AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
SUDAH SELESAI DISKUSINYA..!


__ADS_3

Di puncak menara istana, yang terletak di pinggir tebing, curam, dan terjal. yaitu, istana kerajaan ERGBEN. Sang Kaisar duduk berpangku tangan, pada lutut kaki kirinya. Ia bersandar pada tiang menara, sambil melihat lautan berombak. Hatinya bergejolak marah dan kecewa, namun masih ia redam, hingga tanpa ia sadari, perasaan yang membuncah, akhirnya meledak keluar.


"Aku terlalu santai rupanya.. Sampai tidak sadar, ada musuh telah menyelinap masuk, kedalam wilayah kekuasaanku. Apalagi.. mereka melakukannya secara terang-terangan, dalam waktu yang berkala, selama bertahun lamanya. Cih, mereka benar-benar mencari mati."


Mata tajam seakan ingin menghunus pada sesuatu.. Gejolak yang di Penuhi oleh Amarah, akhirnya menemukan celah untuk keluar. Tanpa sadar Sang Kaisar Muda.. mengeluarkan aura merah, yang membuat seisi istana bergetar ketakutan karenanya.


'Ini.. Bukankah, ini Aura dari bocah jahat itu? Heh.. Ada apa dengannya!! Apa ada musuh datang menyerang.' Gumam Bagzul, yang sedang menyamar menjadi manusia, Sambil mengunyah apel.. Ia berbaring di atas pohon. 'Heh biarkan saja.. Selama dia tidak memanggilku, aku tidak perlu menemuinya. Sejujurnya.. Aku tidak suka dia menjadi Masterku, Dia terlalu dingin, dan tidak mudah dibodohi, juga sangat ambisius.


Aku tidak suka, manusia yang terlalu berambisi.. dalam menginginkan sesuatu. Karena manusia seperti itu.. sulit dikontrol. Dan juga.. Sebagai seorang Master, dia sangat kejam terhadapku. Sial.. Ini semua gara-gara si bocah Julius itu!! Dia telah pergi meninggalkanku, tanpa memberitahukan apapun. Lalu.. Ia kabur melarikan diri begitu saja, Sampai aku terjebak pada kontrak terkutuk, yang mengikat kebebasanku.


Dia selamat, aku yang sengsara, Cih, Julius sialan. Jika saja.. aku tidak tergoda dengan tumbal yang ia berikan kepadaku.. Pasti sekarang aku bisa bebas, pergi kemanapun yang aku mahu. Dan melakukan apapun yang aku inginkan, tanpa ada yang melarangku. Awas saja kau Julius, beraninya kau mengorbankanku.. Untuk kebebasanmu, dan Raja pengecut itu.'


***


"Hmm.. bukankah ini.. Aura Baginda!! Jika tidak dihentikan, istana ini bisa runtuh. Aku harus bergegas, menghentikan kemarahannya. Wusshhh.."


Dalam sekejap, Razak muncul menyentuh bahu Sang Kaisar.


"Puk.. Baginda.. Apa anda sadar, dengan apa yang telah anda lakukan??" Gumam Razak mengingatkan.


Tepukan Razak, menyadarkan Raffael. tampak Aura membunuh yang sangat kuat, sedang meronta-ronta ingin melepaskan diri.. Dari kekangan.


"Baginda.. Katakan, apa yang telah terjadi? Siapa yang telah berani membuatmu seperti ini..! Biarkan aku mengurusnya untukmu!!" Gumam Razak.


Raffael bangkit berdiri, dan berjalan di udara.. Di ikuti Razak, di belakangnya.


"Ada yang telah berani, bermain-main denganku Razak! Kebetulan sekali, kau datang. aku ingin kau menyelidiki orang ini... Dan pastikan, jika memang benar dia terlibat dalam kasus musiman, yang terjadi di perbatasan!! Heheh.. Aku ingin kau, membawanya kepadaku." Ujar Raffael menyeringai.


"Dan bagaimana, jika bukan dia orangnya? Baginda." Tanya Razak memastikan.


"Kalau memang, apa yang aku pikirkan ini salah, kau boleh kembali." ia merenung sesaat. 'aku akan mencari tahu sendiri, dalang dibalik kekacauan ini. Karena aku sangat yakin, jika Rhagel tidak akan mampu menemukannya..! Karena dia, sangat lihai dan licik, dalam menyembunyikan diri.' Pikirnya menyelidik.


"Baiklah, jika begitu.. Saya pamit dulu Baginda."

__ADS_1


Razak pun menghilang dari pandangan, dan hanya tinggal Raffael sendiri.. Melihat matahari yang telah menyelinap, kembali keharibaan.


***


"Lalu.. Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Gumam Zaku setelah mengakui kesalahannya.


"Aku rasa.. Untuk sekarang, sebaiknya kita kembali dulu kemansion. Mari kita tunggu penjelasan dari keduanya.. Setelah itu, baru kita putuskan." Ujar Saga tenang.


"Hmm.. Aku setuju. mereka pasti punya alasan tersendiri, Dan lagi.. Jura bukanlah tipe orang yang bertindak tanpa akal. Seperti seseorang disini, hehe." Gumam Roya melihat kearah Zaku.


"Sialan, apa kau mau cari ribut denganku hah..!" Ujar Zaku kesal.


"Maaf saja, aku tidak tertarik berkelahi dengan bocah." Jawab Roya spontan.


"Cih, dasar pengecut." Sambung Zaku lagi.


"Ya.. Terserah kau saja mau bicara apa! Tapi, sejujurnya.. Apa yang aku katakan itu, adalah kenyataan. Jura, selalu memikirkan sesuatu jauh lebih kedepan, sebelum dia mengambil tindakan. Jadi, tindakan kali ini pun.. sudah pasti dia mempunyai alasan, untuk melakukannya." Ujar Roya bijak.


"Benar, aku setuju dengan Roya." Sambung Saga, di angguki dengan Gira, dan Tama, Yang sepemikiran.


"Cih, apa kalian sudah selesai diskusinya..!" Para Spirit, melihat kearah Zaku, dan mengangguk. "Kalau begitu.. Ayo cepat kembali, jika kita terlalu lama disini.. Kita tidak akan sadar, berapa lama waktu telah berlalu.. kita tidak boleh terlambat, Karena waktu disini, berbeda dengan dunia manusia." Ujar Zaku Mengingatkan.


Setelah Zaku, mengucapkan kalimatnya.. Ia pun menghilang, di ikuti Spirit lain. Yang baru saja sadar, jika mereka sudah terlalu lama berada di Zona Mana.


***


Setelah selesai membuat Perisai, Rabarus, dan Jura.. Kembali kemansion. Di sambut Zion, yang melontari berbagai pertanyaan bertubi-tubi. Sedangkan Lannox, sibuk dengan dirinya sendiri. Ia tidak peduli, dengan apa yang telah Para Spirit lakukan.


"kek, darimana saja kalian?!! Dan, dimana kakek yang lainnya? Lalu.. Apa yang baru saja terjadi di luar sana??"


"Kau sudah seperti wanita saja Zion." Gumam Jura.


"Cih, itu karena aku penasaran, melihat kalian semua menghilang begitu saja."

__ADS_1


Tak lama.. Orang yang dibicarakan pun muncul. Melihat Jura, dan Rabarus, sudah berada di mansion lebih dulu. Tama, langsung membuka topik pembicaraan.


"Bisakah kalian jelaskan, apa yang telah terjadi??" Gumam Tama, melihat kearah kedua Pria, dihadapannya tersebut.


Zion yang tidak mengerti permasalahannya.. Hanya diam memperhatikan. Jura menatap kearah Rabarus, yang hanya mengangkat kedua bahu. Menyerahkan semuanya kepada Jura, untuk menjawab rasa penasaran Tama, dan yang lainnya. Setelah ia menjelaskan semuanya.. Kelima Spirit lain, baru merasa tenang.


"Hahaha.. Lihatkan, benar bukan.. apa yang sudah aku katakan!! Jura, pasti mempunyai alasannya.. Makanya, lain kali selidiki dulu, jangan asal menuduh." Gumam Roya, melihat kearah Zaku, dengan Seringai.


"Heh, berisik. Tidak bisakah kau diam!!" Ujar Zaku, tanpa merasa bersalah.


Sedangkan Zion melihat Kakeknya, merasa malu. Lalu ia pergi.. diam-diam meninggalkan ruangan itu.


'Heh.. Sebaiknya aku pergi saja. Dan lagi.. sudah beberapa hari ini, aku tidak melihat anak itu! aku akan menjenguknya sekarang.'


Dalam waktu singkat, Zion, sudah berpindah dikamar sebelah. Ia keluar dari bayangan gelap, tampak sosok Putih Buas, sedang berjalan dan terkena pantulan sinar Bulan.


Sementara Gapi, berada diluar balkon kamar, ia dalam posisi sedang berbaring tengkurap, bertopang dagu, pada kedua tangannya yang disilang. sambil Menatap Purnama penuh.. Tampak wajah kesepian sedang melamun, hingga ia tidak menyadari, ada yang sedang memperhatikannya.


'Sepertinya.. Si bayi kecil, terlihat sedang kesepian. Aku tidak ingin mengganggunya.. Jadi aku hanya memperhatikannya dari dalam. Dia masih tidak sadar. akan kehadiranku. Apa yang sedang ia pikirkan? Apakah dia sedang merindukan ibunya..!!'


Tampak Gapi sedang melamun, menatap sayu pada purnama.. Sesekali angin berhembus pelan, daun-daun melambai menikmati keheningan malam.


'Ibu.. Apa yang harus anakmu ini lakukan..? Jika sampai terjadi sesuatu pada Dewi..! Aku masih belum cukup kuat, untuk melindunginya. Dan sekarang, aku terjebak dalam ruang sunyi ini sendirian. Aku ingin sekali melihat Dewi, tapi aku dengar.. Tuan Besar sudah kembali.


Dan akhir-akhir ini.. beliau tidak pernah meninggalkan Dewi seditikpun. aku jadi takut bertemu dengannya ibu..! Dia lebih menyeramkan, dari siapapun yang pernah kutemui.'


Gapi sedang bermuram durja, tampak ia sangat bimbang.. tidak tahu harus melakukan apa?


'Hmm.. Sepertinya, sudah saatnya bagiku, menghampiri anak itu.' Zion berjalan pelan, Lalu menyapanya.


"Apa yang sedang kau bimbangkan nak??" Tanya Zion, duduk di ambang pintu Jendela kamar, sambil melihat kearah langit. Hanya ada Purnama Penuh, tanpa bintang satu pun disisinya.


"Paman, kapan kau datang?" Tanya Gapi dengan polos.

__ADS_1


"dari tadi, aku sudah ada disini.. Tapi melihat kau sedang asik dengan pikiranmu sendiri, jadi aku tidak ingin mengganggumu."


"Oh.." Gapi, menjawab lalu melirik sekilas kearah Zion. Pandangannya kembali manatap lantai, sambil bergumam. "Paman, aku sudah lama tidak menjenguk Dewi.. Izinkan aku bertemu dengannya?!! Aku janji, tidak akan macam-macam dan hanya akan diam saja..!" Gumam Gapi memohon.


__ADS_2