
Tama merasa tidak terbiasa melihat tanduk di atas kepala Ayahnya..
'Orang Tua ini pasti sudah mencapai tahap pertapa suci, lihatlah tanduk aneh itu..'
"tanduk ini.. Kudapatkan saat bertapa ribuan tahun."
"cih, sepertinya kau dapat apa yang kau inginkan.. Setelah lebih memilih meninggalkan keluargamu, demi mendapatkan tanduk itu!!" jawabnya dengan nada kesal.
Melihat reaksi putra lelakinya yang tampak masih dongkol.. Ia merasa sangat sedih. Namun, ia tidak bisa menyalahkan putranya.. Karena ini memnag kesalahannya sendiri. Akan tetapi, bukan itu yang ia inginkan, setelah sekian lama tidak bertemu, ia ingin mewariskan semua yang ia punya untuk putra satu-satunya ini.
'aku tidak menyangka Putraku, sudah mencapai level Raja. Dan itu sangat membanggakan, hmm.. Sudah saatnya aku memberikan apa yang seharusnya dia miliki.'
"Tama, putraku.." panggil Sang Rubah kepada, anaknya.
Tama, melihat kearah Ayahnya.. Yang sangat ia kagumi itu.
"Dengar nak, Aku memanggilmu kesini.. Bukan tanpa sebab. Apalagi setelah melihat langsung potensimu."
"apa maksud Ayahanda..?" tanya Tama bingung.
"Rubah yang ukurannya sedikit lebih kecil itu, berjalan pelan mendahului Putranya."
"ayo ikuti aku Putraku." Rubah Bertanduk memusingkan tubuhnya, dan ia meniupkan sesuatu didepannya.. "fuuuhhh."
'aku melihat Ayahku meniupkan sesuatu, awalnya aku menertawakannya.. Karena aku mearasa aneh dengan apa yang ia lakukan, jadi aku menggagapnya hanya bercanda. Tapi, saat aku diperlihatkan sesuatu yang luar biasa.. Aku menarik kembali kata-kataku. Ada dinding yang tak terlihat diantara kami, dinding itu perlahan memecah diri menjadi beberapa bagian dan, membukakan kami jalan.
"cerkling.. cerkling.. cerkling.. cerkling.."
Aku melangkah maju mengikuti langkah ayahku, dari belakangnya.. Dan melihat kesekitar. Setelah kami memasuki tempat itu, dinding tak terlihat kembali tertutup seperti semula. Mungkin ini memang terlihat aneh bagiku, karena tidak pernah melihatnya.
Setelah itu kami berjalan santai, Hmm.. Tempat ini memang besar dan sangat luas. tapi.. Apakah tidak membosankan! Semua tempat ini di kelilingi dengan Rak-rak buku, yang tingginya bisa mencapai mansion Duke. Yah mungkin ini kelihatan luar biasa bagi pecinta kutu buku, karena tempat ini di penuhi dengan lautan buku. Tapi tidak untukku, itu sangat kelihatan membosankan.'
"Ayahanda, mengapa tempat ini dipenuhi dengan banyak buku? Apa kau mengoleksinya.. Atau hanya dibuat untuk pajangan semata."
__ADS_1
Ia tersenyum mendengar pertanyaan Tama, tak lama.. Rubah Api Bertanduk itu, berubah menjadi seorang Pria berusia empat puluhan. Dengan warna rambut, dan wajah yang hampir sama seperti Tama, perbedaannya hanyalah tanduk dikepala mereka. Ia mengenakan mantel hitam dengan kerah berbulu, dan hanya mengenakan kemeja putih tipis, yang memperlihatkan belah dadanya yang berotot. Dan mengenakan celana hitam, yang sama dengan warna mantel miliknya.
Pria berambut oranye panjang melebihi bahu itu.. Masih terlihat muda dan berwibawa.
"ini adalah sumber pengetahuan, yang ada diseluruh dunia. ya.. Bisa dikatakan, Ayahmu ini pecinta kutu buku."
'jleb.. Apa dia menyindirku!!' ujarnya sambil memperhatikan punggung Ayahnya.
"hahahaha.. Tidak masalah, kau bisa membacanya jika kau penasaran."
"tapi, omong-omong kita mau kemana Ayahanda? Karena dari tadi yang kulihat, hanyalah lautan buku dimana-mana. Apakah tidak ada yang lebih menarik lagi dari ini..!!"
"hahahaha.. Sifatmu sama seperti ibumu, mudah bosan. Tapi, dari segi fisik, kau sangat mirip denganku. Hem.. Sebenarnya ada satu tempat yang ingin ayahanda tunjukkan padamu nak."
Mendengar itu.. Tama berlari kecil mengejar Ayahnya, ia tampak sangat senang.
"benarkah.. Memangnya kita mau kemana ayahanda?" tanyanya semangat.
'hem..hem.. Ternyata putraku tidak berubah sama sekali, dia masihlah Putra kecilku, yang selalu senang jika ingin di ajak jalan kesuatu tempat. Hahaha.. Yah.. mungkin inilah yang dinamakan, setua apapun usia kita, kita akan tetap di anggap anak-anak di mata orang tua kita. Dan, aku merasakanya sekarang. Meski melihat Putraku yang sudah dewasa, namun bagiku, dia masihlah anak-anak.'
Keduanya tiba di depan pintu gerbang berukuran besar, sebuah pintu yang terlihat sudah sangat tua dan usang. tampak ukiran aneh di setiap pintu, dan di kedua pintu tersebut terdapat kedua wajah besar dan bundar, yang sedang tertidur.
"bangun.." mendengar suara berat pria empat puluhan itu, kedua wajah tersebut langsung bangun."
"buka pintunya.."
"baik tuan, krek ngiiiikkkk..." jawab keduanya bersamaan, dan kedua pintu itupun langsung terbuka lebar.
Setelah pintu dibuka.. Muncul cahaya terang keluar dari balik pintu tersebut, lalu keduanya pun memasukinya, Dan pintu itu pun tertutup kembali.
'sesampainya kami didalam, aku dihadapkan dengan ruangan yang sangat luas, dan besar ruangan itu di penuhi warna serba putih. disini tidak kalah luasnya, dengan ruangan buku yang kami lewati tadi. Namun, apa sebenarnya yang ingin ayahku, tunjukkan padaku?
Di depan kami.. Terdapat dinding yang menjulang tinggi, bentuk segi empat, yang terbuat dari Air. ternyata ayahku suka mengoleksi barang-barang unik ya..! didalam dinding tersebut, terdapat pohon sangat besar. Jadi asal sumber cahaya tersebut, berasal dari pohon itu.'
__ADS_1
"tunggu di sini." perintah Sang Ayah
'ayahku berjalan mendekati dinding itu..'
***
Di negara Thioran, benua timur. Julius dan mantan Raja.. sedang berada di pinggir kota, wilayah yang sangat damai dan tenteram. para penduduk yang cukup ramah, saling menyapa satu sama lain. Raja, dan Julius berjalan santa, sambil menikmati udara sekitar.
"negara ini benar-benar sangat damai ya..!" gumam Raja senang.
"tentu saja Baginda, tapi.. Kita juga tidak boleh terlalu terlena, dengan suasana tenang seperti ini..!"
Mendengar peringatan Julius, Raja kembali teringat, jika mereka sedang dalam pelarian. 'Jadi, bukan saatnya.. Kami untuk bersantai, seperti sekarang.'
"hehe.. Tapi Baginda, anda tidak perlu memasang wajah seperti itu? Karena kita sudah dekat dengan tempat tujuan."
Jauh didepan mereka.. Tampak sebuah pekarangan rumah yang sangat luas. Raja dan Julius, pergi menghampiri rumah itu, baru saja mereka memasuki perkarangan rumah tersebut, pintupun langsung terbuka.
"ceklik, ternyata kau sudah pulang." tampak wanita berambut coklat sepunggung, sudah menyambut didepan pintu.. Ia langsung berlari memeluk Julius. Dan mengabaikan seseorang, yang berada dibelakang Julius.
"hmm.. Sepertinya mereka lupa, ada aku disini.."
***
'ayahku berjalan menghampiri dinding air, dan ia merapal sesuatu, lalu.. muncul pintu besar dan ia membukanya.'
"putraku ayo masuk.."
'aku pun dengan patuh mengikutinya.. Sesampainya di dalam, ayahku berbalik badan dan..'
"putraku, berikan ketiga bola energi, yang telah kau dapatkan saat bertarung."
"untuk apa?" tanya Tama.
__ADS_1
"hem.. nanti kau juga akan segera tahu." ujarnya sambil tersenyum.
Tama pun mengeluarkan ketiga bola energi tersebut, dan menyerahkan kepada Ayahnya.. Ayahnya pun menerima ketiga bola energi, yang di berikan kepadanya. kemudian, ia mengucapkan sesuatu.. Dan ketiga Bola energi tersebut, berputar cepat dan bersinar terang menjadi satu. Bola energi itu langsung terbang tinggi keatas, dan menuju sebuah kubus merah, yang melayang.. Di atas sana.