
Sementara itu di asrama.. Setelah kembalinya dari kantor Edgar, ketiga Pria muda tadi membuka isi surat tersebut, lalu membacanya dengan sangat teliti. Seperti yang telah di beritahukan Edgar tadi..!
Ketiga Pria muda itu, duduk diranjang milik Pria berambut hitam, di ikuti kedua temanya yang lain. Mereka pun langsung membuka dan membaca isi pesan tersebut..
Di asrama.. Saat mereka membuka dan melihat isi surat tersebut!! Ekspresi ketiganya langsung berubah total, keringat dingin muncul di alis mereka.
(***DUA PESONA YANG TERSEMBUNYI DI ANTARA PEKATNYA KABUT, DAN HANYA BISA DI LIHAT DENGAN HATI YANG BERSIH.
KEGELAPAN AKAN DATANG MENELAN SEMUANYA.. JIKA TERDAPAT NIAT TERSELUBUNG DI DALAM HATI KECIL, BENCANA BESAR AKAN MUNCUL.
NOTE: JANGAN PERNAH KEMBALI SEBELUM BERHASIL, DAN BERGERAKLAH SAAT PURNAMA PENUH.***)
"Ini.. Bukankah misi ini sangat sulit!!"
"Apa maksudmu?" tanya Pria berambut merah cerah tersebut.
"Masalahnya.. Bagaimana jika tiba-tiba kita terpikat dan timbul rasa ingin memiliki pada hal tersebut" ujarnya mengernyitkan kening. "Apalagi kita tidak pernah tahu! benda apa itu??"
"Hem.. Ini memang misi sulit. Hanya seseorang dengan hati bersih, yang bisa melihat hal terblsebut. dan tidak boleh terdapat niat busuk di dalam hati...!!?" ujarnya sambil merenung.
Sedangkan Pria berambut coklat terang, hanya bisa terdiam bersedekap tangan tanpa mengatakan apapun.
"Hei.. Kau! Kenapa sejak tadi hanya diam saja?" tanya Pria berambut hitam itu penasaran, melihat reaksi temannya yang tidak merespon apapun setelah melihat isi surat tersebut.
"Hem.. Tidak ada. Aku hanya heran saja, apa tujuan mereka sebenarnya? Misi yang mereka berikan kali ini.. Dari luar memang tampak mudah, tapi sebenarnya.. Nyawa kita taruhannya, haah.." ujarnya menghela nafas.
Mendengar ucapan temannya itu.. Kedua Pria yang ada di hadapannya, hanya terdiam merenungi kembali apa yang di katakan Pria berambut coklat terang tersebut.
"Benar.. Misi kali ini aneh!!" sambung Pria berambut merah tadi, langsung duduk di ranjang miliknya. "Purnama penuh itu kira-kira akan terjadi beberapa hari lagi bukan?" sambungnya lagi, kepada kedua temannya.
"Benar! Kita akan bergerak saat malam tiba. Sambil menjelang saat itu tiba.. Kita juga harus mempersiapkan segela keperluan untuk di bawa.
Karena kita tidak akan pernah tahu hal buruk apa yang akan terjadi nanti"
ujar Pria berambut hitam mengingatkan temannya, karena sebagai ketua tim tersebut. Ia merasa bertanggung jawab dengan kedua temannya itu.
"Baik." ujar keduanya bersamaan.
Ketiganya pun langsung berkemas-kemas mempersiapkan segala kebutuhan untuk dibawa, kali ini.. Mereka juga ragu apakah mereka bisa kembali dengan selamat, atau tidak.
...----------------...
Keesokan harinya di Kastil, setelah selesai sarapan.. Duke dan Ravella pun sudah bersiap-siap untuk berangkat.
Sebelum pergi.. Duke berpamitan pada yang lainnya. Kecuali Ravella, ia tidak berbicara namun hanya tersenyum dan memeluk mereka.
Emilio dan yang lainnya melihat itu merasa sedih dan berat hati, karena ia merasa kastil yang tadinya selalu di penuhi kecerian,
__ADS_1
Kini.. Harus kembali sunyi seperti saat sedia kala sebelum mereka datang, Emilio bergumam padanya.
"Yang Mulia Kecil, jika anda merasa bosan di Mansion! Atau ingin liburan, Katakan saja.. Saya akan menjemput anda dengan senang hati. Dan membawa anda berkeliling di negara ini.
Karena selama anda berada di sini, saya belum sempat mengajak anda jalan-jalan. Saya minta maaf.. Ujarnya berwajah mendung.
Ravella yang berhati lembut, merasa tersentuh dan akhirnya membuka mulutnya.. Yang membuat yang lainnya terkejut.
"Tidak perlu minta maaf Emilio, aku akan datang lagi nanti.. Karena ini adalah tempat favorit ibuku.. Dan hanya disini aku bisa melihat lukisan Ibu." ujarnya tersenyum getir.
Melihat itu.. Wajah paruh baya Emilio, yang tadinya lega.. Kini kembali merasa tidak enak hati. Ia hanya bisa menghela nafas, Melihat reaksi Tuan Putri Kecilnya.. Yang merindukan sosok Sang Ibu.
Sebab ia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk memujuk hati Tuan Putrinya itu, Setelah itu.. Ravella melambaikan tanganya. Dan keduanya pun segera menaiki punggung Zion.
"Sampai jumpa lagi semuanya.." ujar Ravella melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Selamat jalan Yang Mulia.. Kami akan selalu menantikan kehadiran anda berdua." ujar Emilio tersenyum getir.
***
Di perjalanan.. Zion yang masih berjalan pelan dan santai. Masih bungkam, keduanya masih belum berbaikan setelah Duke mengusirnya.
Duke yang membuka topik lebih dulu, memecah keheningan di antara ketiganya. untuk mengobrol dengan Putrinya.
"Putriku, Ravel.."
"Ayah sangat kecewa padamu Nak.. Karena kau lebih memilih berbicara kepada Emilio, di bandingkan aku Ayahmu sendiri." ujar Duke tampak sedikit kesal.
'Mendengar ungkapan hati dari seorang Ayah sepertinya.. Yang biasanya tidak mau mengungkapkan apapun!! Rasanya sangat aneh.
Ya, memang aku akui.. Bebrapa hari ini, aku terus mengabaikan semuanya dan tidak berbicara apapun Kecuali menangis.
Itu karena aku merasa bersalah dengan Kek Garda.. Karena aku, Dia sampai mendapat hukuman. Jika saja aku tidak memberinya saran untuk membawaku pergi Dari Kastil!!
Pasti saat ini Kakek masih bersama kami dan yang lainnya. Sampai hari ini, aku terus bertanya-tanya kenapa Kakek Garda tampak pucat dan ketakutan waktu itu.
Orang seperti apa yang di takutinya.. Dan suar gemuruh Petir yang aku dengar saat itu, benar-benar sangat menakutkan.
Aku belum pernah mengalami hal seperti itu, di kehidupanku sebelumnya bahkan kehidupan saat ini.. Aku benar-benar sangat terkejut dan takut sekali dengan perasaan yang kurasakan waktu itu!!
Itu terasa seperti sebuah kemurkaan yang sangat menakutkan..!! Jika aku mengingat hal tersebut.. Aku jadi takut.
"Tiba-tiba Ravela memegang erat kedua lengannya dan langsung memeluk Sang Ayah! Yang membuat Lannox mengernyit kesal, saat melihat putrinya kembali seperti semula.
Karena Putrinya kembali menunjukkan gelagat yang sama, saat ia berada di Kastil. Lannox yang sangat cemas, memeluk Putrinya dengan erat.
Tapi.. Ravella yang bisa merasakan kemarahan, ada Aura Merah yang keluar dari tubuh Ayahnya.. Dengan cepat ia pun kembali tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
'Warna merah Ini..., Pasti Aura milik Ayah! Gawat, janga-jangan gara-gara aku terlalu tenggelam dalam ingatan, saat aku berada di alam langit, saatt bersama Kakek Garda..!!
Astaga.. Apa yang kau pikirkan Ravella?? kemana pikiranmu sampai mengabaikan orang yang menyayangimu. Dasar bodoh.. Aku terlalu hanyut dengan kejadian waktu itu.
Sampai lupa, jika keluargaku saat ini juga membutuhkanku. Aku harus cepat menenangkan Pak Tua ini, jika tidak.. dia akan mengamuk dan menyalahkan Kakek Garda. gegara terlalu mengkhawatirkan aku.' pikirnya dalam hati.
Ravella kembali melepaskan pelukannya, dari lengan Sang Ayah yang kekar.. Ia lalu menoleh pada Lannox, yang kini tengah di kelilingi Aura merah.
"Ayah.. Tenanglah, Ravel baik-baik saja. Ayah tidak perlu khawatir hem..hem.." ujarnya tersenyum.
Lannox yang melihat Putrinya kembali ceria dan menyapanya.. Tiba-tiba merasa tenang kembali. Aura merah pekat yang menyelimuti tubuhnya.. perlahan-lahan menghilang.
'Haah.. Syukurlah, dia kembali tenang. Hampir saja aku membuat masalah baru.' pikirnya khawatir.
"Kau benar tidak kenapa-napa kan Putriku??"
"Hem.. Hem.. Benar Ayah, Ravel serius. Jadi Ayah tidak Perlu terlalu khawatir." ujarnya sambil menepuk lengan Ayahnya.
Melihat itu Lannox tersenyum lega, dan bergumam dalam hati. 'Dasar Putriku, seharusnya aku yang menenangkannya bukan malah sebaliknya.' pikirnya sambil mengusap kepala Putri kesayangannya.
***
Sesampainya di Mansion, tanpa istirahat lebih dulu, Lannox langsung menuju keruang kerjanya, yang sedikit lebih kecil dan berantakan. Berbeda dari kantornya yang ada di Kastil.
Saat Lannox membuka Pintu, tampak wajah paruh baya, tengah fokus dengan pekerjaannya. tidak sadar jika seseorang sedang memeprhatikannya sambil duduk di sofa.
Duke yang muncul tiba-tiba sengaja tidak memberitahu kedatangannya kepada yang lain.. Karena ia ingin tahu apa yang dilakukan Argus saat ia sedang tidak ada di Mansion.
"Di mana Argus?" tanya Duke, membuat Ranov yang tengah menulis, langsung terkejut. Dan segera mencari arah suara yang sangat akrab itu.
"Y-Yang Mulia... Kapan anda kembali?? Mengapa anda tidak memberitahuku lebih awal jika anda telah kembali ke Mansion. Jadi saya bisa mempersiapkan semuanya." ujarnya langsung berdiri dari kursi Kerja Duke, dan segera menghampiri Tuannya itu.
"Bukan itu jawaban yang aku inginkan..!" ujarnya dingin.
"Ah.. Maafkan saya yang terlalu senang ini Yang Mulia, Beliau saat ini sedang berada di luar kota. Karena lima hari yang lalu.. Saya mendapat laporan. jika area tambang sedang membutuhkan rekrut tenaga kerja.
Karena cabang di luar kota, akhir-akhirk ini sedang di banjiri dengan banyaknya pesanan dari para konsumen. Sehingga stok di gudang banyak yang habis. Sebab itu beliau pergi sebagai Distributor mewakili Yang Mulia." ujarnya melaporkan hal tersebut dengan detail.
"Duke terdiam beberapa saat, lalu kembali tertersenyum mendengarnya.. Dan memuji kinerja Ranov. Tapi, ia tidak menyebut nama Argus. Namun, jauh di kedalaman hatinya.. Yang tidak di ketahui oleh Ranov.. Ia merasa sangat kesal.
'Aku sangat tahu apa yang ada dalam pikiran Anak itu.. Padahal tugas distrubusi bukanlah tugasnya. Tapi ia tiba-tiba menjadi sangat rajin, dengan alasan seperti itu.
Hem.. Ia pasti sangat bosan berada di dalam ruangan hampir sebulan, sampai-sampai memaksa Ranov, untuk melakukan hal tersebut! karena ia memanfaatkan statusnya sebagai Spirit, makanya Ranov tidak berani menolak perintahnya.
Apa dia lupa dengan hukuman yang aku berikan padanya waktu itu..?' pikir Duke, kesal.
"Heum.. Arguuuusss.....!!" Seru Duke, dengan intonasi marah.
__ADS_1