AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
SEJUJURNYA AKU TIDAK PERCAYA SEDIKITPUN DENGAN OMONGANMU KEK


__ADS_3

"Sial.... Aku serius Pak Tua!!! Putriku menghubungiku melalui kalung yang diberikan istriku. Dan dia bilang akan telat pulang malam ini karena sedang bersama temannya!"


"Bruuukk gedebrak... Kapan terakhir kali dia menghubungimu??" Zion langsung terkejut dan refleks berdiri, hingga membuat kursi yang sedang ia duduki terjatuh kebelakang.


"Baru saja, sambungan langsung terputus setelah ia mengatakan sedang bersama temannya."


"Tidak mungkin, Dewi tidak mungkin mempunyai teman, karena dia tidak pernah ikut dalam pergaulan sosialita! Dan banyak undangan yang datang tidak pernah ia tanggapi sama sekali, Jadi yang jadi pertanyaannya sekarang, siapa teman yang ia maksud??"


Tak lama Zion menghilang, dan langsung muncul di ruang kerja Duke.


"Sebab itu aku memanggilmu, ayo kita menemui Spirit Putriku!"


Dalam sekejap keduanya menghilang, dan muncul di kamar Putri Ravella. Tampak keempat Spirit ada yang sedang bermain catur, ada juga yang sedang menikmati teh hangat, dan ada yang membaca buku.


"Ada apa kau kemari dengan wajah kusut begitu?" Tanya Zaku, sambil menyeruput teh hangat.


"Kakek, ini masalah serius, dimana Putri?" Ujar Zion tampak khawatir.


"Kalian tenang saja.. Dia sedang jalan-jalan sekarang."


Lannox memegang kerah baju Zaku, karena geram melihat reaksi mereka seperti tidak terjadi apapun.


"Apa maksudmu Pak Tua? Apa gunanya kalian sebagai Spirit, jika tidak menjaganya dengan baik!!" Duke jadi emosi, di mata Duke, para Spirit Putrinya.. tidak terlihat khawatir sama sekali.


Zaku masih tampak santai, ia tidak terpengaruh sedikitpun karena ia mengerti kekhawatiran sang Ayah. Karena ia juga merasakan hal yang sama sebelum mendapat surat Putri.


"Haah.., tenanglah bocah. Sebelum itu bisakah kau lepaskan dulu tanganmu ini?" Ujar Zaku menunjuk tangan Duke.


Sedangkan yang lain sibuk dengan kegiatan mereka sendiri, dan mengabaikan amarah Duke, karena mereka tahu Ayah dari Master mereka sangat sensitif dan keras kepala jika sudah menyangkut masalah Putri kesayangannya. Lannox pun melepas kedua tangannya, dan berusaha bersikap tenang.

__ADS_1


'Sial, surat itu ada pada Roya lagi haah..., jadi aku tidak bisa menunjukkannya sebagai Bukti. Bagaimana caranya menghadapi bocah keras kepala sepertinya.' Keluh Zaku.


'Kau jangan buat masalah Zaku, berhati-hatilah dalam berbicara. Kau tahu sendiri jika kau salah bicara, kedua anak ini akan berbuat nekat demi Dewi. Bukankah Dewi telah mempercayakan anak ini kepada kita! Jadi, pikirkan alasan yang masuk akal.' Tama, tiba-tiba berbicara kepadanya dan mengingatkan mulut zaku yang kadang suka asal ceplos sembarangan.


'Cih, urus saja caturmu, tentu saja aku tidak sebodoh itu sialan.. jadi tidak perlu kau ingatkan pun, aku sudah tahu.' Ujar Zaku beralasan.


Sementara ketiga Spirit lain, hanya menyeringai mendengar pembicaraan keduanya. Zaku berpura-pura tampak santai, agar tidak terlihat mencurigakan.


"Ehem.. Ehem.. Kami sendiri tadi yang mengantarnya. Aku melihat ia sedang bermain bersama temannya, jadi kau tidak perlu khawatir. Lagian Dewi juga di temani dengan para pengawal yang kompeten, dan kedua dayang yang tegas." Ujar Zaku, beralasan.


"Tidak mungkin.. Itu mustahil apa kau berbohong??" Ujar Lannox masih meragukan ucapan Zaku.


"Cih, apa aku terlihat berbohong sekarang haah..!" dalam hati. 'Tentu saja aku terpaksa berbohong, sebab aku hanya membaca pikiran kalian, makanya aku bisa beralasan jika Dewi sedang bersama temannya.'


"Lalu.. Apa kakek tahu siapa temannya?" Tanya Zion, membuat kedua alis Zaku mengerut.


"Hahahaha... Hahahaha.."


Melihat tawa lepas temannya.. Zaku menjadi kesal. 'Cih, bukannya membantu mencari alasan, malah dia sibuk tertawa tidak jelas.'


"Kenapa kau tertawa sialan.. Apanya yang lucu? Apa kau sudah gila tertawa sendiri."


"Ah.. Maaf.. Maaf..! tiba-tiba saja aku ingin tertawa haha, kalian lanjutkan saja urusan kalian jangan pedulikan keberadaanku, anggap saja aku tidak ada." Ujar Tama Sambil mengelap air matanya.


"Kakek, aku bertanya padamu? Jangan mengalihkan topik pembicaraan." Zion merasa para Kakek Spirit terlihat mencurigakan.


Zaku tampak sangat kesal, karena teman-temannya menyerahkan hal merepotkan kepadanya, Sedangkan yang lainnya berpura-pura tidak tahu.


'Sial.. Lebih baik aku bertarung saja daripada harus menghadapi kedua bocah ini, Cih, Lihatlah mata mereka yang seolah-olah tidak takut pada apapun.' keluhnya dalam hati. "Mmmh.. Aku juga kurang tahu siapa temannya itu, Dewi tidak memberitahukannya dengan rinci.

__ADS_1


Dia hanya bilang jika anak itu adalah temannya, dan setelah itu dia memerintahkan kami untuk segera kembali. Karena ia ingin punya waktu privasi dengan temannya." Ujar Zaku, sambil menggaruk pipi, dengan jari telunjuknya.


'Sialan apa alasanku sudah terlihat masuk akal?? Semoga saja kedua bocah ini percaya.' Zaku melihat kearah Lannox dan Zion, Lannox tampak mulai percaya namun, berbeda dengan cucunya.


"Jadi seperti itu ya.. Baiklah kalau begitu." Lannox tampak lesu, lalu berjalan keluar meninggalkan yang lainnya.


'Ha.. Ternyata dia percaya begitu saja..., syukurlah.' Zaku merasa lega dalam hati.


Lannoxpun langsung pergi, setelah mendengar jawaban yang masuk akal. Meski dia masih ragu akan kebenaran cerita tersebut.


Setelah Lannox pergi meningalkan kamar Putrinya, Tinggal Zion, yang masih menatap curiga kepada sang kakek. Ia menatap tajam kearah sang Kakek, membuat Zaku merasa tidak nyaman.


"Lihat apa kau bocah?" Ujar Zaku galak, namun Zion tidak merasa gentar sedikitpun, ia terus menatap tajam kepada sang Kakek, seolah menuntut jawaban.


"Cih, sejujurnya aku tidak percaya sedikitpun dengan omonganmu kek! Kau bisa menipu anak itu, tapi tidak denganku." Ujarnya menyelidik.


'Haah.. Dasar bocah tengik keras kepala.' Zaku hanya bisa menghelah Nafas panjang, ia tidak tahu harus berkata apalagi.


Melihat Zaku merasa terdesak, Gira langsung turun tangan. Ia tidak tega membiarkan temannya terus berbohong sejak tadi, dan menanggung tekanan dari cucunya sendirian. Girapun menghampiri keduanya, dan menepuk bahu pria muda yang terlihat masih berusia dua puluhan itu.


"Puk.. Puk.. Nak, sepertinya kami memang tidak bisa berbohong padamu, Melihat bagaimana besarnya kekhawatiranmu." Ujar Gira.


Mendengar Gira sampai turun tangan, kedua Spirit lain pun langsung bangkit berdiri menghampiri ketiganya. Saga, dan Tama, berjalan mendekat. dan Saga mengusap kepala Zion, untuk menengkan kekhawatirannya.


"Benar bocah, kau tahu sendiri Mastermu itu tipe bocah nekat, Untuk itu kami terpaksa berbohong.' Ujar Saga sambil tersenyum.


"Haah..., Seperti halnya kalian berdua, kami juga hanya diberi kabar lewat surat beliau. Dewi tidak ingin memberitahukan lokasi keberadaannya karena ia takut kami akan pergi menyusulnya." Ujar Tama, dengan posisi sedang melipat tangan kebelakang.


Zion mendongak, melihat sosok para Kakek yang lebih tinggi darinya, Sedangkan tinggi Zion masih seukuran di bawah dagu Para Spirit.

__ADS_1


__ADS_2