
sang raja.. pergi dengan berat hati. 'cih.. baru hari pertama saja, mereka sudah membuatku pusing. aku raja negeri ini.. tapi diperlakukan seperti bocah oleh mertuaku sendiri, haah... mau ditaruh dimana mukaku! aku benar-benar kesal dengan badar, dia seenaknya saja mengatai aku bodoh. awas saja kau! heh.. aku akan membuat perhitungan dengannya nanti.'
saat raja faran berjalan keluar dari aula utama! tampak dari kejauhan.. rudolf sedang berlari tergesa-gesa menghampirinya. "baginda... baginda.. huh.. huh.. huh.."
raja faran melihat kepanikan rudolf, perasaannya mulai merasa tidak enak. 'apa yang telah terjadi..? semoga saja.. apa yang aku pikirkan ini tidaklah benar.' ia bersikap tenang, meski dia sudah tau apa yang akan dilaporkan rudolf. "ada apa? cepat katakan!"
"baginda.. i..itu.. pa..pangeran argus, pangeran kabur baginda.."
'hmm.. benar dugaanku dasar bocah nakal, sejak awal aku sudah curiga padanya. tapi, karena didepan mertuaku.. jadi aku tidak bisa menegurnya.' raja mulai memberikan titahnya. "rudolf, susul anak itu! dan segera bawa dia kembali, ambil ini..!"
rudolf mengambil pemberian raja. "ini..! bukankah ini..."
"ya.. hanya itu yang bisa membuatnya patuh! dan satu lagi.. jangan beritahu siapapun tentang masalah ini."
"baik baginda, jika begitu.. saya undur diri dulu."
"hem.." setelah rudolf pergi.. rajapun melanjutkan lagi perjalanannya, namun kali ini..! hatinya sangat gelisah. 'bisa gawat jika ibu mertua tau cucu kesayangannya kabur dari instana, hmm.. alasan apa yang harus aku katakan kepada mereka nanti..!' raja pergi dengan perasaan kalut.
didalam kamar, keempat spirit tengah fokus mengontrol mana, dan energi alam. gira, pria berambut biru perak sepunggung, rambutnya tergerai dengan poni kesamping. cahaya biru menyelimuti tubuhnya, keringat membasahi wajah tampannya.. sementara saga, pria dengan baju hijau, sedang mengambang diudara.. energi alam telah menyatu sempurna dengannya. disisi lain, entah apa yang terjadi dengan roya! ia kelihatan seperti sedang menahan rasa sakit. mulutnya mengeluarkan darah segar, perlahan darah itu.. menetes hingga mengenai pakaiannya.
sedangkan tama, ia masih bersemadi.. sama seperti yang lainnya, tubuhnya juga mengeluarkan cahaya kemerahan. namun, ada suara yang terus berbisik ditelinganya. (tamarus.., aku telah lama menanti kehadiranmu. kemarilah.. tiga hari lagi.. temui aku di...) "gedebug.. bluerrrrrrrr tik.. tik....." suara semburan darah segar membuyarkan fokus tama! suara bisikan tadi langsung menghilang, karena benturan keras. tama, menarik nafasnya pelan dan menghembuskannya secara perlahan, tama membuka matanya. dan saat ia menoleh kesamping! tampak tubuh roya terpelanting jauh hingga membuat dinding kamar lannox, berlubang dan retak.
"astaga roya.. tab.. tab.. brug, apa yang terjadi padamu saudaraku?!?!"
__ADS_1
kedua spirit lain masih belum sadar dengan apa yang terjadi, karena terlalu fokus hingga keduanya tenggelam dibawah alam sadar masing-masing.
"a..aku.. terlalu memaksakan diri, dan berusaha membuka paksa, gerbang jiwa . lapisan ke-dua rahena."
"haah.. aku tau kau ingin mengejar yang lainnya, tapi jangan terlalu memaksakan dirimu seperti ini roya!! kita latihan disini hanya sekedar, apalagi.. keberadaan kita sangat dibutuhkan oleh dewi, jadi jangan sia-siakan tenagamu."
"kau benar, aku terbawa suasana, sebaiknya aku memulihkan tenaga dalamku dulu. tenanglah, aku tidak kenapa-napa! jadi lanjutkan latihanmu."
"tidak, masih ada hari lain. aku akan melanjutkannya besok, untuk sekarang, aku akan berjaga disini.. kau fokus saja dengan latihanmu."
"baiklah!" setelah memastikan roya baik-baik saja, ia pun bangun dan memberi ruang kepada roya. roya mulai mengatur posisi duduknya, ia menarik pelan nafasnya dalam-dalam. lalu kembali fokus dengan semadinya, dan memulihkan tenaga dalam yang telah terpecahkan tidak karuan, karena keselahan yang ia lakukan.. roya mengatur beberapa titik buta yang belum terbuka didalam tubuhnya. 'haah.. hanya lima yang terbuka, jika aku tidak dapat membuka semuanya. aku tidak akan bisa mencapai tahap sempurna. sial... levelku sangat berbeda jauh, dari mereka! aku benar-benar akan tertinggal dari yang lainnya. jika begini.. bagaimana bisa aku melindungi dewi? bahkan naik level saja aku tidak bisa.'
tama duduk dibibir jendela dan memandang jauh keluar. 'siapa yang berbisik tadi..? dan bagaimana bisa dia tau namaku! hmm.. bisa jadi itu cuma ujian dalam latihan, tidak mungkin itu nyata!!' (Tamarus.. rus.. rus..) 'suara itu lagi..'
"hei anak muda... bukankah kau ingin berbicara dengan tuanku!! jika tidak, aku akan membawamu kembali sekarang."
'suara pria ini.. bukankah dia pria yang menangkapku! tuan.. apakah yang dimaksud pria yang waktu itu?'
"hei.. kenapa diam saja..! apa kau tidak punya mulut untuk bicara?"
mata dean, masih agak perih, setelah keluar dari kegelapan, dan tiba-tiba saja sudah berada di tempat terang. lannox yang tengah duduk membelakangi cahaya, membuat dean merasa silau, hingga wajah lannox tidak kelihatan jelas. hanya bayangan hitam yang ia lihat sedang duduk dibalik meja!
"ah.. sebentar, maafkan saya! karena terlalu lama berada ditempat gelap, mataku jadi sakit terkena cahaya."
__ADS_1
"cih! tik," setelah argus menjentikkan jarinya, mata pria itu kembali seperti semula. pandangan yang tadinya buram, kini telah kembali normal. 'i..itu.. rambut perak bercahaya bagai sinar bulan, mata merah menyala seperti darah.' ia seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"apa ada yang ingin kau katakan kepadaku?" suara lannox membuyarkan lamunan dean.
"ah.. maafkan saya tuan, karena saya teringat dengan seseorang yang saya temui sebelumnya, saya juga tidak tau siapa anda! tapi, ada nenek tua yang mengatakan kepada saya. jika saya ingin menemukan jawaban, carilah rambut perak bercahaya bagai sinar bulan, mata merah menyala seperti darah. dan ciri-ciri yang disebutkan nenek tua itu.. sangat mirip dengan anda tuan."
'hmm.. ciri-ciri yang disebutkan memang mirip dengan yang mulia' argus penasaran lalu menanyakan apa yang ada di kepalanya. "lantas, apa inti dari pembicaraanmu? kami membutuhkan informasi penting, bukan mendengarkan ceritamu!"
"tuan, saya akan menceritakan semua informasi yang saya miliki, tapi.. ada syaratnya!"
'hmm.. aku pernah melihat situasi ini, semoga tidak seperti yang aku pikirkan!' lannox bangun dari duduknya.. tangan kanannya ia selipkan disaku celananya. lalu ia melangkah mendekati dean, dan berdiri didepannya. "hmm penawaran yang menarik, katakan apa itu?"
"sebelum itu.. bisakah saya tau nama anda?"
argus terlihat sangat kesal, dean seperti mengulur-ngulur waktu. "jangan bertele-tele cepat katakan! apa yang kau inginkan?"
"saya membutuhkan nama anda tuan! tolong sebutkan nama anda."
lannox diam sebentar.. dan memperhatikan dean. 'aku sudah bisa menebak apa yang akan dia lakukan..'
dean masih berlutut dihadapan sang duke! "haah baiklah, tapi aku masih tidak percaya padamu! namun, jika itu membawa keuntungan bagiku, aku akan menerimanya! namaku Lannox."
"gulp" ia menelan ludahnya karena gugup. 'jika ini adalah kehendak takdir, aku akan melakukannya. mungkin saja nenek itu adalah utusan dewa untuk menyelamatkanku dari jalan yang salah.' dean memantapkan diri, dan langsung berlutut dengan gaya kesatria. "Saya Dean Ronzil.. bersumpah setia mengabdikan seluruh hidup saya kepada tuan lannox, jika saya melanggar sumpah, saya bersiap mati ditangan tuan lannox.
__ADS_1
lannox melihatnya dengan tatapan dingin, argus diam tak percaya menyaksikan apa yang dilihatnya. 'hmm.. kira-kira apa keputusan yang mulia?'