
Di Zona mana.. Para Spirit sedang duduk dimeja bundar, dengan penuh kekhawatiran.
"Kenapa kau tidak melerai, saat Cucumu bertarung melawan bocah Elf itu?" tanya Tama kepada Zaku.
"Hmm.. Karena itu urusan internal antar anak muda. Dan aku merasa tidak berhak ikut campur." ujar Zaku, sambil memiringkan kepalanya, bertopang dagu pada kepalan tangannya. "Hmm.. Omong-omong aku selalu ingin menanyakan susuatu padamu! Yang sempat tertunda." ujar Zaku, melirik kearah Jura.
"Apa itu?" jawab Jura singkat.
"Sejak kapan kau bisa berubah betuk, dan memiliki tanduk seperti Rabarus?"
Jura memegang dagunya sambil melirik kemeja bundar, pertanyaan Zaku mewakili yang lainnya, yang juga sama penasaran.
"Hem.. Sejak aku berevolusi." jawabnya singkat.
"Apa!!! Lalu kenapa saat itu kau tidak menunjuk wujud barumu?" tanya Saga heran.
"Hihi.. Karena aku merasa wujud baruku terlalu mencolok, makanya aku tidak pernah menggunakannya." Jawab Jura sambil tersenyum.
"Cih, sombong sekali.. Mentang-mentang kau sudah berevolusi, sampai tidak ingin memberitahukannya kepada kami. Apa kau tidak menganggap kami saudaramu!!" ujar Zaku, kecewa.
"Haah.. Dasar kau ini, Suka sekali mendefinisikan sesuatu sesukamu, kau jadi terdengar seperti idiot yang pemahamannya kurang." celetuk Gira menghela nafas.
"Sialan kau.. Apa pedulimu hah? terserah aku mahu mendefinisikan maksudnya seperti apa!!" Ujar Zaku tampak kesal, degan Jura yang mengatainya idiot, Sehingga membuat yang lain menertawakannya.
Sementara itu Roya, tampak banyak diam tidak seperti biasanya.. Ia teringat kembali, saat ia mengikuti Jura dalam diam beberapa waktu lalu.
(Flashback) 'Hem.. Apa yang sedang ia lakukan?' pikirnya sambil memperhatikan Jura dari ketinggian.
Roya sedang menyamar menjadi burung gagak, mengintai dalam diam. Ia memperhatikan sosok Jura dari kejauhan.. Jura berjalan mendekati arah mulut Gua, Setibanya Jura di depan mulut Gua.. Jura melihat sekeliling, setelah memastikan tidak ada siapa-siapa ia langsung masuk dan menghilang dalam mulut Gua.
'Sial.. Aku sangat penasaran ingin mencari tahu apa yang sedang ia lakukan, dia tampak sangat berhati-hati sekali. Jika saja aku ikut masuk, sudah pasti ketahuan.. Karena anak itu sangat peka dengan merasakan energi yang ada di sekitarnya.. Kalau begitu aku akan menunggu disini saja.'
Setelah satu jam berlalu, Jura akhirnya keluar dari Gua tersebut. Dengan wajah tersenyum lega, membuat Roya semakin curiga dengan sikapnya yang sangat misterius itu!!
(Masa kini.) 'Aku penasaran, apa yang dilakukan anak itu? Sampai ia tersenyum senang seperti itu! Sayang sekali aku tidak masuk menyelidikinya.. Jika tidak, aku pasti tidak akan sepenasaran sekarang. Lain kali aku harus bertindak lebih nekat lagi, untuk mendapatkan jawaban pasti. Untuk sekarang aku akan mengawasinya saja.'
Melihat Roya yang seolah sedang sibuk sendiri dengan pikirannya.. Tama langsung menegurnya, Roya yang baru sadar, tampak kebingungan.
"Hei Roya.. Apa yang sedang kau pikirkan? Sedari tadi aku perhatikan, kau seperti tidak berada disini..!!"
"Ha..ha.. Oh aku sedang memikirkan kapan Dewi kembali hehe.." Ujarnya beralasan.
"Ah, Yang benar.. Mimik wajahmu tidak mengatakan seperti itu tuh!!" celetuk Zaku, mengejek.
"Hah.. Apa sekarang kau sudah berubah jadi pembaca wajah!! Urus saja masalahmu, jangan pedulikan aku."
"Hem.. Tapi justru itu membuat aku semakin curiga padamu..!" Ujar Zaku bersikap jahil.
'Sialan, apa benar-benar terlihat dari wajahku? Anak ini..!!' "Hah.. Jangan sok tahu kau, kucing jelek."
"Aku bukan sok tahu, tapi itu memang terlihat jelas dari wajahmu. Kau seperti sedang mencemaskan sesuatu, Yah kalau itu menyangkut soal Dewi, bukan hanya kau saja, kami juga cemas. Hanya saja.. aku percaya dengan beliau." ujar Zaku berpikir bijak.
"Ya, tumben sekali Zaku ada benarnya.. biasanya otakmu kosong. Hahahaha.." Gira tertawa senang.
__ADS_1
"Cih, dari tadi aku perhatikan, kau terus mencari masalah denganku!! Apa kau kesepian? sampai menggangguku terus dasar Ular menjijikkan."
"..........." Saga, Tama, Jura, Roya. Hanya tersenyum memperhatikan tingkah keduanya.
"Ia aku mulai jenuh dan bosan.. Makanya aku mengganggumu. Daripada kita berdebat tidak jelas.. Kheh.. bagaimana kalau kita latihan sekarang, karena ototku sudah mulai kaku semua."
"Khe.. Khe.. Kalau itu aku setuju denganmu. Ayo.." ujar Zaku menyeringai, lalu keduanya pun menghilang.
...----------------...
"Hahaha.. Ternyata kau memang masih bocah ya.. berapa usiamu?" tanya Ravella bersikap lebih tua dari Gayu.
"Emh.. Tahun ini usiaku sebelas tahun."
"Wuah.. Sebelas tahun sudah setinggi ini.. Luar biasa!!" Ujar Ravella memegang dagu, sambil memperhatikan sosok Gayu.
"A.. Ada apa kau melihatku seperti itu?"
Ravella melirik kearah Gayu. "Hem.. Tidak, hanya saja tubuhmu jauh lebih besar.. Apa mungkin karena kalian Ras Hobgoblin..!"
"Tentu saja.. Kami semua Para Hobgoblin, tumbuh lebih cepat. Kau sendiri berapa usiamu?" tanya Gayu kepada Ravella.
"Oh, aku sekarang sudah sembilan tahun."
"Mmm.. Berarti kau lebih muda dariku dua tahun. Tetapi.. Kenapa tubuhmu kecil sekali?"
"Hah.. Itu karena kami manusia, pertumbuhan kami lebih lambat jika di badingkan Ras kalian."
"Begitukah!"
***
Setelah selesai makan, haripun sudah berganti gelap. Seperti janji awal, Ravella meminta izin untuk pulang.
"Paman.. Aku sudah menepati janjiku, Jadi sekarang aku akan pulang. Ayahku pasti sedang cemas sekarang." ujar Ravella kepada Ayah Gayu.
"Baiklah Nak, kapan-kapan datanglah lagi. Kami akan selalu menyambutmu."
Ravella mengangguk tersenyum, lalu kembali melirik kearah Gayu, tampak wajah sedih Gayu, karena merasa kesepian. Baru saja ia menemukan teman baru, kini sudah harus kehilangan lagi.
"Gayu, seperti kau.. Aku juga punya keluarga yang sedang menungguku dirumah. Jadi, aku akan kembali sekarang."
Gayu hanya mengangguk dengan tatapan sedih di matanya, tampak mata besarnya berkaca-kaca seperti sedang menahan tangis. Ravella yang mempunyai hati lembut, tidak tega melihatnya, lalu menenangkannya.
"Kau tidak perlu khawatir, jika ada waktu luang.. Aku akan datang lagi nanti untuk bermain denganmu."
"Haah.. Benarkah?" mimik wajah Gayu, langsung berubah ceria, saat mendengar Ravella akan datang berkunjung lagi.
"Benar, Jadi kau harus tumbuh dengan baik, dan jangan memikirkan apapun. Oke!"
"Hehehe oke, aku mengerti, aku akan menunggumu Ravella."
"Hem.." angguknya.
__ADS_1
Tak lama Portal pun terbuka lebar, angin bertiup sedang, datang dari arah Portal tersebut. Yang lainnya sudah masuk lebih dulu.. Hanya tinggal Ravella, yang masih melihat sosok keduanya.. Lalu iapun melambaikan tangannya.
"Terima kasih Paman, karena menyambut kami dengan baik, kapan-kapan aku akan datang berkunjung lagi, Sampai jumpa semuanya..!"
Gayu, di gendong sang ayah. Meski ia sedih, tapi di waktu bersamaan ia juga merasa senang, karena untuk pertama kalinya.. ada yang tulus mahu berteman degannya.
"Sampai jumpa lagi Ravella.. Aku akan menantikan pertemuan kita selanjutnya." teriaknya dari jauh.
Ravella tersenyum sambil melambai, lalu menghilang di telan Portal.
***
Di Mansion.. Suasana kamar Duke menjadi sangat hening, Zion, dan Argus. tidak ingin menjelaskan kenapa mereka sampai berkelahi.
"Haah.. Katakan, apa yang membuat kalian berdua bertarung?!"
"........." Argus.
"........." Zion.
Melihat tidak adanya respon dari keduanya, Lannox akhirnya membuat keputusan.
"Baiklah jika kalian tidak ingin mengatakan apapun, kalau begitu jangan salahkan a...." kata-katanya terhenti seketika, karena panggilan dari seseorang yang sangat ia sayangi.
"Brak.. Ayah.....!!! Tap..tap..tap.." teriak Ravella Ceria, Sambil berlari.
Kedua Pintu terbuka lebar dan, langsung muncul sosok cantik imut dan menggemaskan. Berteriak memanggil namanya, sambil berlari kedalam pelukan sang Ayah, yang sangat ia rindukan. Di susul sepuluh pengawal dan kedua dayang di belakangnya. Sementara Gapi, tidak berani masuk, Jadi ia menunggu di kamar Ravella.
"Ravella Putriku... Kau sudah kembali sayang." Lannox yang tadi serius, langsung bangkit berdiri dan menyambut Putrinya.
Lannox merentangkan kedua tangan, dan memeluk hangat buah hati kesayangannya. Melihat penampakan tidak biasa itu, semua yang melihat jadi ikut senang. Apalagi mereka jarang melihat sosok Duke, yang bersikap hangat seperti saat ini.
"Akhinya kau kembali nak, kami sangat cemas kau pergi begitu saja." Ujar Zion, yang langsung mendekat pada keduanya.
Ravella membelai kepala Zion. "Maaf kek, aku juga tidak menyangka akan seperti ini." jawabnya jujur.
"Dasar anak nakal, kau pergi begitu saja tanpa jejak hem.. Apa kau tahu nak, betapa ayah sangat mengkhawatirkanmu Putriku." Ujar Duke, sambil menyikap poni Ravella yang sudah panjang.
"Maafkan Ravel, Ayah...!" ujarnya tulus.
Duke langsung menggendong Putri kesayanganya itu, namun.. Tidak ada yang menyadari tatapan merindukan dari seseorang. Ia tersenyum lembut, tatapannya hanya terkunci pada satu orang tersebut.
Sadar akan keberadaannya.. Ravella melirik kaarah Argus, yang sedang tersenyum padanya, lalu meyapanya.
"Anda juga ada disini, Tuan Elf!" Ujar Ravella menyapanya.
"Panggil saja saya Argus, Putri." ujarnya sopan.
"Apa kalian sudah saling kenal?" tanya Duke.
"Hem.." angguk Ravella. "Baiklah Ayah, kalau begitu Ravel kekamar dulu."
"Ya Sayang, pergilah. Ayah akan menemuimu nanti."
__ADS_1
"Baik Ayah muach." setelah mengecup pipi sang Ayah, Ravella pun kembali kekamar di ikuti yang lainnya.. Namun saat mereka akan beranjak, langkah mereka terhenti dengan perintah dari seseorang.
"Selain kedua dayang, kalian semua tetap disini." Perintah Duke, kepada sepuluh pengawal Putrinya. Semuanya langsung berubah pucat, setelah mendengarkan perintah tersebut.