AYAH YANG DINGIN

AYAH YANG DINGIN
ADA HAL PENTING, YANG HARUS KITA BICARAKAN!


__ADS_3

Di tempat lain.. Ketiga anak muda sedang menunggu hari, untuk melakukan perintah misi dari atasan mereka. Sambil menunggu Purnama Penuh.. Mereka mengerjakan tugas sambilan dulu, untuk menghilangkan kejenuhan mereka saat menunggu.


dimana mereka menerima upah bayaran, sebagai pengawal dari seorang bangsawan Count, untuk satu hari penuh.


"Hee.. Aku rasa upah kita kali ini cukup lumayan, untuk tambahan kedepannya." ujar Pria berambut merah cerah ceria.


"HemHem.. Benar sekali. Daripada harus duduk diam, lebih baik melakukan misi sambilan seperti sekarang." sambung Pria berambut coklat terang.


Sedangkan Sang ketua tim si rambut hitam.. hanya menanggapi dengan senyuman datar. Dalam hati, ada rasa ketar-ketir yang membuatnya tidak tenang.


Namun ia tidak menunjukkannya kepada kedua temannya itu, karena tidak ingin membuat keduanya risau, Ia terlihat lebih banyak diam daripada biasanya.


"Hei.. Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau seperti ini..!!" tanya si rambut merah cerah.


Mendengar ocehan temannya itu, Pria berambut coklat terang menoleh kearah ketua mereka, yang tampak sedang menyembunyikan sesuatu.


"Hem.. Tidak ada, Aku hanya tidak sabar menerima upah kita." ujarnya bersikap santai.


"Omong-omong Jam berapa Pria itu akan keluar dari penginapan? Kita hanya harus mengawalnya sampai keperbatasan saja bukan?" tanya Pria berambut coklat, mengalihkan pembicaraan.


"Benar, tugas kita hanya mengantar target sampai ketujuan. Tapi, hati-hati.. Meski misi ini tampak sederhana! Bukan berarti tidak ada musuh saat dalam perjalanan nanti, kita juga masih belum tahu, musuh seperti apa yang akan kita hadapi." ujar Pria berambut hitam tersebut.


"Apalagi.. Klien kita hanya memesan untuk pengawalan saja. Dan, kita juga tidak tahu! sebenarnya ia membawa misi yang seperti apa? Bisa jadi ia juga sedang mengemban tugas penting yang membahayakan dirinya." sambung Pria berambut coklat menelaah.


"Yah, apapun itu, Kita harus tetap berhati-hati dan juga waspada." sambung sang ketua lagi. Yang di angguki oleh kedua temannya


...****************...


Di Benua Timur.. negara THIORAN, yang mempunyai waktu yang berbeda tujuh jam dari Benua Utara. Dan keesokan paginya..


Sang Pangeran yang telah bersiap-siap pun, berangkat dari kekaisaran menuju tempat yang telah di janjikan.. Ia pun berangkat pergi menaiki kereta kuda, untuk menuju ke dermaga.


Pangeran memakai jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, dan mengenakan Topeng putih berwajah tikus.

__ADS_1


Dari kejauhan mata memandang.. Tampak sebuah kapal besar berada di tengah danau. Airnya sangat biru dan jernih. Di kelilingi dengan banyak pepohonan rimbu nun hijau membuat ia tampak menyeramkan.


Memandangi cahaya bulan yang masih belum penuh, tampak terpenatul di atas permukaan air.


Melihat itu.. Sang Pengeran bergumam dalam hati. 'Heum.. Sesuai seperti yang ada di dalam isi surat tersebut.' ia menatap kelangit redup, sambil melihat kearah daratan yang di kelilingi dengan banyak pohon.


Saat kapal milik Pangeran mendekat dan berlabuh di dekat Kapal besar tersebut, tampak kedua orang berpakaian serba hitam telah menunggu untuk menyambut kedatangan para Tamu VVIP.


Saat Pangeran tiba di dekat kapal, seseorang Pria menahannya. Dan meminta menunjukkan undangan tanda keaanggotaan.


Pangerang pun langsung mengeluarkan setangkai bunga Mawar Hitam, dari balik jubahnya. Setelah melihat bukti tanda keanggotaan, Pria itupun langsung mempersilahkan Pangeran melewatinya.


Dan di depan sudah ada seseorang yang akan membimbing tamu VVIP Kedalam ruangan, Pangeran pun dengan bangga mengikutinya. Namun, saat ia akan pergi.. Ia langsung di hentikan dengan Pria tersebut.


"Maaf Tuan, hanya anda sendiri yang boleh masuk kedalam Ruangan, sedangkan khusus Pengawal anda! Di persilahkan menunggu di luar, hingga acara selesai."


Mendengar intruksi dari penjaga tersebut, mau tidak mau, Pangeran pun mematuhinya meski enggan, ia mengangguk pada kedua pengawalnya itu. Kedua pengawal itupun langsung paham dengan maksud tuannya, merekapun menunggu dengan patuh di luar.


Sedangkan Di Zona Mana.. Lannox yang sedang menyerang Rabarus, tiba-tiba di hentikan oleh suara Rabarus.


"Sudah Cukup pemanasannya, melihat kau tidak bisa menyentuhku sama sekali.. Apa kini kau sudah mempercayainya..?" tanya Rabarus menyelidik dengan tatapan misteriusnya.


'Cih, sebenarnya aku tidak sudi mengakuinya! Tapi, kenyataan tidak bisa di sangkal. Dari awal aku memang tidak bisa menyentuh kulitnya sedikitpun.' pikirnya dengan tatapan menusuk.


"Heeh, Baiklah. aku akui kau memang benar. Lantas, setelah tahu dan melihatnya! Apa yang ingin kau lakukan??" tanyanya penasaran.


Rabarus tersenyum tipis, sambil melipat kedua tangannya, dan memiringkan kepalanya melihat kearah Ravella dan Jura.


"Hem.. Kita tunda masalah ini nanti saja. Karena Putrimu sudah menunggumu sejak tadi. Bukankah Putrimu belum memakan apapun sejak kita berangkat pagi tadi..? Dan bukannya ini sudah memasuki waktu tidur!!


Tidak baik bagi anak kecil seusianya, di biarkan begadang." ujarnya menyeringai lalu segera meninggalkan Duke, yang tampak baru saja menyadari keberadaan Putrinya saat ini.


Lannox segera berlari menghampiri Putrinya.. Yang telah di dahului oleh Rabarus. "Apa kau lapar Nak Dewi..?" tanya Rabarus sambil tersenyum hangat.

__ADS_1


"Haha.. Aku lupa jika belum makan. Tapi, omong-omong kenapa Kakek dan Ayah berkelahi??" tanyanya Polos.


"Kau bisa tanyakan pada Ayahmu!" ujarnya mengalihkan pandangannya pada Duke, yang baru saja menghampiri mereka.


"Putriku, dari mana saja kau Nak! apa kau tidak tahu ini sudah jam berapa?" tanya Duke mengusap Pipi Putrinya.


Ravella hanya menjawab dengan geleng kepala.. Lalu ia lanjut bertanya tentang rasa penasarannya tersebut. "Kenapa Ayah berkelahi dengan Kakek Rabarus? Dan tampaknya Kakek masih belum serius bertarung dengan Ayah!!"


Ujarnya jujur.. Yang di sambut tawa dari Rabarus. "Haha.. Ternyata aku ketahuan ya, aku jadi malu!" ucapnya sambil bercanda.


"Cih, jangan sombong dulu Pak Tua.. Karena tadi hanyalah jurus uji coba untuk menguji kekuatan baruku." ujarnya yang kelihatan tidak mahu kalah.


Jura Dan Ravella menanggapi sikap Lannox dengan menahan Tawa, sadar akan reaksi keduanya.. Pipi Duke langsung memerah menahan malu, Karena ia di tertawai oleh Putrinya sendiri.


"kalian berdua, apanya yang lucu sampai kalian tertawa haa..! Heum, apa mungkin Putriku meminta di beri hukuman menggelitik.. Selama satu menit!!" ujarnya dengan seringai licik.


Mendengar itu.. Ravella dengan cepat menyanggah perkataan Ayahnya. "Ti-tidak kok, Ra-ravel tidak tertawa! Ravel ha-hanya lapar hihi.." ujarnya beralasan, membuat yang lain tertawa dengan tingkahnya yang lucu.


"Hahahaha... Kau benar-benar lucu Nak Dewi. Haah.. Baiklah sudah cukup bercandanya anak-anak. Nak, bisakah aku meminta tolong padamu sebentar!" ujarnya, kepada Ravella.


"Eum, katakan saja apa itu Kek?" jawabnya polos.


Rabarus melihat kearah Gapi, sekilas. Dan, kembali menatap Ravella. "Hehem.. Bisakah aku meminjam Ayah dan Spiritmu sebentar!!"


'Heum.. Sepertinya ada hal penting yang ingin mereka bicarakan, dan tidak boleh di dengar olehku!' pikirnya, yang sudah paham akan maksud Rabarus. "Baiklah, Gapi.. Ayo kita menunggu di Markas." ajaknya pada Bayi Naga kecil tersebut.


Gapi yang sedang bermain, saat mendengar suara tuannya memanggil namanya.. Langsung berlari kecil mengejar tuanya itu. "Baik Dewi." ujarnya tampak bersemangat.


Setelah memastikan Ravella dan Gapi kembali ke Markas, ketiga Pria itupun kembali berbicara melalui pikiran. dan dalam sekejap, Rabarus langsung menembus pikiran Lannox, dan Jura.


'Ada hal penting, yang harus kita bicarakan!' ujarnya ambigu.


'Katakan apa itu?' ucap keduanya serentak.

__ADS_1


__ADS_2