerak. Padahal mereka sudah memasang barrier pelindung.


Zion yang kini dalam kondisi tidak sadar, karena telah di kuasai oleh kekuatannya sendiri. Rasa takut telah menghilang, bersamaan dengan kesadarannya. Yang dia tahu saat ini, hanyalah keinginan untuk membunuh musuh yang ada dihadapannya. Meski tubuhnya tidak bisa bergerak, karena energi Garda yang begitu dominan. Ia terus mengaum dan memberontak untuk bergerak menyerang Garda.


Namun.. Di tengah pertarungan sengit. Tubuh biru Garda tiba-tiba bertransformasi kedalam wujud petarung. Seluruh tubuhnya dari kepala sampai kaki, dilapisi dengan zirah emas. Dan di tangannya muncul tombak hitam keemasan, yang mengeluarkan petir hitam dan kuning. yang tidak pernah ia perlihatkan sebelumnya, di hadapan Para Spirit. Semua Spirit yang menyaksikan hal tersebut di buat terkesima, sekaligus takjub. Bahkan mereka sampai tidak bisa berpikir apapun, karena perubahan Garda, yang telah banyak menyita perhatian.


Tidak hanya itu! bahkan amukan Zion sekalipun, tidak ada artinya di hadapan wujud Kesatria berzirah emas tersebut. Begitupun dengan kelima Spirit lainnya yang ikut merasakan kengerian tersebut. Zion terus mengaum dan berusaha sekuat tenaga, agar bisa terlepas dari tekanan energi besar tersebut. Ia sangat ingin menghabisi Garda. Tapi.. Amarah yang telah menguasai dirinya.. Langsung berubah seketika. Amarah yang sejak awal lebih dominan. Kini berubah menciut, karena rasa takut.


Sebagai seorang Kakek, Zaku sangat khawatir dan berkeinginan melerai pertarungan tersebut. Namun, entah apa yang terjadi..? Di tengah pertarungan Garda tiba-tiba bertransformasi menjadi wujud asing yang tidak ia kenali.


Perubahan dan energi tersebut seketika telah membuatnya lupa dengan niat awalnya. Bahkan ia yang biasanya mudah naik darah dan selalu bertindak nekat, kini langsung menciut saat menyaksikan wujud Garda tersebut. Nyalinya seketika langsung buyar dan menghilang begitu saja.


Tidak hanya Zion, dan Zaku. Bahkan Tama, Roya, Gira dan Saga.. Juga di buat tidak berkutik sama sekali. Mereka hanya bisa terdiam dan terpaku dengan keadaan tersebut.


'Ada apa ini? Kenapa aku merasakan ada energi Paduka! pada tubuh Pak Tua itu. Apa sebenarnya yang terjadi..!! Apa dia benar-benar serius ingin menghabisi Zion..!!? Gawat.. Ini berbahaya. Aku harus menghentikannya.


Tapi masalahnya sekarang.., aku tidak bisa bergerak. Tidak hanya aku, bahkan sekalas Rabarus saja, tidak berdaya di hadapan kekuatan ini..! Bagaimana ini.. Wahai Paduka Dewa.. Apa yang harus hamba lakukan dalam situasi seperti ini??' pikirnya, yang juga kebingungan.


Sementara Rabarus yang sejak tadi hanya mengamati situasi, tiba-tiba bergumam dalam hati. 'Apa-apaan ini.. Kenapa aku merasa ada energi Paduka, dalam wujud emas itu? Sebenarnya, apa yang terjadi...!? Tubuhku bahkan di buat gemetar tak berdaya. Siapa sebenarnya Pria ini?' dirinya kini dipenuhi bermacam pertanyaan.

__ADS_1


__ADS_2