AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
MAAF ANDA SIAPA?


__ADS_3

setelah jura kembali ketempat semula, waktu yang membekupun telah kembali berjalan normal.


"aku harus segera kembali kemantion, dan melihat keadaan anak itu?"


(zaku) "bagaimana, keadaan anak ini..?"


"haah kau tenang saja kakek, syukurlah kalian cepat membawanya. jika tidak, anak ini pasti sudah tewas. ia tidak hanya luka fisik, tapi juga luka dalam."


(saga) "apa maksudmu nak?"


"gapi mengalami cedera serius, sepertinya dia juga terkena serangan fatal yang mengakibatkan paru-parunya hangus sebagian."


(zion) "apa separah itu..?"


"apa kakek tidak sadar didadanya yang tertutup darah, ada luka bakar."


(saga) "pantas saja jura memaksa kami untuk segera membawanya kepadamu"


(zaku) "ya omong-omong.. bagaimana kau bisa menyembuhkan luka anak ini, apa kau juga belajar ilmu pengobatan!"


"apa kakek bodoh?"


(zaku) "apa kau bilang, dasar cucu kurang ajar?"


"kau kakekku, tapi kau tidak mengetahui tentangku, makanya.. jangan sibuk hanya bermain-main dengan wanita saja. sampai tidak tau kelebihan cucu sendiri, dasar memalukan."


(garda) "hahahaha.. akhirnya ada juga yang bisa memberitahumu, bagus zion, aku dipihakmu nak."


(zaku) "sialan, kau lagi.. jangan ikut campur urusan keluarga kami, urus saja urusanmu. sepertinya kau menaruh dendam padaku pak tua..!"


(garda) "aku tidak dendam, dan lagi siapa bilang ini hanya urusan keluargamu, zion juga sudah seperti cucuku sendiri, jadi aku juga adalah bagian dari kelurganya."


'sejak kapan dia jadi keluarga? lebih baik aku tinggalkan saja mereka.'


zionpun melangkah pergi, meninggalkan kakeknya dan yang lainnya.


(gira) "hah mulai lagi mereka.."


(roya) "tama, apa kau tidak ingin bergabung dengan mereka?"


yang lainnya hanya tersenyum, mendengar roya menyindir tama.


(tama) "ciih.. jangan memancingku..! hei.. mau sampai kapan kalian berdua, berdebat kosong hah...!"


(roya) "apa tidak cukup hukuman yang sudah diberikan oleh


kaisar? dasar mereka ini."


(saga) "ya selagi kalian sibuk berdebat, sementara anak itu sudah pergi meninggalkan kalian berdua."


akhirnya keduanyapun saling menengok dan berhenti, zion pergi kepaviliun tempat kegemarannya dan ravella, dan tak lama.. datang seseorang yang menghampirinya.


"bagaimana keadaan anak itu..?"


zion menoleh kesamping, tampak sosok yang mengenakan pakaian serba hitam dengan rambut panjang sepunggung. rambut belah tengah yang diikat setengah kepala, dan menyisakan kedua poni yang terbelah. yang kini sudah memanjang separas rahangnya.


"kakek.. kapan kau sampai..?"


"baru saja.."


"apa kau tidak melihat anak itu?"


"sudah, namun aku malas membuang waktu, didalam keributan yang tidak penting. bagaimana denganmu! apa yang kau lakukan disini..?"


"tidak, hanya saja.. aku rindu saat bersama dengan dewi, entah kapan dia sadar?"


"tenang saja.. dewi sedang dalam pemulihan, karena terlalu banyak energinya yang terkuras tanpa tidur beberapa hari."


"ya jika begitu syukurlah, berarti dewi tidak kenapa-napa."


"ya sudah, aku pergi dulu."


jura bangkit dari duduknya iapun melangkah pergi.


"kakek mau pergi kemana?"


"kezona mana, ada sesuatu yang ingin kupastikan."


"apa itu?"

__ADS_1


"kau akan segera tau nanti."


"cih apa-apaan jawaban ambigu itu?"


dikota dakus tempat lannox dan damu berada.


"sialan, bagaimana bisa kau melepaskan mereka semudah itu, seharusnya kau menangkap mereka."


(damu) "kau tidak perlu khawatir, aku tau kemana mereka akan pergi."


"apa maksudmu?"


(damu) "tugas kita sekarang sudah selesai, lalu.. mau kau apakan anak-anak penyihir ini?"


"sebelum itu.. kembalikan dulu tubuhku sialan."


(damu) "apa kau tidak bisa memintanya secara baik-baik? haah.. baiklah.. baiklah"


dalam sekejap mereka sudah kembali bertukar, lannoxpun sudah menguasai tubuhnya sendiri. ia menggerakkan kedua tangannya.


"aku akan mengurung mereka dipenjara terdalam dan tergelap. dimana sihir dan mana serta aura tidak bisa digunakan disana. argus.."


dikota vala tempat argus berada, saat ia sedang berkeliling dikawasan kota.


"argus.."


'ini suara yang mulia.. hmm akhir-akhir ini, beliau sering memanggilku. apakah dia sudah mulai mempercayaiku.,?"


"wushhh... wushhh.. wushhh.."


tak lama arguspun segera muncul dihadapan lannox.


"saya menghadap yang mulia.. apakah ada yang bisa saya bantu!"


"kurung orang-orang ini, dan jangan pernah lepaskan mereka."


argus melihat keenam penyihir berkumpul dalam satu tempat dengan keadaan masih tertidur dan melayang, anehnya mereka tidak sadar samasekali.


'apa mereka sudah gila? bisa-bisanya tidur nyenyak, dalam kondisi seperti ini.' argus berpura-pura bertanya. "siapa mereka yang mulia?"


"kau tidak perlu tau, tugasmu hanya mengurung mereka."


dalam sekejap penyihir yang ada dihadapan merekapun menghilang, sementara damu terus mengamati argus dalam diam.


'mengapa aku merasa, seperti ada yang sedang memperhatikanku?' argus mengernyit seakan merasakan sesuatu, namun ia mengabaikannya. "apa ada lagi yang mulia?"


"tidak, sekarang ayo kita kembali kekota vala, karena tugasku disini sudah selesai. tik"


dengan petikan jarinya, lannox langsung membuat teleport dan pergi kekota vala.


...----------------...


dibenua selatan, raja yang menahan geram, sedang berdiri menghadap jendela.


"Baginda raja, tuan lukas datang menghadap."


"masuk"


pengawal membukakan pintu, untuk mempersilakan lukas masuk kedalam.


"saya menghadap baginda, gerangan apakah yang membuat anda memanggil saya ditengah malam-malam begini..?"


"aku sudah mendengar rencana yang kau lakukan, secara diam-diam tanpa seizinku."


"maafkan saya baginda raja, karena telah lancang, akan tetapi, saya terpaksa melakukannya..! ini juga saya lakukan demi kepentingan negara ini baginda."


sang raja yang tengah duduk angkuh diruang kerjanya, menjadi berang, sambil menatap nyalang kearah lukas.


"dan kau melakukannya tanpa berdiskusi dulu denganku, kau anggap apa aku ini, praaankk."


gelas kaca dilemparkan raja dengan ringannya, kearah lukas yang masih berdiri tegak. tampak darah menetes, dan teh yang masih hangat membasahi wajahnya, dan mengenai rambut birunya yang basah terkena siraman teh tersebut, lukas masih berusaha terlihat tenang dan, mengontrol mimik wajahnya yang tampan.


"saya sungguh tidak bermaksud begitu baginda, karena saya tau betapa pentingnya peran para bangsawan dalam masalah ini..! jika kita tidak melibatkan mereka sama sekali, masalah ini pasti masih belum terpecahkan."


"karena semuanya sudah terlanjur, untuk kali ini.. kau aku ampuni. tapi tidak akan ada kata lainkali, jika kau berani mengatur kerajaanku tanpa melibatkanku..! maka bersiaplah untuk dieksekusi ditiang gantungan. karena aku tidak akan bertoleran dalam urusan ini. namun, mengenang jasamu untuk negara ini. aku akan memberimu satu kesempatan lagi dan jika ini gagal, kau harus menyelesaikannya sendiri.. seperti mana kau telah memulainya."


lukas terkejut dan menjadi pucat, mendengar kata eksekusi, namun wajahnya kembali beriak tenang setelahnya.


"terimakasih baginda, karena telah memberi keringanan untuk saya."

__ADS_1


"pergilah, aku tidak ingin melihat wajahmu."


"baik, saya mohon undur diri dulu."


lukas menunduk hormat kepada raja yang memunggunginya, tak lama, iapun melangkah pergi meninggalkan sang raja sendirian, ceklik. setelah kepergian lukas, raja menoleh kesamping, muncul bayangan hitam dibelakang raja.


"wusshhh... baginda raja, master sihir telah kembali dari misi. dan beliau sudah memasuki perbatasan."


"bagus, katakan padanya untuk segera menemuiku setelah tiba."


"baik baginda raja, saya undur diri dulu.. wusssshh."


bayangan hitampun kembali menghilang, meninggalkan raja dalam keheningan.


"hmm tiga hari lagi.. aku sudah siap, apapun resikonya akan aku terima."


sebenarnya sang raja sangatlah gelisah, namun.. ia menutupinya dengan berusaha tenang, agar tidak membuat panik yang lainnya.


"apa kalian yang bernama ron dan rog...?"


tiba-tiba saja.. saat rog dan ron lagi asik menikmati buah persik, seseorang berpakaian hitam dan putih, datang menghampiri mereka, pria berwajah tampan dan sangat dingin sekaligus bijaksana serta berwibawa.


(rog) "maaf anda siapa?"


dia melihat kedua anak-anak itu, lalu diam sejenak.. tak lama ia kembali menjawabnya.


"bukankah sangat tidak sopan bagimu, tidak menjawab lawan yang sedang bertanya! dan malah balik melontarkan pertatanyaan, apa kalian tidak diajarkan sopan santun?"


ron melihat riak wajah dingin pria yang ada dihadapannya, dan wajah sang kakak berubah menjadi suram, lalu ia dengan cepat maju kedepan, seolah-olah ingin melindungi sang kakak dari membuat masalah.


(ron) "maaf, kakakku tidak mengerti, karena dia sudah terbiasa hidup dijalanan, saya mewakili kakak saya untuk meminta maaf."


(rog) "rog apa yang sedang kau lakukan?"


(ron) "tidak apa-apa kak, akukan sudah berjanji, akan melindungimu."


(rog) "anak bodoh."


"ahahahahaha..... anak yang lucu. siapa namu nak?"


(ron) "saya ron."


"hmm kalau begitu.. dan kau pastilah kakanya yang bernama rog."


(rog) "maaf tapi anda siapa? dan bagaimana bisa anda mengetahui nama kami?"


"aku jura, saudara dari orang yang telah menolongmu!"


rog merasa terkejut, dan tidak menyangka.. jika tuannya mempunyai saudara? meski mereka tidak kelihatan mirip samasekali.


(rog) "oh benarkah.. maaf jika saya telah lancang karena telah tidak sopan kepada anda tuan."


rog menunduk hormat dengan menempelkan tangannya didada, ron yang melihat kakaknya, juga ikut melakukan hal yang sama.


"panggil saja aku paman." jura membelai kepala ron.


(ron) "paman, padahal kalian kelihatannya tidak jauh berbeda usianya dengan kakakku, tetapi.. kenapa kalian selalu memanggil kami dengan sebutan nak? dan lagi.. anda bicara seakan-akan anda sudah tua saja."


"hahahaha.. kau tidak salah menilai, tapi usiaku yang sebenarnya bahkan jauh lebih tua dari para leluhurmu."


(ron/rog) "apa.. bagaimana bisa?" rog tercengang masih tidak percaya. 'pantas saja.. mereka berdua, selalu berbicara seakan-akan usia mereka lebih tua dariku, ternyata begitu. siapa sebenarnya mereka??'


"kau akan segera tau nanti."


(rog) 'apa dia juga mendengar pikiranku?' "lalu jika boleh tau, apakah yang membuat anda datang menemui kami...! apakah anda disuruh saudara anda?"


dibenua barat, Rafael yang sedang melamun.


(daskal) "baginda..!"


"ada apa?"


(daskal) "jika saya boleh tau, apa yang baginda pikirkan hingga seserius itu..?"


rafael masih bungkam, seakan malas untuk menjawabnya. setelah lama ia terdiam! akhinya iapun bersuara.


"aku sedang memikirkannya, dia masih tidak ada kabar hingga kini, dan tidak pernah membalas suratku, bahkan kedatanganku jadi tertunda dengan kejadian ini. jika mengikut perasaanku, mungkin aku akan menculiknya secara paksa dan membawanya, agar dia selalu berada disisiku, entah kenapa? aku merasa anak itu seperti dilindungi dengan sosok yang sangat kuat! segala sesuatu yang kulakukan untuk merebutnya, selalu berakhir dengan gagal."


(daskal) "sosok yang sangat kuat! apa maksud anda baginda?"

__ADS_1


__ADS_2