AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
KAU PASTILAH DEWI DALAM RAMALAN ITU BUKAN


__ADS_3

hello.. hello.. buat yang udah vote, komen n, like, makasih ya.. aku seneng banget kelean bikin aku makin semangat lagi.. buat up, so happy reading 😉😉


"ba.. ba.. ginda.., maafkan ka.. kamii karena sudah gagal dalam misi yang diberikan, sepertinya mereka mempunyai sekutu yang sangat kuat kami tidak mampu melawannya, bahkan para Monster yang dikirim semuanya tewas hangus terbakar"


buuug.. brugg.. bola cahaya biru menghantam rudo hingga terpelanting menembus dinding, darah mengucur keluar dari perutnya dan rudopun menghembuskan nafas terakhirnya.


"bukankah sudah aku bilang, aku tidak terima kata gagal apapun alasannya.. kalian harus membawa calon pengantinku. kali ini lakukan secara diam² aku tidak mahu tahu bagaimanapun caranya kalian harus membawanya kesisiku. dia akam menjadi contoh bagi kalian yang tidak berhasil membawanya, dan bersihkan mayat itu dari hadapanku."


"bbbbaik baginda akan hamba laksanakan."


"hmmm haruskah aku membuka segelnya...? tapi masih terlalu awal" rafael mengetuk jari di singgahsana yang didudukinya "kau tunggu saja ratuku kau akan segera menjadi milikku, dan tidak akan kubiarkan kau hidup dengan tenang lannox."


rafael menyeringai dengan apa yang baru saja difikirkannya


sementara jura membawa lannox dan zion kezona mana dan disana telah berkumpul kelima spirit legenda


"halo bocah lama tidak bertemu walaupun aku sering melihatmu hehe" ujar saga


"cucuku kau sudah kembali rupanya"


"ya kek"


"katakan kenapa dengan putriku..?"


"tenanglah bocah putrimu aman, aku hanya mahu bilang kau tidak perlu khawatir dengan kondisi dewi, jika putrimu tertidur melebihi batas manusia normal. itu wajar saja, karena dia menggunakan kekuatan yang sangat besar agar mananya tidak terbuang sia² dia harus latihan mengontrol mananya, jadi jangan lagi melarangnya untuk latihan, kekhawatiran mu terlalu berlebihan semakin kau mengekangnya ia akan semakin memberontak namun itu masih belum terlihat jelas karena usianya yang masih kecil, akan tetapi ketika dia menginjak usia remaja kau tidak bisa lagi melarangnya."


"kenapa tidak dia adalah putriku, dan sebagai orang tuanya bukankah wajar melindungi anaknya agar terhindar dari bahaya yang mengancam nyawanya."


"ya tentu saja itu juga benar, akan tetapi kau juga harus memberinya ruang untuk berlatih.. bukankah kau juga dulu begitu bocah..!"


lannox terkejut dengan apa yang dilontarkan jura.. karna dia tahu betul usaha keras apa yang telah dilaluinya hingga jadi seperti sekarang ini. akan tetapi dia masih tidak mengakui lalu kembali mengajukan pertanyaan.


"apa maksudmu aku tidak mengerti..!"


"nak kau tidak bisa membohongi mataku, kami semua bisa melihat masalalumu sejak awal pertama kami melihatmu, tapi yang bisaku katakan dewiku sangat mirip dengan sifatmu.. yah seperti pepatah bijak, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya putrimu adalah cerminan dirimu seharusnya kau mengerti itu, yah aku juga tidak akan memaksa aku hanya menyarankan agar kau memberi kelonggaran pada dewi, karena aku tidak ingin melihat anak itu latihan dalam tekanan itu hanya akan mengganggu latihannya."


lannox hanya terdiam seakan tak percaya ada yang bisa melihat masalalunya sesuatu yang ingin dia lupakan. dia sangat kesal namun juga tidak bisa memungkiri karna apa yang dikatakan naga itu memang benar adanya, namun dia juga tidak ingin melakukan pembelaan diri. lannox sebenarnya sangat lembut hanya saja dia sering menutupinya dengan sifat kejamnya karena ia menganggap itu adalah satu kelemahan dan dia tidak ingin kelemahannya diketahui oleh siapapun kecuali putri kesayangannya.


"huhh.. baiklah akan aku pikirkan nanti, apa sekarang kau sudah selesai..! jika tidak ada lagi aku akan pergi sekarang."


"baiklah nak aku hanya ingin bicarakan itu saja."


jura membuka kembali portal lalu lannox dan zionpun hilang bersama tertutupnya portal.


"apa kau baik² saja nak..?"


"zion katakan padaku apa ada yang salah dengan caraku mendidik putriku..?"


"hahhh.. apa kau ingin mendengar pendapatku."

__ADS_1


"tidak lupakan saja mari kita pergi sudah terlalu lama kita membuang waktu disini."


"ya.. itu lebih baik, karna aku juga sedang malas memberimu nasehat."


lannox hanya tersenyum mendengar kata² zion yang terkadang seperti sahabat baginya, kadang juga bisa seperti orang tuanya.


"apa menurutmu dia akan mendengarnya.. entah kenapa aku tidak yakin."


"hmm bukankah kau tahu sendiri tama, dia sangat arogan juga egois"


"gira, tama, beri sedikit ia ruang untuk berfikir.. dia pasti akan mendengarkannya"


"bagaimana kau begitu yakin jura, anak itu sangat sombong dan keras kepala huh! aku tidak suka melihat dewiku yang lucu berwajah sedih dan masam" celetuk tama


zaku, saga, dan roya hanya diam tidak menanggapi.


"hei kalian bertiga.. tumben kalian banyak diam, biasanyan kalian yang paling berisik disini..!"


"cih! justru kalian berdua yang lebih aneh biasanya banyak diam dan sedikit bicara tapi sekarang..! kalian malah kebalikannya."


"sudahlah tama kau juga sama saja hemm"


"jura aku malah lebih aneh denganmu angin apa yang tetiba membuatmu ingin menasehati bocah rusuh itu."


"tama.. aku hanya tidak tega setiap kali melihat dewi latihan wajahnya selalu terlihat kesepian dan tertekan, walaupun dia tidak menceritakan yang sebenarnya. tapi aku tahu itu, aku hanya berusaha bertindak sebagai guru dan orang tua disini.. dan tanpa sadar akupun sudah menganggapnya seperti putriku sendiri."


"cih kalau itu aku juga tidak hanya mengakuinya sebagai seorang dewi tapi juga menganggapnya sebagai putri kecil ku. makanya aku tidak heran jika si bocah lannox begitu protektif terhadap putrinya. walaupun sedikit berlebihan."


"hei mahu kemana kau akhir² ini kau sering menghilang"


"hehh! biasa aku ini orang sibuk jadi tidak punya waktu untuk bergosip dengan kalian hiiy."


"cih kurang ajar bocah itu jadi ikut²an seperti beliau. ah! ngomong² beliau, sudah lama aku tidak melihatnya!"


lannox telah tiba di mansion ia langsung segera menemui putrinya, ia menggendongnya dengan sangat hati² lalu memeluknya seakan melepas rindu dan kekhawatirannya.


"hmm bahkan ia masih saja bisa tertidur walau aku menggendongnya dasar malaikat kecilku.. kau selalu memberi kejutan untukku aku yang tidak pernah sakit ini, lama² bisa jantungan karna ulahmu nak."


ia merenung sesaat memikirkan kembali apa yang dikatakan jura kepadanya.


"apakah caraku benar² salah putriku!! akan tetapi apa yang dikatakan naga itu tidak salah yah aku akan mencobanya semampuku."


tanpa ia sadari hawa keberadaannya, seorang pria sedang memperhatikan mereka sejak tadi, ia tersenyum senang melihat momen langka itu.


"pemandangan yang indah, aku tahu kau memang lembut bocah, ya.. tapi aku juga merindukan dewi kecilku"


lantas iapun pergi menghilang meninggalkan mereka berdua.


...----------------...

__ADS_1


tidak terasa sudah dua tahun berlalu.. keadaan telah kembali aman seperti biasanya ravella yang sedang tertidur dibawah pohon maple nan rimbun dan teduh begitu bersinar, rambut perak bergelombang miliknya semakin bercahaya wajahnya semakin cantik dan berseri, dia begitu terlihat menonjol, tetiba seseorang datang menghampirinya.


"sangat indah.. dia seperti seorang dewi yang turun dari langit, apa kau kelelahan lagi vella..! sudah lama aku tidak melihat mata indahmu sejak terakhir kali aku menemuinya.. dua tahun lalu, aku sangat merindukanmu vella.. tapi kenapa kau selalu saja menghindariku."


sang pangeranpun duduk disamping ravella dan diapun ikut tertidur bersamanya menuju mimpi disiang hari yang cerah. angin bertiup lembut menyapu daun dan hal yang tak disangkapun terjadi. angin membawa sesosok pria tampan berambut biru dengan netra ungu, mengenakan jubah putih setengah lengan dengan sulam emas disetiap sudut jubahnya, kemudian pria itu turun perlahan. angin mengantarkannya dengan lembut menginjak tanah. tak seorangpun mengetahui kedatangan akan sosok pria misterius itu.


"kau pastilah dewi dalam ramalan itu bukan, hmmm akhirnya aku menemukanmu dewi." ia mengecup kening ravella "aku akan menemuimu langi nanti, selamat tinggal dewiku" ia mengecup kembali kening ravella kemudian pergi bersama angin, lalu menghilang. mata indah itupun perlahan terbuka menerbitkan netra merah maroon yang menyala, ia menatap langit melihat mentari yang sudah tinggi.


"huhh sudah siang rupanya, eh se.. sejak.. kapan bocah ini ada disini...? kalau ayah sampai melihat, bocah ini akan tamat huh sebaiknya aku pergi saja"


"devin menangkap tangan ravella, lalu menariknya kedalam pelukannya"


"a.. apa.. yang anda lakukan pangeran lepaskan?"


"sebentar saja vella.. sebentar saja.. kumohon biarkan aku memelukmu seperti ini."


'ada apa dengan anak ini.. biasanya dikehidupanku dulu saat nonton drama jika ada seorang pria meminta memeluk seperti ini berarti dia sedang dalam masalah atau tekanan bukan! hmm atau dia di tindas di istana.. ya bisa jadi melihat betapa kerasnya peraturan di istana kaisar sebaiknya aku tenangkan dulu anak ini'


"tenanglah pangeran semua akan baik² saja"


puk.. puk.. ravella menepuk lembut punggung devin yang terlihat nyaman namun juga terkejut dengan apa yang dilakukannya kemudian ia tersenyum mengira ravella merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan.


'apakah dia merindukanku juga..? hmm vella andai waktu bisa berhenti.. aku berharap aku bisa bersamamu seperti ini seterusnya'


'huh apakah bocah ini sudah tenang..'


kemudian ravella menarik tubuhnya dari devin.


"pangeran saya minta maaf, saya tidak bisa menemani pangeran, saya harus segera pergi"


ravella menunduk hormat kepada devin dan kemudian menoleh dan melambaikan tangannya


"pangeran harus kuat apapun tekanan yang anda dapatkan tetaplah kokoh menghadapi"


iapun pergi denga senyum. devin melepas kepergiannya dengan menatap rambut indah bagai mutiara mengenakan gaun kuning simple, namun ia dengan raut wajah yang terlihat sedikit bingung dengan kata terakhir ravella.


"tapi apa maksudnya..! huh biarlah, dia sungguh indah mengapa aku merasa dia semakin sulit untuk di gapai. kelak kau akan jadi milikku vella."


"ciih! bocah sialan beraninya dia menyentuh dewiku ingin rasanya kupatahkan tulang di tubuhnya yang mini itu."


"tenanglah zaku bukankah kau juga pernah melewati masa² seperti mereka..?"


"dasar keparat kau tama, jangan pernah samakan aku dengan bocah mini itu..! oh dewa bersihkanlah dewiku yang suci agar tidak ternoda dengan bocah ingusan sepertinya."


"ayah" ravella berlari memeluk sang ayah tentu saja sang ayah yang sudah menanti kehadiran putrinya sejak tadi membalas memeluk sang buah hati kesayangannya.


"ravel putriku"


note: jangan lupa vote, like komen, and saran kalian ya.. karena itu adalah energi buatku biar lebih semangat lagi dalam menulis

__ADS_1


bagaimanakah kelanjutan sang ayah dan anak ini.. dan siapakah sosok pria misterius yang menghampiri ravella??? nantikan kelanjutannya.


__ADS_2