AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
KAKAK DIA SIAPA?


__ADS_3

"tring.. tring.. bug bag bug.. sialan mereka terlalu ramai, apalagi sepertinya mereka bukan prajurit biasa siapa mereka!"


"serahkan dokumen itu?"


"jangan mimpi, ambil saja kalau bisa!"


pria berpakaian serba hitam dan menggunakan topeng diwajahnya, menyerang roland dengan pedangnya. roland tak tinggal diam saja, lalu dia menangkis pedang itu dengan pedangnya tapi, datang serangan lain dari arah belakang. roland melihat sekilas langsung menendangnya. dan tiba-tiba serangan lain datang dari arah kiri dan kanan keduanya juga memegang pedang. Roland kualahan karena dikeroyok, namun saat dia akan diserang beramai-ramai. datang bantuan dari orang tak dikenal, dengan gampangnya dia menghempas kelima orang yang mengelilingi roland.


"bug... gedebak.. eh, si.. siapa kau..?"


"kau tidak perlu tahu siapa aku, kalian cukup mengganggu pemandanganku. minggir!!"


argus menggerakkan kedua jarinya pada para target "bag.. bag.. bag.." dan satu persatu mereka terlempar jauh. lalu dia perlahan mendekati roland.


"si..siapa anda? ja..jangan mendekat!"


"tap.. tap.. tap.. huh, tenanglah.. aku tidak akan melukaimu! aku datang kemari atas perintah tuanku."


"si..siapa.. tuanmu?"


"kau mengenalinya, sudah jangan banyak tanya, ikuti saja aku."


'aku mengenalinya! memang siapa orang ini sebenarnya?"


orang itu memegang lengan Roland, kemudian angin disekitar mereka berputar cepat mengelilingi mereka berdua, dan tak lama merekapun menghilang.


"si..siapa orang yang telah membantu roland, aku tidak pernah melihat dia sebelumnya?" pria yang lain menjawab "aku juga tidak tahu! jika orang itu tidak datang membantu, mungkin.. mungkin kita sudah bisa mengambil dokumen itu dan membunuhnya."


"ya.. tapi masalahnya sekarang, bagaimana kita bisa menghadap baginda! jika misi ini saja sudah gagal? baginda pasti akan sangat murka."


"ya mahu bagaimana lagi, terima saja konsekuensinya. daripada tidak melapor samasekali..!" merekapun kembali kekaisaran dengan tangan kosong. dan, melaporkan kejadian yang baru saja mereka alami barusan.


"tok..tok..tok.. lapor yang mulia, utusan kaisar datang menghadap."


lannox Yang tengah duduk sambil mengurus tumpukan dokumen, seketika tersentak. "firasatku tidak enak." ia mengurut keningnya. "suruh masuk"


"baik yang mulia."


"ceklik, hormat kepada yang mulia."


"ada apa? sampai kaisar mengirim utusan kemari..!" prajurit itu mendekat dan menyerahkan sepucuk surat bersegelkan logo kekaisaran. lannox kemudian membuka surat itu dan, ia mengerutkan alisnya. 'kaisar brengsek ini, benar-benar ingin menjebakku rupanya! membebankan tugas yang tidak bisa diatasinya sendiri kepadaku, jika aku gagal menangani kasus ini..! otomatis kesalahan akan dilemparkan kepadaku, dasar kaisar biadab.' lannox kemudian melihat kesatria yang sedang menunggu jawaban. "sampaikan kepada kaisar! aku akan mengurus kasus ini, tapi ada syaratnya?" kesatria itu terkejut. "syarat apa itu yang mulia?" lannox lantas menulis surat balasan dan menyerahkan pada sang kesatria. "kau boleh pergi"


"baik yang mulia, saya mohon undur diri."


'hmm, kita lihat saja! apa tanggapan sikaisar tua dan licik itu.'


"hei... apa yang sedang kau senyumkan dengan wajah mengerikan itu..?" lannox melihat kearah zion "hmm tidak ada aku hanya membalas apa yang dilakukan kaisar saja."


zion terkejut "kaisar! memangnya apa yang dilakukan pria tua itu padamu?"


"kau lihat saja nanti."


"cih padahal aku bertanya baik-baik malah tidak dijawab samasekali, dasar bocah ini."


"ya.. semoga itu bukanlah masalah besar." lannox hanya menyeringai menanggapi perkataan zion. dan tak lama arguspun muncul dengan membawa roland. roland yang mengenali ruangan itupun kini jadi mengerti 'jadi yang dimaksud aku mengenalinya, itu adalah yang mulia.' roland melihat kearah meja kerja tampak tumpukan kertas memenuhi meja. dan dilihatnya wajah lannox yang terlihat dingin sedang duduk santai sambil mengetuk meja dengan jari-jarinya. juga ditemani zion yang duduk gagah disampingnya.


"hormat pada yang mulia..!"


"yang mulia, saya telah membawa pesanan anda, apa ada lagi yang harus saya lakukan?"


"tidak, kau sudah boleh pergi sekarang, kerja bagus argus."


"terimakasih yang mulia, saya pamit dulu." arguspun menghilang dari pandangan, namun ia belum kembali, tiba-tiba pikirannya teralihkan pada sesuatu yang menarik, dan membuatnya sedikit penasaran. zion yang tidak suka padanya sedikit menyipitkan matanya merasa ada yang aneh melihat tingkah laku argus.


'apa yang akan dilakukan anak itu? dia kelihatan sangat mencurigakan.'


"bagaimana roland! kabar apa yang akan kau berikan untukku?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"euh dimana ini..?"


"kau sudah bangun adikku? ah Sekarang kita ada dipenginapan."


"penginapan? bagaimana bisa! bukankah aku berada dipanti, dan kenapa kakak bisa ada disini.., apa kakak sedang tidak sibuk?"


'apa yang harus aku katakan? dia tertidur selama satu minggu ini, karena ulah tuanku, dia memberi sihir tidur pada ron. padahal dia bilang ron hanya akan tertidur dalam satu atau dua hari, tapi kenyataannya sihir itu malah membuat ron tertidur selama satu minggu. ini sangat tidak wajar! sihir apa yang dia gunakan pada adikku..?'


"tanyakan satu-satu ron! kakakmu ini akan kebingungan jika kau bertanya sekaligus begitu."


"hehe ia maaf kak, aku hanya merasa kaget dan heran saja! terakhir kali yang kuingat aku sedang dikamar dan langsung tertidur."


"ron.., mulai sekarang! kita bisa berkumpul bersama lagi.. seperti dulu, aku akan berusaha keras untuk membesarkanmu dengan baik."


"apa maksudmu kak?"


"ya.. kau tidak perlu tinggal dipanti lagi. kakak sudah mengemasi barang-barangmu, kita akan pindah ditempat yang jauh lebih baik, dan tinggal bersama." mata ron berkaca-kaca, ia tidak tahu apa harus senang atau bersedih. "apa benar yang kakak katakan ini? kakak tidak bohong padaku kan?? kakak tidak akan meninggalkan aku lagikan?"


"ia adikku, mulai sekarang! kita akan selalu bersama."


"hiks.. hiks.. hiks.. kakaaaaak uaaaaa." ron menangis dan langsung memeluk sang kakak, ia begitu senang dan terharu, akhirnya keinginannya selama ini bisa terwujud, hari yang biasanya menyedihkan, dan harus hidup terpisah dan jauh dari sang kakak, juga hanya bisa melihat sang kakak hanya sesekali, kini telah sempurna. dia merasa seperti orang normal pada umumnya, namun satu yang kurang baginya! yaitu kedua orangtuanya, dia hanya memiliki kakak saja, baginya Sekarang kakaknya adalah prioritas utamanya.


"tenag saja kak! kelak jika aku sudah dewasa, biar gantian aku yang akan menjagamu, aku akan melindungimu." 'kau tidak hanya kakak bagiku, tapi kau juga seperti orangtuaku kau berusaha menggantikan peran mereka memikul beban sendirian, meski harus merelakan berpisah jauh dari adikmu sendiri, kakak pasti sangat menderita.'


'haha, mungkin pada saat itu! kita sudah mempunyai keluarga masing-masing ron.'


"kelak kau harus menjadi orang yang jauh lebih baik dariku, dan mendapat pekerjaan yang jauh lebih baik dari kakamu ini."


"hiiiy, baik kak! akan aku ingat pesanmu itu."


tama hanya tersenyum simpul, disuguhkan pemandangan yang manis dari kedua kakak beradik itu, mereka baru tersadar kehadiran tama yang sedang duduk santai didepan meja kecil sambil menyedu teh hangat.


"ah tuan, sejak kapan anda ada disitu?"


"kakak dia siapa?"


ron tiba-tiba berbisik pada sang kakak. "kakak kalau dia yang mengadopsiku, berarti dia orang tua kita jugakan! lalu aku harus memanggilnya apa?"


"i..itu.. aku juga tidak tahu! coba saja kau tanyakan sendiri?" rog menggaruk pipinya yang tidak gatal. "kakak saja yang tanya? aku takut, wajah orang itu memang tampan, tapi sangat menyeramkan!"


'heh, ya memang aku akui tuanku berwajah tampan, tapi apa yang dikatakan ron tidak salah juga! wajahnya memang menyeramkan. entah kenapa? dilihat dari sisi manapun aku selalu nerasa terintimidasi dengan wajah itu!'


tama yang sudah tahu apa yang mereka pikirkan, berpura-pura bertanya, sambil bersedekap tangan ia berseringai. "ada apa? kenapa kalian melihatku begitu, cih dasar bocah!" rog melihat kearah sang adik, dan memberi kode melalui lirikan matanya. ron yang memahami maksud sang kakak mahu tidak mahu terpaksa harus bertanya sendiri sambil bersembunyi dibelakang sang kakak.


"mmm.. benarkah anda, yang mengadopsi saya?"


"heh bukan aku, aku hanya menjalankan perintah saja, yang mengadopsimu adalah tuanku. simpan rasa terima kasihmu untuk nanti..! setelah kau bertemu dengannya."


"ah, begitukah! paman, aku akan tetap berterimakasih padamu, karena telah membuatku berkumpul kembali dengan kakakku. dan kapankah aku bisa bertemu dengan orang tua baruku?"


"kau tunggu saja, kita akan segera bertemu dengannya. dan kalian berdua harus memperlakukan orang tua baru kalian dengan baik, jika tidak! kalian tahu sendiri akibatnya."


"kalian! apa itu juga termasuk aku tuan? tapi akukan tidak diadopsi..!"


"heh dasar bodoh, aku sudah meminta sekaligus surat adopsimu, bukankah kau juga masih bekerja untuk panti? tidak hanya adikmu saja, bahkan ibu panti sudah menyerahkan hak asuhmu kepadaku, walaupun kau jarang pulang! tapi kau masih bagian dari panti, dia masih menganggapmu sebagai anaknya."


'apa? benarkah itu! padahal aku selalu merasa aku bukan lagi bagian dari panti, semenjak aku keluar darisana.'


"ibumu mempercayakan kalian berdua kepadaku! jadi surat adopsi kalian akan aku serahkan pada tuanku, jadilah anak yang baik dan patuh untuk orang tua baru kalian."


"terimakasih tuan, beliau pasti orang yang sangat baik bukan! aku tidak sabar ingin melihat orang tua baru kami." ujar rog semangat, padahal jika dia tahu siapa orang tua barunya rog dan ron pasti akan sangat terkejut.


"heh" tama menyeringai dalam hati, merasa geli, ingin rasanya dia tertawa lepas, akan tetapi dia malah akan terlihat mencurigakan, jadi dia menahannya dan hanya diam. rog hanya tersenyum melihat keberanian adiknya! yang sudah mulai santai berbicara dengan tuannya 'memang dibutuhkan keberanian yang besar bagi anak seusianya, untuk berbicara dengan orang berwajah bringas seperti tuanku' rog kemudian mengusap kepala sang adik.


"tok.. tok.. tok.." rog dan ron melihat kearah jendela "kalian berdua keluarlah dulu." "baik tuan." 'aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh tuanku, tapi sedikit demi sedikit lama-lama rasa percayaku semakin besar kepada mereka, mereka seperti harapan baru untukku.' "ron ayo kita keluar." ronpun mengikuti sang kakak dengan sangat patuhnya.

__ADS_1


"hormat saya tuan" sang tikus yang berwujud elang menunduk hormat dengan sebelah tangan didadanya. "hmm, info apa yang kau dapatkan?"


"tuan, saya sudah menemukan pemimpin dari pemilik orsi." tama sudah mengetahuinya, hanya saja ia berpura-pura tidak tahu dan bertanya untuk menguji kesetiaan sitikus. "apa itu saja?"


"tidak tuan, pemimpin orsi yang kita selidiki Sekarang! sesungguhnya bukanlah pemimpin orsi yang asli."


"hmm apa maksudmu bocah?" tama melihatnya dengan mata yang sinis, sitikus mulai bergidik ngeri merasa terintimidasi hanya dengan tatapan tama saja. "serikat orsi memiliki beberapa cabang terbesar didunia. namun, cabang yang kita selidiki kemungkinan hanyalah cabang dari pemilik serikat kecil. bukan pemilik yang sesungguhnya, setiap cabang memiliki beberapa urutan dan pemimpinnya masing-masing, dari kelas satu sampai yang tertinggi."


tama mulai tertarik mendengar cerita dari sitikus. "hmm lanjutkan."


"kelas yang saya selidiki adalah kelas satu, serikat pencari informasi gelap. dilakukan secara ilegal tanpa surat izin dari kekaisaran."


'mmm.. jika kelas satu saja sudah meresahkan, apalagi jika kelas dua dan seterusnya. sangat menarik!' "lalu, bagaimana dengan serikat kelas dua dan selanjutnya?"


"haaah tuan, bisakah saya minta izin untuk berlibur, menyelidiki kasus orsi kelas satu saja sudah hampir meregang nyawa. apalagi jika menyelidiki kelas teratas dan seterusnya, bisa-bisa saya akan menjadi tikus panggang duluan tuan."


"cih dasar bocah tidak berguna, begini saja kau sudah ketakutan percuma saja aku memberimu mantra perubah wujud dan membuatmu bisa bicara. apa kau mahu mati hah..!"


"ampun tuan, sa..saya akan mencari tahu lagi.."


"sudah cukup, untuk sekarang informasi yang sedikit ini sudah sangat berguna sekali, sekarang hentikan dulu penyelidikannya. kau aku izinkan pulang, kelak jika aku membutuhkanmu lagi.. aku akan memanggilmu kembali pergilah."


"terimakasih tuan, saya mohon undur diri dulu." 'haah akhirnya aku bisa bebas juga, walaupun hanya untuk sementara sih.' sang tikus langsung terbang kegirangan.


'hmm tidak sia-sia aku memutuskan untuk memungut bocah jelek itu, tidak hanya patuh, informasi yang ia dapatkanpun cukup akurat. untuk sekarang! aku rasa sudah cukup untuk memberitahukannya kepada dewi, aku yakin pasti banyak hal yang telah terjadi! setelah kepergian kami dari mantion. kalau tidak, bagaimana mungkin gairah kesenangan anak tiga itu sampai bisa kurasakan seperti ini. aku juga sudah tidak sabar untuk merasakan nikmatnya sebuah pertarungan, terlalu banyak waktu yang telah terbuang hanya untuk menyelidiki kasus orsi, siapa sangka jadi serumit ini. kupikir akan mudah jika hanya dengan kami para spirit turun tangan, tapi ternyata dunia ini begitu kecil jika dijangkau hanya dengan ekspektasi, namun kenyataannya realita juga yang mematahkan pemikiran itu! ya satu pelajaran yang aku dapatkan dari kasus ini, jangan pernah memandang remeh sesuatu. didunia yang luas ini berbagai masalah bisa terjadi tanpa kita tahu.'


tiba-tiba komunikasi dari roya terhubung 'hei rubah jelek! sejak kapan kau merenung seserius ini? seperti orang tua saja, tidak seperti dirimu heh.'


'berisik, dasar burung sialan mengganggu saja, urus saja misimu! selesaikan dengan cepat aku sudah tidak sabar ingin pulang.'


'heh, pulang kemana? sejak kapan dirimu punya rumah.. cih yang benar saja, kau pasti terlalu banyak bermimpi..!'


'sejak aku menjalin kontrak dengan dewiku, dasar bodoh gunakan otakmu. lalu bagaimana dengan kedua bocah itu! apa kau sudah menyelesaikannya?'


'ya sekarang juga masih dalam proses dasar rubah jelek, tidak sabaran!'


'apa! masih belum selesai juga? dasar lamban.'


'sialan kau, sudah jangan ganggu aku, aku sedang sibuk sekarang.' komunikasipun terputus


'cih padahal dia yang menghubungiku lebih dulu, kenapa juga dia yang marah? dasar pria sensitif.'


"bagaimana! masih mahu melawan?" dean melihat kearah roya yang sedang menancapkan sebilah pisau kecil dileher rey, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, jika dia nekat temannya yang akan menjadi korban. "trenkk.." pedang dilepaskan dan terjatuh kelantai. "baiklah, aku menyerah lepaskan dia."


roya langsung melempar rey kearah dean, dean dengan cepat menahannya.


"cepat katakan apa yang kau inginkan?" ujar dean, roya mengibas bajunya yang tidak kotor, lalu melihat sekilas kearah dua sekawan itu, kemudian dalam sekejap. "gedabug" kedua pria itu terjatuh pingsan.


"dasar merepotkan." roya menyentuh dengan kedua jari, pada pelipis kedua pria itu! keluar cahaya jingga ditempat yang disentuh roya.


"aku akan mereka ulang kejadian rog di ingatan kalian berdua, dengan memanipulasi keadaan rog seolah-olah dia telah mati dibunuh, dengan begini.! rog bisa aman setidaknya untuk sekarang." setelah selesai memanipulasi ingatan kedua pria itu, royapun menghilang.


"bwushhh" tama melihat kedatangan roya dengan raut kesal. "bagaimana! apa sudah selesai?" roya menyeringai senang. "ya tentu saja, ayo Sekarang kita berangkat dewi pasti sudah menunggu kepulangan kita."


"bagus ini yang aku tunggu-tunggu, aku juga sangat penasaran seperti apa wujud jura yang sekarang!"


"tentunya lebih hebat dan jauh lebih bagus darimu." seru roya "cih katakan itu untuk dirimu sendiri."


"tidak perlu, aku sudah menyadarinya lebih dulu. besarnya perbedaan kekuatan kita, aku ini pintar tidak seperti kau bodoh dan bebal."


"puk..puk.. tidak usah khawatir aku sangat paham kata-kata itu sebenarnya ditujukan untuk dirimu sendirikan?."


"inilah mengapa aku bilang kau bebal, orang bodoh memang tidak pernah sadar jika kata-kata kuini ditujukan untukmu dasar lemah otak."


"hah sudah-sudah.. telingaku rasanya tersumbat apa kau sedang bicara? aku tidak dengar." roya menyipitkan matanya melihat tingkah menyebalkan tama. 'hmm sabar-sabar.. menghadapi orang bodoh tidak boleh emosi.' tama mengacuhkan sorot mata yang terlihat tajam padanya, karena tidak ingin bertegang urat berkepanjangan tama kemudian langsung memanggil. "anak-anak! apa kalian sudah mempersiapkan barang-barang kalian?"


"sudah tuan." seru rog

__ADS_1


"bagus kemarilah." rog dan ron mendekat kearah mereka berdua, tik dalam sekejap mereka berteleportasi dan menghilang.


sementara itu dizona mana keadaan masih menegangkan pertempuran singit terus berlanjut.


__ADS_2