AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
KUNJUNGAN PANGERAN YANG TIBA-TIBA


__ADS_3

Di istana langit, Jura dan Garda, yang sedang memperhatikan dengan seksama, tanpa berkedip sedikitpun. hanya bisa terpana menyaksikan apa yang sedang terjadi. Sang Dewa sedang duduk di singgasana miliknya, kini ia berujar pada Rabarus.


"Rabarus, Sesuai janjiku padamu. aku akan menghadiahimu sebuah Jubah yang terbuat dari API ABADI. Jubah ini bisa melindungimu dari serangan apapun. kemarilah..." panggil Dewa Zando.


Rabarus yang masih berlutut sembari mendengarkan Titah dari Sang Paduka, merasa sangat bahagia. ia tidak menyangka, jika Sang Paduka masih mengingat janjinya tersebut. Ia pikir selama tiga tahun terakhir, Dewa Zando telah melupakannya dan membuangnya. Karena setelah kejadian itu! Sang Paduka tidak pernah sekalipun memanggilnya. namun di satu sisi, ia merasa malu dan tidak pantas menerima hadiah tersebut.


Rabarus pun melangkah maju manaiki tangga demi tangga, yang kini hanya berjarak satu meter dengan Dewa Zando. lalu.. Rabarus pun. menundukkan kepalanya di hadapan Sang Dewa. Tak lama setelah Rabarus mendekat, munculah Kobaran Api Murni Merah menyala. Keluar dari tangan Dewa Zando. Dan cahaya Api Murni Merah Pekat tersebut, langsung berubah menyerupai Jubah Api. lalu.. Jubah Api tersebut melayang terbang hinggap menyelimuti seluruh tubuh Rabarus. dan dalam waktu yang sekejap, Api Putih di tubuh Rabarus.. langsung berubah warna menjadi kobaran Api Merah yang membara.


Jura dan Garda, yang menyaksikan hal tersebut, di buat takjub seketika. 'Apa? Jubah dari Api Abadi..! kenapa Paduka, sampai harus memberikan Jubah seberharga itu, sebagai hadiah?? memangnya apa yang telah dilakukan si bocah Rubah? sehingga ia bisa menerima hadiah seistimewa itu! yang menurutku sangat berlebihan, jika di berikan hanya untuk seekor Raja Rubah muda sepertinya!!' pikir Garda, merasa heran. Hati kecilnya menolak menerima kenyataan melihat apa yang baru saja ia saksikan.


Berbeda dengan Garda, Jura.. justru berkebalikan dengannya. Ia merasa takjub sekaligus kagum, saat melihat Pak Tua yang sudah di anggapnya sebagai gurunya itu, tak henti-hentinya membuat kejutan.


'Hem.. aku merasa bangga karena telah menjadi muridnya. Entah apa yang telah dilakukan Pak Tua itu? sehingga ia menerima hadiah yang paling banyak di inginkan oleh kebanyakan Raja Spirit.' pikir Jura.


'Setahuku, JUBAH API ABADI. adalah Jubah yang sangat langka keberadaannya! meski rumornya telah beredar luas hingga turun-temurun. namun, tak ada satupun yang pernah melihat Keberadaan Jubah Api tersebut. Konon katanya, bahkan.. serangan Dewa sekalipun, tidak akan berpengaruh di hadapan Jubah tersebut.


Dan siapapun yang bisa memilikinya, mereka bisa di anggap setara dengan Dewa. dan siapa sangka! Cerita yang kupikir hanyalah dongeng belaka, ternyata benar adanya. kini aku bisa melihatnya secara langsung. Jubah yang kukira hanya cerita kosong, kini benar adanya.


Dan yang lebih anehnya lagi, Jubah yang selama ini paling di cari keberadaannya, ternyata ada di tangan Paduka Dewa. siapa Paduka, sebenarnya? bagaimana bisa beliau bisa memilikinya...? Cih, apa yang kau pikirkan Jura...? Dasar bodoh. Wajar saja jika beliau memilikinya, karena beliau adalah seorang Dewa.' ujarnya merutuki dirinya sendiri. 'Kau sangat beruntung Pak Tua..!' gumam Jura, dalam hati.


Dewa Zando yang bisa mendengar segalanya, hanya diam di benam ketenangan, dengan ekspresi kemisteriusannya. Setelah menerima Jubah tersebut, tubuh Api yang dulunya hanyalah Api biasa, telah berubah Putih. semenjak kebangkitan Rabarus, dari kematiannya. Dan kini.. tubuh Api Suci miliknya, kembali berubah lagi menjadi semerah darah. Namun, Api Merah di tubuhnya saat ini.. Bahkan Jauh lebih gelap daripada tubuh Apinya yang pertama.


Melihat perubahan pada tubuh Apinya.. Rabarus sangat senang sekali, tubuh Apinya yang dulu merah.. Kini telah kembali lagi dengan warna yang jauh lebih gelap dari sebelumnya. Namun, di balik itu semua.. hati kecilnya merasa tidak pantas, kini ia bergumam mengutarakan apa yang sedang ia rasakan kepada Sang Paduka.


"Paduka.. Hamba sangat berterima kasih karena telah di beri kepercayaan menerima hadiah yang sangat istimewa ini. akan tetapi.. apakah hamba layak menerimanya? sedangkan apa yang hamba lakukan, tidak sebanding dengan hadiah ini Paduka!!" ucap Rabarus merasa malu, pada dirinya sendiri.


...----------------...


Seminggu telah berlalu.. semenjak kejadian di Zona Mana. Setelah kembalinya Para Spirit ke Mansion. Tak lama.. Ranov memanggil Argus, ke ruang kerja Duke. Dan menyerahkan selembaran surat kepadanya.


"Ada apa kau memanggilku Ranov..?" Argus, yang baru saja masuk, langsung duduk di Sofa panjang, sambil melipat kedua kakinya.


"Yang Mulia, ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada anda." ujarnya, yang langsung membuka laci meja kerjanya.


"Cepat katakan, apa itu Ranov? Jangan membuat aku menunggu." ujar Argus tidak sabaran, karena ia tidak ingin jauh dari sisi Sang Putri.


Ranov pun langsung menyerahkan surat yang ada di tangannya, kepada Argus.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Argus, sambil melihat sepucuk surat yang ada di tangan Ranov.


"Ambilah, anda akan segera tahu setelah melihatnya." ujar Ranov, sambil mengulurkan surat tersebut dengan sopan.


"Hem.. Kenapa firasat ku mengatakan, jika aku mengambilnya.. Hari-hari ku akan menjadi sial!!" celetuknya menyipitkan kedua mata indahnya, yang setenang danau itu. sambil menatap curiga pada Ranov. Sementara Ranov, tampaknya sudah bisa menebak apa yang ada di dalam surat tersebut, meskipun ia tidak membacanya. Ia tersenyum simpul ketika mendengar ucapan Argus, yang tampak agak ragu-ragu saat akan mengambil surat tersebut.


Setelah memantapkan hatinya, Argus pun langsung mengambil surat di tangan Ranov, dan... Beberapa saat kemudian, setelah ia selesai membacanya. Salah satu alisnya terangkat naik keatas. dan ia pun bergumam kesal. "Sial..., aku sudah menduganya. Cih, tiba-tiba aku jadi menyesal datang kemari. Kau telah menjebakku Ranov! Seharusnya kau laporkan saja pada Master, jika Para Spirit Putri, masih dalam masa latihan dan belum bisa kembali ke Mansion." Argus menggerutu kesal pada Ranov.


"Hm..Hm.. Maafkan Saya Yang Mulia, tapi itu bukanlah wewenang saya, mengenai seluruh laporan yang ada di seluruh Mansion. Karena setiap laporan yang sampai pada Yang Mulia Duke, adalah tugas Yang Mulia Zion. Dan peran saya di sini hanyalah, mengurus tumpukan dokumen." ujarnya tegas namun sopan.


Argus memperhatikan tumpukan dokumen yang ada di atas meja Duke, hingga tanpa sadar.. keningnya mengerut tidak senang saat melihat tumpukan tersebut. "Apa..., jadi ini semua adalah perbuatan Singa Tua itu!!" 'Cih, pantas saja akhir-akhir ini, dia terus menghindariku. Ternyata dia memang benar ingin menyingkirkan ku!' gumamnya dalam hati. Ranov yang mengamati ekspresi Argus dalam diam, turut merasa lega. Akhirnya ia bisa terbebas dari pekerjaan yang menurutnya lebih membosankan dari pada menjadi Kepala Pelayan.


"Kalau begitu, saya akan kembali ke tugas awal saya. karena urusan saya di sini sudah selesai." ujarnya membungkuk hormat dengan sopan, dan segera pergi meninggalkan Argus. Argus memperhatikan punggung Ranov yang kini telah menjauh dan menghilang di telan muka pintu.


Dalam keheningan, Ia duduk terpaku menatap langit-langit Ruangan kerja Duke. tak lama, peristiwa yang terjadi di Zona Mana.. Kini kembali bergema di benaknya. Tubuhnya yang awalnya biasa saja tiba-tiba gemetar saat mengingat momen tersebut.


'Aku masih ingat, rasa sakit yang di berikan Kaisar Naga itu, padaku! Setelah kepergiannya.. perasaan tertekan dan rasa berat yang menimpaku, akhirnya menghilang begitu saja.. Seolah tidak terjadi apapun. Sial, bahkan sekarang tubuhku langsung bereaksi saat teringat hal tersebut.


Tidak salah lagi.. Naga itu memang tidak menyukai kehadiranku. Tidak hanya itu, ia bahkan secara terang-terangan mengujiku! Tanpa ada seorang pun yang menyadarinya. Tapi entah kenapa? Aku sangat yakin dengan firasatku! ada yang ia sembunyikan dari Dewi, dan Para Spirit!! Karena aku benar-benar merasakan dia sangat berbeda jauh dari Para Spirit lainnya. Tepatnya, dia sangatlah berbahaya. Aku harus berhati-hati jika bertemu dengannya lagi nanti.


Haah.. Entahlah! Ku harap ini semua cuma perasaan ku saja. Sial, setelah ini aku tidak akan bisa lagi berkeliaran bebas. Tidak hanya Singa Tua itu! bahkan Master juga berusaha menjauhkan ku dari Putri. Mereka terlalu protektif terhadap Dewi. Kalau begini, siapapun akan sulit mendekati Dewi, Termasuk si bocah Kaisar yang sedang menyamar menjadi seorang Marquess remaja.


Ah, iya.. Sekarang aku terpaksa harus memberitahu Dewi, jika aku sudah tidak bisa lagi mengawalnya. Kedepannya, Akan butuh usaha keras, untuk menaklukkan kedua Ayah Mertua ku itu. Hem.. Hem.. A-yah Mer-tu-a... Hem.. Hem.. Lucu juga.' pikirnya berkhayal sambil tersenyum sendiri, karena merasa geli saat membayangkan hal tersebut.


***


Sedangkan di sisi lain, di kedalaman hutan. Ravela tampak sedang bersandar pada tubuh Zaku yang saat ini sedang berada dalam wujud Mana Beast. Ravella duduk sembari membaca buku. Sedangkan Spirit yang lain, hanya duduk mengelilingi Ravella. Semuannya tampak menikmati suasana sekitar hutan yang teduh dan berangin.


Berbeda dengan Ravella, Para Spirit justru saling berbicara melalui pikiran, tanpa sepengetahuan dari Master mereka. Karena Para Spirit mengunci pikiran mereka, agar Sang Master tidak mendengarnya.


'Hei, apa kalian punya solusi? Jujur saja, aku masih bingung dengan apa yang di maksud Kaisar..! Padahal kita sudah berlatih selama tiga tahun. Dan ternyata tidak ada hasilnya sama sekali. Sebenarnya.. Latihan yang seperti apa? Yang di maksud oleh Baginda Kaisar?? Aku terus memikirkannya sepanjang hari. Namun aku masih belum menemukan jawaban hingga hari ini.' ujar Zaku.


'Kau benar, sejak kepergian Baginda Kaisar, Aku terus memikirkan masalah itu! Sampai membuat aku merasa tidak tenang saat menjalani hari-hari damai seperti saat ini. Dimana letak kesalahannya!?' sambung Tama.


'Haha.. Rupanya aku tidak sendiri, baguslah.' ujar Zaku ambigu, membuat Tama, dan yang lainnya penasaran.


'Heuh, apa maksudmu?' tanya Tama, sambil mengernyitkan kedua alisnya.

__ADS_1


'Ternyata bukan hanya aku saja yang bodoh, tapi kau juga sama bodohnya. Jadi aku tidak perlu khawatir bukan? Karena ada teman yang sama bodohnya dengan ku. Dengan begitu, Aku tidak perlu terlalu takut jika mendapat hukuman dari Baginda hahahahah..... Karena ada kau yang menemaniku.' ledek Zaku, sambil tertawa.


'Bedebah kau, ini bukan saatnya bercanda dasar bocah idiot.' umpat Tama Kesal, pada Zaku. Yang masih sempat-sempatnya tertawa.


Sementara Spirit lainnya hanya berseringai geli, mendengar ocehan dari kedua saudaranya itu. Dan pada waktu yang sama, Ravella yang tengah fokus membaca, tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang sedang tergesa-gesa berlari kearah mereka, sembari berteriak memanggil namanya.


"Sruk.. Sruk.. Sruk.. Yang Mulia Putri..., Putriii...!" teriak salah satu Prajurit, yang tidak asing lagi di telinganya.


'Heuh, bukankah itu suara Ron...?' pikir Ravella, saat memastikan suara tersebut.


"Yang Mulia Put...." saat Ron tiba di tempat Ravella, Ron tampak terkejut, ketika melihat kelima Pria tampan berwajah sangar dan buas yang sangat ia kenali itu. kini tengah mengelilingi Sang Putri sambil menatap kearahnya. Zaku telah kembali kewujud manusianya, saat ia mendengar langkah kaki Ron yang sedang berlari kecil.


"Ah, Para Paman.. kalian juga ada di sini ya?" ujarnya langsung menyapa.


"Cih, lama tidak melihatmu bocah, Kau Rupanya sudah besar ya..!" celetuk Tama sembari berseringai.


"Haha.. Tentu saja paman, tidak mungkin aku akan kecil terus. Aku kan bukan boneka hehe." sambungnya sambil mengusap kepalanya sendiri.


"Omong-omong, ada apa? sampai kau berlari tergesa-gesa seperti itu Ron?" ujar Ravella, yang langsung bangkit berdiri, Saat melihat Ron.


"Ah, iya, hampir saja saya melupakannya. Yang Mulia Putri... Pangeran saat ini ada di Mansion. Beliau datang berkujung dengan membawa rombongan prajurit dari Istana Kekaisaran." ujarnya.


"Eum... Memangnya apa yang terjadi? sampai anak itu datang kemari, dengan dalih berkunjung. Apalagi sampai membawa banyak prajurit segala! Apa dia mau mengajak kita perang!!?" celetuk Ravella.


"I-itu Saya juga tidak tahu Putri. saat ini, Pengeran sedang membuat kekacauan dan memaksa masuk ke Mansion, hanya untuk menemui anda Putri. Reni dan Kepala Pelayan, sedang di buat kesulitan saat menghadapi sikap Pangeran.


Dan Yang Mulia Argus, yang mendengar masalah ini, langsung memerintahkan saya agar segera membawa anda kembali Ke Mansion. Karena ia juga tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Pangeran, karena statusnya saat ini hanyalah sebagai wakil Yang Mulia Duke." ujarnya cepat.


"Cih, dasar bocah itu! kenapa setiap kali dia datang, selalu saja membuat masalah?" gerutunya yang sudah terbiasa dengan sikap Pangeran.


'Haah.. Bocah itu? Bukankah usia beliau jauh di bawah pangeran!!' pikir Ron, mengamati reaksi Ravella, yang berbicara nonformal terhadap Pangeran.


Melihat reaksi Ravella, Para Spirit pun menjadi kesal.


"Kalau begitu, biar aku saja yang menghadapi anak itu." celetuk Zion.


"Haah.. Tenanglah Kek! aku baik-baik saja. Justru itu aku harus menghadapinya. Kalau begitu, ayo." ujarnya, kemudian pergi di ikuti Ron, dan Para Spirit, yang berpostur tinggi dan berwajah tampan tapi juga bringas dan liar.

__ADS_1


'Jika para Kakek ikut, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa padaku. Karena anak itu pernah berhadapan langsung dengan Kek Zion, dan Kek Tama.' pikirnya saat dalam perjalanan kembali ke Mansion.


__ADS_2