
"Kek.. Apa yang terjadi pada Ayah dan kakek Rabarus!? Apa Kakek tidak mau menghentikan mereka berdua?" ujar Ravella khawatir.
Sedangkan Jura yang sedang fokus menikmati pertarungan keduanya, langsung tersadar saat mendengar suara Master Kecilnya.
"Tidak perlu, biarkan saja." ujarnya sambil melipat kedua tanganya.
"Memangnya kenapa? Bagaimana jika Ayah kalah dan terluka! Melihat Kakek Rabarus, masih belum serius dengan pertarungan. Berarti beliau tidak gentar sedikitpun, dengan tekanan yang Ayah tunjukkan."
'Hem.. Bahkan Nak Dewi, juga bisa menilai dan mengamati pertarungan. Ia juga tahu jika Pak Tua itu masih belum serius bertarung.' pikirnya mengamati Masternya itu, dan melihat kearahnya sekilas. "Mereka hanya bertarung, untuk melakukan pembuktian. Jadi kau tidak perlu khawatir, Nak Dewi."
"Pembutian.. Memangnya pembuktian untuk apa Kek?" tanya Ravella bingung.
"Kau akan segera tahu saat mereka selesai."
Mendengar jawaban ambigu Jura.. Ravella kembali berpikir dan mengamati situasi yang terjadi. 'Apa maksud Kakek, dan kenapa Ayah terus menyerang Kek Rabarus?
Tapi, Kek Rabarus sejak tadi hanya mengelak dan menepis tiap serangan yang datang kearahnya, tanpa membalas satupun serangan Ayah!
Apa yang sebenarnya di rencanakan Kakek Rabarus!! Apa dia ingin membuat Ayah kelelahan..!? Heem.., Omong-omong ini sudah jam berapa ya?'
Berbeda dengan Jura, yang terus mengamati pertarungan keduanya. Dalam hati ia bergumam. 'jadi anak itu sudah berhasil menggunakan jurus gabungan ya..!
Di mana Seorang Master bisa menggunakan kekuatan Spirit, lalu menciptakannya kembali menjadi sebuah kekuatan baru miliknya sendiri. Hem.. Hem.. Menarik.'
......................
Sementara itu di waktu yang sama di luar Mansion, kehadiran Argus tidak di sadari oleh musuh, tiba-tiba para witch langsung terlempar jauh dengan hanya menggunakan sedikit tekanan, yang di berikan oleh Argus.
"Aaarrrggghhhh.. Gedebug... Bug.. Bug.." beberapa Witch terlempar jauh, ada yang tersungkur, dan ada juga yang tersangkut di atas pohon.
Para prajurit yang menyaksikan pemandangan tersebut dari dalam Perisai, Bersorak kegirangan karena hal itu. Argus berseringai bangga, saat mendapat teriakan sorakan dari Para Parajurit.
"Wow.. Yang Mulia hebat sekali, padahal ia belum memberi serangan apapun." ujar Prajurit yang lain.
"Benar, kita sangat beruntung kedua Spirit Yang Mulia ada di sini." ujar yang lainnya.
__ADS_1
Sedangkan Rog, yang sudah menjadi murid Roland, beberapa hari yang lalu.. Ia baru saja bergabung menjadi prajurit cadangan. Ia tampak terkesima melihat hal tersebut.
'Para Prajurit di sini sangat beruntung, mereka mempunyai atasan yang selalu peduli dengan mereka. Tidak seperti kami dulu! para prajurit yang telah mengikat sumpah dan menghabiskan seluruh hidup mereka hanya untuk Orsi.
Banyak yang gugur dalam misi dengan sia-sia. Bahkan, mereka tidak mendapatkan kebebasan dalam melakukan apapun. Jika mereka terjebak dengan perangkap musuh,
Dan tidak bisa selamat, maka mereka harus mati demi melindungi rahasia tersebut. Tidak hanya itu.. Para pemimpin juga tidak akan bertanggung jawab dengan keselamatan bawahan mereka.
Kebanyakan dari mereka bersikap lepas tangan, dan tidak ingin ikut campur dengan apa yang terjadi dengan bawahan mereka. Dikarenakan mereka menganggap mati dalam misi, itu hal yang sangat wajar di lakukan.
Haah.. Bagaimana nasib anak-anak yang ada di sana sekarang, apalagi banyak anak di bawah umur, telah di renggut kehidupan dan kebebasan mereka saat memasuki Orsi..!
Aku sangat beruntung sekali, sebab bisa lepas dari rantai kekangan Orsi. Jika saja Kedua Paman itu tidak datang menawarkan bantuannya padaku..
Entah bagaimana nasibku sekarang! bisa jadi aku tidak akan bisa merasakan kehidupan sebaik ini, bahkan aku tidak pernah membayangkan akan menjadi anak Angkat Yang Mulia Putri.
Aku sangat bersyukur, terima kasih Dewa.. Karena telah mempertemukan aku dengan orang-orang yang sangat baik.' gumamnya dalam hati, mensyukuri apa yang terjadi.
Berbeda dengan Robi dan Dean, yang sudah pernah menyaksikan secara langsung pertarungannya Argus, menyelamatkan mereka, saat sedang menjalankan misi dari Duke.
Sementara Zion hanya mendecih malas.. Melihat aksi Argus yang kelihatan sedang pamer di hadapannya. 'Cih dasar kekanak-kanakan.' pikirnya. "Semuanya.. Tetap waspada, jangan mudah terlena hanya karena kita tampak lebih unggul.
"Sebagian pasukan tetap di sini.. Sebagian lagi ikuti aku." perintah Zion pada yang lainnya.., lalu saat ia akan beranjak pergi, Secara tak sengaja tatapan keduanya saling bertemu.
Ia memperhatikan sosok Rog, yang juga secara tidak sengaja melihat kearahnya.. Dengan mata yang menyipit, Zion bergumam dalam hati.
'Heum.. Bukankah anak itu adalah anak angkat Dewi..! yang akhir-akhir ini sering terdengar namanya di kalangan para Prajurit.'
Rog yang melihat sosok buas menyeramkan Zion dari kejauhan.. segera membungkukkan badannya, untuk memberi hormat pada sosok bringas dan buas itu.
Tiba-tiba hal yang tak terduga pun terjadi, membuat Rog terkejut mendengar seruan namanya di panggil oleh Zion.
"Kau... Kemari." ujar Zion dengan tatapan menyeramkan miliknya.
'Astaga.. A-apa aku telah membuat kesalahan!! Begitu banyak Prajurit, kenapa hanya aku yang di panggil oleh beliau...!?' pikirnya tiba-tiba gemetar, karena ia sudah pernah mendengar bagaimana ngerinya saat Zion sedang Marah.
__ADS_1
Rog pun langsung berlari.. Kearah Zion, yang terus memperhatikannya dari kejauhan.
"Tap.. Tap.. Tap.. Tap.. Tap.. S-saya menghadap Yang Mulia." ujarnya gugup.
Tatapan Zion lekat padanya.. Ia tidak melepaskan sedikitpun pandangannya dari Rog. Menyadari hal tersebut, Rog tampak gemetar dan gugup.
Di karenakan ia tengah menjadi perhatian saat ini.. Pandangan Para Prajurit yang tidak tahu apapun tertuju padanya.. Zion yang mendengar suara riuh dari para Prajurit hanya diam mengabaikan.
"Apa kau yang bernama Rog...?" tanyanya.
"B-benar Yang Mulia.."
'Heum menurut cerita Yang Kudengar dari Kakek Tama, dan Kek Roya! Anak ini, adalah anak didik Orsi. Katanya ia juga sangat berbakat dan lebih unggul di bandingkan anak-anak lain, yang seusia dengannya.
Melihat bakatnya yang mumpuni.. Mereka jadi tertarik dengan anak ini, sampai-sampai mengancamnya dengan menjadikan adiknya sebagai kelemahan.
Cih, aku tidak menyangka! Jika kedua Kakek Tua itu sangat licik. Bagaimana bisa mereka sampai mempunyai ide jahat seperti itu? Ternyata mereka sangat manupulatif.
Untung saja mereka berada di pihak Dewi.. Jika tidak, mereka akan menjadi musuh yang sangat berbahaya untuk di tangani.' pikirnya mencerna kembali.
"Baiklah, jika begitu ayo ikuti aku!" ujarnya langsung pergi tanpa mengatakan apapun, membuat Rog kebingungan.
Rog melihat kearah gurunya yang juga sedang memperhatikan mereka, ia lalu hanya mengangguk pada muridnya itu. Paham akan maksud anggukan gurunya.. Rog pun mengerti dan pergi dengan patuh.
Karena selama ia latihan.. Ia telah mendengar desas-desus yang beredar, tentang betapa tegas dan disiplinnya, Singa Kekaisaran tersebut.
'Jika beliau, memilih anak itu! Pasti ada sebabnya. Bisa jadi beliau ingin menguji kecakapan anak itu! Yah wajar saja kenapa beliau sampai bertindak demi kian.
Melihat bagaimana akhir-akhir ini, ia sering menjadi topik hangat di antara kalangan para Parjurit, dan juga para pelayan.' pikirnya, lalu kembali melanjutkan fokusnya pada musuh yang saat ini..
Sedang kelabakan, karena keisengan Argus. Para Witch mencari sosok Argus di antara gelapnya malam, Udara dingin di musim gugur.. Merasuk hingga ke tulang.
Hingga menimbulkan kabut di antara rimbunnya pepohonan.. Sesekali sayup-sayup terdengar suara burung hantu di tengah hutan.
Menambah keremangan di sunyinya malam, sedangkan Argus, terus mengawasi gerak-gerik para Witch dari ketinggian udara.
__ADS_1
'Ada yang aneh dengan mereka! kelihatannya para witch hanya di jadikan sebagai umpan untuk memancing kerusuhan, agar perhatian para prajurit di Mansion hanya terfokus pada gangguan yang mereka timbulkan.'
ujarnya sambil mengamati musuh yang saat ini tengah panik, karena tidak bisa melihat lawan yang sedang mereka hadapi saat ini.