AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
CEPAT TEMUKAN PUTRIKU SEKARANG!


__ADS_3

"benar-benar licik, ya.. dia memang tidak pernah membantu secara gratis." 'mahu tidak mahu memang harus dilakukan, jika tidak! masalah ini tidak akan pernah selesai. anak itu selalu saja menemukan solusi tepat disaat sedang buntu, yah.. mudah-mudahan kasus ini cepat selesai.'


"lagrin.."


"ya baginda..."


"keluarlah dulu."


"baik baginda, saya mohon undur diri dulu." setelah memastikan suara langkah kaki lagrin menjauh dan menghilang."


"keluarlah.."


"bwussshh.. bwussshh.. bwussshh.."


tampak sepuluh bayangan kaisar muncul mengelilingi sang kaisar.


"bagaimana! apa kalian sudah mendapatkannya?"


"bug.." suara hentakan lutut "maafkan kami yang telah gagal menjalankan misi ini baginda, kami bersedia menerima hukuman atas kegagalan kami."


suara ruangan kerja kaisar hening sesaat kaisar bangun dari duduknya dan menghampiri jendela sambil memunggungi kesepuluh kesatria bayangan miliknya.


"apa alasan kalian hingga gagal menghentikannya, padahal hanya satu orang saja.?"


"maafkan kami baginda! saat kami hampir menyelesaikannya, tiba-tiba seseorang yang tak dikenal muncul dan datang membantunya, namun! kami bukanlah tandingan orang itu baginda, dia sangatlah kuat. dalam sekejap, ia bisa menghentikan pergerakan kami sekaligus hanya dengan menggunakan dua jari."


"seseorang! apa kalian mengenalinya?"


"tidak Baginda, kami belum pernah melihat orang itu sebelumnya."


"hmm, apa ciri-ciri fisiknya?"


"dia mengenakan jubah bertudung, dan menutupi wajahnya dengan topeng. jadi, kami tidak bisa mengenalinya samasekali! bahkan, aura dan aliran mana yang digunakan pria itupun, tidak pernah kami rasakan sebelumnya!"


"jadi dia seorang pria, apa kalian pernah mengenali suaranya?"


"tidak baginda."


"yah..! apa boleh buat, anak itu pasti akan semakin waspada denganku, kembalilah! aku akan melepaskan anak itu kali ini. rahasia apalagi yang dia punya..! bocah itu memang penuh misteri, ini semakin menarik."


sementara dimeja makan ketegangan masih terjadi.


"maafkan ravel ayah, untuk saat ini ravel masih belum bisa memberitahukannya kepada ayah. tapi, jika semuanya sudah jelas, ravel janji akan menceritakan semuanya kepada ayah."


"baiklah, jika kau memang belum siap. ayah akan menunggumu sampai kau sendiri siap untuk mengatakannya."


"hem terimakasih ayah."


"lantas apa permintaanmu nak?"


"selama ayah janji tidak akan memarahiku, aku akan mengatakannya!"


"ravel, jangan menguji kesabaran ayahmu ini nak! ayah tidak akan mengulangi pertanyaannya la...."


"ravel ingin mengadopsi dua anak panti."


"apa.....................!"


(tama) "hem untuk sementara kita menginap disini dulu, karena kami masih ada urusan sedikit disini,"


"tuan,"


(tama) "panggil saja kami paman, kau tidak perlu menggunakan kata tuan lagi disini."


'hem ini sedikit aneh, tiba-tiba harus memanggil orang yang kelihatannya tidak berbeda jauh usianya dariku, dengan sebutan paman.?'


(roya) "jangan percaya dengan apa yang kau lihat nak! terkadang mata bisa menipu."


'ah aku semakin bingung mereka memanggilku seolah-olah mereka jauh lebih tua dariku.'


rog mencoba melempar pandangan menelaah dengan teliti kedua orang yang ada dihadapannya


'hem darimanapun dilihat! mereka tetap saja tidak terlihat tua, tapi memang terkadang gaya bicara mereka terdengar sedikit kuno.'


(tama) "kenapa diam saja! apa kau tidak jadi menanyakan sesuatu?"


"em, ya.. apakah kita masih jauh?" dilihatnya sang adik yang sedang tertidur dengan alas seadanya. suasana malam yang sangat hening dan dingin, hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian. dilihatnya tama yang sedang melempar kayu bakar pada api yang menyala, tampak wajah keduanya bermandikan cahaya api.


(roya) "tidak, kita sudah dekat dengan perbatasan."


"hmm.. ba.. bagaimana dengan kedua temanku! apakah mereka mencurigaiku?"


(roya) "kau tidak perlu khawatir soal itu, mereka tidak mencurigaimu samasekali! tapi mereka berduka untukmu?"


tampak wajah keterkejutan rog, yang terlihat bingung dan penasaran.


"berduka..? apa mereka mengira aku sudah mati..!"


(roya) "ya, aku memanipulasi pikiran mereka, sehingga mereka akan melaporkanmu sesuai kejadian yang mereka ingat."


"wow.. berarti, mereka tidak akan mencariku lagikan, apa semudah itukah?"


(roya) "ya untuk saat ini, mungkin!"


jawaban roya terdengar sedikit ambigu, namun ia tidak menanyakannya lagi, baginya sudah cukup melegakan. setidaknya jika dia dianggap mati, pihak orsi tidak akan mencarinya lagi.


"te..terimakasih paman." lalu iapun segera pergi berlari dan segera berbaring disamping adiknya. karena merasa canggung dengan kata yang diucapkannya barusan.


(tama) "dasar bocah."


"tik" roya memasang dinding kedap suara agar rog tidak mendengar pembicaraan mereka.


(roya) "tumben sekali kau banyak diam, apa kau sedang menstruasi."


(tama) "cih sialan kau."


(roya) "lalu kenapa raut wajahmu kelihatan masam begitu?"


(tama) "aku hanya memikirkan kemungkinan yang akan terjadi kedepannya? pihak orsi untuk sementara terlihat sangat tenang, ini semakin mencurigakan."

__ADS_1


(roya) "ya tidak heran, siapapun itu pasti akan melakukan hal yang sama jika berada dipihak mereka bukan. mereka menyembunyikan belang mereka, menutup pendengaran mereka, berpura-pura tidur untuk membuat musuh percaya kalau mereka sedang tertidur. heh.. namun pada kenyataannya? itu hanyalah siasat untuk mengecoh musuh."


tiba-tiba roya dan tama terdiam, dan saling menengok, jarum kecil yang terbentuk dari sekumpulan mana milik roya melayang diudara, lalu berpencar dan menyebar kesekitar memasuki area hutan yang gelap.


"tusshh.. tusshh.. tusshh.. bug... bug.. bug.."


terdengar suara berjatuhan dari sekelompok penyusup, royapun menghilang dalam sekejap.


(roya) "heh aku akan pergi meladeni tamu yang tak diundang, kau jaga anak-anak."


(tama) "baiklah" 'cih dasar para serangga! sangat menggangu. aku sudah menduga ada yang mengikuti kita sejak saat melakukan teleportasi, untuk itu, aku menunda perjalanan pulang. hanya demi membereskan para serangga busuk yang mengekori kita.' tama melihat kearah dua kakak beradik yang tertidur pulas "untunglah aku sudah memberi mereka perisai pelindung dan, membuat mereka tidak terlihat."


roya muncul dalam sekejap "bug.. bug.. bug.. bug.." tumpukan mayat berjatuhan dihadapan tama.


(roya) "apa yang akan kita lakukan kepada mayat-mayat ini?"


(tama) "heh.. lebih baik kau kembalikan saja pada tempatnya, sebagai peringatan untuk mereka."


(roya) "hem, ide bagus, baiklah! tik."


dalam sekejap semuanya menghilang, dan hanya menyisakan mereka berempat.


(tama) "lihatlah dua bocah itu, lelap sekali tidurnya."


(roya) "hmm.. mungkin mereka kelelahan. kira-kira apa dewi berhasil membujuk si bocah tempramen untuk mengadopsi mereka berdua?"


(tama) "entahlah, aku juga khawatir anak itu tidak mengizinkannya, dan langsung mengusir kedua bocah ini..!"


(roya) "ya.. memang sulit."


(tama) "berharap saja semoga anak itu, mahu menerima keberadaan mereka."


merekapun terdiam membisu.


"tidak ravella, ayah tidak akan mengizinkannya."


"tapi ayah sudah janji, tidak akan marah bukan? dan akan mengabulkan permintaanku!"


"ya itu sebelum ayah tahu permintaanmu yang sangat konyol ravella."


"apakah ayah marah?


............


"ayah.......!"


"pokoknya ayah tidak setuju, ayah tidak akan mengizinkannya."


'tifak bagaimana nasib anak itu! aku sudah berjanji dengan kek tama dan kek roya. jika aku tidak bisa menepatinya, sama saja aku melepaskan tanggungjawabku. tidak! kali ini, aku terpaksa melawanmu ayah.'


"pokoknya ravel harus mengadopsi kedua anak itu! ravel sudah janji tidak akan menelantarkan mereka berdua."


"ayah bilang tidak ya tidak ravella,! jangan membuat ayah ma..."


"terserah.. kalau ayah memang tidak mahu. tapi, selama ayah tidak mengizinkanku! aku tidak akan pulang..., mata ketiga."


keluar cahaya dari dahi ravella, dan tampak gerbang terbuka ravella dengan cepat berlari. lannox yang melihat keanehan putrinya dengan cepat berlari ingin meraih tangan ravella, namun ia terlambat gerbang itu sudah tertutup dan menghilang.


"ya.. yang mulia!"


"cepat temukan putriku Sekarang! periksa seluruh mantion ini, kerahkan seluruh prajurit, dan temukan dia, dan bawa dia padaku."


"baik yang mulia."


'ada apa sebenarnya? tidak biasanya, yang mulia sampai terlihat kesal begitu.'


'putriku! biasannya dia sangat penurut, dan tidak pernah membantahku. tapi, hanya karena dua anak panti itu, dia sampai berani membangkang seperti ini. memang siapa anak panti itu? berani-beraninya mereka membuat putriku seperti ini.'


"bocah, sebaiknya kau izinkan saja! aku tidak pernah melihat anakmu sampai senekat ini? dia pasti punya alasannya sendiri, kau harus mempercayainya."


"tidak, aku bilang tidak, ya tidak zion, jangan membantahku."


"cih dasar bocah keras kepala, ya sudah, terserah kau saja! kalau sampai ada apa-apa dengan putrimu jangan salahkan aku, karena aku sudah memperingatkanmu. aku pergi.. jangan cari aku!"


zionpun menghilang. ketegangan terjadi di seluruh mantion, semua prajurit dan para pelayan juga ikut panik mencari sang putri kesayangan.


"aaaahhhhhhh, prrraaaannggg, dasar brengsek. apa sebenarnya yang terjadi? mengapa dia sampai berpikir ingin mengadopsi segala! sebenarnya apa yang telah aku lewatkan."


"ba..bagaimana ini marri! putri kita tidak pernah seperti ini sebelumnya.., dan yang mulia tidak pernah sampai sekesal ini?"


"reni, tenanglah! ayo kita cari putri dikamar, siapa tahu putri ada disana."


"merekapun bergegas mencari ravella."


"dizona mana, dentuman hebat terus terjadi, ledakan demi ledakan bergema dasana. sementara gapi dan jura telah berada dimantion, namun.. saat mereka sampai disana! seluruh mantion terlihat panik, para prajurit terus berlarian meneriakan nama sang putri."


"putri ravella..."


"putri..."


"putri ravella...."


"hem ada apa dengan dewi paman? apa yang telah terjadi..!"


"ayo kita tanyakan pada prajurit."


jura menghentikan prajurit yang berlari sambil meneriaki nama sang putri.


"putri.. ravella....."


"hei kau berhenti."


'eh, bukankah itu spirit milik putri'


"ya, tuan."


"ada apa? apa yang terjadi dengan putri..?"


"i..itu.. beliau menghilang saat makan malam, yang mulia langsung memerintahkan kami untuk mencari yang mulia putri."

__ADS_1


"memangnya apa yang telah terjadi..!"


"saya juga tidak tahu tuan! yang saya dengar dari para pelayan. yang mulia duke bertengkar dengan yang mulia putri, dan kemudian putri langsung menghilang."


"baiklah! terimakasih, kau boleh pergi."


"baik tuan."


jura mencoba berkomunikasi dengan ravella


'nak dewi... ini aku jura, kau dimana sekarang?'


'eh ini suara kek jura, abaikan saja, aku sedang tidak ingin diganggu sekarang.'


'huh dia tidak menjawabnya, kemana sebenarnya dia pergi..?'


"ada apa paman? dimana dewi..!"


"ayo kita kembali kezona mana?"


"euh, kenapa?" jura hanya diam, tak menjawab. "baiklah"


"kalian berdua tunggu!"


"ada apa!"


jura berbalik melihat lannox yang menghampirinya dan gapi, lannox melirik gapi sekilas, namun karena dia juga terlihat panik! jadi dia tidak menghiraukan keberadaan gapi.


"bawa aku kezona mana Sekarang."


"ada apa memangnya? kau bukan tuanku jangan memerintahku seenaknya."


"cih jika kau tidak mahu ya sudah, aku masih bisa pergi dengan cara lain."


jura melihat kepergian lannox yang sedang emosi.


"huh baiklah ayo, kebetulan kami juga ingin kesana."


namun sayangnya saat mereka sampai disana ravella sedang tidak berada dizona mana, ia pergi ketempat yang dia sendiri tidak tahu dimana.


"ini dimana? bukannya aku pergi kezona mana! tapi ini bukan zona mana? tempat apa ini...??."


dilihatnya dari kejauhan, tampak dari bawah pohon besar nun rimbun yang mengeluarkan cahaya, sosok bersisik emas sedang tertidur dibawahnya, ia mencoba menghampiri sosok itu.


"itu.. semoga saja seperti yang aku pikirkan."


ia berjalan pelan-pelan melewati batu-batu kecil yang ada disebrang sungai yang dangkal. dan ia berlari mendekati pohon besar yang ada dihadapannya, pohon itu mengeluarkan cahaya redup bewarna warni.


"pohon ini sangat indah" dia mencoba mendekati sosok yang ada dibawahnya. 'dia mirip seperti sosok yang aku kenal.'


ia berdiri dihadapan wajah itu dan menyentuhnya, lalu menyeru namanya dengan pelan.


"kakek zando kaukah itu...!" dia masih diam tak bergeming 'apa jangan-jangan aku salah mengenalinya? tapi tidak mungkin, dia sangat mirip' dia mencoba memanggilnya sekali lagi. "kakek, kakek zando! apa kau mendengarku?"


dua kelopak emas itu terbuka perlahan. dilihatnya sosok mungil yang ada dihadapannya.


"kau sudah datang sayang?"


"ah ternyata benar itu kakek." ravella langsung memeluk tubuh besar itu.


"tapi, a..apa maksud kakek! apa kakek menungguku?" ravella melepaskan pelukannya dan mulai penasaran.


"ya, aku sudah menunggumu daritadi. aku tahu kau sedang kabur dari ayahmu sayang, jadi aku membawamu kemari."


"kakek tahu aku kabur?" 'wow dia sangat hebat' zando tersenyum mendengar pikirannya


"bagaimana kakek tahu? aku bahkan tidak menceritakannya pada siapapun!"


"hem.. aku selalu mengawasimu nak." zando mencoba mengalihkan pembicaraan "kenapa kau sampai nekat untuk kabur? apa kau tidak kasihan pada ayahmu? yang sedang panik mencarimu!"


ravella terdiam ia hanya menunduk merasa sedih.


"awalnya aku juga tidak berniat melakukannya kek, namun ayah terlalu keras kepala! dan aku tidak tahu cara apalagi untuk membuat ayah bisa mengerti, jadi hanya cara ini yang bisa aku pikirkan."


"hem sayang, aku tahu niatmu itu baik, tapi jangan pernah berpikir untuk melakukan hal seperti ini lagi..! jika aku terlambat sedikit saja membawamu kesini, mungkin sekarang kau sudah berada ditangan musuh."


"apa maksud kakek? setahuku aku sudah memastikannya, tidak ada siapapun yang mengikutiku."


"booom... booommm.."


suara serangan demi serangan bergema dizona mana, bahkan getarannya bisa dirasakan oleh lannox,gapi, dan jura.


"ada apa ini..! apakah itu putriku?"


"bukan, itu adalah para spirit yang sedang latihan dengan garda. sepertinya putrimu tidak ada disini..!"


dilihatnya kesekitar area hutan, tidak ditemukan sosok ravella.


"tidak mungkin, aku bahkan melihatnya membuka mata ketiganya. dia pasti datang kemari.!"


"apa kau yakin bocah? dengan mata ketiganya, dewi tidak hanya bisa kesini, tapi dia juga bisa berteleportasi ketempat lain."


"apa..! huh aku hampir lupa akan hal itu, lalu dimana dia sekarang? kalau begitu bawa aku kembali, aku harus mencarinya."


"hem, tunggu dulu. apa yang dikatakan dewi saat dia pergi..!"


lannox mencoba mengingatnya kembali.


"pokoknya ravel harus mengadopsi kedua anak itu! ravel sudah janji tidak akan menelantarkan mereka berdua."


"terserah.. kalau ayah memang tidak mahu. tapi, selama ayah tidak mengizinkanku! aku tidak akan pulang..., mata ketiga"


"cih anak itu...! dasar keras kepala."


"bukankah dia menuruni sifatmu? jika melihat dari kata-katanya terakhir berarti, dia serius dengan ucapannya, bahkan dia tidak menjawab panggilanku.


bukankah aku sudah pernah bilang padamu! jangan terlalu keras padanya. karena itu hanya akan membuatnya semakin memberontak. "


"cih bisakah kau diam, kau tidak membantu sama sekali."

__ADS_1


wajah lannox terlihat semakin kesal dan suram, ditempat lain zion dalam diampun ikut mencari dan khawatir dengan keadaan ravella.


"kemana sebenarnya anak itu pergi..? bahkan di gazebo ditempat yang selalu didatanginya juga tidak ada, aku tidak mengira dia sampai sanggup melakukan hal nekat begini, dia pasti sedang kebingungan saat ini."


__ADS_2